Kumpulan Ceramah Ramadhan 2020 Lengkap

Kumpulan Ceramah Ramadhan 2020 – Meskipun Bulan Ramadhan msih jauh, tapi alangkah baiknya kita untuk mulai dari saat ini belajar untuk membawakan ceramah ramadhan 2020. Berikut ini Ceramah Pidato akan share beberapa contoh ceramah sebelum shalat Sunnat Tarawih pada bulan Ramadhan nanti. Simaklah selengkapnya.

ceramah-ramadhan

Kumpulan Ceramah Ramadhan Pilihan Tahun 2020

  1. Ceramah Ramadhan Hari Ke-1: Puasa Dalam Perspektif Islam
  2. Ceramah Ramadhan Hari Ke-2: Fadhilah Ramadhan 2020
  3. Ceramah Ramadhan Hari Ke-3: Fadhilah Shalat Lail
  4. Ceramah Ramadhan Hari Ke-4: Aktualisasi Nilai Nilai Shalat
  5. Ceramah Ramadhan Hari Ke-5: Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid Optimalisasi Peran dan Fungsi Masjid
  6. Ceramah Ramadhan Hari Ke-6: Kepemimpinan Nabi Muhammad
  7. Ceramah Ramadhan Hari Ke-7: Tanggung Jawab Orang Tua Mengembangkan Fitrah Anak
  8. Ceramah Ramadhan ke-8: Membangun sistem keluarga Muslim
  9. Ceramah Ramadhan Ke-9: Keluarga Sakinah
  10. Ceramah Ramadhan Ke-10: Urgensi Pembinaan Generasi Muda Islam
  11. Ceramah Ramadhan Hari Ke-11: Keutamaan Belajar Dan Mengajarkan Al-qur’an
  12. Ceramah Ramadhan Ke-12: Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Bagi Remaja
  13. Ceramah Ramadhan ke-13: Pelestarian Lingkungan Hidup
  14. Ceramah Ramadhan Ke-14: Memelihara Kebersihan Lingkungan
  15. Ceramah Ramadhan ke-15: Makna Jihad
  16. Ceramah Ramadhan ke-16: Islam dan Keteladanan Rasulullah SAW Dalam Membangun Masyarakat Madani
  17. Ceramah Ramadhan ke-17: Masyarakat Madani Dalam Perspektif Quran
  18. Ceramah Ramadhan Ke-18: AlQuran dan Pencerahan Hati Nurani
  19. Ceramah Ramadhan ke-19: AlQuran Sumber Transformasi Budaya
  20. Ceramah Ramadhan ke-20: Membumikan Alquran dan As-Sunnah Harapan dan Tantangan
  21. Ceramah Ramadhan Hari Ke-21: Kewajiban Berpuasa
  22. Ceramah Ramadhan ke-22: Ulama Pembina Umat
  23. Ceramah Ramadhan ke-23: Konsep Ukhuwah Islamiyah
  24. Ceramah Ramadhan ke-24: Sifat Toleransi Dalam Perspektif Islam
  25. Ceramah Ramadhan Hari Ke-25: Membangun Kerukunan & Toleransi Dalam masyarakat Indonesia yang Plural
  26. Ceramah Ramadhan ke-26: Penegakan dan Peningkatan Kesadaran Hukum
  27. Ceramah Ramadhan Hari Ke-27: Keutamaan Ibadah Haji
  28. Ceramah Ramadhan Ke-28: Zakat dan Pajak
  29. Ceramah Ramadhan Hari Ke-29: Tuntunan Shalat Zakat Fitri
  30. Ceramah Ramadhan Ke-30: Tuntunan Shalat Idul Fitri 2020
  31. Khutbah Idul Fitri 2020/1441 H

Demikianlah artikel mengenai Kumpulan Ceramah Ramadhan atau Ceramah Puasa 2020, semoga artikel ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[cp]

Tags:

ceramah ramadhan singkat dan lucu, kumpulan ceramah ramadhan singkat dan praktis, teks ceramah ramadhan singkat dan lucu, ceramah, Ceramah ramadhan, teks pidato ramadhan untuk anak-anak, KUMPULAN CERAMAH RAMADHAN, teks ceramah Ramadhan, materi kultum ramadhan 2019, nu vot

Ceramah Ramadhan Singkat Pertama Tahun 2019: Kiat Menyambut Ramadhan

Ceramah Ramadhan Singkat Pertama Tahun 2019: Kiat Menyambut Ramadhan – Sahabat Cerpi, pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, simaklah.

Segala puji bagi Allah, teriring doa dan keselamatan semoga terlimpah atas nabi dan rasul termulia: Muhammad SAW, juga  atas keluarga dan para sahabat, serta kepada semua yang mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat nanti.

Ramadhan Kariim, Marhaban Ya Ramadhan …  Bulan Ramadhan telah benar-benar datang menjelang. Kaum muslimin kembali bergembira dengan datangnya bulan yang mulia ini. Setelah sebelas bulan kita mengarungi kehidupan yang penuh warna-warni, maka inilah momentum yang tepat bagi kita semua untuk membersihkan diri dari segala dosa yang melekat tanpa kita sadari. 

Kaum Muslimin yang berbahagia … Sungguh kita semua bergembira sepenuh hati dengan datangnya Ramadhan yang penuh berkah. Rasa gembira ini adalah cerminan ketakwaaan yang ada dalam hati kita, karena sejatinya bulan Ramadhan adalah salah satu dari syiar dalam agama kita, yang harus senantiasa kita hormati dan agungkan.  Allah SWT berfirman :

Ma’asyirol mukminin rahimakumullah … Kegembiraan kita tentu saja bukan sebagaimana kegembiraan anak-anak kecil dengan hadirnya Ramadhan. Karena mereka juga bergembira dengan datangnya bulan mulia ini, karena mempunyai waktu banyak untuk bermain bersama teman, bahkan –mungkin saja- gembira karena adanya petasan, dan janji pakaian baru di hari lebaran. Kegembiraan yang semacam ini tentu saja melekat pada diri anak-anak semata, tapi bukan kegembiraan yang kita maksudkan dalam menyambut Ramadhan yang mulia. Begitu pula kegembiraan kita bukanlah kegembiraan anak –anak yang beranjak remaja. Dimana mereka bergembira dengan hadirnya Ramadhan, karena mempunyai banyak kesempatan untuk jalan-jalan menghabiskan waktu bersama teman atau bahkan pasangannya. Banyak kita saksikan kesucian Ramadhan ternoda, dengan mudamudi yang justru menggunakan waktu-waktu ibadah untuk saling PDKT satu sama lainnya. Naudzu billah tsumma naudzu billah ..

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala … Sesungguhnya kita bergembira dengan hadirnya Ramadhan, karena bulan ini membawa banyak keutamaan bagi kita semua. Jika kita merenunginya satu persatu lebih mendalam, maka tentulah kegembiraan itu akan kian bertambah lengkap dan sempurna. Marilah kita melihat beberapa keutamaan Ramadhan yang menjadikan alasan kita bersuka cita menyambutnya …

Pertama :  Karena Ramadhan bulan penggugur dosa kita Rasulullah SAW bersabda dengan lisannya yang mulia :

Hadirnya Ramadhan sungguh menjadikan momentum bagi kita untuk membersihkan diri dari segala noda dosa dan kemaksiatan yang tidak kita sadari. Ibaratnya pakaian yang sehari-hari kita pakai, meskipun tidak terkena lumpur atau kotoran yang jelas, tetap saja kita harus mencucinya karena ada debu yang melekat erat. Begitupun diri kita, sekalipun kita tidak menjalani dosa besar, namun tentu saja tanpa kita sadari terkadang ada hal yang kita lakukan menyebabkan noda kecil dalam hati kita, bisa jadi melalui lisan, pandangan, atau bahkan anggota badan kita. Astaghfirullahal adziim … Hasbunallah wa nikmal wakiil .  Inilah yang membuat kita bersuka cita karena mendapat kesempatan untuk menyucikan diri dari kita. Maka marilah kita menjalankan ibadah di dalamnya dengan penuh iman dan pengharapan, serta memperbanyak istighfar, agar benar-benar Ramadhan ini menjadi bulan pengampunan.  Bahkan diriwayatkan pula, bagaimana malaikat Jibril as melaknat mereka yang  mendapati Ramadhan, tetapi tidak diampuni dosan-dosanya. Semoga ini bisa menjadi cermin bagi kita semua.

Karenanya, sungguh mengherankan jika ada sebagian kaum muslimin yang justru merasa berat dengan hadirnya Ramadhan, merasa bahwa Ramadhan mengekang segala kebebasan dan kemerdekaannya. Atau ada pula yang merasa biasa-biasa saja, merasa bahwa Ramadhan hanyalah rutinitas belaka, yang datang silih berganti sebagaimana bulan-bulan lainnya. Sikap seperti ini, tentu saja bukan cerminan ketakwaan yang ada dalam hati. Melainkan timbul dari hati yang sakit atau jiwa yang lekat dengan maksiat. Tentu saja kita berlindung dari sikap yang demikian …Naudzu billah tsuma naudzu billah

Kaum muslimin yang berbahagia … Hal kedua yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan merupakan bulan musim kebaikan, dimana kita semua menjalankan ibadah dengan penuh semangat, berbondongbondong dan sungguh terasa lebih ringan. Inilah yang dijelaskan dalam hadist Rasulullah SAW, tentang Ramadhan sebagai musim kebaikan yang menakjubkan :

 Inilah yang menjadikan kita bergembira, karena kebaikan begitu mudah dijalankan. Bersama sama kita lihat di masjid, mushola, bahkan di rumah-rumah kita, bagaimana Ramadhan menyinari kita dengan banyak amal dan kegiatan yang tak putus dan henti-hentinya. Dari mulai pagi hari hingga malam menjelang, bergantian kita melaksanakan amal kebaikan yang begitu beragam. Subhanallah walhamdlillah …..   Kaum muslimin yang berbahagia … Hal ketiga yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan adalah bulan dimana ukhuwah kita meningkat. Bayangkan saja, bagaimana hari-hari ini dipenuhi dengan banyak pertemuan antar jamaah masjid, dari mulai sholat tarawih berjamaah, tadarusan selepas tarawih, hingga sholat shubuh berjamaah …. Kaum muslimin berkumpul setiap harinya dan merasakan keindahan ukhuwah yang luar biasa. Bahkan bukan hanya di luar rumah, di dalam rumah pun kita menemukan keharmonisan yang bertambah saat Ramadhan tiba. Banyak kesempatan untuk berkumpul antar anggota keluarga, khususnya saat buka puasa dan sahur menjelang. Ini semua tanpa kita sadari, sungguh membuat hati kita lebih tenteram dan nyaman. Lebih siap untuk menjalani semua aktifitas dan tantangan dalam kehidupan ini.

Kaum muslimin yang berbahagia … Yang terakhir, tentu saja kita bergembira dalam bulan Ramadhan ini karena Allah SWT banyak menjanjikan pahala kemuliaan bagi kita semua melalui amal-amal yang ada di dalamnya. Setiap amal mempunyai keutamaannya masing-masing. Khususnya kita bergembira karena di dalam Ramadhan ada satu malam yang mulia, yaitu lailatul qadar yang bernilai melebihi seribu bulan. Ini menjadi kesempatan yang sungguh kita impikan, untuk mendapatinya dengan memperbanyak ibadah pada malam tersebut. 

Akhirnya, marilah kegembiraan ini kita jadikan sebagai pemicu awal untuk lebih bersemangat dalam mengarungi samudera keberkahan Ramadhan dengan ragam ibadahnya yang mulia. Kita menjalaninya satu persatu dengan ringan penuh suka cita, agar semua yang dijanjikan bisa kita dapatkan dalam Ramadhan ini. Semoga Allah SWT memudahkan ….. Allahumma sholli ala muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi ajmain.[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-29: Tuntunan Zakat Fitri

Ceramah Ramadhan Hari Ke-29: Tuntunan Zakat Fitri – Sahabat Cerpi, pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Tuntunan Zakat Fitri, simaklah.

Perhatikanlah bahkan namanya adalah semua hadis yang menjadi sumber bagi zakat ini menggunakan kata. Mengubah kata menjadi berakibat berubahnya makna dan hakekat fithri itu. Maknanya makanan, sedang makananya bentuk asli manusia jadi maknanya zakat makanan, sedang maknanya zakat orang, perhatikanlah akibat dari perubahan nama itu. Di bawah ini dicantumkan sebuah hadis yang secara jelas, menyebut nama zakat sebagai:‘’dari Ibnu Umar ra. Berkata: ‘Rasulullah saw. Mewajibkan zakat al-Fithri, 1sha’ kurma, atau 1 sha gandum, bagi budak dan merdeka, lelaki dan perempuan, kecil dan besar yang Islam. Dan beliau (nabi) perintahkanlah supaya dilaksanakan sebelum keluar orang-orang  (dari rumahnya) ke (mushalla untuk) shalat ‘Id’’ (Muttafaq ‘Alaih).
ceramah-ramadhan
Zakat fithri diwajibkan oleh Rasulullah saw. bukan Allah swt. Yang mensyari’atkanny. Karena itu maka sumber hukum bagi zakat fitri adalah hadis tidak ada dalam Alquran.
Zakat Al-Fithri
Zakat al-Fithri  disyari’atkan pada tahun kedua hijriyah yaitu pada tahun disyari’atkannya puasa Ramadhan.Hukumnya, wajib atas segenap anggota keluarga yang beragama Islam, termasuk pembantunya, masing-masing satu sha’. (lihat hadis di atas).Yang Mustahiq, atau yang berhak menerima, hanya orang-orang miskin saja yang diantarkan langsung oleh Muzakki yang mengeluarkan zakat.
Tujuan zakat al-Fithri:
‘’untuk mensucikan orang-orang berpuasa daripada kesia-siaan dan kata-kata kotor’’.‘’Untuk makan orang-orang miskin’’
Ada perintah Rasulullah saw:‘’Cukupkanlah mereka (orang-orang miskin) jangan berkeliling (mencari makanan) pada hari ini (Id al-Fithri)’’.
Yang di zakatkan kurmaatau gandum atau kismis, atau akit, ataupun makanan lain seperti beras, jagung, sagu dsb.Ukurannya sebanyak 1 sha’ setiap orang. 1 sha’ =4 mud.1 mud =4 x sepenuh dua belah tangan.Waktunya, di lakukan pada waktu malam Idul Fithri, mulai terbenam matahari, sampai pagi sebelum orang-orang keluar dari rumahnya  menuju (mushallla/ lapangan di luar kota) untuk shalat al-‘Id.
Rasulullah saw.:‘’Dan Rasulullah saw. memerintahkan agar zakat Fothri dilaksanakan sebelum keluar orang-orang (dari rumahnya) ke (kushhallah) untuk shalat ‘Id’’.
Di bawah ini saya kutipkan sebuah contoh yang dibuat oleh Dr. S. Majidi tentang pelaksanaa zakat fithri dalam sebuah buku yang berjudul ‘’Zakat al-Fithri’’ yang disaling oleh Dr. H. Subari Damopolii.
Contoh:  Seorang kepala rumah tangga kaya maupun miskin beranggotakan keluarga: seorang isteri, seorang anak laki-laki dan perempuan, sudah besar atau bayi dan seorang pelayan, yang jumlah seluruhnya 5 orang.
Zakat Fithri seorang 1 sha’x 5 orang = 5 sha’
Pada malam Idul Fithri…tidak ada berasnya sama sekali, yang ada Cuma sedikit saja hanya cukup untuk dimakan sekeluarga, esok harinya lebaran dan ada lebihnya tapi tidak sampai 1 sha’, tidak wajib zakat fithri.
Tidak mampu, tidak ada kewajiban =(a). Kalau mampu, boleh beli beras pada malam itu, di bawah ke rumah untuk zakat fithri.Ada kemampuan, ada kewajiban =(b)Kewajiban sekedar kemaampuan (c). Ia miskin, jadi ia mustahiq.
Jika menerima Zakat Fithri, orang:
    • 1 sha’, cukup dimakan sekeluarga. Belum cukup wajib zakat Fithri. =(a).
    • 2 shs’, dizakatkan 1 sha’ bagi diriny =(c)
    • 3 sha’, dikeluarkan 2 sha’ baginya dan isterinya = (c)
    • 4 sha’, keluar 3 bersama anak lelakinya =(c)
    • 5 sha’, 4 dengan anak perempuannya =(c)
  • 6 sha’, 5 segenap kelusrganya = (b)
Zakat Fithri disampaikan langsung :
    • 1 sha’ pertama kepada miskin terdekat.
    • 1 sha’ kedua kepada yang dekat.
  • Sha’ ketiga, keempat dan kelima kepada seterusnya.
Sumber bacaan :Al-Fiqhu al-Islami Wa Adillatuhu : Dr. Wahhab Az-Zuhaili; Bulugh al-Maram : al-Hafizd Ibn Hajar al-Asqalani; Zakat al-Fithri : Dr. S. Majidi.[cp]

Ceramah Ramadhan Ke-28: Zakat dan Pajak

Ceramah Ramadhan Ke-28: Zakat dan Pajak – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini CeramahPidato.Com akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Zakat Dan Pajak, simaklah.

Istilah yang merupaka nama dari salah satu bentuk ibadah dalam Islam, berasal dari huruf’’ dan yang berarti penyician atau pembersihan dan pertumbuhan. Pertumbuhan disini, menurut Al-Raghib al-Asfahaniy dimaksudkan bahwa zakat itu menumbuhkan ekonomi umat karena adanya berkat Allah. Secara termonilogi zakat adalah meng eluarkan sejumlah tertentu dari harta yang hukumnya wajib untuk diserah kepada sejumlah pihak tertentu yang disebut mustahik sesuai dengan ketentuan Syariat yang diatur dalam alquran dan Sunnah.

Kata zakat dan segala bentuk jadiannya di dalam Alquran ditemukan sebanyak 59 kali, baik dalam ayat-ayat Makkiyah (11 kali) maupun dalam surah-surah Madaniyah (21 kali). Jadi sebenarnya, konsep zakat sudah dikenal dalam Islam sejak sebelum Rasulullah saw. Hijrah. Bahkan, menurut Alquran dapat pula dikatakan bahwa kewajiban zakat terdapat dalam syariat terdahulu. Ini dapat dipahami misalnya dari Q.S. Al-Bayyinah (98): 5, berbunyi:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Yang Artinya:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

ceramah ramadhan

Fungsi-fungsi zakat

Islam secara prinsipil mengajarkan umatnya untuk dapat hidup bahagia dunia dan akhirat. Itu berarti, Islam menghendaki umatnya menbangun peradaban yang makmur dan bermoral, jauh dari kesan kemiskinan.Dalam Islam diajarkan kegiatan dan ibadah tertentu yang mempunyai dampak langsung dan tidak langsung terhadap pengentasan kemiskinan. Di antara ialah ajaran mengenai zakat, infaq dan shadakah (ZIS). Selain itu, Islam juga mengaruskan umatnya bekerja keras dan meningkatkan etos kerjanya; mengharapkan agar penguasa (pemerintah) Islam memberi kemungkinan berkembangnya tatanan kehidupan yang menguntungkan rakyat banyak; dan mengajak agar setiap orang meninggalkan kebiasaan buruk yang menjatuhkannya kejurang kemiskina , misalnya boros (mubazzir) dan judi.

Pemanfaatan Zakat secara Umum

Zakat mempunyai fungsi sosial yang sangat berat artinya bagi pengentasan kemiskinan. Ciri utama suatu kelompok miskin ialah ketidak mampun mereka memenuhi kebutuhan pokok makanannya. Maka dalil yang paling tegas menyebut penggunaan zakat sebagai makanan pokok adalah menyangkut zakat fitri, yakn i riwayat yang ai sampaikan oleh Ibnu Abbas yang menyatakan dua hal, yakni thuhrat li as-sha’im dan thu’mat li al-masakin (pemberisan bagi orang yang berpuasa dari ucapan tak benar dan kotor dan bagian makana bagi orang-orang miskin). Secara lengkap, hadis itu berbunyi:

saja berguna sebagai makanan bagi orang-orang miskin, tetapi juga seharusnya di bagi kepada delapan ashnaf yang disebutkan dalam Al-Quran:‘’Sesungguhnya sakat-sakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, pengurus-pengurus zakat, para mua’allaf (yang dinujuk hatinya), untuk memerdekakan budak, untuk jalan Allah dan ibn sabil, sebagai ketentuan yang diwajibkan Allah; dan Allah maha mengetahui dan maha bijaksana’’.

delapan ashnaf. Pandangan ini juga dianut oleh Sayyid Sabiq, penulis kitab Fiqh al-Sunnah; bahwa lebih dari itu ia mengungkapkan bahwa Al-Zuhriy, Abu Hanifa, Muhammad dan Abu Syabramah menbolehkan zakat fitri itu dibagikan kepada kaum zimmi berdasarkan pengertian umum dari Q.s. al-Mumtahanah/60: 8, berbunyi:

لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

yang artinya:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Sehubungan dengan ini Al-Syaikh Ali Ahmad Al-Jarjawiy, penulis kitab Hikmat al-Tasyri wa Falsafatuh, juga menerima pandangan yang menbolehkan pembahagian zakat fitri kepada orang zimmi. Namun, ia kembali menegaskan bahwa ayat 8 dari surah Al-Mumtahanah di atas, meskipun membuka jalan untuk bagian kaum zimmi, harus diakui bahwa zakat itu selayaknya diperuntuhkan kepeda orang-orang Muslim saja. Alasannya ialah hadis dari Mu’az, yakni sabda Rasulullah SAW:Ambillah zakat dari orang-orang kaya mereka (orang muslim), dan kembalikan pula kepada orang-orang miskin mereka (orang muslim).

Yang jelas bahwa adanya jalan untuk memberi zakat kepada kaum zimmi menunjukkan bahwa upaya mengentasan kemiskinan dalam Islam tidaklah bersifat eksklusif; tidak hanya untuk umat Islam, tetapi segenap bahagian masyarakat yang pantas menerimanya. Golongan yang membolehkan kaum zimmi menerima zakat firti disamping berdasar pada arti umum Q>S> Al-Mumtahannah: 8 juga surah Al-Tawbah: 160, tentang sasaran zakat, yang salah satu di antaranya ialah al-mu;allafat qulubuhun (kaum mualaf).

Kata mualaf, yang biasa di pahami dalam arti orang-orang yang baru masuk Islam dan perlu dujinakkan agar tidak menimbulkan fitnah (ancaman) terhadap Islam dan dengan harapan agar mereka dapat menganut agama Islam.

Aspek Sosial Pemanfaatan Zakat Fitridipahami dari redaksi yang menyangkut zakat fitri khususnya, yang menekankan oada kalimat tha’am (thu’mah) dan masakin atau fuqara’ yang semunya mengacu kepada perlunya pembnerian makanan bagi orang miskin, dan terangkum dalam satu kata yakni fithr (berbuka) yang menjadi nama khas dari zakat tersebut.

Berdasarkan hadis Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa zakat fitri harus ditunaikan sebelum shalat ‘Id, ad alah bertujuan agar para orang kafir tidak lagi berkeliaran mencari makanan pada hari itu, sebagaimana yang diharapkan Nabi SAW menurut riwayatnya Ibn ‘Ady danAl-Darquthni dari hadis Ibn Unar, dengan menegaskan: ‘’cukupkanlah makannya, sehingga tidak lagi berkeliling mencari makanan pada hari Raya ‘Id ini’’.

Dari sini kita dapat mengerti bahwa orang miskin adalah orang-orang yang susah memperoleh makanan, sehingga diantara mereka ada yang terpaksa menjadi pengemis. Keadaan seperti ini juga, diisyaratka oleh firman Allah swt. Di dalam Q.s. al-Hajj/22:28, berbunyi:

لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Yang artinya:

‘’Danupaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Adanya kaum miskin dan fakir dalam pengertian di atas, secara historis diduga keras terdapat –dan masih merajalela – dizaman permulaan Islam. Hipotesis ini menjadi kuat jika kita ingat bahwa perintah menbayar zakat fitri itu telah ada sejak tahun kedua Hijriyah, mendahului kewajiban zakat lain. Mungkin saja sesudah itu, seiring dengan kemajuan Islam itu sendiri, orang miskin dalam arti sudah memperoleh makanan sudah tidak ditemukan, dan karena itu pula sudah jarang dari mereka ditemukan menjadi pengemis. Akibatnya, engertian ‘’miskin’’ sudah berubah pula. Perkataan tersebut tidak lagi dikenakan secara khusus terhadap orang-orang yang susah memperoleh makanan, tapi sudah mencakup pula orang-orang yang yang memiliki harta, namun belum memenuhi kebutuhan primernya yang lain. Hadis riwayat Bukhari menegaskan: ‘’yang disebut miskin bukanlah orang-orang yang mendatangi manusia dan meminta sesuap atau dua suap makanan, sebiji atau dua biji kurma, tetapi yang disebut miskin ialah orang yang tidak memiliki harta yang mencukupi hidupnya, orang lain tidak memberikan perhatian untuk bersedekah kepadanya, dan tidak pula ia meminta orang lain untuk itu’’.

Sejalan dendan hadist tersebut, Al-Syafi’iy kemudian memahami pengertian ‘’miskin’’ bebbeda dengan pengertian faqir. Baginya, fakir ialah orang yang tidak punya harta dan tidak punya pekerjaan yang menghidupinya, baik mengemis maupun tidak, sedangkan miskin ialah orang yang punya harta atau pekerjaan namun tidak mencukupi hidupnya, baik meminta atau tidak.

Pengertian ‘’miskin’’, ternyata mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Masalahnya, apakah tujuan zakat fitri juga bergeser dari sifatnya sebagai thu’mah (makanan) menjadi alat pemenuhan kebutuhan lain di luar makanan itu? Tujuan utama zakat fitri sebagai makanan bagi orang miskin, tidak dapat dihapus, akan tetapi tidak berarti tujuan zakat fitri terpaku pada soal itu saja. Pengertian kata thu’mah yakni makanan untuk memenuhi kebutuhan perut yang sedang lapar, mungkin masih cocok bagi masyarakat yang masih sangat melarat. Namun, dalam masyarakat yang sudah berkembang atau yang sudah maju, pengertian demikian tidak relevan lagi. Perkataan tu’mah dalam kontes masyarakat yang sudah maju, lebih tepat jika diartikan menjadi komsumsi secara luas, mencakup segala hajat hidup orang miskin (ekonomi lemah) di luar pangan.

Dalam pembendaharaan bahasa syariat, perkataan ‘’makan’’ selai diungkap dengan kata-kata thu’mah atau tha’am, juga terkadang diungkap dengan kata akala (al-akl) dalam kata jadian: ta’kul atau ya’kul. Misalnya larangan memakan harta anak yatim diungkap dengan kata tersebut:mereka itu menelan api sepenuh perutnya, dan mereka itu akan masuk ke dalam api neraka’’. Larangan makan riba juga diungkap dengan kata tersebut:‘’ hai orang-orang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan terlipat ganda’’.

Kata ‘’ya’kulun’’ dan ta’kulun yang berarti ‘’memakan’’, tidaklah berarti bahwa pemanfaatan harta anak yatim dan perolehan riba hanya berlaku dalam proses makan (dalam arti mengisi perut). Larangan mengkonsumsi dalam arti luas, mencakup pemanfaatan harta anak yatim dan segala jenis peroleh riba. Dalam kontes pengertian konsumsi secara luas itulah, kita mencoba memahami makna yang terkandung dalam thu’mah. Bahwa untuk ukurang masyarakat yang sudah berkembang dan maju, zakat fitri dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan golongan ekonomi lemah, diluar kebutuhan makan (pangan) mereka. Maka dengan sendirinya zakat fitri juga tidak mesti di bayar dalam bentuk bahan makanan sepeti gandung, tamar dan anggur (di zaman Nabi SAW) atau beras dan jagung (bagi masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya). Dalam kontes ini, terasa ada benarnya pendapat Abu Hanifah yang membolehkan pembayaran zakat dalam bentuk qimah (nilai) yang sesuai dengan kadar zakat yang wajib baginya. Baginya, tradisi kita di Indonesia, cara ini tidak menjadi asing lagi. Meskipun diketahui bahwa sebahagiaan besar umat Islam di Indonesia mengaku bermaszhab Al-Syafi’iy, ternyata cara pembayaran zakat fitri dengan uang, menurut jaln yang di anjurkan Abu Hanufah, semakin populer.

Hal yang perlu dipahami disini, ialah apa yang mendorong cara tersebut menjadi semakin populer. Ternyata hal yang mendoromg kearah itu adalah tingkat kehidupan masyarakat Islam di Indonesia, yang tidak lagi susah makan, tetapi ‘’miskin’’ dalam arti belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak, seperti yang diisyaratkan oleh hadis Bukhari yang telah di kutip di muka. Dalam skala yang lebih luas, konsep ‘’miskin’’ tidak lagi berorientasi pada individu, tetapi lebih bersifat kolektif. Dari sinilah timbulnya istilah masyarakat miskin, atau negara-negara miskin, yang artinya mengacu kepada negara atau masyarakat yang terkebelakang. Dalam masyarakat atau negara miskin, mungkin saja masalah kekurangan pangan tidak lagi menjadi isu, tetapi digantikan oleh kekurangan lapangan kerja. Dengan demikian sumber zakat, termasuk zakat fitri sudah layak jika pengunaannya ditujukan kepada aspek kehidupan lain dalam proses pembangunan umat, dengan tetap mengingat sasaran pendayagunaan zakat yang mencakup delapan ashnaf.

Membangkitkan Solidaritas Islam

Pembayaran ZIS hendaknya tidak dipahami sebagai perintah ubudiyah semata, tetapi sangat jelas efek solidaritasnya antara sesama umat Islam. Bahwa menurut Ibn Khaldun, stata sosial masyarakat yang paling atas menjadi lapisan yang paling rawan, sebab secara sosiologis, masyarakat tingkat atas itu tidak lagi mempunyai rasa solidaeitas yang kuat, akibat kepedulian sosialnya semaking kurang. Bagi masyarakat Islam, prediksi Ibn Khaldun itu dapat ditangkal dengan tetap tumbuhnya solidaritas orang-orang yang sudah berkehidupan makmur (masyarakat hadharah), tidak akan mudah kehilangan rasa solidaritas, asal saja tetap menngamalkan dan menghayati makna ibadah zakat yang mengandung pesan untuk membantu mereka yang dilanda penderitaan. Dengan demikian, kita tidak perlu takut mengejar kemajuan dan mewujudkan masyarakat makmur sebab kemakmuran yang dijanjikan Islam bukanlah kemakmuran kapitalistik yang mengunakan kekayaan menindas orang miskin agar semakin miskin, melainkam kemakmuran yang membawah berkah bagi orang-orang miskin sekitarnya. Salah satu hikmah ajaran zakat adalah agar harta itu tidak hanya dinikmati oleh orang-orang kaya, sebagaimana firman Tuhan dalam Q.S. Al-Hasyr I(59):7:

مَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Yang Artinya:

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Dewasa ini, sebahagian umat kita terjebak oleh kemiskinan struktural. Mereka miskin bukan hanya karena kemalasannya, melainkan karena kondisi sosial yang menepatkan mereka beradadalam stata paling bawah, kurangnya lapangan kerja, serakahnya orang-orang berada, penekanan yang berlebihan pada sektor pertumbuhan ekonomi. Hal demikian dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk bersaing dalam mengaadakan kolusi memperoleh proyek-proyek raksasa, walaupun rakyat kecil harus digusur, ditambah lagi dengan belum maksimalkan pemerataan yang ditimbulkan kecemburuan sosial yang terpendam.

Maka untuk melepaskan umat dari kondisi yang demikian diperlukan pemikiran yang mendasar dan langkah konkret dengan menggalang solidaritas di antara mereka serta diperlukan adanya keberanian dan kearifan dari pemerintah yang menyusun kebijakan dari atas untuk lebih memperhatikan nasib orang kecil; mengajak secara bijaksana para konglomerat untuk lebih bersifat manusiawi, mengelolah bisnis untuk kepentingan bersama, bukan bisnis untuk kerajaan bisnis semata-mata.

Mendorong Etos Kerja Umat

Sebenarnya, sebhagian orang-orang miskin itu mengalami kemiskinannya adalah disebabkan oleh perilakudan pola hidupnya sendiri ang cenderung malas, pemboros, tanpa perhitungan. Untuk mereka yang keadaannya demikian, kita perlu membangkitkan semangat kerja. Pada dasarnya Islam lebih menyenangi orang-orang yang tangannya diatas (suka memberi) dari pada yang tangannya di bawah (hanya tau minta tolong). Untuk itu Islam sangat menganjurkan kerja keras agar hidup seseorang semakin baik. Dalam salah satu hadis Riwayat Al-Bukhariy, Rasulullah SAW menegaskan: ‘’tidaklah seseorang itu memakan makanan yang lebih baik dari hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya Daud AS memakan dari hasil kerja tangannya’’.

Dalam mendorong umatnya untuk bekerja keras, kama Rasulullah SAW pernah pula menyatakan bahwa tiap petani yang tanamanya dapat dinikmati oleh burung atau hewang ternak dan apalagi manusia, akan dicatat sebagai sedekah baginya. Teks hadist itu berbunyi: Hadis ini bermaksud untuk mendorong etos kerja di kalangan petani agar tiap jengkal tanah pertanian diusahakannya menjadi lahan yang produktif.

Kemalasan dikalangan umat juga disebabkan oleh adanya paham bahwa semakin kaya seseorang semakin sulit masuk sorga,sebab ia harus lebih banyak mempertanggung jawabkan harta kekayaannya. Apa lagi, jika dikaitka dengan riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW akan masuk sorga bersama dengan orang-orang miskin. Paham seperti ini hendaknya diperbaiki, jangan disalahgunakan. Sebaiknya jika kita baik, bahwa sebenarnya Islam mewajibkan kita berusaha menjadi kaya sebab hanya orang kaya lah yang dapat memenuhi perintah Tuhan untuk menbayar zakat. Hanya orang kayalah yang dapat berjihad fi sabilillah di zaman modern ini untuk menegakkan da’wah Islam yang semakin menbutuhkan fasilitas dan dana yang banyak.

Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Kemalasan akan semakin sempurna jika sebahagian masyarakat masih dilanda kebodohan. Kebodohan menyebabkan seseorang menjadi tidak tahu apa yang ia hharus perbuat demi kehidupannya. Karena itu, umat Islam sekarang sangat membutuhkanperbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Untuk itu, harapan agar lembaga-lembaga da’wah dan pendidikan Islam mau berupaya untuk mencurahkan perhatiannya pada pemberian kesempatan yang lebih luas bagi generasi muslim untuk mengecap pendidikan, antara lain dengan memberikan bea siswa sebagai upaya konkret mengentaskan kemiskinan. ‘’berilah kail, dan jangan hanya memberikan ikan’’. Untuk menberikan beasiswa maupun perbaikan sarana pendidikan, maka umat Islam dapat memanfaatkan zakat sebagai sumber dana pembiayaan. Upaya untuk itu memang telah dilakukan pemerintah, tapi umat Islam harus sadar bahwa tanpa menggali potensi umat sendiri berupa zakat disertai kesadaran untuk membantu sesama, nasib sebagai generasi muslim yang cerdas dan berprestasi akan kandas karena kelemahan ekonomi.

Pajak dan Pelaksanaannya menurut Hukum Ialam

Dalam Islam, istilah yang relevan dengan pajak adalah jizyah atau kharaj. Dua istilah ini masig-masing terdapat dalam nash sebagai brikut: ‘’pangilang orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula)kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk’’. ‘’atau kamu meminta upah kepada mereka?, maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah pemberi rezki yang paling baik.

Dua ayat di atas digunakan oleh Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkam al-Sulthaniyah untuk mengambarkan adanya pungutan pembayar di luar zakat. Bedanya dengan zakat ialah bahwa zakat dipungut dari umat Islam, sedang jizyah dipungut dari kalangan non muslim. Adapun kharaj dipungut dari non muslim dan muslim yang mengerjakan lahan tertentu. Jizyah adalah pungutan yang khusus diambil dari kaum musyrikin (non muslim atau dzimmi), dan sama sekali tidak dipungut dari mereka yang sudah muslim. Hal ini di sebut dalam Hadis Riwayat Abi Dawud sbb:. ‘’dari Ibni Abbas berkata, sabda Rasulullah Saw: tidak ada kewajiban jizyah atas umat Islam; telah memberikan kepada kami Ibn Katsir berkata, Sufyan ditanya tentang pemahaman soal ini, lalu ia berkata: jika ia telah masuk Islam maka tidak berlaku ada jizyah.

Dan tebih tegas lagi hadis riwayat Al-Turmudzi sebagai berkut:‘’yahya Ibn Aktam memberitakan kepada kami, telah memberitakan kami Qabus bin Abi Zhubyan dari bapaknya dari Ibn Abbas berkata, bersabda Rasulullah SAW tidaak pantas dua kiblat pada satu biumi, dan tidak pantas kaum Muslimin dikenakan jizyah (upeti)……………………..dan pengamalan soal ini di kalangan ulama bahwa kaum Nashrani, jika memeluk Islam maka lepaslah kewajiban membayar jizyah, dan perkataan Nabi saw.: ‘’tidak ada kewajiban membayar persepuluh yakni jizyah (semacan pajak), dan dalam hadis dipahami hal ini ketika ia berkata pajak (persepuluh) itu hanya atas Yahudi dan Nahrani, dan tidak ada kewajiban usyur atas umat Islam. Adapun kharaj (jenis pajak lain) biasanya dikenakan atas diri seorang yang diserani mengelola lahan pertanian. Lahan ini akan kalanya direbut dari tangan non muslim secara paksa atau tidak. Tanah yang direbut dari non muslim kemudian pengelolaannya diserahkan kepada non muslim tadi, dikenakan pembayar pajak (usyur) yang sekaligus merupakan jizyah. Tetapi jika ia memeluk Islam, maka jizyahnya gugur kemudian hanya dikenakan kharaj (pajak)yang jumlahnya tidak sebesar jizyah tadi.

Penerapan Zakat dan Pajak atas Umat Islam

Dalam zaman modern, khususnya di negara kita Indonesia, setiap warga yang memenuhi perhitungannya diwajibkan membayar pajak. Dengan demikian, umat Islam mengalami pembayaran dua jenis, yakni pajak dan zakat sekaligus, sehingga terkesan agak memberatkan. Banyak orang yang berusaha menemukan jalan agar umat islam tidak terkena beban pembayaran yang memberatkan tersebut.

  • Untuk memecahkan masalah ini, kita dapat memilih salah satu dari empat alternatif berikut:
  • Umat Islam di sampin membayar pajak sesuai perhitungannya, juga harus membayar zakat sesuai dengan perhitungan nisabnya.
  • Umat Islam hanya membayar zakat dan dibebaskan dari pembayarak pajak sama sekali;

Jika pajaknya lebih besar dari zakat, maka pajak yang dibayar adalah selisih lebih dari zakat yang sudah dibayarkan sebelumnya. Tetapi jika zakat lebih besar dari pajak, maka zakat yang dibayar adalah selisih lebih dari jumlah pajak yang sudah dibayar sebelumnya.

Umat Islam membayar pajak dari harta yang sudah dizakati, atau hanya membayar zakat dari harta yang sudah dibayar pajaknya. Alternatif pertama merupakan alternatif yang menarik dana pembangunan umat dan bangsa sebesar mungkin, tetapi terasa memberatkan dan rasanya tidak memecahkan persoalan. Meskipun demikian, terserah kepada setiap warga negara muslim, jika mereka ingin memberikan dana yang lebih besar bagi pembangunan bangsa dan umat.

Alternatif kedua merupakan contoh model yang menyamai medol pemungutan dana sesuai yang disebutkan dalam sejarah Islam. Tetapi kita harus memahami secara arif bahwa kita hidup dalam negara yang warganya cukup heterogen, bercampur antara umat Islam dengan non Muslim. Jika umat Islam dibebaskan dari pajak, dan hanya membayar zakat, maka dibutuhkan suatu undang-undang yang mengharuskan negara yang mengelola zakat itu sebagai dana pembangunan untuk semua warganya. (Lihat UU No. 38 tahun 1999).

Barangkali jalan yang moderat yang dapat ditempuh ialah memilih antara alternatif ketiga atau ke empat diatas. Alternatif ketiga menunjukkan bahwa pembayaran dilakukan secara inklusif (qiran), sehingga setiap orang pembayarannya berfungsi sebagai zakat dan pajak sekaligus. Sedangkan alternatif keempat menunjukkan bahwa umat Islam membayarkan zakatnya, kemudian pembayarak pajak hanya diperhitungkan dari harta yang benar-benar telah bersih dari zakat. Atau sebaliknya, umat Islam terlebih dahulu membayar pajaknya, dan setelah itu barulah dihitung zakat dari harta yang bersih dari pajak itu.

Untuk menetapkan mana alternatif yang layak dipilih perlu upaya memproduk undang-undang atau peraturan yang mendukungnya. Wallahu a’lam bi al-Shawab.[cp]

Tags:

teks ceramah zakat

Ceramah Ramadhan Hari Ke-27: Keutamaan Ibadah Haji

Ceramah Ramadhan Hari Ke-27: Keutamaan Ibadah Haji – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Keutumaan Ibadah Haji, simaklah.
Semoga puji bagi Allah yang memfardhukan ibadah haji dan umroh kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Shalawat dan salam atas sahabat-sahabatnya yang berlomba-lomba berbuat baik. Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. al-Hajj 22:27:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Yang artinya:
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,
ceramah-ramadhan
Ada beberapa hal yang diperintahkan Allah kepada umat Islam berkaitan dengan ibadah haji, antara lain:
Perintah menyeru manusia untuk melaksanakan ibadah haji:
Seruan mengerjakan ibadah haji tersebut mengandung hikmah bahwa Allah akan menganugerahkan kepad manusia beberapa keutamaan, antara lain:
    • Orang yang melaksanakan ibadah haji mendapat kehormatan menjadi tamu Allah Yang Maha Pengasih.
    • Mendapat pahala jihad yang paling utama. Rasulullah saw. Bersabda: Jihad yang afdhal adalah haji mabrur.’’(Hadis riwayat Bukhari dari Aisyah ra).
    • Mendapat pahala infaq fisabilillah, Bersabda Rasulullah SAW. :infaq dalam ibadah haji seperti infaq fisabilillah, satuDirham dibalas 700 kali lipat.’’(Hadis Riwayat Ahmad, dan Thabrani).
    • Mendapat pengampunan dosa, sehingga bersih seperti pada hari dilahirkan. Barang siapa mengerjakan haji, lalu tidak melakukan rafats dan fasik, niscaya ia kembali bersih seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)’’.
  • Mendapat pahala syurga. Rasulullah saw. Bersabda:  Umrahku, umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya. Sedang haji yang mabrur tiada balasannya kecuali syurga. ‘’(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Perintah menyediakan bekal. Allah swt. Berfirman: (Q.S. al-Baqarah 2:197).
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Yang artinya:
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
Bekal yang dibutuhkan antara lain:
Bekal pertama dan utama adalahan taqwa (Q.S.al-Baqarah: 197).
Bekal harta untuk memenuhi keperluan selama dalam perjalanan pergi-pulang dengan keperluan hidup di tanah suci.
Bekal kesehatan (jasmani dan rohani) selama melaksanakan ibadah haji.
Bekal pengetahuan manasik dan penguasaan tata cara melaksanakan ibadah haji yang dicontohkan Nabi SAW.
Bakal semangat jihad, dan kesungguhan serta ketekunan melaksanakan ibadah haji secara sempurna.
Perintah menyempurnakan ibadah dan umrah. Allah swt. Berfirman: (Q.s. al-Baqarah :196).
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مّ#1616;ن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Yang artinya:
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
Latar belakng perintah penyempurnaan ibadah haji:

Ibadah haji puncak keagamaan Islam (rukun Islam kelima).
Ibadah haji wajib hanya sekali seumur hidup setap Muslim an Muslimat.
Ibadah haji, ibadaah multi dimensial, ibadah Qalbiyah, lisaniyah, jasmaniah dan ibadah Makiyyah.
Ibadah haji, memerlukan banyak pengorbanan (waktu, tenaga dan harta).
Ibadah haji adalah puncak status keislaman kaum Muslimin.

Aspek-aspek penyempurnaan ibadah haji:

Menyempurnakan syarat-syaratnya.
Menyempurnakan rukun-rukunnya.
Menyempurnakan wajibnya.
Menyempurnakan sunat-sunatnya.
Menyempurnakan hikmah-hikmahnya (memelihara haji mabrur).

Demikian, semoga dapat bermanfaat. Wa Allah a’lam bi al-shawab.[cp]

Tags:

pidato hikmah haji, teks pidato manasik haji

Ceramah Ramadhan Hari Ke-21: Kewajiban Berpuasa

Ceramah Ramadhan Hari Ke-21: Kewajiban Berpuasa – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Keutumaan Ibadah Haji, simaklah.

PUASA
Puasa adalah menahan lapar mulai dari terbitnya fajar di sebelah timur sampai terbenamnya matahari disebalah barat. Yang mana ketika kita berpuasa, kita dilatih untuk menahan nafsu, menahan lapar dan menahan haus.
Puasa merupakan salah satu yang termasuk dalam rukun islam, yaitu rukun islam yang ke – 4. Pastinya kita semua sudah pada mengetahui rukun – rukun islam. Hanya sekedar mengingat kembali, Rukun islam yang ke
1. Mengucapkan dua kalimat sahadat
2. Mengerjakan shalat
3. Membayar zakat
4. Mengerjakan puasa,
5. Naik haji bagi yang mampu. 
 
ceramah-ramadhan
Rukun islam merupakan kewajiban bagi seluruh umat islam dipenjuru dunia. Kewajiban berarti segala sesuatu yang harus atau mesti dikerjakan atau dilaksanakan. Maka dari itu kita sebagai umat muslim wajib berpuasa. Berdasarkan keterangan yang sangat jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan salah satu dari rukun Islam yang 5. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukannya yang mulia dan agung dalam Islam. Karenanya semua orang muslim wajib memperhatikan dan menjaganya dengan seksama agar sempurna bangunan di dalam dirinya.
 
Apabila ada seorang yang mengaku muslim namun meninggalkan puasa karena ia mengingkarinya, maka dia termasuk orang – orang yang kufur. Sedangkan bagiorang – orang yang tidak mengerjakan puasa karena malas atau lalai “tetap meyakini bahwa hukumnya wajib”, maka ia telah melakukan dosa yang besar dan kebinasaan karena tidak melaksanakan salah satu rukun Islam dan kewajiban yang penting. 
 
Adapun konsekuensi berdasarkan hukum fiqihnya, para ulama – ulama memiliki pendapat yang berbeda – beda. Sebagiannya berpendapat, bahwa bagi orang yang telah berbuka “tidak berpuasa” satu hari saja dari bulan Ramadhan maka wajib mengqadla puasanya sebanyak 12 hari. Ada juga yang pendapat bahwa mereka wajib berpuasa qadla selama satu bulan. Pendapat lainnya, mengatakan bahwa seseorang itu harus berpuasa selama 3000 hari dan ini merupakan pendapat al-Nakhai, Waqi’ bin al-Jarrah,. Namun ada dua pendapat yang paling masyhur dalam masalah ini dan memiliki landasan argumen yang kuat, yaitu: wajib mengqadla tanpa kafarah dan cukup bertaubat tanpa harus qadla.
 
Pendapat Pertama: Wajib qadla saja
Pendapat ini merupakan pendapat yang sangat umum di kalangan para ulama, yaitu wajib mengqadla bagi orang yang sengaja berbuka (tidak berpuasa) pada bulan Ramadlan, yaitu dengan berpuasa sesuai jumlah hari yang dia rusak.
 
Pendapat Kedua: Tidak wajib mengqadla, dan hanya bertaubat dengan sebenar – benarnya “bersungguh – sungguh”
Menurut pendapat kedua ini, tidak cukup dengan qadla walaupun dia berpuasa setahun penuh. Sebabnya, karena dia sengaja merusak puasanya tanpa udzur syar’i. Maka tidak mencukupi hari untuk menggantikan hari yang dia rusak tersebut, karena qadla disyariatkan bagi orang yang memiliki udzur (berhalangan).
 
Allah Ta’ala berfirman yang maknanya :
“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Maka barang siapa yang merusak puasa di bulan ramadhan tanpa ada udzur syar’i lalu mengganti puasanya itu di hari – hari yang lain, berarti telah membuat aturan baru dalam agama Allah yang tidak diizinkan oleh-Nya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yang maknanya “Siapa yang mengada-adakan hal baru dalam urusan kami ini (Islam) yang bukan berasal darinya, maka akan tertolak.” (HR. Bukhari dari Aisyah radliyallahu ‘anha)
Adapun firman Allah swt tentang puasa yang maknanya :
“Hai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”
(Q.S. Al-Baqarah : 183)
Dari arti firman Allah SWT. dalam Q.S. Al-Baqarah : 183, telah jelas bahwa puasa itu telah diwajibkan dan diperintahkan kepada orang – orang sebelum kita. Yang bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Allah SWT.
 
Pasti kita bertanya – Tanya, apa sebenarnya hikmah dari Puasa?
Berikut beberapa hikmah dari puasa
1. Puasa dapat menyempitkan aliran darah dan juga makanan. Aliran yang sama yang digunakan oleh syaitan. Sehingga bisikan syaitan akan menjadi lemah.
2. Puasa dapat melemahkan nafsu, hasrat berbuat maksiat dan keinginan berbuat jahat. Ini mengakibatkan roh menjadi suci.
3. Puasa juga merupakan penyucian hati, pendidikan jiwa, pengendalian pandangan mata dan juga menjaga seluruh anggota tubuh dari pada perbutan dosa.
4. Puasa dapat menyehatkan tubuh, kerana puasa mengosongkan perut dari berbagai bahan yang merusakkan. Puasa juga berfungsi membersihkan darah, menormalkan fungsi jantung, hati dan ginjal.
5. Apabila seseorang itu berpuasa, dirinya akan merasa kerdil di hadapan Allah SWT, hatinya akan mudah tersentuh dan rasa tamak akan menipis. Nafsunya terkawal sehingga doanya dikabulkan kerana dia dekat dengan Allah SWT.
 
Mungkin diantara kita masih ada yang bingung, sebenarnya apa – apa saja yang dapat membatalkan ataupun yang dapat mengurangi pahala puasa, berikut akan saya sebutkan kembali tentang hal – hal yang dapat membatalkan ataupun yangdapat mengurangi pahala puasa :
• Makan dan juga Minum yang dilakukan dengan sengaja
• Merokok
• Melakukan hubungan badan antara suami dan juga istri pada siang hari, Jima’ (berssenggema)
• Keluarnya darah haid atau nifas bagi seorang perempuan
• Menghirup obat untuk melegakan pernafasan
• Menelan sisa – sisa makanan yang masih ada menempel di antara gigi-gigi meskipun hanya sedikit
• Transfusi darah bagi orang yang berpuasa
• Ghibah ( membicarakan aib kejelekan orang lain)
• Namimah ( mengadu domba )
• Mendo’akan hal – hal yang jelek terhadap orang lain dan juga mencaci-maki
• Melakukan maksiat
• Berbohong
• Timbul syahwat kyang disebabkan memikirkan atau melihat hal-hal yang jorok ( mesum ) 
 
Saudara saudari yang muliakan oleh Allah SWT. kita telah mengetahui apa saja hukum bagi orang – orang yang tidak berpuasa dengan sengaja, yaitu mendapatkan dosa yang besar. Naudzubilahimindzalik. Oleh sebab itu, untuk kedepannya semoga puasa kita akan lebih baik lagi,. Dan semoga kita menjadi umat muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, amin yarobal alamin.[cp]

Ceramah Ramadhan ke-22: Ulama Pembina Umat

Ceramah Ramadhan ke-22: Ulama Pembina Umat – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini CeramahPidato.Com akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Ulama Pembina Umat, simaklah.

Dalam bulan suci Ramadhan, perang ulama sebagai pembina umat, tidak dapat disangkala. Menjelang sahur, kita mendengar dialog agama melalui RRI dan radio suasta, menjelang shalat subuh, kita didisuguhi mutiara subuh, menjelang berbuka puasa, kita disuguhi hidangan rihani yang singkat, menjelang shalat tarwih, kita mendengar lagi ceramah agama, dan dipagi hari, dimedia cetak. Juga menyunguhkan siraman rihani. Pendeknya, bilan Ramadhan yang berkah, bukan hanya melatih mental dan kesabaran, tetapi juga berperang sebagai ‘’madrasah al-Shiyam’’ (pesantren kilat) dan pedalaman ilmu agama, yang semuanya disuguhi oleh seorang yang berprofesi ulama dan muballigh yang di Jawa di gelar Kiyai, di aceh digelar Tengku dan di Sulawesi Selatan digelar Gurutta (Makassar, Bugis dan Mandar).

ceramah ramadhan

Namun, di balik perang yang sangat membahagiakan itu, masih terdapat diantara mereka, yang suka menebarkan bibit perpecahan, deskruftif dan tidak menyuguhkan hidangan yang menyejukkan, kare sifat yang arogan yang mengklaim bahwa hanya pendapatnyalah yang benar dan yang lainnya salah. Padahal yang dikemukakannya adalah masalah hilafiyah (furu’iyah) yang semuanya benar, menurut hakikat Islam, misalnya 4 adalah 2+2, dan juga 3+1=4.

Sebab itu, uraian singkat ini, penulis akan menyuguhkan siapa yang disebut ulama, dan bagaimana perang utamanya dalam membina umat .

Pengertian

Kata Ulama berakar dari huruf ‘’Ain, Lam,dan Mim’’, (‘Alim jamaknya Ulama), yang berarti: orang yang mempunyai ilmu yang dalam. Dalam alquran, hanya ditemukan dua ayat yang secara eksplisit menyebut ‘’Ulama’’. QS.Al-Fathir 35: 28:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Yang Artinya:

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Di dalam QS. Asy-Syu’ara 26: 197:

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Yang artinya:

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?

Dari kedua ayat tersebut dipahami, bahwa Ulama itu ialah orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang dalam, tentang ayat-ayat Allah, baik bersifat kauniyah dan atau Qur’aniyah ( Pengetahuan umum dan agama).

Jadi, menurut Alquran, semua itu mempunyai ilmu kauniyah (umum), seperti dokter, Insinyur dan Sarjana Ekonomi, disebut Ulama. Demikian jiga ilmu Qur’aniyah (Agama) seperti ahli Tafsir, hadis, fiqhi, juga disebut Ulama. Tapi, bbbagi ilmu umum atau agama, keduanya mempunyai syarat mutlak bersifat Istislam (Muslim) dan khasy-yah (takut) kepada Allah. Maka persepsi sebahagian masyarakat, bahwa Ulama itu hanya ahli agama, tidak dapat dipertahankan.

Dengan demikian, ahli ilmu yang non muslim tidak takut kepada Allah, sekalipun misalnya menguasai Ilmu Agama, seperti orientalis, tidak berhak disebut ‘’Ulama’’ menurut Alquran.

Demikian juga, sekalipun orangnya bergelar Kiyai (sakti), manakalah tidak tikut kepada Allah (Misalnya suka berdusta), maka keulamaannya telah gugur (Ulama Su’). Sebab itu, gelaran ‘’ Gurutta’’ (Sul-sel) adalah gelaran yang paling tepat ditransfer bagi ulama, karena selama dia tetap berperan Gurutta (teladan), kita akan tetap taati.

Dalam Alquran, ulama bagi kepala tiga bahagia: Ulama Zalim, Ulama Muqtasid (ulama proaktif) dan Ulama Sabiq bi al-Khairat (terdahulu dalam kebaikan) QS. Al-Fathir 35: 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Yang artinya:

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Dan ulama bagi ketiga inilah (Sabiq) yang patut disebut ‘’warasatul anbiya’’ (pewaris nabi-nabi).

Peran Ulama

Sebenarnya, peran Ulama sangat banyak, sama peran Nabi. Tapi peran utamanya, yaitu Uswah (teladan), tabligh (manyampaikan pesan agama), amar ma’ruf nahi mungkar dan tahkim (memberi solusi yang arif terhadap masalah).

Dari peran utama tersebut, niscaya peran tabligh (mubaligh) dan tahkim itulah yang paling urgen disampaikan, terutama di bulan suci Ramadhan. Karena terkadan sebagian mubaligh, masih ada yang suaka penyampaikan pesan-pesan agama, yang boleh dikata ‘’ulama zalim’’ mungkin karena intres pribadi, atau mau populer atau fanatik organisasi (partai) yang dianutnya, menyebabkan tidak ilmiah, tidak rasional dan bertentangan dengan ajaran dasar alquran dan Sunnah. Misalnya, uraiannya bertentangan metodologi Alquran ‘’bil hikmah’’ QS. Al-Nahl 16 : 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Yang artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kearifan yang harus diperankan oleh seorang ulama (mubaligh), sebagai peran tahkim, terutama di bulan suci Ramadhan ialah menjelaskan masalah agama misalnya tentang khilafiah ‘’batal wudhu atau tidak batal, jika bersentuhan wanita’’.

Yang menyebabkan khilafiah itu adalah tentang penafsiran ayat ‘’Aw lamastum al-Nisa’’ (jika bersentuhan denagn wanita), QS. An-Nisa’ 4: 43:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Dalam menafsirkan ayat tersebut di atas, ada tiga versi:

  • Imam Syafi’i, menafsirkan bahwa apabila bersentuhan tanpa alas, maka wudhu batal, sesuai dengan harfiyah ayat.
  • Imam Malik, menafsirkan bahwa jika bersentuhan dengan sengaja dan meransang, barulah batal wudhunya.
  • Imam Hanafie, menafsirkan bahwa tidak batal, karena yang dimaksudnya ayat tersebut ber sengama, sesuai makna batin (metaforas).

Jika seorang Ulama (mubaligh) menjelaskan pesan agama seperti itu, maka itulah yang dinamakan tahkim, sesuai fungsi Ulama. Bukan mengklaim hanya satu pendapat mibaligh yang benar, karena ketiganya berdasarkan Alquran. Diserahkan kepada umat memilih salah satunya, sesuai kondisi daerahnya. Kalau banyak air, cocok ala Syafi’i dan kalau susah air .

tau mahal harganya, cocok ala Malik dan itulah yang dipraktekkan katika thawaf di Mekah.

Dengan demikian masalah tarwih, 8 rakaat yang dulakukan nabi di Masjid, hanya 3 kali, tetapi luar biasa panjangnya surah dan indah bacaan (ada istilah bengkak kakinya berdiri) dan 20 rakaat yang dilakukan ijma’ (aklamasi) sahabat Nabi di masjid, dan tidak panjang surahnya.

Kalau begitu, keduanya tidak ada yang persis Nabi, karena keduanya melakukan 30 malam di masjid dan surahnya yang pendek. (Lihat Bukhari dan Muslim dalam Al-Sanadi, I: 342-343).

Menurut oenulis, andai kata seseorang tidak mau tarwih di bulan Ramadhan, tidak berdosa, karena hukumanya sunat. Yang berdosa, jika seorang tidak puasa, padahal tidak sakit dan musafir. Namun, alangkah ruginya sesorang kalau di waktu panen pahala Ramadhan, lalu tidak memperbanyak amalan. Kapan lagi?.

Akhirnya, peran utama Ulama. Utamanya di bulan Ramadhan, hendaknya tetap konsisten sebagai seorang Gurutta (teladan), menyampaikan tabligh, amar ma’ruf dan nahi mungkar dan tahkim (solusi) yang segar, mempersatukan umat, dan membantu pemerintah dalam pembangunan bangsa. Semoga Allah Swt. Menerima amalan kita terutama di bulan suci Ramadhan ini, Amin.[cp]

Tags:

CERAMAH RAMADAN KE 22

Ceramah Ramadhan ke-25: Membangun Kerukunan & Toleransi Dalam masyarakat Indonesia yang Plural

Ceramah Ramadhan ke-25: Membangun Kerukunan & Toleransi Dalam masyarakat Indonesia yang Plural – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini CeramahPidato.Com akan berbagi artikel mengenai Ceramah atau Pidato Ramadhan atau Puasa Tahun 2019 / 1440 Hijriah. Adapun judul ceramah ramadhan pada kesempatan kini adalah Membangun kerukunan & Toleransi dalam masyarak Indonesia yang Plural, langsung saja disimak:

Pluraslisme dalam segala hal di dunia ini, bahkan didalam semesta ini adalah realitas obyektif yang tidak dapat diingkari, ditolak, apalagi dinafika. Dalam pandangan Islam pluralisme atau kemajemukan adalah bagian dari sunnatullah (takdir Tuhan) yang tidak pernah dan tidak akan berubah, misalnya, Allah swt berfirman di dalam QS. Al-Ahzab (33): 62, berbunyi:

Yang artinya:

Dalam pluralitas ini terkandung hikmah yang amat banyak, luas lagi dalam. Tugas manusia, makhluk berakal yang diberikan wewenang menjadi khalifa Tuhan di bumi adalah memikirkan, di balik keragaman tersebut. Salah satu tujuan dari aktifitas tersebut adalah meneguhkan keyakinan bahwa di nalik keragaman itu terdapat Kemaha-Tunggalan yang justeru merupakan asal muasal dan sumber dari keragaman itu sendiri. Bahkan, keragaman itu justeru merupakan bagian dari tanda-tanda Kemaha Kuasaan-Nya (QS. Al-Rum (30): 22):

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Yang artinya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Hanya dia-lah yang tunggal, Maha Unik dan Maha Suci dengan ketunggalan-Nya (QS. Al-Syura (42): 11). Selain dia semua mengandung keragaman sehingga di dunia ini tidak ada satu wujud atau realitas pun yang betul-betul esa dan unik.

Bentuk keragaman yang terlihat sangat jelas dan terkait langsung dengan manusia di muka bumi ini adalah keragaman dalam pikiran, budaya, bahasa, ras, etnis, suku, bangsa, warna kulit, adat istiadat, agama, kecenderungan politik, dan sebagainya. Keragaman-keragan tersebut merupakan bagian dari dinamika manusia sekaligus faktor-faktor yang mengandung ambivalensi pada dirinya. Di satu sisi, keragaman itu bisa menimbulkan konflik, permusuhan, bahkan disintegrasi, tetapi disisi yang lai keragaman tersebut justeru bisa membawa kepada harmoni, persaudaraan, dan intergrasi.

Dalam kontes keindonesiaan keragaman itu jelas terlihat sangat gamblang. Indonesi dikenal sebagai negara yang memiliki Wilayah yang sangat luas; terdiri atas belasan ribu pulau; dihuni oleh ratusan juta penduduk dengan latar belakang ratusan suku, ratusan bahasa, perbedaan warna kulit, keragaman adat istiadat, agama, kepercayaan, serta tak kalah pentingnya kecenderungan politik yang benar-benar sangat berwarna-warni. Keragaman itu diakui merupakan khazanah kekayaan Indonesia yang tiada tara dan tentunya harus dipelihara dan dilestarikan. Setiap upaya untuk mengeliminasi keragaman itu dan memaksakan keseragaman (kecuali dalam hal-hal tertentu) pastilah menimbulkan permasalahan besar. Upaya seperti itu di samping menentang sunnatullah (takdir), juga bertentangan dengan fitrah manusia dan tidak sejalan dengan prinsip yang berlaku universal, yaitu bahwa persatuan dan kesatuan harus dibangun dalam keragaman (unity in diversity, E pluribus Umum, Bhineka Tunggal Ika).

Dalam Alquran ditegaskan bahwa Tuhan tidak akan pernah menggunakan kemakuasaan-Nya yang mutlak untuk memaksakan agar semua manusia di muka bumi ini beriman (QS. Yunus (10):99):

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Yang Artinya:

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan untuk memiluh jalan kehidupan merupakan hak asasi yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-hamba-Nya dengan konsekuensi bahkan masing-masing manusia akan mempertanggungjawabkan sendiri pilihannya di hadapan Tuhan.

ceramah ramadhan

Dilihat dari sudut agama, hanya sedikit negara di dunia ini yang memberlakukan secara formal keseragaman agama. Contoh kongkritnya adalah Saudi Arabia (khususnya di dua kota suci Makkah dan Madinah) dengan Islamnya dan Vatikan dengan Katoliknya. Kota-kota ekslusif agama ini bisa dipahami dari segi sosio-politik historinya di samping karena alasan-alasan doktrinal-teologisnya. Sedangkan di negara-negara Islam lainnya seperti Mesir, Syria, Iran, Yordania, dan sebagainya tetap ditemukan adanya kelompok-kelompok minoritas agama tertentu khususnya Yahudi dan Nashrani yang memang dijamin perlindungannya oleh Islam.

Di Indonesia, keragaman dalam agama, suku, bahasa, dan budaya sejak dulu memperoleh pengakuan formal dari segenap bangsa Indonesi. Sejak awal kemerdekaan, bangsa Indonesia selalu kemajemukan; masyarakatnya hidup dalam kedamaian, kesamaan dan kebersamaan yang sejati (tidak semua); saling menghargai, menghormati, dan mengasihi; saling menolong dan mengayomi; hidup dalam tolerasi yang tinggi dan mengeyahkan bias-bias promordialisme yang merusak persatuan dan kesatuan. Inilah yang terpratri dalam istilah Bhineka Tunggal Ika, semboyang negara yang di hadapi di luar kepala oleh hampir seluruh anak bangsa meskupun ditengarai bahkan tidak semua dari mereka yang menhapalkan tahu persis arti harfiahnya apalagi makna yang tersirat di dalamnya. Mereka yang tahu makna pun belum tentu dapat mangimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di negara kita berupa konflik sosial dengan latar belakang SARA yang membawa korban harta, jiwa dan tragedi kemanusiaan yang parah membuktikan tesis tersebut. Memang masalah konflik sosial ini cukup kompleks untuk dianalisis namun satu hal yang pasti adalah bahwa masyarakat kita memang masih sangat rendah pengetahuan, penghayataan, dan terutama, kasadarannya tentang betapa pentingnya memelihara dan mempertahankan kemajemukan sebagai bagian dari dinamika manusia yang distur secara sengaja dan berhikmah oleh Tuhan.

Oleh karena itu, masalah yang dihadapi dalam upaya membengun masyarakat indonesia yang benar-benar bersatu dan kuat dalam kemajemukan suku, agama, budaya, antar golongan, dan sebagainya di samping faktor kognisi juga terkait dengan afeksi dan psikomotorik yang membentuk pola tindak dan perilaku yang berwawasan luas dan berkesadaran tinggi dari masyarakat baik secara individual maupun secara kelompok.

Ajaran yang membentuk kesadaran dan perilaku untuk hidup bersatu di tengah kemajemukan sebenarnya dimiliki oleh setiap budaya dan agama yang hidup di tanah air. Meskipun ada hal-hal yang eksklusif, atau tepatnya unik, dalam tiap budaya dan agama namun pada dasarnya budaya dan agama yang hidup di Indonesi mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kegotong-royongan, tepo seliro, saling menhargai, saling membantu, saling mengingatkan dan sebagainya. Sifat-sifat ini pada dasarnya merupakan perwujudan sekaligus merupakan pengakuan akan adanya kemajamukan dan keragaman. Kalu pun terlihat ada sikap eksklusif dari setiap kelompok suku, budaya dan agama maka hal tersebut harus dipandang secara arif oleh karena sifat eksklusifikasi sampai pada batas-batas tertentu juga merupakan bagian dari dinamika kehidupan itu sendiri. Sepanjang eksklusifikasi tersebut itu tidak berarti menyepelekan atau tidak menghargai orang lain yang pada giliranya menimbulkan perpecahan, maka sifat dan sikap itu tetap sah-saja. Dengan kata lain, manusia pada dasarnya tidak dapat sepenuhnya membebaskan diri dari kecenderungan untuk bersifat dan bersikapeksklusif, karena eksklusiftas justeru tidak dapat dipisahkan dari ingklusifitsa sebagaimana halnya heterogenitas tidak dipisahkan dengan homogenitas, kejamakan tidak dapat dipisahkan dari ketunggalan. Ketika seseorang ingin tampil eksklusif (sekali lagi sampai bats-batas tertentu) sesungguhnya hal itu merupakan pengejawantahan dari kecenderungan untuk tampil beda dengan orang dan kelompok lain.

Dalam agama misalnya, ada hal-hal di mana umat harus tampil eksklusif dan harus betul-betul beda dengan umat lainnya. Adanya suatu kemustahilan bahkan kekacauan-balauan bila semua pemeluk agama yang berbeda harus diiringi untuk menyeragamkan keyakinan, ritual, dan doktrin-doktrin agama yang mereka anut. Sikap seperti itu bukan saja amburadul tetapi justeru menjerumuskan umat kepada kebingunan dan kesesatan. Bahkan di kalangan antara pemeluk intern satu agama, eksklusifitas dan tampil beda tersebut harus di hormati sepanjang tidak bertentangan prinsip-prinsipdasar yang semestinya (wajib) menjadi kesepakatan satu agama. Semua itu kembali lagi kepada dinamika internal dan eksternal dari agama-agama dan para pemeluknya.

Terjadinya perselisihan di kalangan pemeluk agama atau kelompok suku dan budaya yang bisa meningkat menjadi pertentangan dan saling bermusuhan bahkan bentrok fisik yang pada gilirannya menimbulkan tragedi berdarah seperti di singgung di atas, penyebab utamanya, bukanlah karena sentimen suku, agama atau pun budaya an sich, perseteruan seperti itu biasanya barawal dari, dan lebih disebabkan oleh, ‘’faktor-faktor lain’’ yang tidak ada kaitan langsung dengan agama, suku, dan budaya. Yang tampak menonjol adalah faktor sosial ekonomi. Persaingan dan perebutan lahan kehidupan serta ketimpangan sosial antara satu kelompok dengan kelompok lainnya menyebabkan terjadinya akumulasi kebencian yang pada saat-saat tertentu meledak menjadi persekutuan terbuka dengan menjadi sentimen agama, suku, dan budaya sebagai alasannya. Di sini, agama maupun fenomena suku dan budaya yang bernuansa kekuasaan maupun yang bertendensi ekonomi.

Kalu kita kembali surut ke belakang menengok perjalanan panjang dari agama-agama di dunia ini, maka kita akan melihat bahwa agama memang seringkali digunakan sebagai alat untuk memperoleh akses kekuasaan dan akses-akses sosial ekonomi lainnya. Yang ironis adalah bahwa kadang-kadang agama diperatas-namakan untuk perbuatan-perbuatan yang justeru bertentangan dengan prinsip-prinsip kesucian, kedamain, dan kasih sayang yang sesungguhnya menjadi inti ajaran semua agama. Berapa banyak perang yang pecah, berapa banyak darah yang tumpah, berapa besar harta yang terbuang, dan tak terbilang lagi nyawa yang melayang dimasa lampau, masa kini, dan mungkin juga masa depan, justeru dengan memperatasnamakan kesucian agama. Dan lebih ironis lagi karena justeru dalam tubuh umat seagama sendirian pun tejadi konflik tajam yang seringkali mncabik-cabik persaudaraan dan persatuan, bahkan menciptakan kotak-kotak dan mubu-kubu yang sangat tajam dari satu agama. (contoh kongkrit dalam Islam adalah perang jamal dan perang Siifin justeru terjadi di antara sesama sahabat Nabi dalam rentang waktu yang relatif masih sangat dekat dengan kehidupan Nabi Muhammad Saw. Perseteruan abadi antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah; berpecah dikalangan kaum Nashrani yang melahirkan ‘’agama’’ baru yaitu Katolik dan Protestan, dan sebagainya).

Pengalaman sejarah seperti itu mestinya menjadi pelajaran berharga bagi umat beragama, khususnya para tokoh dan pimpinannya untuk bersikap lebih arifdan lebih hati-hati dalam mengelola umat masing-masing. Betapa pun sangat disadari bahwa agama yang berbasis pada keyakinan yang timbul dari emosi manusia yang terdalam (qalb) sangat sensitif dan amat mudah dieksploitasi. Oleh karena itu seharusnya para pemeluk agama berupaya untuk seoptimal mungkin terjadinya hal-hal sensitif yang bisa memicu konflik.

Seperti yang disinggung di awal tulisan ini bahwa agama memiliki ambivalensi pada dirinya, khususnya dilihat dari sudut interakti para pemeluknya. Pada satu sisi agama bisa menjadi kekuataan integratif, konstruktif, membawa damai dan harmoni. Sebaliknya, di sisi yang lain agama justeru bisa beralih pesan sebagai kekuataan disintegrstif denitif, dan menimbulkan konflik antara pemeluknya secara terlebih secara eksternal.

Dilihat dari sudut ajarannya yang sarat dengan nilai-nilai luhur, kesucian, perdamaian, kasih sayang, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan serta nilai-nilai kemahklukan lainnya yang universal, maka agama dapat menjadi kekuataan intergratif dan konstruktif. Dari sisi ini seharusnya dan sudah sepantasnya para pemeluk agama hidup dalam kerukunan dan kasih sayang, saling menghormati, sling mengasihi, saling menolong tanpa harus mempersoalkan perbedaan doktrin dan kayakinan masing-masing. Sekiranya sisi agama yang satu ini dapat terimplementasi dan teraplikasi dalam realitas kehidupan umat beragama maka sungguh hidup manusia akan sangat indah dan mengalami kabahagiaan serta kedamaian yang tiada tara. Namun harapan tersebut ternyata lebih sering berbeda dan faktor pemicu bagi terjadinya disntegrasi dalam konflik mulai dari yang berskala kecil dan ringan sampai kepada konflik yang berdarah-darah.

Faktor-faktor yang menyebabkan agama rawan dengan konflik dan perpecahan antara lain: pertama, absolutisme dalam agama yang membawa penolakan terhadap keyakinan dan agama orang lain yang pada gilirannya melahirkan fanatisme ekstrim sehingga menutup ointu untuk dialog. Bahkan absolutisme dalam keyakinan tertentu sering kali melahirkan sektsrianisme dan eksklusifisme ekstrim yang dua-duanya sangat eksplosif dan potensia melahirkan konflik. Kedua, watak ekspansionisme dalam agama yaitu doktrin keharusan untuk menyiarkan dan menyebarkan agama kepada orang lain yang mendapatkan legitimasi dari kitab suci. Setiap agama, kecuali agama tertentu, mewajibkan pemeluknya, baik perorangan maupun kelembagaan, mengemban tugas suci ini.interaksi untik beragama dalam mengaktualisasikan tugas dan misi suci ini merupakan pangkal dari berbagai konflik keagamaan. Ketika, watak penetrasi agama terhadap budaya non agama yang melahirkan konflik agama dengan dimensi kultural secara timbal balik. Kaum beragaman biasanya sangat bersemangat, sesuai tugas sucinya, untuk meng-agama-kan kehidupan masyarakat dalam seluruh dimensinya sementara sebagian masyarakat menilai bahwa wilaya agama terbatas pada hal-hal yang bersifat sakral dan ritual murni keduniaan dan bersifat profan. Tidak jarang bahwa kepentingan-kepentingan tertentu ikut bermain dalam upaya ‘’pengagamaan’’ sistem kehidupan masyarakat. Untuk yang terakhir ini agama sering kali dicap sebagai alat atau kendaraan bagi kepentingan-kepentingan tertentu seperti politik, sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya. (kasus pornografi yang sering kali ramai dimedia massa merupakan contoh konflik antara dunia di satu pihak dengan dunia ‘’seni’’ dan ‘’budaya’’ di pihak lain).

Adanya watak ambivalensi seperti dikemukakan di atas seharusnya dipahami, disadari, dan dihayati oleh para pemeluk agama sehingga mereka berupaya untuk meredam dan atau mengeliminasi potensi-potensi disintegratif yang terdapat dalam agama dan mengedepankan dimensi-dimensinya yang membawa kepada integrasi dan kedamaian.

Dilihat dari sudut pandang agama, situasi bangsa memang terlihat rawan akan berpecahan. Sebab sudah terlanjur diangkat ke permukaan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, khususnya tujuan kekuasaan. Berbagai pengambilan keputusan yang terkait dengan masalah pengelolaan bangsa dan negara ini biasanya tidak bisa luput dari pertimbangan-pertimbangan yang bernuansa agama. Bahkan tidak jarang persoalaan agama dijadikan sebagai komoditas politik oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan. Issu-issu seperti ini pun biasanya sangat laris untuk dijual oleh media karena memiliki nilai ‘’berita’’ yang tinggi. Hal-hal seperti ini merupakan contoh kongkret betapa agama sudah turut bermain dalam pecaturan politik praktis bangsa. Tentu saja di alam kebebasan seperi sekarang ini, sikap seperti itu sah-sah saja dan tidak ada satu otoritas pun ynag berhak untuk melarang atau menolaknya. Paling tidak orang boleh setuju dan boleh tidak setuju sehingga perdebatan panjang menjadi tak terhindarkan. Setiap orang bebasuntuk memberi interpretasi terhadap ajaran agamanya (tentu saja dengan persyaratan-persyaratan tentu yang biasanya diatur dalam intern agama). Yang penting tidak ada klaim-klaim untuk memonopoli kebenaran hanya pada pendapat pribadi atau kelompok sendiri. Sebab tes-tes agama yang absolut itu bisa sudah diberi interprestasi maka nilainya tidak lagi absolut melainkan nisbi (zhanny).

Terjadinya berbagai kemelut dikalangan umat beragama baik internal maupun lintas agama antara lain karena sikap eksklusifitas ekstrim yang tidak mau tahu keberadaan kelompok lain behkan menganggap bahwa kebenaran satu-satunya hanya ada pada diri dan kelompoknya saja. Sikap seperti ini masih dominan menguasai para pemeluk agama sehingga menjadi salah satu faktor penting yang menghambat terjadinya kerukunan yang sejati. Padahal, sikap ingklusifitas dalam beragama bisa saja dikembangkang tampa harus mengorbankan keyakinan masing-masing. Pada salahnya kalau seseorang, misalnya, mengatakan bahwa agama dan keyakinan saya paling benar tetapi saya tetap menghormati dan menghargai agama dan keyakinan anda sebagai suatu kebenaran menurut yang anda yakini. Sikap seperti ini sama sekali tidak merugikan siapa-siapa dan tidak berarti mencampur adukkan kebenaran. Sebab, kebenarang yang sejati sebenarnya bisa bertemu pada level esensi, sedangkan pada level permukaan (syari’ah) memang tidak mungkin dan tidak harus diusahakan untuk mencapai titik temu.

Para pemeluk agama juga bisa mencapai titik temu (kesepahaman) dalam aspek-aspek moral dan spiritual, sedangkan pada aspek teologis dan ritual tentu saja tidak mungkin dicapai titik temu. Pada dua aspek terakhir ini berlaku prinsip laku dinukum wa liya din (bagi kamu agama kamu dan bagi saya agama saya) tanpa harus saling menyalahkan dan melecehkan inilah salah satu bentuk toleransi dak kerukunan hidup beragama yang patut diaplikasikan pada semua level masyarakat meskupun disadari bahwa tidaklah mudah untuk mengimplementasikan pada level awam yang merupakan bagian terbesar dari setiap umat beragama. Namun dengan kerja keras dan i’tikad baik dari para tokoh dan pemimpin umat hal itu pada saatnya bisa dicapai.

Masalah lain hingga kini tetap potensial mengandung konflik adalah hubungan antara kelompok Muslim yang mayoritas dengan non-Muslim yang minoritas. Kelompok Muslim yang dalam kenyataannya memang sangat mayoritas menuntut adanya perlakuan secara proporsional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sepanjang sejarah bangsa ini mereka merasa belum pernah mendapatkan perlakuan ‘’tidak adil’’ bahkan ‘’dizhalimi’’. Kuat pembangunan dan hasil negara yang berlimpah-limpah lebih banyak dinikmati kelompok minoritas. Mereka merasakan adanya hambatan-hambatan untuk masuk dalam akses kekuasaan, akses ekonomi dan sebagainya sebaliknya kelompok minoritas menganggap bahwa apa yang mereka peroleh selama ini adalah wajar-wajar saja sebagai hasil dari kerja keras, keuletan, dan keterampilan yang mereka miliki. Bahkan mereka pun merasa diperlakukan secara tidak adil, diskrimminatif, dan selalu terancam oleh kelompok mayoritas sehingga harus berusaha untuk melakukan upaya-upaya preventif.

Jika masalah tersebut di ungkit dan diperdebatkan kembali secara terbuka barangkali tidak akan pernah dicapai titik temu sebab masing-masing kelompok akan bertahan pada prinsip dan argumen-argumen sendiri. Apa lagi di era keterbukaan sekarang ini dimana tidak ada otoritas yang sungguh-sungguh dipercaya untuk mencari jalan keluar yang dapat diterima oleh kedua pihak. Oleh karena itu jalan terbaik adalah melakukan dialok-dialok terbatas dalam suasana sejuk, seperti forum sekarang ini, yang dilandasi i’tikad baik masing-masing pihak disertai rasa tanggung jawab besar akan keselamatan bangsa kedepan sehingga semua pihak akan lebih mengedepankan dan mengutamakan kepentingan bangsa dari pada kepentingan kelompok dan golongan. Sudah saatnya semua pihak melakukan pendinginan suasana dan melupakan masa lampau. Sebaliknya perhatian dan lebih dicurahkan ke depan untuk satu Indonesia yang kokoh kuat, bersatu dalam kemajemukan, penuh toleransi dan saling menghargai, di mana semu aorang dan semua kelompok memperoleh perlindungan hukum yang sama, keadilan yang sama, dan tentu saja kesempatan yang sama untuk berjuang membangun masa depan …prinsip ‘’tidak ada diktator mayoritas dan tidak ada tirani minoritas’’ harus tetap dijunjung tinggi dan ditaati secara sungguh-sungguh oleh semua pihak.

Hanya dengan sikap seperti yang dikemukakan di atas harapan akan terjadinya rekonsiliasi nasional dan integrasi bengsa lewat jalur agama dan budaya dapat terwujud. Sebaliknya bila masing-masing kelompok tetap bersifat eksklusif, mementingkan diri sendiri dan tidak mau tahu apalagi peduli terhadap kepentingan bangsa dan negara maka Indonesia baru yang didambahkan hanyalah sebuah mimpi indah yang tidak pernah terwujud dalam kenyataan.

Dilihat dari perspektif Islam, sesungguhnya ajaran mengenai kerukunan antara umat yang plural bukanlah hal yang baru. Agama yang dibawah oleh Muhammad saw. Ini sudah memberi pedoman yang sangat komsetsionel tentang bagaiman berantaraksi dengan sesama Muslim; yang sesama manusia yang berlainan etnis dan agama; bahkan dengan sesama makhluk sekali pun. Pluralitas, seperti disinggung diawal tulisan ini, di samping diakui secara tegas dan oleh Islam sebagai bagian dari sunnatullah yang tidak bisa didistorsi. Juga harus diterima dan dihormati sebagai anugarah besar dari Tuhan. Dunia yang plural adalah dunia yang indah. Masyarakat yang plural untuk berlomba dan bersaing untuk meraih kedudukan yang lebih baik (ber-fastabiq al-khairat). Persaingan-persaingan seperti inilah yang sebenarnya merupakan pangkal dari munculnya berbagai konflik atau kalau manusia tidak memiliki kasadaran yang dalam mengenai nikmat kehidupan secara bebas dan damai dan juga berhak atas penghormatan, pengakuan, kesempatan bekerja dan berekspresi, kebebasan untuk berkumpul dan berserikat, kebebasan untuk menganut agama dan keyakinan, dan sebagainya.

Hal-hal yang dimaksud diatas secara populer biasa disebut sebagai HAM (hak-hak asasi manusia yang telah diatur oleh PBB dalam deklarasi semesta Tentang Hak-hak Asasi Manusia Universal deklaration of The Human Right) yang disepakati oleh seluruh negara yang bergabung dalam organisasi dunia paling bergensi itu. Bahkan secara khusus, hak asasi menyangkut agama diatur tersendiri dalam suatu deklarasi yang disebut Deklatation on the Elimination of Religius Intolerance and Discrimination (deklaeasi tentang penghapusan intoleransi dan diskriminasi Berdasarkan Agama). Dalam deklarasi ini, hak-khak asasi mengenai agama diatur dengan cermat, antara lai meliputi: hak menganut agama atau keyakinan menjadi pilihan, hak dan keebebasan untuk mengamalkan agama dan keyakinan; hak beribadah, hak mendirikan dan mempertahankan tempat-tempat ibadah, hak mendirikan lembaga-lembaga sosial keagamaan, hak menulis, menerbitkan, dan menyebarluaskan publikasi-publikasi yang relevan dengan agama, hak mengajarkan agama, dan seterusnya.

Terjadinya gesekan-gesekan antara pemeluk agama yang berbeda ataupun dari satu agama yang sama secara internal, biasanya lebih disebabkan karena ketidakmampuan seseorang atau sekelompok umat beragama menanti dan mengamplikasikan prinsip-prinsip yang disepakati tersebut. Hal ini biasanyan berkait dengan watak ambivalensi agama seperti telah dikemukakan di atas.

Dalam pandangan Islam, kebebasan-kebebasan yang terkait dengan agama telah diatur secara umum. Misalnya kebebasan untuk beriman atau tidak beriman dijamin oleh Alquran (QS.Al-Kahfi (18): 29);

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقً

Yang artinya:

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Tidak ada paksaan dalam agama QS.Al-Baqarah (2): 256;

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Yang artinya:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Bahkan nabi pun sangat dilarang melakukan pemaksaan tersebut (QS.Al-Ahzab (33): 45;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Yang artinya:

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan,

Karena otoritas Nabi sebatas pada penyampaian ajaran yang diterima dari Tuhan. Otoritas untuk membuat seseorang beriman hanya milik Tuhan (QS. An-Naml (27): 56).

Yang artinya:

Dalam ayat lain ditegaskan larangan mencaci maki Tuhan-tuhan yang disembah oleh kaum musyrik agar mereka tidak melakukan hal yang sempurna terhadap Tuhan (Allah) yang disembah oleh orang Muslim QS. Al-An’am (6): 108);

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Yang artinya:

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Penegasan ini tentu saja mengimplementasikan larangan serupa terhadap agama dan keyakinan yang dianut oleh orang lain. Artinya, tindakan menghina dan mendiskreditkan agama dan kepercayaan orang lain sama dengan menghina dan mendiskreditkan agama dan keyakinan sendiri; tindakan menintas tuhan yang disembah orang lain sama dengan menista Tuhan sendiri.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan Alquran tersebut dapat dipahami bahwa pluralisme agama sudah merupakan rencana Tuhan yang bersifat taken for granted dan tidak ada kekuataan apapun yang dapat mengubahnya kecuali Tuhan sendiri jika dia menghendaki.inilah yang dikatakan oleh Alquran; (QS. Yunus (10): 99).

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Yang artinya:

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

Dalam ayat lain dikatakan; (QS. Al-Maidah (5): 48).

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Yang artinya:

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Dalam kenyataannya, kehendak Tuhan itu memang tidak dimanifestasikannya di bumi sebab Dia Maha Mengetahui rahasia-rahasia di balik keragaman tersebut yaitu, antara lain, agar manusia berkompetisi secara fair untuk melakukan kebajikan-kebajikan di muka bumi.

Dalam agama memang di temukan adanya klaim-klaim kebenaran untuk diri sendiri. Hal ini menurut hemat saya wajar-wajar saja sepanjang klaim-klaim itu tidak menjadi alasan untuk menggiring orang lain, dengan cara tidak fair dan tidak etis, untuk mengikuti kebenaran yang dianut. Asas saling menghormati kepercayaan masing-masing harus di junjung tinggi oleh setiap penganut agama sehingga tidak ada lagi upaya-upaya intervensi terhadap wilayah keyakinan orang lain. Biarkanlah setiap orang dan kelompok menikmati kedamaian dengan keyakinannya sendiri karena setiap orang akan memperoleh ganjaran atau pun balasan terhadap apa yang diyakini dan diamalkan dalam kehidupan ini.

Tentu saja misi menyebarkan agama merupakan misi suci yang di emban oleh setiap pemeluk agama. Namun sangat diharapkan bahwa dalam menjalankan misi suci itu seorang misionaris, da’i, mubaligh dan atau penyebar-penyebar agama yang lain tidak melakukan hal-hal tidak terpujiyang justeru akan berbalik akan metode kesucian misi yang diemban. Prinsip seperti ini barlaku untuk interaksi lintas agama maupun internal satu agama. Hanya dengan demikian, kita dapat hidup rukun dan damai di segala ruang dan waktu karena memang bumi ini diwariskan oleh Tuhan untuk seluruh hamba-Nya tampa kecuali, dengan penekanan agar orang-orang shalih bisa berperang lebih aktif dan terdepan dalam menjaga dan melestarikan bumi Allah ini QS. Al-Anbiya’ (21): 105;

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Yang artinya:

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.

Semua pemeluk agama yang berbeda di muka bumi ini mempunyai tanggung jawab yang sama untuk membangun dunia yang damai, dunia yang aman dan tertib, dunia yang sejahtera dan berkeadilan, dunia yang masyarakatnya hidup rukun dan harmonis, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta memiliki komitmen yang tinggi untuk memertahankan harkat dan martabat manusia. Kalau Alquran mengajak para pemeluk agama non Islam, khsusnya Ahl al-Kitab, untuk mencari titik temu (kalimat sawa’). QS. Ali-Imran (3): 64;

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Yang artinya:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Maka titik temu yang dimaksud memang hanya bisa dujumpai pada aspek-aspek kemanusiaan, dan spritual. Pada aspek ini, ajaran-ajaran agama bersifat universal sehingga komunitas antar umat beragama bisa menjadi lancar dan ‘’nyambung’’. Sedangkan pada aspek-aspek formal dari agama, khusus bangsa keimanan dan konsep syari’ah, masing-masing agama memiliki ajaran yang tidak mungkin bisa saling dipertemukan. Bahkan upaya untuk mempertemukan aspek-aspek tersebut justeru merupakan pekerjaan sia-sia yang akan membahayakan akidah masing-masing agama. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Alquran: (QS. Al-Kafirun (109): 5). Artinya, dalam hal-hal iman ritual, mari kita menjalankan pendirian dan amalan masing-masing. Kita tidak perlu saling menyalahkan apalagi saling mencela dan memaki. Tetapi dalam hal-hal yang bersifat moral dan kemanusiaan mari kita bergandeng tangan untuk membangun dunia yang lebih adil, lebih sejahtera, tentunya lebih damai dan bahagia.[cp]

Tags:

contoh pidato untuk kerukunan umat beragama, judul pidato toleransi

Ceramah Ramadhan Ke-18: Al-Qur’an dan Pencerahan Hati Nurani

Ceramah Ramadhan Ke-18: Al-Qur’an dan Pencerahan Hati Nurani – Sahabat Cerpi, Pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share artikel mengenai ceramah atau kultum Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Al-Qur’an dan Pencerahan Hati Nurani, simaklah.

Alquran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Melalui melainkan Jibril sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia. Alquran pada dasarnya adalah kitab petunjuk, diturunkan sebagai petunjuk dan pembimbing bagi umat manusia dalam kehidupan mereka di muka bumi. Fazlur Rahman mengatakan bahwa, sebagai kitab petunjuk, alquran itu bersifat antropologis dalam arti sangat dekat dengan manusia. Alquran menyebut dirinya, antara lain:
Hudan li al-nas (petunjuk bagi manusia). Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. al-Baqarah 2: 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Yang artinya:
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Syifa’ li ma fi al-shudur (obat atau penawar penyakit yang ada dalam hati manusia). Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. Yunus 10:57, berbunyi:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Yang artinya:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Rahmatan li al-mu’minin (rahmat bagi orang-orang beriman Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. Bani Israil 17:82, berbunyi:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Yang artinya:
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
Sebagai muslim kita harus berusaha untuk mendapat petunjuk Allah lewat Alquran, sehingga kita dapat hidup di bawah bimbingan dan petunjuk-Nya. Menurut Sayyid Qutub, umtuk mendapat petunjuk dan pencerahan hati dari alquran itu secara konsisten, al-ma’rifah’ala tha riq al-mustaqin. Usaha itu harus secara sungguh-sungguh dilakukan sebab tanpa itu, pencerahan alquran (cahaya Ilahi) tidak dapat masuk ke dalam hati nurani manusia.
ceramah-ramadhan
Menurut al-Gazali, ada tiga faktor yang dapat menghambat masuknya cahaya Ilahi ke dalam jiwa manusia.
Al-dzunub wa al-ma’ashi (dosa-dosa dan maksiat). Dalam paham sufi, dosa-dosa itu dipandang sebagai penghalang atau tabir yang akan menjauhkan manusia dari Tuhan. Semakin banyak orang berbuat dosa, maka semakin tebal dinding yang menghalangi dirinya dari Tuhan. Ketika itu, cahaya Tuhan tidak dapat masuk ke dalam jiwanya karena terhalang oleh kabut dosa.’
Berhala-berhala kehidupan, Berhala adalah sesuatu yang dipertahankan oleh manusia, atau mendominasi manusia sehingga lupa kepada Allah swt. Setiap zaman, kata al-Gazali, memiliki berhala-berhalanya sendiri yang disembah dan dipertuhankan oleh manusia selain allah. Pada masa Nabi saw, berhala-berhala itu berupa Lata, Uzza, dan Manata. Pada zaman sekarang, berhala-berhala itu bisa berupa tahta, harta, dan wanita. Berhala-berhala tersebut telah membuat manusia lalai dan lupa kepada Allah swt. Jadi berhala-berhala itu telah menjadi penghalang yang efektif bagi masuknya cahaya Tuhan ke dalam jiwa manusia.
Yang disebabkan oleh letak dan posisi hati yang berlawan dengan sumber cahaya, yaitu Tuhan. Karena posisi yang berlawan dan bertolak belakang ini, maka pencerahan Tuhan tidak dapat berlangsung. Itulah hati orang-orang kafir yang secara sadar dan sengaja menolak eksistensi dan keberadaan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mata dan hatinya ditutup oleh allah swt, sebagaimana firman-Nya di didalam Q.s. al-Baqarah 2:6-7, berbunyi:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Yang artinya:
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Untuk menghilangkan faktor-faktor masuknya pencerahan Tuhan tersebut dan agar manusia dapat menerima pencerahan Tuhan, maka manusia harus melakukan pula tiga hal, yaitu:
Taubat, dosa-dosa yang selama ini menjadi penghalang dapat kebersihan sehingga diharapkan pencerahan dapat berlangsung.
Memperkuat komunikasi dan hubungan denagn Allah swt. Komunikasi dan hubungan ini dibangun dengan memperbanyak ibadah dan mengingat kepada Allah (dzikrullah), sehingga hubungan manusia yang selama ini renggang karena berhala-berhala kehidupan dapat menguat kembali dan terjadi pencerahan seperti sedia kala.
Keimanan dan ketaqwaan, keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semesta alam, sumber dari segala sesuatu dan tempat kembali atas segala sesuatu mengantarkan kepada manusia untuk menyadari, seperti firman Allah di dalam Q.s. al-An’am 6:162-163, berbunyi:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Yang artinya:
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.
Dengan demikian, pencerahan Tuhan itu dapat berlangsung mana kalah kita sebagai muslim selalu berpegang kepada petunjuk Allah, meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa dan kemaksiatan memperbanyak ibadah dn amal shaleh, serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Inilah salah satiu makna firman allah swt. Di dalam Q.s. ali Imran 3:101, berbunyi:
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Yang artinya:
DemiBagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.kian, semoga Allah swt. Memberikan pencerahan hati kepada kita semua. Amin![cp]

Ceramah Ramadhan Ke-14: Memelihara Kebersihan Lingkungan

Ceramah Ramadhan Ke-14: Memelihara Kebersihan Lingkungan – Sahabat Cerpi ,pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Memelihara Kebersihan Lingkungan, simaklah.

Kebersihan merupakan salah satu ajaran yang sangat penting dalam agama Islam, baik kebersihan diri pribadi maupun kebersihan lingkungan hidup. Di dalam salah satu hadis Nabi dikatakan: (HR. Muslim): kebersihan itu adalah separuh dai iman.
Atau dalam riwayat lain dikatakan: (HR. Al-Dailami): kebersihan itu bagian dari iman.
Hal ini berarti bahwa setiap orang beriman itu harus memelihara kebersihan. Itulah sebabnya maka pembahasan dalam kitab-kitab fiqih Islam selalu di mulai dengan Bab Thaharah artinya tentang bersuci. Sebab shalat lima kali shari semalam yang wajib dilakukan oleh setiap orang beriman yang telah dewasa, salah satu syaratnya adalah suci dan bersih. Yaitu, suci badan dari hadas dan najis atau kotoran, bersih pakaian dan tempat shalat dari najis. Bahkan, orang Islam dianjurkan untuk sikat gigi setiap akan mendirikan shalat.
Imam Al-Gazali membagi kebersihan diri pribadi orang beriman itu atas empat tingkatan yaitu (1) kebersihan jasmani dari segala kotoran, najis ataupun hadas, (2) kebersihan penca indera dari pelanggaran dan dosa, (3) kebersihan qalbu (hati) dari akhlak dan sifat tercela dan (4) kebersihan rahasia batin atau sir dari selain Allah (Ihya’ Ulumuddin I h. 125).
ceramah-ramadhan
Selain kebersihan diri pribadi, yang tidak kalah pentingnya adalah kebersihan lingkungan di mana manusia itu hidup. Kebersihan lingkungan ini meliputilingkungan fisik seperti air, udara, alam sekit.
ar dan lain-lain, serta lingkungan sosial. Nabi Muhammad Saw. Bersabda: (HR. Bukhari): iman itu lebih dari 60 cabang. Yang paling utama adalah ucapan tiada tuhan selain Allah dan paling rendah atau sederhana ialah menghilangkan kotoran dari jalanan.
Selanjutnya, marilah kita uraikan secara singkat kebersihan lingkungan ini
Kebersihan air.Memelihara kebersihan air dan tidak mencemarinya dengan kotoran dan zat yang berbahaya itu sangat penting karena menurut Alquran ada dua fungsi utama dari air,yaitu (1) membersihkan, 2) menghidupkan, sebagaimana firman Allah: QS. Al-Anfal 8:11:
إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ
Yang artinya:
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu).
QS. Al-Anbiya’ 21:30:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Yang artinya:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Rasulullah saw. Melarang mengotori air dengan sabdanya: (HR.Bukhari dan muslim): Janganlah sekali-kali kalian kencing di air yang diam yang tidak mengalir kemudian mandi didalamnya.
Kebersihan udara dan alam sekitar. Udara yang bersih dan segar sangat penting bagi kesehatan sebab itu pemeliharaan lingkungan hidup, tidak membuang kotoran dan sampah sembarangan harus diperhatikan. Hadis Nabi mengatakan. (HR. Bkhari dan Abu Daud): Takutlah akan dua hal yang mendatangkan laknat. Mereka para sahabat bertanya: Apakah 2 hal yang mendatangkan laknat itu wahai Rasulullah?. Nabi menjawab: ialah orang yang buang hajat ditempat manusia berteduh.
Juga hadis lainnya: Sesungguhnya Allah itu baik menyukai kebaikan, Allah itu bersih menyukai Kebersihan. Allah itu pemurah menyukai kemurahan, Allah itu dermawan menyukai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman pekaranganmu.(HR.al-Tirmidzi)
Kebersihan lingkungan sosial. Lingkugan sosial mempunyai pengaruh terhadap sikap mental dari perilaku seseorang. Oleh karena itu, masyarakat haruslah diatur dengan tatanan yang baik, tertib, sopan,saling menghargai dan tolong menolong sesama, mematuhi hukum dan poeraturan dan terutama mengikuti ajaran agama.
Sebaliknya, lingkungan sosial seharusnya bersih dari kemaksiat-an seperti pelacuran, miras, narkobat,judi, tawuran dan lain-lain.
Nabi saw. Bersabda: Barabgsiapa melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Bila tak sanggup maka dengan hati. Danitulah selemah-lemahnya iman. (HR.Muslim)
Demikianlah sebagian dari ajaran kebersihan dalam Islam. Mudah-mudahan kita semua dapat membudayakan hidup bersih dan selalu menjaga kebersihan lingkungan kita, agar dicintai oleh Allah. (QS. Al-Baqarah 2: 222:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Yang artinya:
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.
Marilah kita selalu menjaga kebersihan diri dari pribadi kita, rumah kita, pekarangan, saluran air, jalan-jalan, kampung, dan kota kita.[cp]

Tags:

ceramah tentang kebersihan, pidato islami tentang menjaga kebersihan

Ceramah Ramadhan Hari Ke-11: Keutamaan Belajar Dan Mengajarkan Al-qur’an

Ceramah Ramadhan Hari Ke-11: Keutamaan Belajar Dan Mengajarkan Al-qur’an – Sahabat  Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai ceramah Puasa 2019, yang tentunya bisa jadikan anda referensi dalam berdakwah pada bulan penuh mubaraq ini, judulnya Keutamaan belajar dan mengajarkan Alquran.

Dalam Sebuah Hadis ini menjelaskan betapa mulianya orang yang mempelajari Dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Utsman bin Affan, bahwa rasulullah saw. Bersabda yang artinya: Orang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.
Hadis  ini menjelaskan betapa mulianya orang yang mempelajari Alquran, menghapalkan kemudian menyeberluaskan pengetahuan dan hapalannya itu kepada orang lain khususnya kepada  keluarganya sehingga mereka juga menguasai bacaan dan menghapal ayat-ayat Alquran. Tingkat keutamaan dan keistimewaan manusia diukur dari amal baik yang dilakukannya, dan amal yang paling utamlam bahasa arab a adalah mempelajari dan mengajarkal Alquran.
ceramah-ramadhan
Namun, perlu digaris bawahi bahwa menghapal dan mempelajari Alquran hanya dapat dilakukan dibawah bimbingan seorang guru, seorang pelajar yang menuntunnya membaca Alquran dalam bahasa Arab sesuai hukum-hukum bacaannya,batasannya dan ketepatan makhrajnya.seorang pelajar yang belajar mengaji dan menghapalkan ayat Alquran dapat mengaetahui kesalahan dan kekeliruan bacaannya dihadapan guru, pengajar Alquran segera akan mengoreksinya. Hal itu sesuai dengan petunjuk rasulullah saw. Seperti dikemukakan Anas ra. Bahwasanya Rasulullah saw. Pernah bersabda kepada Ubay bin ka’ab yang artinya: Sesungguhnya Allah memerintahku agar membacakan untukmu Alquran Ubay bin Ka’ab bertanya: Allah menyebutku?. Nabi Menjawab: Ya. Dia (Ubay) berkata: Sunggu saya disebut di sisi Tuhan semesta alam. Nabi menjawab : Iya. Maka menangislah Ubay (HR. Al-Bukhari).
Dalam kesempatan lain bahwa Rasulullah saw. Menyuruh seseorang untuk membacakan atau memperdengar-kan kepadanya ayat Alquran, seperti dikemukakan dalam hadis berikut: Rasulullah SAW bersabda kepada Ibn Mas’ud ra.: bacakanlah Alquran untukk. Lalu saya (Ibn Mas’ud) menyahut, Ya Rasulullah apakah saya membacakan untuk anda sedangkan (Alquran) itu diturunkan kepada anda? Rasulullah SAW bersabda: Saya senang mendengarkan dari orang selain saya. Maka saya bacakan untuknya surah An Nisah, sampai ketika saya membaca ayat “fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bisyahidin wa ji’na bika ala haulai syahida. Ia bersabda: cukup sampai disini. Lalu saya menoleh kepadanya, tampak kedua matanya berlinang-linang.(Muttafaq Alaih).
Hadis diatas menunjukkan betapa mulianya membacakan Alquran untuk orang lain terlebih lagi mengajarkannya, agar mereka menghapal, mendengar, mempelajarinya dengna baik. Secara tersirat sebenarnya hadis ini menunjukkan sifat dan perilaku kaum muslimin yang baik yag tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi melupakan kemashlahatan orang lain. Hal ini berbeda dengan sifat orang-orang kafir yang arogan yang tidak memberi menfaat dan tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menerima manfaat sebagaimana firman Allah dalam QS.An-Nahl 16:88:
الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ
Yang artinya:
Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.
Menurut pendapat mufassirin, perilaku jahat orang-orang kafir menghalangi dari jalan Allah termasuk mencegah manusia untuk mempelajari dan mengikuti Alquran, sementara mereka juga jauh membelakangi Alquran. Maka d ua perilaku yang mereka lakukan yaitu mendustakan dan menghalangi mempelajari Alquran, orang seperti ini dipandang sebagai manusia yang paling zalim, paling naiyana di sisi Allah.
Sedang orang-orang mukmin yang baik yang utama adalah mereka yang baik dan sempurna keislaman dirinya dan berupa juga menyempurnakan orang lain seperti yang dikemukakan hadis diawal tulisan ini. Sebagaimana juga dinyatakan Allah dalam Alquran QS Fushshilat 41:33:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Yang Artinya:
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”
Menyeru atau berdakwah untuk mengikuti ajakan Allah meliputi berbagai macam cara seperti azan menyeru orang melaksanakan shalat, mengajarkan Alquran, hadis, fiqih dan semua ajaran yang mencari keridhaan Allah, dan dia sendiri suka melakukan amal shaleh dan mengucapkan kata-kata baik, maka tidak ada orang yang terbaik keadaannya dibanding orang ini. Satu contoh dari orang yang ingin mencapai martabat ini adalah ulama besar Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib al-Salmi al-Kufi yang tekun mengajarkan Alquran selama 70 tahun sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan sampai masa al-Hajj.
Keikhlasan dan kesungguhan seorang mukmin dalam mempelajari kemudian mengajarkan Alquran dan mengamalkan dalam kehidupannya pasti mengangkat kedudukan orang itu disisi Allah sperti yang disampaikan Rasulullah SAW yang artinya: Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sekelompok kaum karena Alquran dan merendahkan segolongan lainnya.(HR. Muslim).
Kesimpulan
Mempelajari Quran adalah kewajiban setiap muslim untuk mengentahui ajaran agama dengan benar. Setiap muslim yang mahir membaca Alquran hendaknya mengajarkan ilmunya itu kepada orang lain khususnya anak-anaknya dan keluarganya. Mempelajari dan mengajarkan Alquran adalah amal utama yang mengangkat derajat mukmin disisi Allah.
Seorang Muslim adalah orang yang selalu berupaya mencapai kesempurnaan melalui pengkajian ajaran agamanya melalui Alquran dan hadis dan juga mengajarkannya atau memberi manfaat kepada orang lain.[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-7: Tanggung Jawab Orang Tua Mengembangkan Fitrah Anak

Ceramah Ramadhan Hari Ke-7: Tanggung Jawab Orang Tua Mengembangkan Fitrah Anak – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Pidato atau Ceramah Ramadhan 2019 atau 1440 H. Yup Ceramah ini berjudul: Tanggung Jawab Orang Tua Mengembangkan Fitrah Anak, simaklah selengkapnya.

Allah SWT mengingatkan kepada pribadi muslim agar menjaga dan memelihara diri dari keluarganya dari sentuhan api neraka, sebagai mana firmannya dalam QS Al-Tahrim 66:6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Yang Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Tanggung jawab yang pertama dan utama yang harus dipenuhi oleh sorang orang tua dan bahkan setiap orang dewasa yang normal adalah terhadap dirinya sendiri. Tanggung jawab yang dimaksudkan adalah bagaimana agar dirinya sendiri benar-benar terbina menjadi pribadi yang bertakwa, yakni patuh melaksanakan ajaran islam secara konsikuen, sehingga ia mampu menjadi panutan bagi keluarganya. Namun, tidak cukup hanya membina diri dari pribadinya sendiri, justru kewajiban yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana agar kemantapan pribadinya sebagai seorang muslim yang muttaqim dapat diwariskan kepada keturunannya. Tanggung jawab yang paling utama adalah tanggung jawab Iman.
ceramah-ramadhan
Pendidikan Islam harus ditanamkan oleh orang tua sejak dini, mengingat bahwa anak telah memiliki potensi dasar atau fitrah, yakni potensi imaniyah islamiyah (fitrah) yang dibawah anak sejak lahir. Potensi tersebut harus diberikan sentuhan-sentuhan yang dapat menumbuh suburkan agar anak dapat bertumbuh sesuai fitrahnya itu.
Rasulullah SAW bersabda sebagaimana hadisnya yang diriwayatkan al-Hakim dari Ibn Abbas r.a: Bukalah lembaran awal terhadap anak anak kamu dengan kalimah La Ilaha Illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah. (al-Hadis).
Hal yang dimaksudkan agar kalimah tauhid itulah yang pertama didengar oleh indera pendengaran anak, kalimat pertama yang diucapkan oleh lisannya dan lafal pertama yang dipahami oleh anak kelak merpuakan salah satu anjuran Rasul SAW. Ia mengazankan anak yang baru lahir pada telinga kanannya dan menqiyamatkan di telinga kirinya.
Tentang anjuran menyuarakan azan pada telinga kanan anak dan iqamah pada telinga kirinya, tidak diragukan lagi bahwa upaya ini mempunyai pengaruh terhadap penanaman dasar aqidah atau keimanan bagi anak. Dalam upaya menanamkan iman ini, harus dilakukan oleh orang tua dengan metode yang dilandasi rasa kasih sayang yang terimplikasi dalam ucapan dan prilaku orang tua yang tumbuh dari sifat-sifat: iklhlas; taqwa; berilmu; cinta kasih dan tanggung jawab.
Orang tua harus menumbuhkan sejak dini kepada anak anaknya untuk mencintai Nabinya, anggota keluarganya serta mencintai Alquran melalui cerita-cerita yang sesuai kondisi anak serta pembiasaan-pembiasaan dengan metode keteladanan.
Rasulullah bersabda: Muliakan anak-anakmu dan perbaiki adab sopan santun mereka.(H.R. Ibnu Majah dari Anas bin malik). Didalam riwayat yang lain dikatakan yang artinya: Didiklah anak-anak kamu kepada tiga perkara: mencintai nabi kamu, mencintai anggota keluarganya, dan membaca atau mempelajari Alquran.(al-Hadis).
Disamping itu, anak-anak diajarkan dirah al-Rasul (Sejarah hidup dan perjuangan Rasullullah). Ibnu Khaldun dalam mukaddimahnya menegaskan pentingnya mengajar dan menghafal Alquran bagi anak-anak bahwa pengajaran Alquran itu merupakan dasar pengajaran bagi seluruh kurikulum sekolah diberbagai negara Islam. Sebab Alquran merupakan salah satu syiar al-din yang menguatkan aqidah dan meresapkan keimanan.
Ibnu Sina, dalam bukunya As-Siyasah menganjurkan agar anak pertama kali diajar Alquran sebagai persiapan fisik dan intelektual. Hala ini dimaksudkan agar ia mampu menanamkan bahasa alinya dan jalan-jalan menuju keimanan anak. Demikian Rasulullah SAW menunjukkan betapa pentingnya pengajaran dasar-dasar iman kepada anak-anak sejak dini, sekaligus menunjukkan betapa besar tanggung jawab bagi orang tua dalam memelihara fitrah anak dengan menanmkan pendidikan aqidah atau keimanan tersebut.
Alquran menginformasikan metode yang digunakan Luqman dalam mengajarkan keimanan kepada puteranya sebagaimana dalam firman Allah SWT QS Lukman 31:13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ ل#1616;ابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Yang artinya:
Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada puteranya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada puteranya: “Hai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar”.
Metode yang digunakan Lukman tersebut memberitahukan kepada kita bahwa didalam mengajarkan atau menanamkan iman kepada anak harus dilakukan dengan ungkapan yang penuh kasih sayang disertai penjelasan yang konkrit dapat dipahami oleh anak-anak dengan mudah.
Demikian pula dalam mengajarkan ibadah terutama shalat. Alquran mengingatkan sebagai firman Allah QS Thaha 20:132:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Yang Artinya:
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Jika sekiranya para orang tua dan pendidik dapat melaksanakan para orang tua dan pendidik dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pribadi Muslim dalam mendidik anak-anaknya dengan berpijak di atas landasan iman dan mengajarkan dasar-dasar Islam. Maka selayaknya setiap orang-orang yang mempunyai tanggung jawab dan kewajiban mengetahui batasan-batasan tanggung jawab dan kewajiban yang dipikulkan di atas pundaknya agar dapat melahirkan anak yang berpijak pada landasan iman yang sempurna dan diridhai Allah SWT.
Pada dasarnya, batas batas tanggung jawab utama yang menjadi kewajiban orang tua dan pendidik yang harus ditanamkan kepada anak-anaknya adalah sebagai berikut:
  • Membina anak untuk beriman kepada Allah, kedua menanamkan perasaan khusyuk dan beribadah kepada Allah dan ketiga menanmkan perasaan selalu ingat kepada Allah.
Dengan upaya yang sungguh-sungguh disertai kesabaran dan rasa kasih sayang dan keteladanan serta pembiasaan dan latihan yang terus menerus, dan pendiidkan iman yang benar ini, akhirnya akan membawa hasil yang lahirnya generasi Muslim yang beriman kepada Allah dan bangsa sebagai seorang Muslim, pemuda-pemuda seperti yang diisyaratkan oleh Alquran seperti Firman Allah SWT, QS Al-Kahfi 18:13:
نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Yang Artinya:
Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk.
Keberhasilan orang tua dan pendidik didalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya dalam pendidikan iman ini, akan sangat membantu terwujudnya masyarakat sejahtera lahir dan bathin sebagaimana yang menjadi dambaan setiap pribadi Muslim sesuai doa yang diajarkan Alquran sebagaimana firman Allah QS Al-Baqarah 2:201:
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Yang Artinya:
Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kesejahteraan (kebaikan) di dunia dan kebahagiaan (kebaikan) di akhirat.
Demikianlah tanggung jawab pendidikan iman yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap perilaku Muslim yang menyandang predikat sebagai orang tua dan pendidik.[cp]