Kumpulan Ceramah Ramadhan 2020 Lengkap

Kumpulan Ceramah Ramadhan 2020 – Meskipun Bulan Ramadhan msih jauh, tapi alangkah baiknya kita untuk mulai dari saat ini belajar untuk membawakan ceramah ramadhan 2020. Berikut ini Ceramah Pidato akan share beberapa contoh ceramah sebelum shalat Sunnat Tarawih pada bulan Ramadhan nanti. Simaklah selengkapnya.

ceramah-ramadhan

Kumpulan Ceramah Ramadhan Pilihan Tahun 2020

  1. Ceramah Ramadhan Hari Ke-1: Puasa Dalam Perspektif Islam
  2. Ceramah Ramadhan Hari Ke-2: Fadhilah Ramadhan 2020
  3. Ceramah Ramadhan Hari Ke-3: Fadhilah Shalat Lail
  4. Ceramah Ramadhan Hari Ke-4: Aktualisasi Nilai Nilai Shalat
  5. Ceramah Ramadhan Hari Ke-5: Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid
  6. Ceramah Ramadhan Hari Ke-6: Kepemimpinan Nabi Muhammad
  7. Ceramah Ramadhan Hari Ke-7: Tanggung Jawab Orang Tua Mengembangkan Fitrah Anak
  8. Ceramah Ramadhan ke-8: Membangun sistem keluarga Muslim
  9. Ceramah Ramadhan Ke-9: Keluarga Sakinah
  10. Ceramah Ramadhan Ke-10: Urgensi Pembinaan Generasi Muda Islam
  11. Ceramah Ramadhan Hari Ke-11: Keutamaan Belajar Dan Mengajarkan Al-qur’an
  12. Ceramah Ramadhan Ke-12: Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Bagi Remaja
  13. Ceramah Ramadhan ke-13: Pelestarian Lingkungan Hidup
  14. Ceramah Ramadhan Ke-14: Memelihara Kebersihan Lingkungan
  15. Ceramah Ramadhan ke-15: Makna Jihad
  16. Ceramah Ramadhan ke-16: Islam dan Keteladanan Rasulullah SAW Dalam Membangun Masyarakat Madani
  17. Ceramah Ramadhan ke-17: Masyarakat Madani Dalam Perspektif Quran
  18. Ceramah Ramadhan Ke-18: AlQuran dan Pencerahan Hati Nurani
  19. Ceramah Ramadhan ke-19: AlQuran Sumber Transformasi Budaya
  20. Ceramah Ramadhan ke-20: Membumikan Alquran dan As-Sunnah Harapan dan Tantangan
  21. Ceramah Ramadhan Hari Ke-21: Kewajiban Berpuasa
  22. Ceramah Ramadhan ke-22: Ulama Pembina Umat
  23. Ceramah Ramadhan ke-23: Konsep Ukhuwah Islamiyah
  24. Ceramah Ramadhan ke-24: Sifat Toleransi Dalam Perspektif Islam
  25. Ceramah Ramadhan Hari Ke-25: Membangun Kerukunan & Toleransi Dalam masyarakat Indonesia yang Plural
  26. Ceramah Ramadhan ke-26: Penegakan dan Peningkatan Kesadaran Hukum
  27. Ceramah Ramadhan Hari Ke-27: Keutamaan Ibadah Haji
  28. Ceramah Ramadhan Ke-28: Zakat dan Pajak
  29. Ceramah Ramadhan Hari Ke-29: Tuntunan Shalat Zakat Fitri
  30. Ceramah Ramadhan Ke-30: Tuntunan Shalat Idul Fitri 2020
  31. Khutbah Idul Fitri 2020/1441 H

Demikianlah artikel mengenai Kumpulan Ceramah Ramadhan atau Ceramah Puasa 2020, semoga artikel ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[cp]

Tags:

ceramah ramadhan singkat dan lucu, kumpulan ceramah ramadhan singkat dan praktis, teks ceramah ramadhan singkat dan lucu, ceramah, Ceramah ramadhan, teks pidato ramadhan untuk anak-anak, KUMPULAN CERAMAH RAMADHAN, teks ceramah Ramadhan, materi kultum ramadhan 2019, nu vot

Ceramah Ramadhan Ke-28: Zakat dan Pajak

Ceramah Ramadhan Ke-28: Zakat dan Pajak – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini CeramahPidato.Com akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Zakat Dan Pajak, simaklah.

Istilah yang merupaka nama dari salah satu bentuk ibadah dalam Islam, berasal dari huruf’’ dan yang berarti penyician atau pembersihan dan pertumbuhan. Pertumbuhan disini, menurut Al-Raghib al-Asfahaniy dimaksudkan bahwa zakat itu menumbuhkan ekonomi umat karena adanya berkat Allah. Secara termonilogi zakat adalah meng eluarkan sejumlah tertentu dari harta yang hukumnya wajib untuk diserah kepada sejumlah pihak tertentu yang disebut mustahik sesuai dengan ketentuan Syariat yang diatur dalam alquran dan Sunnah.

Kata zakat dan segala bentuk jadiannya di dalam Alquran ditemukan sebanyak 59 kali, baik dalam ayat-ayat Makkiyah (11 kali) maupun dalam surah-surah Madaniyah (21 kali). Jadi sebenarnya, konsep zakat sudah dikenal dalam Islam sejak sebelum Rasulullah saw. Hijrah. Bahkan, menurut Alquran dapat pula dikatakan bahwa kewajiban zakat terdapat dalam syariat terdahulu. Ini dapat dipahami misalnya dari Q.S. Al-Bayyinah (98): 5, berbunyi:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Yang Artinya:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

ceramah ramadhan

Fungsi-fungsi zakat

Islam secara prinsipil mengajarkan umatnya untuk dapat hidup bahagia dunia dan akhirat. Itu berarti, Islam menghendaki umatnya menbangun peradaban yang makmur dan bermoral, jauh dari kesan kemiskinan.Dalam Islam diajarkan kegiatan dan ibadah tertentu yang mempunyai dampak langsung dan tidak langsung terhadap pengentasan kemiskinan. Di antara ialah ajaran mengenai zakat, infaq dan shadakah (ZIS). Selain itu, Islam juga mengaruskan umatnya bekerja keras dan meningkatkan etos kerjanya; mengharapkan agar penguasa (pemerintah) Islam memberi kemungkinan berkembangnya tatanan kehidupan yang menguntungkan rakyat banyak; dan mengajak agar setiap orang meninggalkan kebiasaan buruk yang menjatuhkannya kejurang kemiskina , misalnya boros (mubazzir) dan judi.

Pemanfaatan Zakat secara Umum

Zakat mempunyai fungsi sosial yang sangat berat artinya bagi pengentasan kemiskinan. Ciri utama suatu kelompok miskin ialah ketidak mampun mereka memenuhi kebutuhan pokok makanannya. Maka dalil yang paling tegas menyebut penggunaan zakat sebagai makanan pokok adalah menyangkut zakat fitri, yakn i riwayat yang ai sampaikan oleh Ibnu Abbas yang menyatakan dua hal, yakni thuhrat li as-sha’im dan thu’mat li al-masakin (pemberisan bagi orang yang berpuasa dari ucapan tak benar dan kotor dan bagian makana bagi orang-orang miskin). Secara lengkap, hadis itu berbunyi:

saja berguna sebagai makanan bagi orang-orang miskin, tetapi juga seharusnya di bagi kepada delapan ashnaf yang disebutkan dalam Al-Quran:‘’Sesungguhnya sakat-sakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, pengurus-pengurus zakat, para mua’allaf (yang dinujuk hatinya), untuk memerdekakan budak, untuk jalan Allah dan ibn sabil, sebagai ketentuan yang diwajibkan Allah; dan Allah maha mengetahui dan maha bijaksana’’.

delapan ashnaf. Pandangan ini juga dianut oleh Sayyid Sabiq, penulis kitab Fiqh al-Sunnah; bahwa lebih dari itu ia mengungkapkan bahwa Al-Zuhriy, Abu Hanifa, Muhammad dan Abu Syabramah menbolehkan zakat fitri itu dibagikan kepada kaum zimmi berdasarkan pengertian umum dari Q.s. al-Mumtahanah/60: 8, berbunyi:

لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

yang artinya:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Sehubungan dengan ini Al-Syaikh Ali Ahmad Al-Jarjawiy, penulis kitab Hikmat al-Tasyri wa Falsafatuh, juga menerima pandangan yang menbolehkan pembahagian zakat fitri kepada orang zimmi. Namun, ia kembali menegaskan bahwa ayat 8 dari surah Al-Mumtahanah di atas, meskipun membuka jalan untuk bagian kaum zimmi, harus diakui bahwa zakat itu selayaknya diperuntuhkan kepeda orang-orang Muslim saja. Alasannya ialah hadis dari Mu’az, yakni sabda Rasulullah SAW:Ambillah zakat dari orang-orang kaya mereka (orang muslim), dan kembalikan pula kepada orang-orang miskin mereka (orang muslim).

Yang jelas bahwa adanya jalan untuk memberi zakat kepada kaum zimmi menunjukkan bahwa upaya mengentasan kemiskinan dalam Islam tidaklah bersifat eksklusif; tidak hanya untuk umat Islam, tetapi segenap bahagian masyarakat yang pantas menerimanya. Golongan yang membolehkan kaum zimmi menerima zakat firti disamping berdasar pada arti umum Q>S> Al-Mumtahannah: 8 juga surah Al-Tawbah: 160, tentang sasaran zakat, yang salah satu di antaranya ialah al-mu;allafat qulubuhun (kaum mualaf).

Kata mualaf, yang biasa di pahami dalam arti orang-orang yang baru masuk Islam dan perlu dujinakkan agar tidak menimbulkan fitnah (ancaman) terhadap Islam dan dengan harapan agar mereka dapat menganut agama Islam.

Aspek Sosial Pemanfaatan Zakat Fitridipahami dari redaksi yang menyangkut zakat fitri khususnya, yang menekankan oada kalimat tha’am (thu’mah) dan masakin atau fuqara’ yang semunya mengacu kepada perlunya pembnerian makanan bagi orang miskin, dan terangkum dalam satu kata yakni fithr (berbuka) yang menjadi nama khas dari zakat tersebut.

Berdasarkan hadis Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa zakat fitri harus ditunaikan sebelum shalat ‘Id, ad alah bertujuan agar para orang kafir tidak lagi berkeliaran mencari makanan pada hari itu, sebagaimana yang diharapkan Nabi SAW menurut riwayatnya Ibn ‘Ady danAl-Darquthni dari hadis Ibn Unar, dengan menegaskan: ‘’cukupkanlah makannya, sehingga tidak lagi berkeliling mencari makanan pada hari Raya ‘Id ini’’.

Dari sini kita dapat mengerti bahwa orang miskin adalah orang-orang yang susah memperoleh makanan, sehingga diantara mereka ada yang terpaksa menjadi pengemis. Keadaan seperti ini juga, diisyaratka oleh firman Allah swt. Di dalam Q.s. al-Hajj/22:28, berbunyi:

لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Yang artinya:

‘’Danupaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Adanya kaum miskin dan fakir dalam pengertian di atas, secara historis diduga keras terdapat –dan masih merajalela – dizaman permulaan Islam. Hipotesis ini menjadi kuat jika kita ingat bahwa perintah menbayar zakat fitri itu telah ada sejak tahun kedua Hijriyah, mendahului kewajiban zakat lain. Mungkin saja sesudah itu, seiring dengan kemajuan Islam itu sendiri, orang miskin dalam arti sudah memperoleh makanan sudah tidak ditemukan, dan karena itu pula sudah jarang dari mereka ditemukan menjadi pengemis. Akibatnya, engertian ‘’miskin’’ sudah berubah pula. Perkataan tersebut tidak lagi dikenakan secara khusus terhadap orang-orang yang susah memperoleh makanan, tapi sudah mencakup pula orang-orang yang yang memiliki harta, namun belum memenuhi kebutuhan primernya yang lain. Hadis riwayat Bukhari menegaskan: ‘’yang disebut miskin bukanlah orang-orang yang mendatangi manusia dan meminta sesuap atau dua suap makanan, sebiji atau dua biji kurma, tetapi yang disebut miskin ialah orang yang tidak memiliki harta yang mencukupi hidupnya, orang lain tidak memberikan perhatian untuk bersedekah kepadanya, dan tidak pula ia meminta orang lain untuk itu’’.

Sejalan dendan hadist tersebut, Al-Syafi’iy kemudian memahami pengertian ‘’miskin’’ bebbeda dengan pengertian faqir. Baginya, fakir ialah orang yang tidak punya harta dan tidak punya pekerjaan yang menghidupinya, baik mengemis maupun tidak, sedangkan miskin ialah orang yang punya harta atau pekerjaan namun tidak mencukupi hidupnya, baik meminta atau tidak.

Pengertian ‘’miskin’’, ternyata mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Masalahnya, apakah tujuan zakat fitri juga bergeser dari sifatnya sebagai thu’mah (makanan) menjadi alat pemenuhan kebutuhan lain di luar makanan itu? Tujuan utama zakat fitri sebagai makanan bagi orang miskin, tidak dapat dihapus, akan tetapi tidak berarti tujuan zakat fitri terpaku pada soal itu saja. Pengertian kata thu’mah yakni makanan untuk memenuhi kebutuhan perut yang sedang lapar, mungkin masih cocok bagi masyarakat yang masih sangat melarat. Namun, dalam masyarakat yang sudah berkembang atau yang sudah maju, pengertian demikian tidak relevan lagi. Perkataan tu’mah dalam kontes masyarakat yang sudah maju, lebih tepat jika diartikan menjadi komsumsi secara luas, mencakup segala hajat hidup orang miskin (ekonomi lemah) di luar pangan.

Dalam pembendaharaan bahasa syariat, perkataan ‘’makan’’ selai diungkap dengan kata-kata thu’mah atau tha’am, juga terkadang diungkap dengan kata akala (al-akl) dalam kata jadian: ta’kul atau ya’kul. Misalnya larangan memakan harta anak yatim diungkap dengan kata tersebut:mereka itu menelan api sepenuh perutnya, dan mereka itu akan masuk ke dalam api neraka’’. Larangan makan riba juga diungkap dengan kata tersebut:‘’ hai orang-orang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan terlipat ganda’’.

Kata ‘’ya’kulun’’ dan ta’kulun yang berarti ‘’memakan’’, tidaklah berarti bahwa pemanfaatan harta anak yatim dan perolehan riba hanya berlaku dalam proses makan (dalam arti mengisi perut). Larangan mengkonsumsi dalam arti luas, mencakup pemanfaatan harta anak yatim dan segala jenis peroleh riba. Dalam kontes pengertian konsumsi secara luas itulah, kita mencoba memahami makna yang terkandung dalam thu’mah. Bahwa untuk ukurang masyarakat yang sudah berkembang dan maju, zakat fitri dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan golongan ekonomi lemah, diluar kebutuhan makan (pangan) mereka. Maka dengan sendirinya zakat fitri juga tidak mesti di bayar dalam bentuk bahan makanan sepeti gandung, tamar dan anggur (di zaman Nabi SAW) atau beras dan jagung (bagi masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya). Dalam kontes ini, terasa ada benarnya pendapat Abu Hanifah yang membolehkan pembayaran zakat dalam bentuk qimah (nilai) yang sesuai dengan kadar zakat yang wajib baginya. Baginya, tradisi kita di Indonesia, cara ini tidak menjadi asing lagi. Meskipun diketahui bahwa sebahagiaan besar umat Islam di Indonesia mengaku bermaszhab Al-Syafi’iy, ternyata cara pembayaran zakat fitri dengan uang, menurut jaln yang di anjurkan Abu Hanufah, semakin populer.

Hal yang perlu dipahami disini, ialah apa yang mendorong cara tersebut menjadi semakin populer. Ternyata hal yang mendoromg kearah itu adalah tingkat kehidupan masyarakat Islam di Indonesia, yang tidak lagi susah makan, tetapi ‘’miskin’’ dalam arti belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak, seperti yang diisyaratkan oleh hadis Bukhari yang telah di kutip di muka. Dalam skala yang lebih luas, konsep ‘’miskin’’ tidak lagi berorientasi pada individu, tetapi lebih bersifat kolektif. Dari sinilah timbulnya istilah masyarakat miskin, atau negara-negara miskin, yang artinya mengacu kepada negara atau masyarakat yang terkebelakang. Dalam masyarakat atau negara miskin, mungkin saja masalah kekurangan pangan tidak lagi menjadi isu, tetapi digantikan oleh kekurangan lapangan kerja. Dengan demikian sumber zakat, termasuk zakat fitri sudah layak jika pengunaannya ditujukan kepada aspek kehidupan lain dalam proses pembangunan umat, dengan tetap mengingat sasaran pendayagunaan zakat yang mencakup delapan ashnaf.

Membangkitkan Solidaritas Islam

Pembayaran ZIS hendaknya tidak dipahami sebagai perintah ubudiyah semata, tetapi sangat jelas efek solidaritasnya antara sesama umat Islam. Bahwa menurut Ibn Khaldun, stata sosial masyarakat yang paling atas menjadi lapisan yang paling rawan, sebab secara sosiologis, masyarakat tingkat atas itu tidak lagi mempunyai rasa solidaeitas yang kuat, akibat kepedulian sosialnya semaking kurang. Bagi masyarakat Islam, prediksi Ibn Khaldun itu dapat ditangkal dengan tetap tumbuhnya solidaritas orang-orang yang sudah berkehidupan makmur (masyarakat hadharah), tidak akan mudah kehilangan rasa solidaritas, asal saja tetap menngamalkan dan menghayati makna ibadah zakat yang mengandung pesan untuk membantu mereka yang dilanda penderitaan. Dengan demikian, kita tidak perlu takut mengejar kemajuan dan mewujudkan masyarakat makmur sebab kemakmuran yang dijanjikan Islam bukanlah kemakmuran kapitalistik yang mengunakan kekayaan menindas orang miskin agar semakin miskin, melainkam kemakmuran yang membawah berkah bagi orang-orang miskin sekitarnya. Salah satu hikmah ajaran zakat adalah agar harta itu tidak hanya dinikmati oleh orang-orang kaya, sebagaimana firman Tuhan dalam Q.S. Al-Hasyr I(59):7:

مَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Yang Artinya:

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Dewasa ini, sebahagian umat kita terjebak oleh kemiskinan struktural. Mereka miskin bukan hanya karena kemalasannya, melainkan karena kondisi sosial yang menepatkan mereka beradadalam stata paling bawah, kurangnya lapangan kerja, serakahnya orang-orang berada, penekanan yang berlebihan pada sektor pertumbuhan ekonomi. Hal demikian dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk bersaing dalam mengaadakan kolusi memperoleh proyek-proyek raksasa, walaupun rakyat kecil harus digusur, ditambah lagi dengan belum maksimalkan pemerataan yang ditimbulkan kecemburuan sosial yang terpendam.

Maka untuk melepaskan umat dari kondisi yang demikian diperlukan pemikiran yang mendasar dan langkah konkret dengan menggalang solidaritas di antara mereka serta diperlukan adanya keberanian dan kearifan dari pemerintah yang menyusun kebijakan dari atas untuk lebih memperhatikan nasib orang kecil; mengajak secara bijaksana para konglomerat untuk lebih bersifat manusiawi, mengelolah bisnis untuk kepentingan bersama, bukan bisnis untuk kerajaan bisnis semata-mata.

Mendorong Etos Kerja Umat

Sebenarnya, sebhagian orang-orang miskin itu mengalami kemiskinannya adalah disebabkan oleh perilakudan pola hidupnya sendiri ang cenderung malas, pemboros, tanpa perhitungan. Untuk mereka yang keadaannya demikian, kita perlu membangkitkan semangat kerja. Pada dasarnya Islam lebih menyenangi orang-orang yang tangannya diatas (suka memberi) dari pada yang tangannya di bawah (hanya tau minta tolong). Untuk itu Islam sangat menganjurkan kerja keras agar hidup seseorang semakin baik. Dalam salah satu hadis Riwayat Al-Bukhariy, Rasulullah SAW menegaskan: ‘’tidaklah seseorang itu memakan makanan yang lebih baik dari hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya Daud AS memakan dari hasil kerja tangannya’’.

Dalam mendorong umatnya untuk bekerja keras, kama Rasulullah SAW pernah pula menyatakan bahwa tiap petani yang tanamanya dapat dinikmati oleh burung atau hewang ternak dan apalagi manusia, akan dicatat sebagai sedekah baginya. Teks hadist itu berbunyi: Hadis ini bermaksud untuk mendorong etos kerja di kalangan petani agar tiap jengkal tanah pertanian diusahakannya menjadi lahan yang produktif.

Kemalasan dikalangan umat juga disebabkan oleh adanya paham bahwa semakin kaya seseorang semakin sulit masuk sorga,sebab ia harus lebih banyak mempertanggung jawabkan harta kekayaannya. Apa lagi, jika dikaitka dengan riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW akan masuk sorga bersama dengan orang-orang miskin. Paham seperti ini hendaknya diperbaiki, jangan disalahgunakan. Sebaiknya jika kita baik, bahwa sebenarnya Islam mewajibkan kita berusaha menjadi kaya sebab hanya orang kaya lah yang dapat memenuhi perintah Tuhan untuk menbayar zakat. Hanya orang kayalah yang dapat berjihad fi sabilillah di zaman modern ini untuk menegakkan da’wah Islam yang semakin menbutuhkan fasilitas dan dana yang banyak.

Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Kemalasan akan semakin sempurna jika sebahagian masyarakat masih dilanda kebodohan. Kebodohan menyebabkan seseorang menjadi tidak tahu apa yang ia hharus perbuat demi kehidupannya. Karena itu, umat Islam sekarang sangat membutuhkanperbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Untuk itu, harapan agar lembaga-lembaga da’wah dan pendidikan Islam mau berupaya untuk mencurahkan perhatiannya pada pemberian kesempatan yang lebih luas bagi generasi muslim untuk mengecap pendidikan, antara lain dengan memberikan bea siswa sebagai upaya konkret mengentaskan kemiskinan. ‘’berilah kail, dan jangan hanya memberikan ikan’’. Untuk menberikan beasiswa maupun perbaikan sarana pendidikan, maka umat Islam dapat memanfaatkan zakat sebagai sumber dana pembiayaan. Upaya untuk itu memang telah dilakukan pemerintah, tapi umat Islam harus sadar bahwa tanpa menggali potensi umat sendiri berupa zakat disertai kesadaran untuk membantu sesama, nasib sebagai generasi muslim yang cerdas dan berprestasi akan kandas karena kelemahan ekonomi.

Pajak dan Pelaksanaannya menurut Hukum Ialam

Dalam Islam, istilah yang relevan dengan pajak adalah jizyah atau kharaj. Dua istilah ini masig-masing terdapat dalam nash sebagai brikut: ‘’pangilang orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula)kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk’’. ‘’atau kamu meminta upah kepada mereka?, maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah pemberi rezki yang paling baik.

Dua ayat di atas digunakan oleh Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkam al-Sulthaniyah untuk mengambarkan adanya pungutan pembayar di luar zakat. Bedanya dengan zakat ialah bahwa zakat dipungut dari umat Islam, sedang jizyah dipungut dari kalangan non muslim. Adapun kharaj dipungut dari non muslim dan muslim yang mengerjakan lahan tertentu. Jizyah adalah pungutan yang khusus diambil dari kaum musyrikin (non muslim atau dzimmi), dan sama sekali tidak dipungut dari mereka yang sudah muslim. Hal ini di sebut dalam Hadis Riwayat Abi Dawud sbb:. ‘’dari Ibni Abbas berkata, sabda Rasulullah Saw: tidak ada kewajiban jizyah atas umat Islam; telah memberikan kepada kami Ibn Katsir berkata, Sufyan ditanya tentang pemahaman soal ini, lalu ia berkata: jika ia telah masuk Islam maka tidak berlaku ada jizyah.

Dan tebih tegas lagi hadis riwayat Al-Turmudzi sebagai berkut:‘’yahya Ibn Aktam memberitakan kepada kami, telah memberitakan kami Qabus bin Abi Zhubyan dari bapaknya dari Ibn Abbas berkata, bersabda Rasulullah SAW tidaak pantas dua kiblat pada satu biumi, dan tidak pantas kaum Muslimin dikenakan jizyah (upeti)……………………..dan pengamalan soal ini di kalangan ulama bahwa kaum Nashrani, jika memeluk Islam maka lepaslah kewajiban membayar jizyah, dan perkataan Nabi saw.: ‘’tidak ada kewajiban membayar persepuluh yakni jizyah (semacan pajak), dan dalam hadis dipahami hal ini ketika ia berkata pajak (persepuluh) itu hanya atas Yahudi dan Nahrani, dan tidak ada kewajiban usyur atas umat Islam. Adapun kharaj (jenis pajak lain) biasanya dikenakan atas diri seorang yang diserani mengelola lahan pertanian. Lahan ini akan kalanya direbut dari tangan non muslim secara paksa atau tidak. Tanah yang direbut dari non muslim kemudian pengelolaannya diserahkan kepada non muslim tadi, dikenakan pembayar pajak (usyur) yang sekaligus merupakan jizyah. Tetapi jika ia memeluk Islam, maka jizyahnya gugur kemudian hanya dikenakan kharaj (pajak)yang jumlahnya tidak sebesar jizyah tadi.

Penerapan Zakat dan Pajak atas Umat Islam

Dalam zaman modern, khususnya di negara kita Indonesia, setiap warga yang memenuhi perhitungannya diwajibkan membayar pajak. Dengan demikian, umat Islam mengalami pembayaran dua jenis, yakni pajak dan zakat sekaligus, sehingga terkesan agak memberatkan. Banyak orang yang berusaha menemukan jalan agar umat islam tidak terkena beban pembayaran yang memberatkan tersebut.

  • Untuk memecahkan masalah ini, kita dapat memilih salah satu dari empat alternatif berikut:
  • Umat Islam di sampin membayar pajak sesuai perhitungannya, juga harus membayar zakat sesuai dengan perhitungan nisabnya.
  • Umat Islam hanya membayar zakat dan dibebaskan dari pembayarak pajak sama sekali;

Jika pajaknya lebih besar dari zakat, maka pajak yang dibayar adalah selisih lebih dari zakat yang sudah dibayarkan sebelumnya. Tetapi jika zakat lebih besar dari pajak, maka zakat yang dibayar adalah selisih lebih dari jumlah pajak yang sudah dibayar sebelumnya.

Umat Islam membayar pajak dari harta yang sudah dizakati, atau hanya membayar zakat dari harta yang sudah dibayar pajaknya. Alternatif pertama merupakan alternatif yang menarik dana pembangunan umat dan bangsa sebesar mungkin, tetapi terasa memberatkan dan rasanya tidak memecahkan persoalan. Meskipun demikian, terserah kepada setiap warga negara muslim, jika mereka ingin memberikan dana yang lebih besar bagi pembangunan bangsa dan umat.

Alternatif kedua merupakan contoh model yang menyamai medol pemungutan dana sesuai yang disebutkan dalam sejarah Islam. Tetapi kita harus memahami secara arif bahwa kita hidup dalam negara yang warganya cukup heterogen, bercampur antara umat Islam dengan non Muslim. Jika umat Islam dibebaskan dari pajak, dan hanya membayar zakat, maka dibutuhkan suatu undang-undang yang mengharuskan negara yang mengelola zakat itu sebagai dana pembangunan untuk semua warganya. (Lihat UU No. 38 tahun 1999).

Barangkali jalan yang moderat yang dapat ditempuh ialah memilih antara alternatif ketiga atau ke empat diatas. Alternatif ketiga menunjukkan bahwa pembayaran dilakukan secara inklusif (qiran), sehingga setiap orang pembayarannya berfungsi sebagai zakat dan pajak sekaligus. Sedangkan alternatif keempat menunjukkan bahwa umat Islam membayarkan zakatnya, kemudian pembayarak pajak hanya diperhitungkan dari harta yang benar-benar telah bersih dari zakat. Atau sebaliknya, umat Islam terlebih dahulu membayar pajaknya, dan setelah itu barulah dihitung zakat dari harta yang bersih dari pajak itu.

Untuk menetapkan mana alternatif yang layak dipilih perlu upaya memproduk undang-undang atau peraturan yang mendukungnya. Wallahu a’lam bi al-Shawab.[cp]

Tags:

teks ceramah zakat

Ceramah Ramadhan ke-22: Ulama Pembina Umat

Ceramah Ramadhan ke-22: Ulama Pembina Umat – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini CeramahPidato.Com akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Ulama Pembina Umat, simaklah.

Dalam bulan suci Ramadhan, perang ulama sebagai pembina umat, tidak dapat disangkala. Menjelang sahur, kita mendengar dialog agama melalui RRI dan radio suasta, menjelang shalat subuh, kita didisuguhi mutiara subuh, menjelang berbuka puasa, kita disuguhi hidangan rihani yang singkat, menjelang shalat tarwih, kita mendengar lagi ceramah agama, dan dipagi hari, dimedia cetak. Juga menyunguhkan siraman rihani. Pendeknya, bilan Ramadhan yang berkah, bukan hanya melatih mental dan kesabaran, tetapi juga berperang sebagai ‘’madrasah al-Shiyam’’ (pesantren kilat) dan pedalaman ilmu agama, yang semuanya disuguhi oleh seorang yang berprofesi ulama dan muballigh yang di Jawa di gelar Kiyai, di aceh digelar Tengku dan di Sulawesi Selatan digelar Gurutta (Makassar, Bugis dan Mandar).

ceramah ramadhan

Namun, di balik perang yang sangat membahagiakan itu, masih terdapat diantara mereka, yang suka menebarkan bibit perpecahan, deskruftif dan tidak menyuguhkan hidangan yang menyejukkan, kare sifat yang arogan yang mengklaim bahwa hanya pendapatnyalah yang benar dan yang lainnya salah. Padahal yang dikemukakannya adalah masalah hilafiyah (furu’iyah) yang semuanya benar, menurut hakikat Islam, misalnya 4 adalah 2+2, dan juga 3+1=4.

Sebab itu, uraian singkat ini, penulis akan menyuguhkan siapa yang disebut ulama, dan bagaimana perang utamanya dalam membina umat .

Pengertian

Kata Ulama berakar dari huruf ‘’Ain, Lam,dan Mim’’, (‘Alim jamaknya Ulama), yang berarti: orang yang mempunyai ilmu yang dalam. Dalam alquran, hanya ditemukan dua ayat yang secara eksplisit menyebut ‘’Ulama’’. QS.Al-Fathir 35: 28:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Yang Artinya:

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Di dalam QS. Asy-Syu’ara 26: 197:

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Yang artinya:

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?

Dari kedua ayat tersebut dipahami, bahwa Ulama itu ialah orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang dalam, tentang ayat-ayat Allah, baik bersifat kauniyah dan atau Qur’aniyah ( Pengetahuan umum dan agama).

Jadi, menurut Alquran, semua itu mempunyai ilmu kauniyah (umum), seperti dokter, Insinyur dan Sarjana Ekonomi, disebut Ulama. Demikian jiga ilmu Qur’aniyah (Agama) seperti ahli Tafsir, hadis, fiqhi, juga disebut Ulama. Tapi, bbbagi ilmu umum atau agama, keduanya mempunyai syarat mutlak bersifat Istislam (Muslim) dan khasy-yah (takut) kepada Allah. Maka persepsi sebahagian masyarakat, bahwa Ulama itu hanya ahli agama, tidak dapat dipertahankan.

Dengan demikian, ahli ilmu yang non muslim tidak takut kepada Allah, sekalipun misalnya menguasai Ilmu Agama, seperti orientalis, tidak berhak disebut ‘’Ulama’’ menurut Alquran.

Demikian juga, sekalipun orangnya bergelar Kiyai (sakti), manakalah tidak tikut kepada Allah (Misalnya suka berdusta), maka keulamaannya telah gugur (Ulama Su’). Sebab itu, gelaran ‘’ Gurutta’’ (Sul-sel) adalah gelaran yang paling tepat ditransfer bagi ulama, karena selama dia tetap berperan Gurutta (teladan), kita akan tetap taati.

Dalam Alquran, ulama bagi kepala tiga bahagia: Ulama Zalim, Ulama Muqtasid (ulama proaktif) dan Ulama Sabiq bi al-Khairat (terdahulu dalam kebaikan) QS. Al-Fathir 35: 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Yang artinya:

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Dan ulama bagi ketiga inilah (Sabiq) yang patut disebut ‘’warasatul anbiya’’ (pewaris nabi-nabi).

Peran Ulama

Sebenarnya, peran Ulama sangat banyak, sama peran Nabi. Tapi peran utamanya, yaitu Uswah (teladan), tabligh (manyampaikan pesan agama), amar ma’ruf nahi mungkar dan tahkim (memberi solusi yang arif terhadap masalah).

Dari peran utama tersebut, niscaya peran tabligh (mubaligh) dan tahkim itulah yang paling urgen disampaikan, terutama di bulan suci Ramadhan. Karena terkadan sebagian mubaligh, masih ada yang suaka penyampaikan pesan-pesan agama, yang boleh dikata ‘’ulama zalim’’ mungkin karena intres pribadi, atau mau populer atau fanatik organisasi (partai) yang dianutnya, menyebabkan tidak ilmiah, tidak rasional dan bertentangan dengan ajaran dasar alquran dan Sunnah. Misalnya, uraiannya bertentangan metodologi Alquran ‘’bil hikmah’’ QS. Al-Nahl 16 : 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Yang artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kearifan yang harus diperankan oleh seorang ulama (mubaligh), sebagai peran tahkim, terutama di bulan suci Ramadhan ialah menjelaskan masalah agama misalnya tentang khilafiah ‘’batal wudhu atau tidak batal, jika bersentuhan wanita’’.

Yang menyebabkan khilafiah itu adalah tentang penafsiran ayat ‘’Aw lamastum al-Nisa’’ (jika bersentuhan denagn wanita), QS. An-Nisa’ 4: 43:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Dalam menafsirkan ayat tersebut di atas, ada tiga versi:

  • Imam Syafi’i, menafsirkan bahwa apabila bersentuhan tanpa alas, maka wudhu batal, sesuai dengan harfiyah ayat.
  • Imam Malik, menafsirkan bahwa jika bersentuhan dengan sengaja dan meransang, barulah batal wudhunya.
  • Imam Hanafie, menafsirkan bahwa tidak batal, karena yang dimaksudnya ayat tersebut ber sengama, sesuai makna batin (metaforas).

Jika seorang Ulama (mubaligh) menjelaskan pesan agama seperti itu, maka itulah yang dinamakan tahkim, sesuai fungsi Ulama. Bukan mengklaim hanya satu pendapat mibaligh yang benar, karena ketiganya berdasarkan Alquran. Diserahkan kepada umat memilih salah satunya, sesuai kondisi daerahnya. Kalau banyak air, cocok ala Syafi’i dan kalau susah air .

tau mahal harganya, cocok ala Malik dan itulah yang dipraktekkan katika thawaf di Mekah.

Dengan demikian masalah tarwih, 8 rakaat yang dulakukan nabi di Masjid, hanya 3 kali, tetapi luar biasa panjangnya surah dan indah bacaan (ada istilah bengkak kakinya berdiri) dan 20 rakaat yang dilakukan ijma’ (aklamasi) sahabat Nabi di masjid, dan tidak panjang surahnya.

Kalau begitu, keduanya tidak ada yang persis Nabi, karena keduanya melakukan 30 malam di masjid dan surahnya yang pendek. (Lihat Bukhari dan Muslim dalam Al-Sanadi, I: 342-343).

Menurut oenulis, andai kata seseorang tidak mau tarwih di bulan Ramadhan, tidak berdosa, karena hukumanya sunat. Yang berdosa, jika seorang tidak puasa, padahal tidak sakit dan musafir. Namun, alangkah ruginya sesorang kalau di waktu panen pahala Ramadhan, lalu tidak memperbanyak amalan. Kapan lagi?.

Akhirnya, peran utama Ulama. Utamanya di bulan Ramadhan, hendaknya tetap konsisten sebagai seorang Gurutta (teladan), menyampaikan tabligh, amar ma’ruf dan nahi mungkar dan tahkim (solusi) yang segar, mempersatukan umat, dan membantu pemerintah dalam pembangunan bangsa. Semoga Allah Swt. Menerima amalan kita terutama di bulan suci Ramadhan ini, Amin.[cp]

Tags:

CERAMAH RAMADAN KE 22

Ceramah Ramadhan ke-25: Membangun Kerukunan & Toleransi Dalam masyarakat Indonesia yang Plural

Ceramah Ramadhan ke-25: Membangun Kerukunan & Toleransi Dalam masyarakat Indonesia yang Plural – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini CeramahPidato.Com akan berbagi artikel mengenai Ceramah atau Pidato Ramadhan atau Puasa Tahun 2019 / 1440 Hijriah. Adapun judul ceramah ramadhan pada kesempatan kini adalah Membangun kerukunan & Toleransi dalam masyarak Indonesia yang Plural, langsung saja disimak:

Pluraslisme dalam segala hal di dunia ini, bahkan didalam semesta ini adalah realitas obyektif yang tidak dapat diingkari, ditolak, apalagi dinafika. Dalam pandangan Islam pluralisme atau kemajemukan adalah bagian dari sunnatullah (takdir Tuhan) yang tidak pernah dan tidak akan berubah, misalnya, Allah swt berfirman di dalam QS. Al-Ahzab (33): 62, berbunyi:

Yang artinya:

Dalam pluralitas ini terkandung hikmah yang amat banyak, luas lagi dalam. Tugas manusia, makhluk berakal yang diberikan wewenang menjadi khalifa Tuhan di bumi adalah memikirkan, di balik keragaman tersebut. Salah satu tujuan dari aktifitas tersebut adalah meneguhkan keyakinan bahwa di nalik keragaman itu terdapat Kemaha-Tunggalan yang justeru merupakan asal muasal dan sumber dari keragaman itu sendiri. Bahkan, keragaman itu justeru merupakan bagian dari tanda-tanda Kemaha Kuasaan-Nya (QS. Al-Rum (30): 22):

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Yang artinya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Hanya dia-lah yang tunggal, Maha Unik dan Maha Suci dengan ketunggalan-Nya (QS. Al-Syura (42): 11). Selain dia semua mengandung keragaman sehingga di dunia ini tidak ada satu wujud atau realitas pun yang betul-betul esa dan unik.

Bentuk keragaman yang terlihat sangat jelas dan terkait langsung dengan manusia di muka bumi ini adalah keragaman dalam pikiran, budaya, bahasa, ras, etnis, suku, bangsa, warna kulit, adat istiadat, agama, kecenderungan politik, dan sebagainya. Keragaman-keragan tersebut merupakan bagian dari dinamika manusia sekaligus faktor-faktor yang mengandung ambivalensi pada dirinya. Di satu sisi, keragaman itu bisa menimbulkan konflik, permusuhan, bahkan disintegrasi, tetapi disisi yang lai keragaman tersebut justeru bisa membawa kepada harmoni, persaudaraan, dan intergrasi.

Dalam kontes keindonesiaan keragaman itu jelas terlihat sangat gamblang. Indonesi dikenal sebagai negara yang memiliki Wilayah yang sangat luas; terdiri atas belasan ribu pulau; dihuni oleh ratusan juta penduduk dengan latar belakang ratusan suku, ratusan bahasa, perbedaan warna kulit, keragaman adat istiadat, agama, kepercayaan, serta tak kalah pentingnya kecenderungan politik yang benar-benar sangat berwarna-warni. Keragaman itu diakui merupakan khazanah kekayaan Indonesia yang tiada tara dan tentunya harus dipelihara dan dilestarikan. Setiap upaya untuk mengeliminasi keragaman itu dan memaksakan keseragaman (kecuali dalam hal-hal tertentu) pastilah menimbulkan permasalahan besar. Upaya seperti itu di samping menentang sunnatullah (takdir), juga bertentangan dengan fitrah manusia dan tidak sejalan dengan prinsip yang berlaku universal, yaitu bahwa persatuan dan kesatuan harus dibangun dalam keragaman (unity in diversity, E pluribus Umum, Bhineka Tunggal Ika).

Dalam Alquran ditegaskan bahwa Tuhan tidak akan pernah menggunakan kemakuasaan-Nya yang mutlak untuk memaksakan agar semua manusia di muka bumi ini beriman (QS. Yunus (10):99):

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Yang Artinya:

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan untuk memiluh jalan kehidupan merupakan hak asasi yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-hamba-Nya dengan konsekuensi bahkan masing-masing manusia akan mempertanggungjawabkan sendiri pilihannya di hadapan Tuhan.

ceramah ramadhan

Dilihat dari sudut agama, hanya sedikit negara di dunia ini yang memberlakukan secara formal keseragaman agama. Contoh kongkritnya adalah Saudi Arabia (khususnya di dua kota suci Makkah dan Madinah) dengan Islamnya dan Vatikan dengan Katoliknya. Kota-kota ekslusif agama ini bisa dipahami dari segi sosio-politik historinya di samping karena alasan-alasan doktrinal-teologisnya. Sedangkan di negara-negara Islam lainnya seperti Mesir, Syria, Iran, Yordania, dan sebagainya tetap ditemukan adanya kelompok-kelompok minoritas agama tertentu khususnya Yahudi dan Nashrani yang memang dijamin perlindungannya oleh Islam.

Di Indonesia, keragaman dalam agama, suku, bahasa, dan budaya sejak dulu memperoleh pengakuan formal dari segenap bangsa Indonesi. Sejak awal kemerdekaan, bangsa Indonesia selalu kemajemukan; masyarakatnya hidup dalam kedamaian, kesamaan dan kebersamaan yang sejati (tidak semua); saling menghargai, menghormati, dan mengasihi; saling menolong dan mengayomi; hidup dalam tolerasi yang tinggi dan mengeyahkan bias-bias promordialisme yang merusak persatuan dan kesatuan. Inilah yang terpratri dalam istilah Bhineka Tunggal Ika, semboyang negara yang di hadapi di luar kepala oleh hampir seluruh anak bangsa meskupun ditengarai bahkan tidak semua dari mereka yang menhapalkan tahu persis arti harfiahnya apalagi makna yang tersirat di dalamnya. Mereka yang tahu makna pun belum tentu dapat mangimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di negara kita berupa konflik sosial dengan latar belakang SARA yang membawa korban harta, jiwa dan tragedi kemanusiaan yang parah membuktikan tesis tersebut. Memang masalah konflik sosial ini cukup kompleks untuk dianalisis namun satu hal yang pasti adalah bahwa masyarakat kita memang masih sangat rendah pengetahuan, penghayataan, dan terutama, kasadarannya tentang betapa pentingnya memelihara dan mempertahankan kemajemukan sebagai bagian dari dinamika manusia yang distur secara sengaja dan berhikmah oleh Tuhan.

Oleh karena itu, masalah yang dihadapi dalam upaya membengun masyarakat indonesia yang benar-benar bersatu dan kuat dalam kemajemukan suku, agama, budaya, antar golongan, dan sebagainya di samping faktor kognisi juga terkait dengan afeksi dan psikomotorik yang membentuk pola tindak dan perilaku yang berwawasan luas dan berkesadaran tinggi dari masyarakat baik secara individual maupun secara kelompok.

Ajaran yang membentuk kesadaran dan perilaku untuk hidup bersatu di tengah kemajemukan sebenarnya dimiliki oleh setiap budaya dan agama yang hidup di tanah air. Meskipun ada hal-hal yang eksklusif, atau tepatnya unik, dalam tiap budaya dan agama namun pada dasarnya budaya dan agama yang hidup di Indonesi mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kegotong-royongan, tepo seliro, saling menhargai, saling membantu, saling mengingatkan dan sebagainya. Sifat-sifat ini pada dasarnya merupakan perwujudan sekaligus merupakan pengakuan akan adanya kemajamukan dan keragaman. Kalu pun terlihat ada sikap eksklusif dari setiap kelompok suku, budaya dan agama maka hal tersebut harus dipandang secara arif oleh karena sifat eksklusifikasi sampai pada batas-batas tertentu juga merupakan bagian dari dinamika kehidupan itu sendiri. Sepanjang eksklusifikasi tersebut itu tidak berarti menyepelekan atau tidak menghargai orang lain yang pada giliranya menimbulkan perpecahan, maka sifat dan sikap itu tetap sah-saja. Dengan kata lain, manusia pada dasarnya tidak dapat sepenuhnya membebaskan diri dari kecenderungan untuk bersifat dan bersikapeksklusif, karena eksklusiftas justeru tidak dapat dipisahkan dari ingklusifitsa sebagaimana halnya heterogenitas tidak dipisahkan dengan homogenitas, kejamakan tidak dapat dipisahkan dari ketunggalan. Ketika seseorang ingin tampil eksklusif (sekali lagi sampai bats-batas tertentu) sesungguhnya hal itu merupakan pengejawantahan dari kecenderungan untuk tampil beda dengan orang dan kelompok lain.

Dalam agama misalnya, ada hal-hal di mana umat harus tampil eksklusif dan harus betul-betul beda dengan umat lainnya. Adanya suatu kemustahilan bahkan kekacauan-balauan bila semua pemeluk agama yang berbeda harus diiringi untuk menyeragamkan keyakinan, ritual, dan doktrin-doktrin agama yang mereka anut. Sikap seperti itu bukan saja amburadul tetapi justeru menjerumuskan umat kepada kebingunan dan kesesatan. Bahkan di kalangan antara pemeluk intern satu agama, eksklusifitas dan tampil beda tersebut harus di hormati sepanjang tidak bertentangan prinsip-prinsipdasar yang semestinya (wajib) menjadi kesepakatan satu agama. Semua itu kembali lagi kepada dinamika internal dan eksternal dari agama-agama dan para pemeluknya.

Terjadinya perselisihan di kalangan pemeluk agama atau kelompok suku dan budaya yang bisa meningkat menjadi pertentangan dan saling bermusuhan bahkan bentrok fisik yang pada gilirannya menimbulkan tragedi berdarah seperti di singgung di atas, penyebab utamanya, bukanlah karena sentimen suku, agama atau pun budaya an sich, perseteruan seperti itu biasanya barawal dari, dan lebih disebabkan oleh, ‘’faktor-faktor lain’’ yang tidak ada kaitan langsung dengan agama, suku, dan budaya. Yang tampak menonjol adalah faktor sosial ekonomi. Persaingan dan perebutan lahan kehidupan serta ketimpangan sosial antara satu kelompok dengan kelompok lainnya menyebabkan terjadinya akumulasi kebencian yang pada saat-saat tertentu meledak menjadi persekutuan terbuka dengan menjadi sentimen agama, suku, dan budaya sebagai alasannya. Di sini, agama maupun fenomena suku dan budaya yang bernuansa kekuasaan maupun yang bertendensi ekonomi.

Kalu kita kembali surut ke belakang menengok perjalanan panjang dari agama-agama di dunia ini, maka kita akan melihat bahwa agama memang seringkali digunakan sebagai alat untuk memperoleh akses kekuasaan dan akses-akses sosial ekonomi lainnya. Yang ironis adalah bahwa kadang-kadang agama diperatas-namakan untuk perbuatan-perbuatan yang justeru bertentangan dengan prinsip-prinsip kesucian, kedamain, dan kasih sayang yang sesungguhnya menjadi inti ajaran semua agama. Berapa banyak perang yang pecah, berapa banyak darah yang tumpah, berapa besar harta yang terbuang, dan tak terbilang lagi nyawa yang melayang dimasa lampau, masa kini, dan mungkin juga masa depan, justeru dengan memperatasnamakan kesucian agama. Dan lebih ironis lagi karena justeru dalam tubuh umat seagama sendirian pun tejadi konflik tajam yang seringkali mncabik-cabik persaudaraan dan persatuan, bahkan menciptakan kotak-kotak dan mubu-kubu yang sangat tajam dari satu agama. (contoh kongkrit dalam Islam adalah perang jamal dan perang Siifin justeru terjadi di antara sesama sahabat Nabi dalam rentang waktu yang relatif masih sangat dekat dengan kehidupan Nabi Muhammad Saw. Perseteruan abadi antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah; berpecah dikalangan kaum Nashrani yang melahirkan ‘’agama’’ baru yaitu Katolik dan Protestan, dan sebagainya).

Pengalaman sejarah seperti itu mestinya menjadi pelajaran berharga bagi umat beragama, khususnya para tokoh dan pimpinannya untuk bersikap lebih arifdan lebih hati-hati dalam mengelola umat masing-masing. Betapa pun sangat disadari bahwa agama yang berbasis pada keyakinan yang timbul dari emosi manusia yang terdalam (qalb) sangat sensitif dan amat mudah dieksploitasi. Oleh karena itu seharusnya para pemeluk agama berupaya untuk seoptimal mungkin terjadinya hal-hal sensitif yang bisa memicu konflik.

Seperti yang disinggung di awal tulisan ini bahwa agama memiliki ambivalensi pada dirinya, khususnya dilihat dari sudut interakti para pemeluknya. Pada satu sisi agama bisa menjadi kekuataan integratif, konstruktif, membawa damai dan harmoni. Sebaliknya, di sisi yang lain agama justeru bisa beralih pesan sebagai kekuataan disintegrstif denitif, dan menimbulkan konflik antara pemeluknya secara terlebih secara eksternal.

Dilihat dari sudut ajarannya yang sarat dengan nilai-nilai luhur, kesucian, perdamaian, kasih sayang, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan serta nilai-nilai kemahklukan lainnya yang universal, maka agama dapat menjadi kekuataan intergratif dan konstruktif. Dari sisi ini seharusnya dan sudah sepantasnya para pemeluk agama hidup dalam kerukunan dan kasih sayang, saling menghormati, sling mengasihi, saling menolong tanpa harus mempersoalkan perbedaan doktrin dan kayakinan masing-masing. Sekiranya sisi agama yang satu ini dapat terimplementasi dan teraplikasi dalam realitas kehidupan umat beragama maka sungguh hidup manusia akan sangat indah dan mengalami kabahagiaan serta kedamaian yang tiada tara. Namun harapan tersebut ternyata lebih sering berbeda dan faktor pemicu bagi terjadinya disntegrasi dalam konflik mulai dari yang berskala kecil dan ringan sampai kepada konflik yang berdarah-darah.

Faktor-faktor yang menyebabkan agama rawan dengan konflik dan perpecahan antara lain: pertama, absolutisme dalam agama yang membawa penolakan terhadap keyakinan dan agama orang lain yang pada gilirannya melahirkan fanatisme ekstrim sehingga menutup ointu untuk dialog. Bahkan absolutisme dalam keyakinan tertentu sering kali melahirkan sektsrianisme dan eksklusifisme ekstrim yang dua-duanya sangat eksplosif dan potensia melahirkan konflik. Kedua, watak ekspansionisme dalam agama yaitu doktrin keharusan untuk menyiarkan dan menyebarkan agama kepada orang lain yang mendapatkan legitimasi dari kitab suci. Setiap agama, kecuali agama tertentu, mewajibkan pemeluknya, baik perorangan maupun kelembagaan, mengemban tugas suci ini.interaksi untik beragama dalam mengaktualisasikan tugas dan misi suci ini merupakan pangkal dari berbagai konflik keagamaan. Ketika, watak penetrasi agama terhadap budaya non agama yang melahirkan konflik agama dengan dimensi kultural secara timbal balik. Kaum beragaman biasanya sangat bersemangat, sesuai tugas sucinya, untuk meng-agama-kan kehidupan masyarakat dalam seluruh dimensinya sementara sebagian masyarakat menilai bahwa wilaya agama terbatas pada hal-hal yang bersifat sakral dan ritual murni keduniaan dan bersifat profan. Tidak jarang bahwa kepentingan-kepentingan tertentu ikut bermain dalam upaya ‘’pengagamaan’’ sistem kehidupan masyarakat. Untuk yang terakhir ini agama sering kali dicap sebagai alat atau kendaraan bagi kepentingan-kepentingan tertentu seperti politik, sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya. (kasus pornografi yang sering kali ramai dimedia massa merupakan contoh konflik antara dunia di satu pihak dengan dunia ‘’seni’’ dan ‘’budaya’’ di pihak lain).

Adanya watak ambivalensi seperti dikemukakan di atas seharusnya dipahami, disadari, dan dihayati oleh para pemeluk agama sehingga mereka berupaya untuk meredam dan atau mengeliminasi potensi-potensi disintegratif yang terdapat dalam agama dan mengedepankan dimensi-dimensinya yang membawa kepada integrasi dan kedamaian.

Dilihat dari sudut pandang agama, situasi bangsa memang terlihat rawan akan berpecahan. Sebab sudah terlanjur diangkat ke permukaan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, khususnya tujuan kekuasaan. Berbagai pengambilan keputusan yang terkait dengan masalah pengelolaan bangsa dan negara ini biasanya tidak bisa luput dari pertimbangan-pertimbangan yang bernuansa agama. Bahkan tidak jarang persoalaan agama dijadikan sebagai komoditas politik oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan. Issu-issu seperti ini pun biasanya sangat laris untuk dijual oleh media karena memiliki nilai ‘’berita’’ yang tinggi. Hal-hal seperti ini merupakan contoh kongkret betapa agama sudah turut bermain dalam pecaturan politik praktis bangsa. Tentu saja di alam kebebasan seperi sekarang ini, sikap seperti itu sah-sah saja dan tidak ada satu otoritas pun ynag berhak untuk melarang atau menolaknya. Paling tidak orang boleh setuju dan boleh tidak setuju sehingga perdebatan panjang menjadi tak terhindarkan. Setiap orang bebasuntuk memberi interpretasi terhadap ajaran agamanya (tentu saja dengan persyaratan-persyaratan tentu yang biasanya diatur dalam intern agama). Yang penting tidak ada klaim-klaim untuk memonopoli kebenaran hanya pada pendapat pribadi atau kelompok sendiri. Sebab tes-tes agama yang absolut itu bisa sudah diberi interprestasi maka nilainya tidak lagi absolut melainkan nisbi (zhanny).

Terjadinya berbagai kemelut dikalangan umat beragama baik internal maupun lintas agama antara lain karena sikap eksklusifitas ekstrim yang tidak mau tahu keberadaan kelompok lain behkan menganggap bahwa kebenaran satu-satunya hanya ada pada diri dan kelompoknya saja. Sikap seperti ini masih dominan menguasai para pemeluk agama sehingga menjadi salah satu faktor penting yang menghambat terjadinya kerukunan yang sejati. Padahal, sikap ingklusifitas dalam beragama bisa saja dikembangkang tampa harus mengorbankan keyakinan masing-masing. Pada salahnya kalau seseorang, misalnya, mengatakan bahwa agama dan keyakinan saya paling benar tetapi saya tetap menghormati dan menghargai agama dan keyakinan anda sebagai suatu kebenaran menurut yang anda yakini. Sikap seperti ini sama sekali tidak merugikan siapa-siapa dan tidak berarti mencampur adukkan kebenaran. Sebab, kebenarang yang sejati sebenarnya bisa bertemu pada level esensi, sedangkan pada level permukaan (syari’ah) memang tidak mungkin dan tidak harus diusahakan untuk mencapai titik temu.

Para pemeluk agama juga bisa mencapai titik temu (kesepahaman) dalam aspek-aspek moral dan spiritual, sedangkan pada aspek teologis dan ritual tentu saja tidak mungkin dicapai titik temu. Pada dua aspek terakhir ini berlaku prinsip laku dinukum wa liya din (bagi kamu agama kamu dan bagi saya agama saya) tanpa harus saling menyalahkan dan melecehkan inilah salah satu bentuk toleransi dak kerukunan hidup beragama yang patut diaplikasikan pada semua level masyarakat meskupun disadari bahwa tidaklah mudah untuk mengimplementasikan pada level awam yang merupakan bagian terbesar dari setiap umat beragama. Namun dengan kerja keras dan i’tikad baik dari para tokoh dan pemimpin umat hal itu pada saatnya bisa dicapai.

Masalah lain hingga kini tetap potensial mengandung konflik adalah hubungan antara kelompok Muslim yang mayoritas dengan non-Muslim yang minoritas. Kelompok Muslim yang dalam kenyataannya memang sangat mayoritas menuntut adanya perlakuan secara proporsional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sepanjang sejarah bangsa ini mereka merasa belum pernah mendapatkan perlakuan ‘’tidak adil’’ bahkan ‘’dizhalimi’’. Kuat pembangunan dan hasil negara yang berlimpah-limpah lebih banyak dinikmati kelompok minoritas. Mereka merasakan adanya hambatan-hambatan untuk masuk dalam akses kekuasaan, akses ekonomi dan sebagainya sebaliknya kelompok minoritas menganggap bahwa apa yang mereka peroleh selama ini adalah wajar-wajar saja sebagai hasil dari kerja keras, keuletan, dan keterampilan yang mereka miliki. Bahkan mereka pun merasa diperlakukan secara tidak adil, diskrimminatif, dan selalu terancam oleh kelompok mayoritas sehingga harus berusaha untuk melakukan upaya-upaya preventif.

Jika masalah tersebut di ungkit dan diperdebatkan kembali secara terbuka barangkali tidak akan pernah dicapai titik temu sebab masing-masing kelompok akan bertahan pada prinsip dan argumen-argumen sendiri. Apa lagi di era keterbukaan sekarang ini dimana tidak ada otoritas yang sungguh-sungguh dipercaya untuk mencari jalan keluar yang dapat diterima oleh kedua pihak. Oleh karena itu jalan terbaik adalah melakukan dialok-dialok terbatas dalam suasana sejuk, seperti forum sekarang ini, yang dilandasi i’tikad baik masing-masing pihak disertai rasa tanggung jawab besar akan keselamatan bangsa kedepan sehingga semua pihak akan lebih mengedepankan dan mengutamakan kepentingan bangsa dari pada kepentingan kelompok dan golongan. Sudah saatnya semua pihak melakukan pendinginan suasana dan melupakan masa lampau. Sebaliknya perhatian dan lebih dicurahkan ke depan untuk satu Indonesia yang kokoh kuat, bersatu dalam kemajemukan, penuh toleransi dan saling menghargai, di mana semu aorang dan semua kelompok memperoleh perlindungan hukum yang sama, keadilan yang sama, dan tentu saja kesempatan yang sama untuk berjuang membangun masa depan …prinsip ‘’tidak ada diktator mayoritas dan tidak ada tirani minoritas’’ harus tetap dijunjung tinggi dan ditaati secara sungguh-sungguh oleh semua pihak.

Hanya dengan sikap seperti yang dikemukakan di atas harapan akan terjadinya rekonsiliasi nasional dan integrasi bengsa lewat jalur agama dan budaya dapat terwujud. Sebaliknya bila masing-masing kelompok tetap bersifat eksklusif, mementingkan diri sendiri dan tidak mau tahu apalagi peduli terhadap kepentingan bangsa dan negara maka Indonesia baru yang didambahkan hanyalah sebuah mimpi indah yang tidak pernah terwujud dalam kenyataan.

Dilihat dari perspektif Islam, sesungguhnya ajaran mengenai kerukunan antara umat yang plural bukanlah hal yang baru. Agama yang dibawah oleh Muhammad saw. Ini sudah memberi pedoman yang sangat komsetsionel tentang bagaiman berantaraksi dengan sesama Muslim; yang sesama manusia yang berlainan etnis dan agama; bahkan dengan sesama makhluk sekali pun. Pluralitas, seperti disinggung diawal tulisan ini, di samping diakui secara tegas dan oleh Islam sebagai bagian dari sunnatullah yang tidak bisa didistorsi. Juga harus diterima dan dihormati sebagai anugarah besar dari Tuhan. Dunia yang plural adalah dunia yang indah. Masyarakat yang plural untuk berlomba dan bersaing untuk meraih kedudukan yang lebih baik (ber-fastabiq al-khairat). Persaingan-persaingan seperti inilah yang sebenarnya merupakan pangkal dari munculnya berbagai konflik atau kalau manusia tidak memiliki kasadaran yang dalam mengenai nikmat kehidupan secara bebas dan damai dan juga berhak atas penghormatan, pengakuan, kesempatan bekerja dan berekspresi, kebebasan untuk berkumpul dan berserikat, kebebasan untuk menganut agama dan keyakinan, dan sebagainya.

Hal-hal yang dimaksud diatas secara populer biasa disebut sebagai HAM (hak-hak asasi manusia yang telah diatur oleh PBB dalam deklarasi semesta Tentang Hak-hak Asasi Manusia Universal deklaration of The Human Right) yang disepakati oleh seluruh negara yang bergabung dalam organisasi dunia paling bergensi itu. Bahkan secara khusus, hak asasi menyangkut agama diatur tersendiri dalam suatu deklarasi yang disebut Deklatation on the Elimination of Religius Intolerance and Discrimination (deklaeasi tentang penghapusan intoleransi dan diskriminasi Berdasarkan Agama). Dalam deklarasi ini, hak-khak asasi mengenai agama diatur dengan cermat, antara lai meliputi: hak menganut agama atau keyakinan menjadi pilihan, hak dan keebebasan untuk mengamalkan agama dan keyakinan; hak beribadah, hak mendirikan dan mempertahankan tempat-tempat ibadah, hak mendirikan lembaga-lembaga sosial keagamaan, hak menulis, menerbitkan, dan menyebarluaskan publikasi-publikasi yang relevan dengan agama, hak mengajarkan agama, dan seterusnya.

Terjadinya gesekan-gesekan antara pemeluk agama yang berbeda ataupun dari satu agama yang sama secara internal, biasanya lebih disebabkan karena ketidakmampuan seseorang atau sekelompok umat beragama menanti dan mengamplikasikan prinsip-prinsip yang disepakati tersebut. Hal ini biasanyan berkait dengan watak ambivalensi agama seperti telah dikemukakan di atas.

Dalam pandangan Islam, kebebasan-kebebasan yang terkait dengan agama telah diatur secara umum. Misalnya kebebasan untuk beriman atau tidak beriman dijamin oleh Alquran (QS.Al-Kahfi (18): 29);

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقً

Yang artinya:

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Tidak ada paksaan dalam agama QS.Al-Baqarah (2): 256;

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Yang artinya:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Bahkan nabi pun sangat dilarang melakukan pemaksaan tersebut (QS.Al-Ahzab (33): 45;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Yang artinya:

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan,

Karena otoritas Nabi sebatas pada penyampaian ajaran yang diterima dari Tuhan. Otoritas untuk membuat seseorang beriman hanya milik Tuhan (QS. An-Naml (27): 56).

Yang artinya:

Dalam ayat lain ditegaskan larangan mencaci maki Tuhan-tuhan yang disembah oleh kaum musyrik agar mereka tidak melakukan hal yang sempurna terhadap Tuhan (Allah) yang disembah oleh orang Muslim QS. Al-An’am (6): 108);

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Yang artinya:

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Penegasan ini tentu saja mengimplementasikan larangan serupa terhadap agama dan keyakinan yang dianut oleh orang lain. Artinya, tindakan menghina dan mendiskreditkan agama dan kepercayaan orang lain sama dengan menghina dan mendiskreditkan agama dan keyakinan sendiri; tindakan menintas tuhan yang disembah orang lain sama dengan menista Tuhan sendiri.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan Alquran tersebut dapat dipahami bahwa pluralisme agama sudah merupakan rencana Tuhan yang bersifat taken for granted dan tidak ada kekuataan apapun yang dapat mengubahnya kecuali Tuhan sendiri jika dia menghendaki.inilah yang dikatakan oleh Alquran; (QS. Yunus (10): 99).

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Yang artinya:

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

Dalam ayat lain dikatakan; (QS. Al-Maidah (5): 48).

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Yang artinya:

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Dalam kenyataannya, kehendak Tuhan itu memang tidak dimanifestasikannya di bumi sebab Dia Maha Mengetahui rahasia-rahasia di balik keragaman tersebut yaitu, antara lain, agar manusia berkompetisi secara fair untuk melakukan kebajikan-kebajikan di muka bumi.

Dalam agama memang di temukan adanya klaim-klaim kebenaran untuk diri sendiri. Hal ini menurut hemat saya wajar-wajar saja sepanjang klaim-klaim itu tidak menjadi alasan untuk menggiring orang lain, dengan cara tidak fair dan tidak etis, untuk mengikuti kebenaran yang dianut. Asas saling menghormati kepercayaan masing-masing harus di junjung tinggi oleh setiap penganut agama sehingga tidak ada lagi upaya-upaya intervensi terhadap wilayah keyakinan orang lain. Biarkanlah setiap orang dan kelompok menikmati kedamaian dengan keyakinannya sendiri karena setiap orang akan memperoleh ganjaran atau pun balasan terhadap apa yang diyakini dan diamalkan dalam kehidupan ini.

Tentu saja misi menyebarkan agama merupakan misi suci yang di emban oleh setiap pemeluk agama. Namun sangat diharapkan bahwa dalam menjalankan misi suci itu seorang misionaris, da’i, mubaligh dan atau penyebar-penyebar agama yang lain tidak melakukan hal-hal tidak terpujiyang justeru akan berbalik akan metode kesucian misi yang diemban. Prinsip seperti ini barlaku untuk interaksi lintas agama maupun internal satu agama. Hanya dengan demikian, kita dapat hidup rukun dan damai di segala ruang dan waktu karena memang bumi ini diwariskan oleh Tuhan untuk seluruh hamba-Nya tampa kecuali, dengan penekanan agar orang-orang shalih bisa berperang lebih aktif dan terdepan dalam menjaga dan melestarikan bumi Allah ini QS. Al-Anbiya’ (21): 105;

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Yang artinya:

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.

Semua pemeluk agama yang berbeda di muka bumi ini mempunyai tanggung jawab yang sama untuk membangun dunia yang damai, dunia yang aman dan tertib, dunia yang sejahtera dan berkeadilan, dunia yang masyarakatnya hidup rukun dan harmonis, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta memiliki komitmen yang tinggi untuk memertahankan harkat dan martabat manusia. Kalau Alquran mengajak para pemeluk agama non Islam, khsusnya Ahl al-Kitab, untuk mencari titik temu (kalimat sawa’). QS. Ali-Imran (3): 64;

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Yang artinya:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Maka titik temu yang dimaksud memang hanya bisa dujumpai pada aspek-aspek kemanusiaan, dan spritual. Pada aspek ini, ajaran-ajaran agama bersifat universal sehingga komunitas antar umat beragama bisa menjadi lancar dan ‘’nyambung’’. Sedangkan pada aspek-aspek formal dari agama, khusus bangsa keimanan dan konsep syari’ah, masing-masing agama memiliki ajaran yang tidak mungkin bisa saling dipertemukan. Bahkan upaya untuk mempertemukan aspek-aspek tersebut justeru merupakan pekerjaan sia-sia yang akan membahayakan akidah masing-masing agama. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Alquran: (QS. Al-Kafirun (109): 5). Artinya, dalam hal-hal iman ritual, mari kita menjalankan pendirian dan amalan masing-masing. Kita tidak perlu saling menyalahkan apalagi saling mencela dan memaki. Tetapi dalam hal-hal yang bersifat moral dan kemanusiaan mari kita bergandeng tangan untuk membangun dunia yang lebih adil, lebih sejahtera, tentunya lebih damai dan bahagia.[cp]

Tags:

contoh pidato untuk kerukunan umat beragama, judul pidato toleransi

Ceramah Ramadhan ke-20: Membumikan Alquran dan As-Sunnah Harapan dan Tantangan

Ceramah Ramadhan ke-20: Membumikan Alquran dan As-Sunnah Harapan dan Tantangan – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini CeramahPidato.Com akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Membumikan Alquran dan As-Sunnah Harapan dan Tantangan , simaklah.

Segala puji da puji hanya kepada Allah, Tuhan semesta alam. Semoga salam dan salawat dan shalawat dilimpahkan kepada Rasul-Nya sebagai Nabi terakhir, mahluk termulia, juga keluarga, sahabat, dan segenap pengikutnya sampai pada hari akhir.

Sebagai seorang muslim, harus memiliki tanggung jawab tidak sekedar pengakuan sebagai muslim dengan beraksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan beraksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, tetapi setelah mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan, Muhammad adalah Rasul-Nya dan Islam sebagai pedoman hidup, maka sejak itu kita telah memikul tugas-tugas dan kewajiban.

Apa saja kewajiban itu? Kewajiban seorang muslim tidak hanya terbatas pada pengakuan iman kepada Allah, malikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, serta hari pembalasan saja.tidak pula hanya mendirika Shalat, melakukan shiyam, membayar zakat dan menunaikan haji. Kewajiban itu tidak pula berakhir hanya dengan menjalankan ajaran-ajaran Islam yang berhubungan dengan kelahiran, pernikahan, perceraian, kematian dan warisan belakan.

ceramah ramadhan

Namun, selai itu semua tugas-tugas dan kewajiban itu, masih ada hal yang sangat penting yaitu: harus meyakini dengan sebenar-benarnya iman, kebenaran dari apa yang telah diperintahkan dan dilarang oleh Allah Swt. Dan Rasul-Nya, kemudian menegakkan dengan cara mengamalkan dan memperjuankan terus-menerus tanpa henti; sebagai firman-Nya: (QS. Al-An’am 6:153:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yang artinya:

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

Qs. Al-Maidah 5: 8:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS. Ar-Ra’d 13: 1:

المر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ ۗ وَالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Yang artinya:

Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).

QS. Al-Maidah 5:67:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Yang artinya:

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Setiap muslim, tidak hanya sebagai individu, harus menegakkan Islam dalam kehidupan pribadinya, tapi juga sebagai anggota masyarakat, harus menerapkan dan memperjuangkan Islam dalamkehidupan sosial mereka. Dienul Islam harus dijalankan pada etiap tempat dan waktu, apakah di lingkungnan rumah tangga, dalam masyarakat, bangsa, bernegara, dan dalam seluruh kebijakan pemerintah.

Islam memberikan pedoman kepada umat manusia dalam bidang pemikiran dan keyakinana, moralitas dan tingkah laku, kebudayaan dan peradaban,ilmu ekonomi dan bisnis perdagangan. Selai itu juga diberi pedoman dalam bidang yurisprudensi dan yuridis, politik, dan administrasi. Itulah yang dimaksud dengan syari’at Islam, jadi syari’at Islam atau syari’atullah adalah Alquran dan Sunah Rasull-nya. Islam bukan sekedar way life saja, tetapi bahkan mencakup totalitas kehidupan manusia, berupa tuntunan Allah terhadap hamba-Nya yaitu Alquran yang diaplikasikan atau dijabarkan oleh Rasul-Nya dalam Sunnahnya dan hal ini merupakan tugas dan tantangan yang harus disampaikan kepada umat.

Perlu diketahui bahwa tugas meyakini kebenaran, mengamalkan dan memperjuangkan atau membumikan Alquran dan As-Sunnah tetap dibebankan kepada seluruh umat dan merupakan kewajiban bagi setiap anggotanya sebagaimana Firman Allah Swt. Berikut. QS. Al-Hujurat 49:15:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

QS. Ali-Imran 3:110:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Yang artinya:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Disamping kewajiban menyampaikan syari’at Allah ini atas umat secara keseluruhan, juga diwajibkan agar ada satu kelompok/ organisasi diantara mereka yang harus memikul tugas ini. Allah Swt berfirman.QS. Al-Imran 3:104:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Yang artinya:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Untuk itu perlu diinformasikan dan ditegaskan betapa pentingnya perjuangan adanya formalitas atas penegakan syari’at Islam, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di Sulawesi Selatan karena tanpa adanya undang-undang negara yang mengatur tentang pengakuan atas pemberlakuan syari’at Islam di negeri i ni, maka tidak mungkin kita dapat menjalankan Alquran dan as-Sunnah secara keseluruhan (kaffah), itu hal mustahil. Sedang Allah swt. Telah memerintahkan kita memasuki Islam secara keseluruhan

Sebagai firman-Nya: QS. Al-Baqarah 2:208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Sebagai orang muslim, maka menjadi satu keharusan untuk menerima segala ketentuan (sistem) Agama Islam secara keseluruhan atau secara kaffah, tidak ada istilah segian yang dan sebagian nanti dulu, tapi mutlak harus melaksanakan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang sesuai dengan tuntunan dan tuntunan Alquran dan As-Sunnah. QS. Al-Maidah 5:92:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا ۚ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Yang artinya:

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Dan Allah swt. Telah menawarkan, bagi orang-orang yang bersedia menyambut seruan-Nya, yaitu menegakkan hukum Allah Swt, agar dapat selamat baik di dunia maupun di akhirat dengan firman_Nya: Qs. Ash-Shaff 61: 10,11 dan 12.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

Umat Islam bangsa Indonesia sebagian masih belum yakin kepada hukum Allah yang maha adil, maka marilah kita meyakini bahwa satu-satunya solusi untuk memecahkan kebutuhan masalah masyarakat di bumi Indonesia ini adalah hukum Allah Swt, setelah meyakini mar, kita amalka dan perjuangkan kemudian bertawakal kepada-Nya, pasti Allah akan menolong dan menurunkan rahmat-Nya kepada bangsa dan negara ini sesuai firman-Nya: QS. Muhammad 47: 7:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Yang artinya:

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

QS. Al-A’raf 7: 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Yang artinya:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

QS. Ath-Thalaq 65:2 dan 3:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Yang Artinya:

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Itulah jaminan dari Allah Rabbul ‘Alamin. Siapa yang dengan sungguh-sumgguh meyakini jaminan dari Allah ini, bahwa jika kamu bertakwa dan bertawakkal, Allah akan memberikan jalan keluar dari seluruh krisis yang kamu hadapi, dijamin kemana serta katentraman hidupnya dan akan dipulihkan situasi ekonominya yang morat-marit, selain itu Allah berjanji akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Syaratnya yakin akan kebenaran syariat’Nya kemudian bertakwat kepada Allah, serta menjalankan Alquran dan as-Sunnah dengan sungguh-sungguh secara keseluruhan, totakitas atau secara kaffah.

Sebab keyakinan dan ketakwaan itulah yang mampu membangkitkan kesadaran di dalam hati, sehingga siap menunaikan kewajiban demi menaati Allah dan memperoleh keridhaan-Nya. Ketakwaan itu pula yang mampu menciptakan sensivitas hati, kepekaan rasa, responsif dan hati-hati untuk menjaga manusia dari duri-duri kehidupan yang penuh kesenangan, ambisi serta harapan-harapan palsu.

Apa bila bangsa Indonesia benar-benar ingin terbebas dari segala akibat bencana yang telah menimpa negeri ini, tidak ada cara lain kecuali bertakwa kepada Allah denagn cara melaksanakan hukum Allah, memberlakukan syari’at-Nya dalam kehidupan pribadi, masyarkat, bangsa dan negara.

Untuk itu mari bersatu, rapatkan barisan, leruskan shaf, satukan niat, satukan visi dan misi untuk melaksanakan syari’at Islam, khusus di bumi Sulawesi selatan yang dikenal sebagai Serambi Madinah dengan menuntut Otomoni Khusus Tentang Pemberlakuan Syari’at Islam. Mari mencari ridha Allah, janganlah terlena dengan keindahan, kegemerlapan dan kecemerlangan dunia yang dapat menyebabkan kita kekal di dalam neraka, tapi sebaliknya semoga dengan perjuangan ini mengantarkan cita-cita dan harapan bangsa ini ke dalam masyarakat adil dan makmur yang diridhai oleh Allah Swt. Dan di akhirat mengantarkan kita ke dalam surga-Nya[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-5: Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid

Ceramah Ramadhan Hari Ke-5: Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini CeramahPidato.Com akan share artikel mengenai teks ceramah ramadhan 1440 H/2019 M hari ke tiga. Judulnya adalah Optimalisasi peran dan fungsi Masjid, simaklah:

Ada seorang Gubernur yang sangat prihatin melihat masjid yang belum berfungsi optimal di wilayahnya. Ia mengatakan bahwa ummat Islam telah melanggar perintah Tuhan secara tidak disengaja, yaitu melakukan perbuatan mubazzir dengan tidak memfungsikan masjid secara optimal. Ia melihat masjid hanya digunakan lima kali sehari semalam atau kira-kira hanya satu jam dalam 24 jam. Itu pun terbatas sebagai fungsi ibadah. Selebihnya ditutup, artinya ummat telah mubazir 23 jam dengan ruangan luas tidak dimanfaatkan. Karena itu ia menganjurkan agar ruangan masjid yang luas itu difungsikan secara optimal, baik fungsi ibadah ataupun fungsi kebudayaan, seperti pendidikan, pengajian, diskusi, ruangan bacaan atau perpustakaan dan sebagainya. Dengan latar belakang itulah sehingga dibangunlah SMP Islam di Masjid Raya Wilayahnya sebagai lembaga pendidikan yang berlokasi di Masjid.

ceramah ramadhan

Fungsi utama masjid adalah beribadah. Lima kali sehari semalam ummat Islam dianjurkan mengunjungi masjid untuk melaksanakan shalat lima waktu. Masjid merupakan tempat yang paling banyak dikumandangkan nama Allah; azan, qaamat, takbir, tahmid, tasbih, tahlil, istigfar, dan zikir lainnya dianjurkan di baca dalam masjid. Jadi, tepat jika masjid disebut Baitullah artinya rumah Allah yang didalamnya selalu bergema lafadz Allah, sebagai tersebut dalam QS al-Hajj 22:44, berbunyi:

وَأَصْحَابُ مَدْيَنَ ۖ وَكُذِّبَ مُوسَىٰ فَأَمْلَيْتُ لِلْكَافِرِينَ ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

Yang artinya:

…dan masjid-masjid yang didalamnya banyak disebut nama Allah.

Fungsi kedua masjid adalah pembinaan umat atau fungsi kebudayaan, yaitu:

1.Pembinaan Ukhuwah atau persaudaraan

Pada hakekatnya masjid adalah umat. Siapapun bisa masuk kedalam masjid, asal ia muslim; tanpa memandang perbedaan latar belakang paham keagamaan dan mazhab. Perbedaan demikian tidak menjadi halangan untuk menjalin rasa persaudaraan. Ketika mendirikan masjid hendaknya menjadi pertimbangan utama latar belakang jamaah datang dari berbagai paham keagamaan. Seorang individu atau organisasi bisa saja mendirikan sebuah masjid tetapi setelah masjid itu difungsikan, maka berarti sudah menjadi milik jamaah. Masjid haruslah bersifat inklusif bagi umat Islam. Persaudaraan adalah merupakan hal yang prinsip dalam islam, sehingga kita bisa memahami kebijakan seorang ulama ketika hendak menfungsikan Masjid beliau berusaha menghindari hal-hal yang bersifat furuiyyah dan mengutamakan masalah ukhuwwah.

2.Pembinaan Pemdidikan

Fungsi masjid yang perlu mendapat perhatian adalah fungsi pendidikan. Para pemuda dan remaja yang tergabung dalam Ikatan remaja Masjid sedang mengembangkan TPA-TPA (Taman Pendidikan AlQuran). Alhamdulillah lembaga ini sudah memperlihatkan hasil yang patut dibanggakan. Bahkan sebagian pengamat sosial berepndapat bahwa kontribusi yang paling besar kepada pembangunan bangsa setelah kemerdekaan adalah pembebasan buta huruf Alquran melalui TPA. Lembaga TPA digerakkan oleh remaja masjid yang umumnya dilaksanakan di dalam Masjid. Pendidikan TPA ini perlu dipikirkan pengembangannya dengan membangun SD dan SMP bagi masjid yang memungkinkan. Sehingga optimalisasi peran dan fungsi masjid sebagai lembaga pendidikan dapat berlangsung dengan baik.

3.Pembinaan Ekonomi Umat

Krisis ekonomi yang kadang datang melanda bangsa ini berdampak kepada tidak stabilnya ekonomi umat. Karena itu masjid sebagai pusat pembinaan ummat perlu diberikan fungsi baru, yaitu tempat pemberdayaan ekonomi umat. Salah satu diantaranya dengan merancang bangunan masjid sama dengan masjid Al Markaz Al islami Makassar dengan menjadikan pekarangannya sebagai pasar Jumatan. Terdapat keuntungan ganda yang diperoleh dari pasar Juamatan itu dilihat dari segi dakwah. Pertama: pajak keuntungan yang diperoleh dari pasar itu dapat digunakan untuk memakmurkan masjid. Kedua, para pedagang yang berjualan dipasar jumatan itu, jika biasanya mereka malas melaksanakan shalat, dengan sendirinya ia akan menyesuaikan diri untuk ikut berjamaah.

Kegiatan kemasyarakatan lain yang perlu dipikirkan adalah di masa depan adalah bangunan masjid yang memiliki aula. Hal itu juga memiliki keuntungan ganda, yaitu keuntungan untuk pendanaan masjid yang sekaligus menjadi keuntungan dari segi pengembangan dakwah Islam, sebab pengunaan aula dalam masjid akan menyesuaikan diri kepada kesucian masjid.

Peran dan fungsi masjid tersebut, sudah tentu dapat dikembangkan lebih jau. Sebab seperti diketahui bahwa pada zaman Rasulullah SAW masjid satu-satunya menjadi pusat aktivitas umat. Masjid ketika itu menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pemerintahan, pusat dakwah dan penyiaran Islam, pusat pelatihan dan penyusunan strategi perang, dan aktivitas kebudayaan lainnya. Semoga artikel ini memberikan manfaat dalam rangka optimalisasi peran dan fungsi masjid.[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-2: Fadhilah Ramadhan

Ceramah Ramadhan Hari Ke-2: Fadhilah Ramadhan – Sahabat Cerpi Pada ceramah hari ke-2 ini akan diangkat tema, fadilah Ramadhan 2019. Penciftaan dan pemilikan terhadap apa-apa yang dikehendaki oleh Allah SWT (Qs. al-Qashash 28:68) diyakini mengandung hikmah dan keutamaan tersendiri. Misalnya, Allah memilih mekkah untuk tempat bangunan Kabbah, sedang kabbah ditetapkan sebagai kiblat kaum muslimin. Demikian pula halnya bulan ramadhan dipilih oleh Allah SWT sebagai bulan yang penuh kemuliaan dan keutamaan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya.

Jamaah Tarwih yang dirahmati Allah SWT …
Apabila seseorang menelusuri kasus-kasus yang telah terjadi di bulan ramadhan serta mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadish-hadis nabi SAW, yang ada kaitan dengannya niscaya akan dijumpai bahwa telah terjadi banyak peristiwa penting didalamnya. Disini lain, beribadah dan beramal saleh didalam bulan ramadhan mempunyai penilaian yang istimewa dari Allah SWT.
Peristiwa-peristiwa penting dan keutamaan beramal kebaikan dalam bulan ramadhan antara lain:
Bulan yang dipilih oleh Allah untuk menurunkan permulaan al-Qur’an. Penuturan Al-Qur’an bahwa keberadaanya untuk menjadi petunjuk, pembeda antara yang hak dan yang bathil. Qs. al-Baqarah 2:185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Yang Artinya:

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

ceramah ramadhan

Dan Pemberi peringatan kepada seluruh alam. Qs. Al-Furqan 25:1,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Yang artinya:

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam

Jamaah tarwih yang berbahagia …

Oleh karena itu, malam permulaan turun Al-Qur’an disebut malam kemuliaan, malam yang lebih baik dari 1000 malam, di indonesia dikenal dengan “lailatul Qad”. Qs. al_Qadr 97:1-5,
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Yang artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar

Bulan yang dipilih untuk saat terjadinya perang Badar al-Qubra sebagai perang yang pertama sejak pengangkatan nabi Muhammad SAW menjadi Rasul yang terakhir dengan kemenangan kaum Muslimin. Dengan peristiwa itu nampaklah ketinggian kalimat tauhid dan awal keruntuhan kekuasaan Musyirikin dan mulainya nyata sinar Risalah Islam. Qs Ali-Imran 3:155,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu [244], hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi ma’af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Dan Qs. Al-Anfal 8:41,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللَّهِ وَمَا أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Yang artinya:

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan , yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bulan yang dipilih untuk kaum muslimin menunaikan ibadah shiyam (puasa) dengan tujuan memperoleh derajat taqwa. Qs. al-Baqarah 2:197,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Yang artinya:

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi , barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats , berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Pada sisi lain, Allah SWT berfirman didalam Qs. Al-Nahl 16:128,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Yang Artinya:

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

Bulan yang telah dipilih bagi kaum muslimin untuk lebih mengintensifkan aktifitas-aktifitas ibadah dan amal saleh lainnya.

Jamaah tarwih yang dirahmati Allah SWT …
Diperolehnya beberapa riwayat dari nabi SAW yang menunjukkan keutamaan beribadah dan beramal Saleh dalam bulan Ramadhan, antara lain:

    • Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Huraira bahwa Nabi SAW bersabda, yang artinya: “Jika tiba bulan puasa terbuka semua pintu langit dan tertutup pintu-pintu neraka jahannam dan dirantai syaitan”.
    • Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu abbas, bahwa: “Adalah rasulullah SAW lebih pemurah kepada semua orang, lebih-lebih jika bulan Ramadhan, dimana ia selalu dihubungi oleh Jibril dan hampir setiap malam Jibril datang untuk tadarrus Al-Qur’an. Dan rasulullah SAW jika bertemu dengan Jibril, maka ia lebih pemurah lagi melebihi dari angin yang berhembus”.
    • Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadist dari Aisyah bahwa: “ bahwasanya rasulullah SAW beri’tikaf disepuluh yang terakhir bulan Ramadhan sampai diwafatkan oleh Allah SWT”.
  • Imam Muslim meriwayatkan hadis Qudsi dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW, berkata: “Semua amal anak adam berlipat ganda (pahalanya), setiap kebaikan 10 x lipat hingga 700 x lipat. Firman Allah kecuali puasa, maka hanya aku sendiri yang membalasanya karena ia meninggalkan syahwat dan minum-minumannya semata-mata untuk-Ku”.

Jamah Tarwih yang berbahagia …
Disamping itu, bulan Ramadhan yang sangat agung (Syahrun ‘azhom) ini, selayaknya menjadi saat-saat paling pas bagi kita untuk berfikir dan merenung kembali lebih dalam, terhadap berbagai aktifitas yang telah kita lakukan. Ramadhan adalah bulan untuk saling tolong-menolong. Pada bulan ini kita sangat dianjurkan untuk engulurkan tangan kepada kepada golongan yang mengalami krisis ekonomi, mereka yang fakir miskin, yatim piatu, ibnu sabil dan orang-orang yang mengalami kesusahan. Pada bulan suci ini sikap kepedulian sosial kita diuji serta disadarkan bahwa didalam harta kita terdapat hak bagi golongan ekonomi lemah. Bulan ramadhan dikatakan pula sebagai bulan kesabaran (syahru al-shabri). Dalam berpuasa di bulan ramadhan, kaum muslimin berlatih untuk bersabar untuk menahan penderitaan dengan tidak menikmati sebagian perkara yang diperbolehkan.
Jamaah Tarwih yang dirahmati oleh Allah SWT …
Dan apa-apa yang telah dikemukakan terdahulu, dapat disimpulkan sebagai berikut:

    1. Bahwa Bulan Ramadhan telah dipilih oleh Allah untuk saat turun permulaan Al-Qur’an, terjadi perang badar al-Kubra dan untuk menunaikan ubadah shiyam;
    1. Bulan Ramadhan adalah bulan yang diharapkan kaum muslimin lebih mengintensifkan aktifitas-aktifitas ibadah di dalamnya, sperti shalat lail, tadarrus Al-Qur’an, berinfaq, beri’tikaf dan amal kebaikan lainnya sebab beramal ibadah di dalamnya, dilipat-gandakan pahalanya;
  1. Ibadah shiyam yang dilaksanakan karena iman dan mengharapkan pahala, maka pahalanya akan diserahkan langsung oleh Allah SWT kepada yang bersangkutan.[cp]

Tags:

fadhilah romadhon

Kultum Ramadhan #1: Keberuntungan Yang Besar

Kultum Ramadhan #1: Keberuntungan Yang Besar – sahabat Cerpi Pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share artikel mengenai Kuliah 7 Menit atau Kultum Ramadhan Tahun 1439 H / 2018. Kultum ini berjudul: keberuntungan yang besar.

kultum ceramah pidato

Kepada yang terhormat bapak ibu sekalian, para ulama, para pejabat pemerintah, para ustadz dn ustadzah yang ditaati, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.

Mengawali pertemuan kita kali ini, pertama tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan Semesta alam, yang senantiasa menganugerahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita sehingga pada saat ini kita dapat berkumpul ditempat yang penuh berkah ini tanpa halangan suatu apapun. Selanjutnya salawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita dan mengantarkan kita kepada ketinggian ilmu pengetahuan dan peradaban yang terhormat.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati…

Sebagai kaum muslimin kita harus bersyukur atas petunjuk dan anugerah keimanan yang terus kita pegang teguh, sekalipun kita menerima ajaran Islam dari para pewaris nabi SAW, yaitu para ulama. Kita hidup begitu jauh dari kehidupan Rasulullah SAW, beliau telah wafat 14 abad yang lalu, secara geografis pun kita begitu jauh dari tempat kelahiran Rasulullah SAW, tetatpi kita tetap beriman dan memegang komitmen keimanan kita kepada Rasulullah dan apa saja yang dibawa oleh beliau. Yang demikian ini merrupakan anugerah yang sangat besar, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis nabi SAW. Diantaranya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Ahmad, Thabrani dan Hakim dari Abi Jam’aah Al Ansari, dia berkata:

Aku bertanya, ya Rasulullah adakah suatu kaum yang lebih besar pahalanya dari kami, sementara kami beriman dan mengikuti engkau?” Apa yang menjadi penghalang bagimu buat beriman kepadaku, sementara Rasulullah Saw. berada dihadapanku dengan membawa wahyu dari langit. Tetapi akan ada lagi suatu kaum yang akan datang sesudah kamu, datang kepada mereka kitab Allah yang ditulis diantara dua Luh, maka mereka beriman kepadaku dan mereka amalkan apa yang tersebut didalamnya, mereka itu adalah lebih besar pahalanya dari kamu.”

Dalam hadits lain juga ditegaskan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, dari Abu Sa’id Al-Qhudri, bahwasannya ada seorang laki-laki berkata:

“Ya Rasulullah, beruntunglah orang yang melihat engkau dan beriman kepada engkau.” Lalu Nabi Muhammad Saw. berkata: “Beruntunglah orang yang melihat aku dan beriman kepadaku, beruntung dan sungguh beruntung bagi orang yang beriman kepadaku, sementara ia tidak melihat aku.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Dari hadits tersebut jelaslah bagi kita bahwa betapa beruntungnya orang yang beriman Nabi Muhammad Saw. padahal ia tidak melihat beliau secara langsung, dia hanya mendengar berita dan sejarah beliau dari para penyambung lidah atau para pewaris beliau. Namun ia beriman dan bahkan begitu kuat imannya kepada beliau, termasuk kita yang hidup sekarang ini, yang tidak menyaksikan Nabi dan kehidupan beliau secara langsung, tetapi begitu besar cinta kita kepada Rasulullah Saw. Terkadang air mata kita mengalir, menaruh kagum dan terkenang kegigihan perjuangan beliau dalam menegakkan agama Allah, sehingga kita hendak menjadi umatnya yang baik dan patuh, berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnahnya, serta bertekad untuk memberikan segenap hidup kita buat agama yang beliau bawa, yaitu agama Islam. Maka sungguh beruntung, dan beruntunglah kita.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Demikianlah kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, marilah kita berdoa semoga allah swt senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuknya kepada kita, sehingga kita mampu mengisi sisa hidup kita ini dengan kebaktian, memperbanyak ibadah dan amal shaleh, sehingga kita benar benar menjadi orang orang yang beruntung, amin.

Akhirnya terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.[cp]