Tata Cara Khutbah Jum’at

Tata Cara Khutbah Jum’at – Khutbah yang dibahas dalam bab ini adalah khutbah menurut istilah khusus, yakni menyampaikan seruan di forum khusus dengan aturan-aturan yang bersifat khusus pula, yakni khutbah Jum’at.  Khutbah Jum’at dilakukan sebelum dilaksanakannya salat Jum’at.

Selain khutbah Jum’at adalah pula khutbah Iedul Fithriy, Iedul ‘A ha, gerhana matahari, gerhana bulan, dan khutbah istisqa’ (meminta hujan). Sedangkan khutbah Iedul Fi ri, Idul ‘A ha, gerhana matahari, gerhana bulan, dan istisqa’ dilakukan sesudah salat.

Hukum khutbah Jum’at adalah fardu.  Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah Swt: “Hai orang- orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. [QS AlJumu’ah (62):9]

Khutbah Jum’at termasuk dalam pengertian “mengingat Allah Swt”.  Selain itu, Nabi Muhammad Saw selalu berkhutbah Jum’at terlebih dahulu, sebelum melaksanakan salat Jum’at.  Ini menunjukkan bahwa hukum khutbah Jum’at adalah wajib.

Khutbah Jumat

Adapun ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan khutbah Jum’at adalah sebagai berikut:

Syarat Khutbah Jum’at

mata mereka dan mereka sebenarnya mampu mengingkarinya namun tidak mengingkarinya. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan mengazab masyarakat umum dan seseorang yang berbuat maksiyat itu “. [HR Imam Ahmad] wanita, dan orang yang tidak bisa mendengar sama sekali (tuli)

  • Khatib harus suci dari hada besar dan kecil. Tempat, badan, dan pakaian yang dikenakan kh ib haruslah suci dari najis.
  • Khatib harus menutup aurat secara sempurna.
  • Khatib harus berniat untuk melakukan khutbah. Sebagian ulama Syafi’i dan Hanbali menetapkan niat sebagai syarat sah dari khutbah. Sedangkan sebagian ulama Syafi’i yang lain berpendapat bahwa niat bukanlah syarat dari khutbah. Pendapat yang rajih adalah pendapat pertama.
  • Khatib harus berdiri ketika menyampaikan khutbahnya. Namun, jika ia tidak mampu, boleh dengan duduk.
  • Duduk di antara dua khutbah dengan istirahat yang pendek.
  • Khutbah pertama dan kedua harus dilakukan secara berturut-turut, dan tidak dijeda oleh kegiatan lain dalam waktu yang panjang
  • Dua khutbah dan salat Jum’at harus dilakukan secara berturut-turut dan tidak dijeda oleh kegiatan lain dalam waktu yang lama
  • Khutbah Jum’at harus dilaksanakan pada waktu Zuhur. Khutbah Jum’at tidak sah dilakukan di luar waktu Zuhur.
  • Khutbah harus dilakukan di dalam areal masjid.

Rukun-rukun Khutbah Jum’at

Rukun khutbah Jum’at adalah lima:

  1. Memulai khutbah dengan memuji Allah Swt . Ketentuan ini didasarkan sebuah hadi dari Jabir Ra, bahwasanya ia berkata: “Rasulullah Saw berkhutbah di hadapan kami. Beliau memuji Allah swt dan menyanjung Allah, karena Dialah Zat yang layak mendapat sanjungan. Lalu, beliau mengatakan,  “‘Amma ba’du, sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, dan petunjuk yang paling utama adalah petunjuk Mohammad, dan perkara yang paling buruk adalah perkara baru (bid’ah), dan seluruh bid’ah itu adalah sesat”.  Setelah itu, beliau mengeraskan suaranya dan memerah kedua pipinya. Dan khutbah beliau bernada sangat marah jika menyebutkan tentang kiamat, seolah-olah beliau adalah seorang yang tengah memberi perintah kepada tentaranya.  Ia berkata, “Lalu, beliau saw bersabda, “Hari kiamat itu akan mendatangi kalian…”. [HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah]
  2. Mengucapkan kalimat syahadat pada permulaan khutbah pertama dan kedua. Ketentuan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya Nabi Saw bersabda: “Setiap khutbah yang tidak di dalamnya tidak diucapkan syahadat, seperti tangan yang terpotong”. [HR Imam Ahmad dan Ibnu Hibban].
  3. Mengucapkan salawat atas Nabi Muhammad Saw: Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa membaca salawat atas Nabi Saw hanyalah sunnah, bukan rukun khutbah. Pendapat ini dipegang oleh ulama ma hab Hanafi, Maliki, dan sebagian ulama Hanbali. Sekelompok ulama berpendapat bahwa membaca salawat atas Nabi Saw adalah rukun khutbah. Pendapat ini dipegang oleh ulama madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama Hanbali. Sedangkan kelompok lain berpendapat bahwa membaca shalawat atas Nabi saw hanyalah kewajiban, bukan rukun.  Pendapat ini dipegang oleh Imam Ibnu Taimiyyah.
  4. Berwasiat untuk selalu bertakwa kepada Allah Swt. Kh ib harus berwasiat kepada jama’ah Jumat agar selalu bertaqwa kepada Allah Swt. Pendapat ini dipegang oleh mazhab Syafi’i. Menurut mereka, khutbah tidak dianggap sah jika tidak ada seruan untuk bertakwa.  Sedangkan ulama-ulama lain tidak menganggapnya sebagai rukun.
  5. Membaca Al-Qur’an di salah satu khutbah. Lebih utama, jika membaca Al-Qur’an tersebut dilakukan pada khutbah pertama. Dalil yang menunjukkan masalah ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, bahwasa Nabi Saw membaca Al-Qur’an di dalam khutbah untuk mengingatkan orang banyak [HR Abu Dawud]. Hanya saja, para ulama masih berselisih pendapat, apakah membaca Al-Qur’an di dalam khutbah termasuk rukun atau tidak.  Kalangan ulama mazhab Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an di dalam khutbah adalah rukun. Sedangkan ulama kalangan ma  hab Maliki dan Hanafi berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an dalam khutbah hanyalah sunnah.
  6. Memohonkan ampunan bagi kaum Muslim dan Muslimat, sedikitnya dengan membaca doa: “Ya Allah, ampunilah dosa kaum Mukmin dan Mukminat, serta kaum Muslim dan Muslimat”. Ketentuan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Samurah bin Jundub, bahwasanya Nabi Muhammad Saw selalu memohonkan ampunan pada kaum Mukmin dan Mukminat pada setiap khutbah Jum’at.” [HR Imam Al Baz r]

Sunnah-sunnah Khutbah Jum’at

Sunnah-sunnah khutbah Jum’at adalah sebagai berikut:

  1. Khatib berdiri di atas mimbar atau tempat yang tinggi. Imam Abu Dawud ra meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Ra bahwasanya Nabi Saw , apabila telah keluar pada hari Jum’at, beliau duduk hingga muadzin menyelesaikan azannya, kemudian beliau berdiri lalu berkhutbah”. [HR Imam Abu Dawud]
  2. Menyampaikan khutbah dengan suara keras dan dalam nada marah. Ketentuan ini didasarkan pada hadi yang diriwayatkan Imam Muslim dari Jabir bin ‘Abdullah Ra, bahwasanya Rasulullah Saw jika sedang berkhutbah, memerahlah kedua matanya dan keras suaranya serta sangat marah, hingga seolah-olah beliau Saw menjadi seseorang yang memberi peringatan kepada para tentara”. [HR Imam Muslim]
  3. Hendaknya khutbah disampaikan secara ringkas dan pendek. Ringkas dan pendekhnya khutbah menunjukkan kefakihan dari sang kh ib. Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya, panjangnya salat seorang laki-laki dan pendeknya khutbahnya menjadi tanda kefakihannya. Panjangkanlah salat dan pendekkanlah khutbah.  Sesungguhnya, sebagian kefasihan kata-kata itu terkandung sihir”. [HR Imam Muslim dan Ahmad]
  4. Jika khatib berdoa, hendaknya dia mengangkat jari telunjuknya saja.  Ini didasarkan pada hadi  yang diriwayatkan oleh Husain bin ‘Abdurrahman As Sulami, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Saw sedang berkhutbah, dan ketika beliau berdoa beliau mengucapkan begini dan begini, seraya mengangkat jari telunjuknya”.[ HR Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Tirmi i, dan An Nas ’i]
  5. Khatib tidak dilarang memegang tongkat, panah, atau yang serupa dengan itu.  Imam Abu Dawud menuturkan sebuah riwayat dari Hakam bin Hazan Ra, bahwasanya ia berkata, “Kami pergi dengan Nabi Saw menuju salat Jumat.  Lalu, beliau Saw bersandar ke sebuah panah, atau tongkat, seraya memuji Allah, menyanjung-Nya dengan kalimat-kalimat yang sederhana, baik, dan mengandung berkah”. [HR Abu Dawud dengan sanad  sahih]

Contoh Teks Khutbah Jum’at

Jama’ah Jum’at yang dimulyakan Allah, pada khutbah Jum’at ini, kh ib akan membawakan khutbah yang berjudul “Larangan Penguasa Menerima Hadiah”.

Berkaitan dengan tema ini, marilah kita perhatikan secara seksama, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.  Suatu saat, Rasulullah Saw mengutus Ibnu Lutbiyah sebagai amil untuk memungut zakat dari Bani Sulaim.  Tatkala tugasnya telah usai, ia bergegas menghadap Nabi Saw; dan Nabi Muhammad Saw menanyakan tugas-tugas yang telah didelegasikan kepadanya.  Ibnu Lutbiyah menjawab, “Bagian ini kuserahkan kepada anda, sedangkan yang ini adalah hadiah yang telah diberikan orang-orang (Bani Sulaim) kepadaku.  Rasulullah Saw berkata, “Jika engkau memang jujur, mengapa tidak sebaiknya engkau dudukduduk di rumah ayah dan ibumu, hingga hadiah itu datang sendiri kepadamu”.  Beliau Saw pun berdiri, lalu berkhutbah di hadapan khalayak ramai.  Setelah memuji dan menyanjung Allah Swt, beliau bersabda, “’Amma ba’du.  Aku telah mengangkat seseorang di antara kalian untuk menjadi amil dalam berbagai urusan yang diserahkan kepadaku.  Lalu, ia datang dan berkata, “Bagian ini adalah untukmu, sedangkan bagian ini adalah milikku yang telah dihadiahkan kepadaku”.  Apakah tidak sebaiknya ia duduk di rumah ayah dan ibunya, sampai hadiahnya datang sendiri kepadanya, jika ia memang benar-benar jujur?  Demi Allah,  salah seorang di antara kalian tidak akan memperoleh sesuatu yang bukan haknya, kecuali ia akan menghadap kepada Allah Swt dengan membawanya.  Ketahuilah, aku benar-benar tahu ada seseorang yang datang menghadap    Allah Swt dengan membawa onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik.  Lalu, Nabi Saw mengangkat kedua tangannya memohon kepada Allah Swt, hingga aku (perawi) melihat putih ketiaknya”. [HR Imam Bukhari dan Muslim]

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa, seorang pemimpin yang diberi tugas mengatur urusan rakyat dilarang menerima hadiah.  Hadiah yang diberikan rakyat kepada pejabat pemerintah, lebih-lebih yang diberikan ketika ia menjalankan tugas, termasuk harta haram (gulul). Pasalnya, kebanyakan hadiah diberikan karena jabatan atau kekuasaan seseorang, dan di baliknya ada pamrih.   Jika pemberian itu benar-benar hadiah yang diberikan dengan tulus ikhlas, dan bukan karena jabatan atau kekuasaan, tentunya, hadiah itu akan datang sendiri kepadanya walaupun ia tidak menjabat atau sedang melaksanakan tugas.  Nabi mengatakan, “ Apakah tidak sebaiknya ia duduk di rumah ayah dan ibunya, sampai hadiahnya datang sendiri kepadanya, jika ia memang benar-benar jujur?”   Sabda beliau yang agung ini merupakan sindiran yang sangat tajam; seandainya Ibnu Lutbiyyah tidak menjabat sebuah jabatan, niscaya ia tidak akan memperoleh hadiah apapun.  Dan seandainya hadiah itu benar-benar diberikan kepadanya tanpa pamrih, pasti hadiah itu akan datang sendiri meskipun ia tidak memegang amanah kekuasaan.

Kemandirian dan kemerdekaan seorang pemimpin dalam mengatur urusan rakyat sering kali tersandera oleh kebaikan yang diiringi pamrih.  Kebanyakan hadiah yang diiringi dengan pamrih akan membelenggu akal dan hati seorang pemimpin.  Banyak pemimpin yang akhirnya tidak bisa independen dalam memutuskan suatu masalah dikarenakan “kebaikan yang diberikan seseorang kepada dirinya”.  Perasaan “berhutang budi” kepada sang pemberi, akhirnya menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan.  Ia tidak bisa lagi memberikan keputusan secara adil dan memihak kepentingan rakyat.  Keputusankeputusannya justru ditujukan untuk memenuhi keinginan sang pemberi hadiah, dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak.  Dalam kondisi semacam ini, sesungguhnya ia telah dikendalikan oleh sang pemberi hadiah. disunnahkan bermunajat kepada Allah Swt.  Sebab, pada saat itu adalah saat yang utama untuk berdoa.  Setelah itu kh ib berdiri kembali, dan melanjutkan khutbah kedua. Khutbah kedua diawali dengan mengucapkan pujian kepada Allah, dua kalimat syahadat, salawat atas nabi, seruan takwa, dan disunnahkan membaca Al-Qur’an. [Susunannya sama seperti pembukaan pada khutbah pertama] Setelah khutbah kedua selesai, ditutup dengan doa bersama-sama untuk memohonkan ampunan kepada kaum Muslim dan Muslimat.[cp]

Khutbah Jumat: Bahayanya Paham Sekulerisme

Khutbah Jumat: Bahayanya Paham Sekulerisme

  • Khutbah Jumat Ini sangat cocok dibawakan pada bulan Dzulkaidah
  • Oleh: Ceramahpidato.com

الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين

وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين

والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين

فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا

فقال الله تعالى في كتابه الكريم

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وقال الله تعالى

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Khutbah Jumat

Dari mimbar yang kita muliakan ini, ijinkan saya mengajar kepada diri saya sendiri, dan juga kepada saudara-saudara sekalian. Marilah kita selalu dan terus menambah nilai ketakwaan kepada allah subhannahu wa ta’ala. Yaitu senantiasa menjalankan secara iklas seluruh perintah allah swt. kemudian menjauhi segenap larangan-larangannya. Marilah kita pusatkan perhatian kita kepada peningkatan mutu ibadah, apapun aktifitasnya pastikan niat dan tujuannya tidak ada lain kecuali ibadah, serta selalu memperhatikan rambu-rambu agama sebagai pijakannya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat baik untuk kehidupan dunia terlebih kehidupan hakiki di akherat yang abadi nanti.

Hadirin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Apabila kita mencermati kondisi lingkungan sekitar kita, pasti akan menemukan banyak hal yang mestinya membuat kita prihatin dan mengelus dada ketika melihatnya. Betapa kehidupan ini berjalan dan berkembang tidak lagi dilandasi dengan nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Kebanyakan manusia didalam menjalani hidup hanya mengikuti jalan pikiran dan analisa akalnya tanpa memperhatikan sentuhan-sentuhan spiritual yang mestinya menjadi pijakan utama dalam menentukan arah langkahnya. Hal ini sebenarnya sebuah ancaman bagi dunia islam, dimana pemikiran dan aktualisasi ajarannya telah menyimpang dari dasar semestinya.
Dalam segi aqidah banyak sekali umat islam yang menganut keyakinan-keyakinan syirik, menyekutukan allah dalam hal ibadah. Mereka menyembah allah, namun tidak menjadikan allah sebagai satu-satunya penolong dalam hidupnya, ketergantungan kepada mahluk mengalahkan ketergantungan kepada allah. Ketika menghadapi persoalan hidup mereka lari ke para normal, dukun dan orang-orang yang menyimpang dari aqidah agama. Mereka menyatakan iman kepada allah, akan tetapi lebih percaya kepada peringatan pemimpinnya ketimbang peringatan allah swt. mereka lebih meyakini kebenaran hasil analisa otak dan penelitian ilmiah, namun mengesampingkan sebuah keyakinan bahwa, segala sesuatu yang terjadi atas qadha dan taqdir allah.
Kemudian dalam dunia politik, yang tampil hanyalah permainan penuh rekayasa dan trik-trik nakal yang jauh dari kehidupan demokratis. Panggung politik tak ubahnya seperti arena perjudian dan dijadikan alat untuk pencapaian nafsu kekuasaan belaka. Dalam bidang ekonomi, sistem kapitalis dan praktek riba yang diharamkan allah masih mendominasi kehidupan. Akibatnya semakin lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, yang kuat memangsa yang lemah, dan sistem perekonomian hanya profit marginal orientet mengesampingkan dampak sosial dan lingkungan. Sementara itu, dalam kehidupan sosial budaya yang tampak adalah kebobrokan moral generasi muda. Setiap hari kita menyaksikan beragam kemaksiatan seperti: perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan, kasus narkoba dan sebagainya.

Hadirin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Apa yang kita saksikan sekarang ini, kita jadi ingat firman allah,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah perbuatan tangan nafsu manusia, supaya allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yang benar)”. Qs. ar-ruum ayat 41

Menurut abu aliyah, “barang yang berbuat maksiat kepada allah di bumi, maka sungguh ia merusak bumi, karena kebaikan langit dan bumi itu disebabkan ketaatan, yaitu semua manusia atau kebanyakan manusia meninggalkan perkara yang diharamkan. Jika kemaksiatan yang diperbuat, maka hal itu menjadi sebab hilangnya keberkahan langit dan bumi. (tafsir ibnu katsir, juz 6 hal 320).
Kerusakan di daratan dan di lautan adalah rusaknya ekosistem alam karena pencemaran lingkungan, eksploitasi sumber daya alam yang membabi buta, sehingga perputaran musim tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan cenderung mengakibatkan bencana yang lebih besar. Bencana tersebut adalah berkurangnya sumber penghasilan, dan banyaknya jiwa melayang.

Hadirin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Salah satu penyebabnya adalah karena sebagian kaum muslimin mengikuti paham yang bisa disebut dengan sekulerisme (‘ilmaniyah). Paham itu mengajarkan bahwa kehidupan dunia harus dipisahkan dari masalah agama. Menurut mereka, dunia ya dunia, jangan membawa masalah agama di dalamnya.Soal agama adalah privasi seseorang. Oleh karena itu, menurut paham ini, masalah hubungan sesama manusia seperti ccara bergaul, cara berpakaian maupun cara berekonomi cukup diserahkan pada rasio atau akal manusia saja. Sehingga, mereka pun menyembombongkan diri dengan meninggalkan ajaran allah swt. terutama yng berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Ajaran sekulerisme inilah menjadi tantangan kita dewasa ini. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Syaikh muhammad abdul hadi al-misri dalam kitabnya “mauqif ahlus sunnah wal jama’ah minal ‘ilmaniyah” (sikap ahlus sunnah terhadap sekulerisme). Menurut beliau, cara hidup sekuler jelas sekali bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid. Sekulerisme (‘ilmaniyah) berusaha menegakkan kehidupan dunia tanpa campur tangan agama, atau yang lazin disebut la diniyyah. Sehingga tata kehidupan yang mereka bangun bukanlah tata kehidupan yang bersumber dari wahyu allah swt. Dengan kata lain, sekulerisme aturan-aturan yang tidak berpedoman kepada hukum-hukum allah. Padahal allah swt.:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya:

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum allah bagi orang-orang yang yakin? (Qs. al-maidah 50).

Allah mengingkari orang-orang yang keluar dari hukum-hukum allah yang sarat dengan kebaikan bagi hambanya dan sangat adil. Mengikuti hukum-hukum yang tidak bersumber dari ketentuan-ketentuan allah, yaitu sebuah aturan hukum yang ditetapkan manusia berdasarkan akal pikiran dan tuntutan hawa nafsunya, tidak merujuk kepada syariat agama. Bukankan hukum-hukum allah swt. itu yang paling benar? karena bersumber dari yang maha benar. Boleh saja kita membuat undang-undang atau aturan untuk mengatur kehidupan manusia, asalkan ruh dari aturan tersebut tidak bertentangan dengan aturan allah, atau menerminkan nilai-nilai ilahiyah.
Di dunia ini banyak sekali aturan buatan manusia, namun seringkali mengalami perubahan seiring dengan perubahan zaman. Perubahan tersebut juga tidak menjamin tatanan manusia menjadi lebih baik. Hal itu menunjukkan bahwa aturan buatan manusia tidak bisa dijadikan referensi mutlaq karena kebenarannya masih belum teruji sepanjang masa. Berbeda dengan aturan allah yang disampaikan melalui utusannya, sejak diturunkan hingga akhir masa tidak pernah berubah dan tetap bisa dijadikan dasar untuk mengatur tata kehidupan manusia. Itulah sebabnya mengapa rasulullah mengingatkan kita dalam sebuah hadits:
Manusia yang paling dibenci allah ada tiga: orang yang kafir (mengingkari) perkara haram, orang yang mencari hukum jahiliyah di dalam islam, orang yang mencari darah seseorang dengan cara yang tidak benar supaya ia meminumnya” (Hr. muslim)
Hal serupa juga ditegaskan oleh abu ubaidah: aku pernah mendengarkan iman hasan berkata, “barang siapa yang menetapkan hukum dengan selain hukum allah, maka itu hukum jahiliyah.” (tafsir ibnu katsir juz 3 hal, 131).

Hadirin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Jelas sekali, bahwa kehidupan sekulerisme yang kini menggejala dengan kebebasannya, amat bersebrangan dengan tauhid, fondasi ajaran agama kita. Oleh karena itu kita semua harus waspada terhadap konsep hidup sekuler itu.
Kemudian, bagaimanakah solusinya, bagaimanakah menyelesaikan serangkaian problem-problem yang kita bicarakan tadi? bagaimana agar kita bisa keluar dari fitnah yang begitu banyak tersebut?

Saudara sekalian yang dirahmati allah,

Resepnya tidak ada lain kecuali kembali kepada al-kitab (al-Qur’an) dan sunnah nabi muhammad saw. dengan pemahaman salafus shalih. Sebab, mengikuti al-Qur’an dan sunnah nabi adalah jalan satu-satunya menuju keselamatan. Melalui langkah ini ada jaminan yang kuat bagi kita untuk menyelesaikan berbagai kemelut yang menimpa kita. Ketika rasulullah saw. dan sahabatnya di mekkah, yakni di awal-awal beliau menyampaikan wahyu, situasinya hampir sama dengan keadaan yang kita hadapi saat ini. Hampir sama. Hanya bentuknya saja yang berbeda, namun inti dan subtansinya tidak berbeda. Kalau dulu ada perzinahan, misalnya, sekarang banyak perzinahan dengan berbagai model.
Oleh karena itu, untuk menata kembali kondisi ummat seperti sekarang ini, tidak bisa tidak, kita hurus melakukan sesuatu sebagaimana rasul saw. membina ummat. Yaitu masalah tauhid, harus dibenahi terlebih dahulu, sebab, seperti itulah yang juga dilakukan para ulama terdahulu. Karena tauhid adalah fondasi agama islam. Jika fondasi itu roboh, roboh pula bangunan islam yang lain. Sebaliknya, kalau tauhid ummat ini kuat berarti fondasi yang menopang seluruh bangunan islam itu pun kuat pula.
Dengan demikian pembinaan tauhid merupakan masalah yang sangat strategis bagi upaya pembangkitan kembali ummat ini. Upaya-upaya untuk membangun kembali umat islam, yang tidak memulai langkahnya dari pembinaan tauhid sama artinya dengan membangun rumah tanpa fondasi. Sia-sia belaka. Oleh karena itu, memperkuat tauhid umat harus menjadi program yang diprioritaskan oleh seluruh kalangan kaum muslimin ini. Pembinaan tauhid sebagaimana yang difahami salafus shalih harus disosialisasikan kepada seluruh ummat. Sehingga mereka memahami jalan hidup yang benar, meninggalkan pola hidup yang salah.

Hadirin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Adapun solusi yang tepat untuk menyelamatkan umat dari bahaya paham skulerisme tidak lain kecuali kembali kepada al-Qur’an dan hadits. Rasulullah saw. berpesan kepada kita: Telah aku tinggalkan bagimu dua perkara yang tak akan tersesat darimu setelah berpegang keduanya: kitabullah dan sunnahku. (Dishahihkan al-albani dalam kitab al-jami’, diambil dari kitab al-firqatun naajiyah).
Dari sini bisa kita simpulkan bahwa kondisi ummat yang carut marut sekarang ini banyaknya kesyirikan dan bid’ah. Merebaknya budaya sekulerisme (kehidupan tanpa tuntunan agama), menggejalannya berbagai fitnah hanya bisa di atasi dengan kembali kepada sumber ajaran kita yang murni yakni al-Qur’an dan sunnah. Karena bila selalu berpijak kepada al-qur’an dan sunnah sebagaimana pemahaman ulama terdahulu, bahwa langkah awal dalam membangun masyarakat adalah dengan menanamkan tauhid. Sebab yang diseru rasulullah saw. pertama kali di mekkah adalah tauhid, sebelum menyeru masalah-masalah lain.
Oleh karena itu, jama’ah sekalian, sudah waktunya kita kembali kejalan yang benar. Hindari paham sekulerisme yang membahayakan keyakinan dan amaliyah kita. Kita harus yakin bahwa nilai-nilai agama bisa diterapkan dibibang kehidupang apa saja. Karena agama diturunkan dimuka bumi memang untuk mengatur kehidupan manusia. Sudah seharusnya kita selalu berpijak kepada aturan-aturannya semoga allah membimbing kita semua. Amin [cp]

Khutbah Kedua Jum’at

اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ حَبِيْبُهُ وَ خَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله وَ اعْلَمُوْا اَنَّ الله يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُوْرِ وَ يَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ اَنْ يَّكُوْنُوْا فِى تَكْمِيْلِ اِسْلَامِهِ وَ اِيْمَانِهِ وَ اِنَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .