Khutbah Idul Fitri 2020/1441 H

Khutbah Idul Fitri 2020/1441 H – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Khutbah Idul Fitri 2020 atau 1440 H, simaklah:

Simak Juga:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[

]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[ ]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga dirahmati oleh Allah,

Hari ini kita berada dalam hari besar, hari perayaan, hari di mana kita kembali berbuka puasa, yaitu hari Idul Fithri. Suatu nikmat yang besar, kita dapat menjalankan ibadah shiyam, ibadah puasa sebulan penuh. Kali ini kita berada pada awal Syawal 1440 H.

Ingatlah …

Sebagaimana para ulama di masa silam seringkali berkata …

“Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.”

Karena memang bulan Ramadhan itu penuh dengan ampunan. Sehingga sampai ulama seperti Qatadah rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain ia pun akan sulit diampuni.”

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Tatkala semakin banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”

Kita terus berdoa pada Allah, moga amalan kita di bulan Ramadhan diterima di sisi Allah. Moga amalan kita yang penuh kekurangan tetap mendapatkan balasan terbaik di sisi-Nya. Moga Allah juga mengampuni kesalahan dan setiap kelalaian kita selama beramal di bulan Ramadhan.

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiira, Allahu akbar walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan pada junjungan kita, suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)

“Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Artinya, terus berada dalam jalur yang benar, tetap dalam ibadah pada Allah walau sudah mengakhiri Ramadhan.

Apa keistimewaannya?

Disebutkan dalam kitab Hilyah Al-Auliya’ beberapa perkataan ulama berikut.

Ibnul Mubarak menceritakan dari Bakkar bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa ia mendengar Wahb bin Munabbih berkata, ada seorang ahli lewat di hadapan ahli ibadah yang lain. Ia pun berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Dijawablah, “Aku begitu takjub pada si fulan, ia sungguh-sungguh rajin ibadah sampai-sampai ia meninggalkan dunianya.” Wahb bin Munabbih segera berkata, “Tidak perlu takjub pada orang yang meninggalkan dunia seperti itu. Sungguh aku lebih takjub pada orang yang bisa istiqamah.” (Hilyah Al-Auliya’, 4: 51)

Orang yang bisa istiqamah, ajek terus dalam ibadah, itu lebih baik daripada orang yang memperbanyak ibadah.

Ingatlah …

Bisa terus istiqamah, itulah karamah seorang wali Allah (kekasih Allah) yang begitu luar biasa,

وَأَنَّ الْكَرَامَةَ لُزُومُ الِاسْتِقَامَةِ

“Sesungguhnya karamah (seorang wali Allah, pen.) adalah bisa terus istiqamah.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 29)

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa.

Lalu bagaimana biar bisa terus istiqamah?

Ada beberapa kiat yang secara singkat kami terangkan berikut ini.

Pertama: Selalu berdoa pada Allah karena istiqamah itu hidayah dari-Nya

Kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Adapun doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 8)

Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”

Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Kedua: Berusaha menjaga keikhlasan dalam ibadah

Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang diperintahkan sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985)

Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ

“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188).

Para ulama juga memiliki istilah lain,

مَا كَانَ للهِ يَبْقَى

“Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.”

Ketiga: Rutin beramal walau sedikit

Amal yang dilakukan ajek (kontinu) walaupun sedikit itu lebih dicintai Allah dibandingkan amalan yang langsung banyak namun tak ajek.

Maksudnya, seseorang dituntun untuk konsekuen dalam menjalankan syari’at atau dalam beramal dan tidak putus di tengah jalan. Karena konsekuen dalam beramal lebih dicintai oleh Allah daripada amalan yang hanya sesekali dilakukan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-; beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465; Muslim, no. 783). Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

Keempat: Rajin koreksi diri (muhasabah)

Kalau kita rajin mengoreksi diri, diri kita akan selalu berusaha untuk baik. Allah Ta’ala memerintahkan kita supaya rajin bermuhasabah (introspeksi diri),

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Hisablah (koreksilah) diri kalian sebelum kalian itu dihisab. Siapkanlah amalan shalih kalian sebelum berjumpa dengan hari kiamat di mana harus berhadapan dengan Allah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 235)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Pandanglah amal yang telah kalian lakukan. Apakah amalan shalih yang berujung selamat? Ataukah amalan jelek yang berujung celaka?” (Zaad Al-Masiir, 8: 224)

Kelima: Memilih teman yang shalih

Teman bergaul amat penting, itulah yang memudahkan kita untuk istiqamah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28)

Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94)

Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab,

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

“Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).”

Ahli hikmah juga menuturkan,

يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ

“Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.”

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,

Demikian khutbah pertama ini.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Tata Cara Khutbah Jum’at

Tata Cara Khutbah Jum’at – Khutbah yang dibahas dalam bab ini adalah khutbah menurut istilah khusus, yakni menyampaikan seruan di forum khusus dengan aturan-aturan yang bersifat khusus pula, yakni khutbah Jum’at.  Khutbah Jum’at dilakukan sebelum dilaksanakannya salat Jum’at.

Selain khutbah Jum’at adalah pula khutbah Iedul Fithriy, Iedul ‘A ha, gerhana matahari, gerhana bulan, dan khutbah istisqa’ (meminta hujan). Sedangkan khutbah Iedul Fi ri, Idul ‘A ha, gerhana matahari, gerhana bulan, dan istisqa’ dilakukan sesudah salat.

Hukum khutbah Jum’at adalah fardu.  Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah Swt: “Hai orang- orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. [QS AlJumu’ah (62):9]

Khutbah Jum’at termasuk dalam pengertian “mengingat Allah Swt”.  Selain itu, Nabi Muhammad Saw selalu berkhutbah Jum’at terlebih dahulu, sebelum melaksanakan salat Jum’at.  Ini menunjukkan bahwa hukum khutbah Jum’at adalah wajib.

Khutbah Jumat

Adapun ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan khutbah Jum’at adalah sebagai berikut:

Syarat Khutbah Jum’at

mata mereka dan mereka sebenarnya mampu mengingkarinya namun tidak mengingkarinya. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan mengazab masyarakat umum dan seseorang yang berbuat maksiyat itu “. [HR Imam Ahmad] wanita, dan orang yang tidak bisa mendengar sama sekali (tuli)

  • Khatib harus suci dari hada besar dan kecil. Tempat, badan, dan pakaian yang dikenakan kh ib haruslah suci dari najis.
  • Khatib harus menutup aurat secara sempurna.
  • Khatib harus berniat untuk melakukan khutbah. Sebagian ulama Syafi’i dan Hanbali menetapkan niat sebagai syarat sah dari khutbah. Sedangkan sebagian ulama Syafi’i yang lain berpendapat bahwa niat bukanlah syarat dari khutbah. Pendapat yang rajih adalah pendapat pertama.
  • Khatib harus berdiri ketika menyampaikan khutbahnya. Namun, jika ia tidak mampu, boleh dengan duduk.
  • Duduk di antara dua khutbah dengan istirahat yang pendek.
  • Khutbah pertama dan kedua harus dilakukan secara berturut-turut, dan tidak dijeda oleh kegiatan lain dalam waktu yang panjang
  • Dua khutbah dan salat Jum’at harus dilakukan secara berturut-turut dan tidak dijeda oleh kegiatan lain dalam waktu yang lama
  • Khutbah Jum’at harus dilaksanakan pada waktu Zuhur. Khutbah Jum’at tidak sah dilakukan di luar waktu Zuhur.
  • Khutbah harus dilakukan di dalam areal masjid.

Rukun-rukun Khutbah Jum’at

Rukun khutbah Jum’at adalah lima:

  1. Memulai khutbah dengan memuji Allah Swt . Ketentuan ini didasarkan sebuah hadi dari Jabir Ra, bahwasanya ia berkata: “Rasulullah Saw berkhutbah di hadapan kami. Beliau memuji Allah swt dan menyanjung Allah, karena Dialah Zat yang layak mendapat sanjungan. Lalu, beliau mengatakan,  “‘Amma ba’du, sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, dan petunjuk yang paling utama adalah petunjuk Mohammad, dan perkara yang paling buruk adalah perkara baru (bid’ah), dan seluruh bid’ah itu adalah sesat”.  Setelah itu, beliau mengeraskan suaranya dan memerah kedua pipinya. Dan khutbah beliau bernada sangat marah jika menyebutkan tentang kiamat, seolah-olah beliau adalah seorang yang tengah memberi perintah kepada tentaranya.  Ia berkata, “Lalu, beliau saw bersabda, “Hari kiamat itu akan mendatangi kalian…”. [HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah]
  2. Mengucapkan kalimat syahadat pada permulaan khutbah pertama dan kedua. Ketentuan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya Nabi Saw bersabda: “Setiap khutbah yang tidak di dalamnya tidak diucapkan syahadat, seperti tangan yang terpotong”. [HR Imam Ahmad dan Ibnu Hibban].
  3. Mengucapkan salawat atas Nabi Muhammad Saw: Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa membaca salawat atas Nabi Saw hanyalah sunnah, bukan rukun khutbah. Pendapat ini dipegang oleh ulama ma hab Hanafi, Maliki, dan sebagian ulama Hanbali. Sekelompok ulama berpendapat bahwa membaca salawat atas Nabi Saw adalah rukun khutbah. Pendapat ini dipegang oleh ulama madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama Hanbali. Sedangkan kelompok lain berpendapat bahwa membaca shalawat atas Nabi saw hanyalah kewajiban, bukan rukun.  Pendapat ini dipegang oleh Imam Ibnu Taimiyyah.
  4. Berwasiat untuk selalu bertakwa kepada Allah Swt. Kh ib harus berwasiat kepada jama’ah Jumat agar selalu bertaqwa kepada Allah Swt. Pendapat ini dipegang oleh mazhab Syafi’i. Menurut mereka, khutbah tidak dianggap sah jika tidak ada seruan untuk bertakwa.  Sedangkan ulama-ulama lain tidak menganggapnya sebagai rukun.
  5. Membaca Al-Qur’an di salah satu khutbah. Lebih utama, jika membaca Al-Qur’an tersebut dilakukan pada khutbah pertama. Dalil yang menunjukkan masalah ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, bahwasa Nabi Saw membaca Al-Qur’an di dalam khutbah untuk mengingatkan orang banyak [HR Abu Dawud]. Hanya saja, para ulama masih berselisih pendapat, apakah membaca Al-Qur’an di dalam khutbah termasuk rukun atau tidak.  Kalangan ulama mazhab Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an di dalam khutbah adalah rukun. Sedangkan ulama kalangan ma  hab Maliki dan Hanafi berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an dalam khutbah hanyalah sunnah.
  6. Memohonkan ampunan bagi kaum Muslim dan Muslimat, sedikitnya dengan membaca doa: “Ya Allah, ampunilah dosa kaum Mukmin dan Mukminat, serta kaum Muslim dan Muslimat”. Ketentuan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Samurah bin Jundub, bahwasanya Nabi Muhammad Saw selalu memohonkan ampunan pada kaum Mukmin dan Mukminat pada setiap khutbah Jum’at.” [HR Imam Al Baz r]

Sunnah-sunnah Khutbah Jum’at

Sunnah-sunnah khutbah Jum’at adalah sebagai berikut:

  1. Khatib berdiri di atas mimbar atau tempat yang tinggi. Imam Abu Dawud ra meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Ra bahwasanya Nabi Saw , apabila telah keluar pada hari Jum’at, beliau duduk hingga muadzin menyelesaikan azannya, kemudian beliau berdiri lalu berkhutbah”. [HR Imam Abu Dawud]
  2. Menyampaikan khutbah dengan suara keras dan dalam nada marah. Ketentuan ini didasarkan pada hadi yang diriwayatkan Imam Muslim dari Jabir bin ‘Abdullah Ra, bahwasanya Rasulullah Saw jika sedang berkhutbah, memerahlah kedua matanya dan keras suaranya serta sangat marah, hingga seolah-olah beliau Saw menjadi seseorang yang memberi peringatan kepada para tentara”. [HR Imam Muslim]
  3. Hendaknya khutbah disampaikan secara ringkas dan pendek. Ringkas dan pendekhnya khutbah menunjukkan kefakihan dari sang kh ib. Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya, panjangnya salat seorang laki-laki dan pendeknya khutbahnya menjadi tanda kefakihannya. Panjangkanlah salat dan pendekkanlah khutbah.  Sesungguhnya, sebagian kefasihan kata-kata itu terkandung sihir”. [HR Imam Muslim dan Ahmad]
  4. Jika khatib berdoa, hendaknya dia mengangkat jari telunjuknya saja.  Ini didasarkan pada hadi  yang diriwayatkan oleh Husain bin ‘Abdurrahman As Sulami, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Saw sedang berkhutbah, dan ketika beliau berdoa beliau mengucapkan begini dan begini, seraya mengangkat jari telunjuknya”.[ HR Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Tirmi i, dan An Nas ’i]
  5. Khatib tidak dilarang memegang tongkat, panah, atau yang serupa dengan itu.  Imam Abu Dawud menuturkan sebuah riwayat dari Hakam bin Hazan Ra, bahwasanya ia berkata, “Kami pergi dengan Nabi Saw menuju salat Jumat.  Lalu, beliau Saw bersandar ke sebuah panah, atau tongkat, seraya memuji Allah, menyanjung-Nya dengan kalimat-kalimat yang sederhana, baik, dan mengandung berkah”. [HR Abu Dawud dengan sanad  sahih]

Contoh Teks Khutbah Jum’at

Jama’ah Jum’at yang dimulyakan Allah, pada khutbah Jum’at ini, kh ib akan membawakan khutbah yang berjudul “Larangan Penguasa Menerima Hadiah”.

Berkaitan dengan tema ini, marilah kita perhatikan secara seksama, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.  Suatu saat, Rasulullah Saw mengutus Ibnu Lutbiyah sebagai amil untuk memungut zakat dari Bani Sulaim.  Tatkala tugasnya telah usai, ia bergegas menghadap Nabi Saw; dan Nabi Muhammad Saw menanyakan tugas-tugas yang telah didelegasikan kepadanya.  Ibnu Lutbiyah menjawab, “Bagian ini kuserahkan kepada anda, sedangkan yang ini adalah hadiah yang telah diberikan orang-orang (Bani Sulaim) kepadaku.  Rasulullah Saw berkata, “Jika engkau memang jujur, mengapa tidak sebaiknya engkau dudukduduk di rumah ayah dan ibumu, hingga hadiah itu datang sendiri kepadamu”.  Beliau Saw pun berdiri, lalu berkhutbah di hadapan khalayak ramai.  Setelah memuji dan menyanjung Allah Swt, beliau bersabda, “’Amma ba’du.  Aku telah mengangkat seseorang di antara kalian untuk menjadi amil dalam berbagai urusan yang diserahkan kepadaku.  Lalu, ia datang dan berkata, “Bagian ini adalah untukmu, sedangkan bagian ini adalah milikku yang telah dihadiahkan kepadaku”.  Apakah tidak sebaiknya ia duduk di rumah ayah dan ibunya, sampai hadiahnya datang sendiri kepadanya, jika ia memang benar-benar jujur?  Demi Allah,  salah seorang di antara kalian tidak akan memperoleh sesuatu yang bukan haknya, kecuali ia akan menghadap kepada Allah Swt dengan membawanya.  Ketahuilah, aku benar-benar tahu ada seseorang yang datang menghadap    Allah Swt dengan membawa onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik.  Lalu, Nabi Saw mengangkat kedua tangannya memohon kepada Allah Swt, hingga aku (perawi) melihat putih ketiaknya”. [HR Imam Bukhari dan Muslim]

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa, seorang pemimpin yang diberi tugas mengatur urusan rakyat dilarang menerima hadiah.  Hadiah yang diberikan rakyat kepada pejabat pemerintah, lebih-lebih yang diberikan ketika ia menjalankan tugas, termasuk harta haram (gulul). Pasalnya, kebanyakan hadiah diberikan karena jabatan atau kekuasaan seseorang, dan di baliknya ada pamrih.   Jika pemberian itu benar-benar hadiah yang diberikan dengan tulus ikhlas, dan bukan karena jabatan atau kekuasaan, tentunya, hadiah itu akan datang sendiri kepadanya walaupun ia tidak menjabat atau sedang melaksanakan tugas.  Nabi mengatakan, “ Apakah tidak sebaiknya ia duduk di rumah ayah dan ibunya, sampai hadiahnya datang sendiri kepadanya, jika ia memang benar-benar jujur?”   Sabda beliau yang agung ini merupakan sindiran yang sangat tajam; seandainya Ibnu Lutbiyyah tidak menjabat sebuah jabatan, niscaya ia tidak akan memperoleh hadiah apapun.  Dan seandainya hadiah itu benar-benar diberikan kepadanya tanpa pamrih, pasti hadiah itu akan datang sendiri meskipun ia tidak memegang amanah kekuasaan.

Kemandirian dan kemerdekaan seorang pemimpin dalam mengatur urusan rakyat sering kali tersandera oleh kebaikan yang diiringi pamrih.  Kebanyakan hadiah yang diiringi dengan pamrih akan membelenggu akal dan hati seorang pemimpin.  Banyak pemimpin yang akhirnya tidak bisa independen dalam memutuskan suatu masalah dikarenakan “kebaikan yang diberikan seseorang kepada dirinya”.  Perasaan “berhutang budi” kepada sang pemberi, akhirnya menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan.  Ia tidak bisa lagi memberikan keputusan secara adil dan memihak kepentingan rakyat.  Keputusankeputusannya justru ditujukan untuk memenuhi keinginan sang pemberi hadiah, dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak.  Dalam kondisi semacam ini, sesungguhnya ia telah dikendalikan oleh sang pemberi hadiah. disunnahkan bermunajat kepada Allah Swt.  Sebab, pada saat itu adalah saat yang utama untuk berdoa.  Setelah itu kh ib berdiri kembali, dan melanjutkan khutbah kedua. Khutbah kedua diawali dengan mengucapkan pujian kepada Allah, dua kalimat syahadat, salawat atas nabi, seruan takwa, dan disunnahkan membaca Al-Qur’an. [Susunannya sama seperti pembukaan pada khutbah pertama] Setelah khutbah kedua selesai, ditutup dengan doa bersama-sama untuk memohonkan ampunan kepada kaum Muslim dan Muslimat.[cp]