Ceramah Ramadhan Hari Ke-29: Tuntunan Zakat Fitri

Ceramah Ramadhan Hari Ke-29: Tuntunan Zakat Fitri – Sahabat Cerpi, pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Tuntunan Zakat Fitri, simaklah.

Perhatikanlah bahkan namanya adalah semua hadis yang menjadi sumber bagi zakat ini menggunakan kata. Mengubah kata menjadi berakibat berubahnya makna dan hakekat fithri itu. Maknanya makanan, sedang makananya bentuk asli manusia jadi maknanya zakat makanan, sedang maknanya zakat orang, perhatikanlah akibat dari perubahan nama itu. Di bawah ini dicantumkan sebuah hadis yang secara jelas, menyebut nama zakat sebagai:‘’dari Ibnu Umar ra. Berkata: ‘Rasulullah saw. Mewajibkan zakat al-Fithri, 1sha’ kurma, atau 1 sha gandum, bagi budak dan merdeka, lelaki dan perempuan, kecil dan besar yang Islam. Dan beliau (nabi) perintahkanlah supaya dilaksanakan sebelum keluar orang-orang  (dari rumahnya) ke (mushalla untuk) shalat ‘Id’’ (Muttafaq ‘Alaih).
ceramah-ramadhan
Zakat fithri diwajibkan oleh Rasulullah saw. bukan Allah swt. Yang mensyari’atkanny. Karena itu maka sumber hukum bagi zakat fitri adalah hadis tidak ada dalam Alquran.
Zakat Al-Fithri
Zakat al-Fithri  disyari’atkan pada tahun kedua hijriyah yaitu pada tahun disyari’atkannya puasa Ramadhan.Hukumnya, wajib atas segenap anggota keluarga yang beragama Islam, termasuk pembantunya, masing-masing satu sha’. (lihat hadis di atas).Yang Mustahiq, atau yang berhak menerima, hanya orang-orang miskin saja yang diantarkan langsung oleh Muzakki yang mengeluarkan zakat.
Tujuan zakat al-Fithri:
‘’untuk mensucikan orang-orang berpuasa daripada kesia-siaan dan kata-kata kotor’’.‘’Untuk makan orang-orang miskin’’
Ada perintah Rasulullah saw:‘’Cukupkanlah mereka (orang-orang miskin) jangan berkeliling (mencari makanan) pada hari ini (Id al-Fithri)’’.
Yang di zakatkan kurmaatau gandum atau kismis, atau akit, ataupun makanan lain seperti beras, jagung, sagu dsb.Ukurannya sebanyak 1 sha’ setiap orang. 1 sha’ =4 mud.1 mud =4 x sepenuh dua belah tangan.Waktunya, di lakukan pada waktu malam Idul Fithri, mulai terbenam matahari, sampai pagi sebelum orang-orang keluar dari rumahnya  menuju (mushallla/ lapangan di luar kota) untuk shalat al-‘Id.
Rasulullah saw.:‘’Dan Rasulullah saw. memerintahkan agar zakat Fothri dilaksanakan sebelum keluar orang-orang (dari rumahnya) ke (kushhallah) untuk shalat ‘Id’’.
Di bawah ini saya kutipkan sebuah contoh yang dibuat oleh Dr. S. Majidi tentang pelaksanaa zakat fithri dalam sebuah buku yang berjudul ‘’Zakat al-Fithri’’ yang disaling oleh Dr. H. Subari Damopolii.
Contoh:  Seorang kepala rumah tangga kaya maupun miskin beranggotakan keluarga: seorang isteri, seorang anak laki-laki dan perempuan, sudah besar atau bayi dan seorang pelayan, yang jumlah seluruhnya 5 orang.
Zakat Fithri seorang 1 sha’x 5 orang = 5 sha’
Pada malam Idul Fithri…tidak ada berasnya sama sekali, yang ada Cuma sedikit saja hanya cukup untuk dimakan sekeluarga, esok harinya lebaran dan ada lebihnya tapi tidak sampai 1 sha’, tidak wajib zakat fithri.
Tidak mampu, tidak ada kewajiban =(a). Kalau mampu, boleh beli beras pada malam itu, di bawah ke rumah untuk zakat fithri.Ada kemampuan, ada kewajiban =(b)Kewajiban sekedar kemaampuan (c). Ia miskin, jadi ia mustahiq.
Jika menerima Zakat Fithri, orang:
    • 1 sha’, cukup dimakan sekeluarga. Belum cukup wajib zakat Fithri. =(a).
    • 2 shs’, dizakatkan 1 sha’ bagi diriny =(c)
    • 3 sha’, dikeluarkan 2 sha’ baginya dan isterinya = (c)
    • 4 sha’, keluar 3 bersama anak lelakinya =(c)
    • 5 sha’, 4 dengan anak perempuannya =(c)
  • 6 sha’, 5 segenap kelusrganya = (b)
Zakat Fithri disampaikan langsung :
    • 1 sha’ pertama kepada miskin terdekat.
    • 1 sha’ kedua kepada yang dekat.
  • Sha’ ketiga, keempat dan kelima kepada seterusnya.
Sumber bacaan :Al-Fiqhu al-Islami Wa Adillatuhu : Dr. Wahhab Az-Zuhaili; Bulugh al-Maram : al-Hafizd Ibn Hajar al-Asqalani; Zakat al-Fithri : Dr. S. Majidi.[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-27: Keutamaan Ibadah Haji

Ceramah Ramadhan Hari Ke-27: Keutamaan Ibadah Haji – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Keutumaan Ibadah Haji, simaklah.
Semoga puji bagi Allah yang memfardhukan ibadah haji dan umroh kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Shalawat dan salam atas sahabat-sahabatnya yang berlomba-lomba berbuat baik. Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. al-Hajj 22:27:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Yang artinya:
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,
ceramah-ramadhan
Ada beberapa hal yang diperintahkan Allah kepada umat Islam berkaitan dengan ibadah haji, antara lain:
Perintah menyeru manusia untuk melaksanakan ibadah haji:
Seruan mengerjakan ibadah haji tersebut mengandung hikmah bahwa Allah akan menganugerahkan kepad manusia beberapa keutamaan, antara lain:
    • Orang yang melaksanakan ibadah haji mendapat kehormatan menjadi tamu Allah Yang Maha Pengasih.
    • Mendapat pahala jihad yang paling utama. Rasulullah saw. Bersabda: Jihad yang afdhal adalah haji mabrur.’’(Hadis riwayat Bukhari dari Aisyah ra).
    • Mendapat pahala infaq fisabilillah, Bersabda Rasulullah SAW. :infaq dalam ibadah haji seperti infaq fisabilillah, satuDirham dibalas 700 kali lipat.’’(Hadis Riwayat Ahmad, dan Thabrani).
    • Mendapat pengampunan dosa, sehingga bersih seperti pada hari dilahirkan. Barang siapa mengerjakan haji, lalu tidak melakukan rafats dan fasik, niscaya ia kembali bersih seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)’’.
  • Mendapat pahala syurga. Rasulullah saw. Bersabda:  Umrahku, umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya. Sedang haji yang mabrur tiada balasannya kecuali syurga. ‘’(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Perintah menyediakan bekal. Allah swt. Berfirman: (Q.S. al-Baqarah 2:197).
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Yang artinya:
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
Bekal yang dibutuhkan antara lain:
Bekal pertama dan utama adalahan taqwa (Q.S.al-Baqarah: 197).
Bekal harta untuk memenuhi keperluan selama dalam perjalanan pergi-pulang dengan keperluan hidup di tanah suci.
Bekal kesehatan (jasmani dan rohani) selama melaksanakan ibadah haji.
Bekal pengetahuan manasik dan penguasaan tata cara melaksanakan ibadah haji yang dicontohkan Nabi SAW.
Bakal semangat jihad, dan kesungguhan serta ketekunan melaksanakan ibadah haji secara sempurna.
Perintah menyempurnakan ibadah dan umrah. Allah swt. Berfirman: (Q.s. al-Baqarah :196).
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مّ#1616;ن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Yang artinya:
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
Latar belakng perintah penyempurnaan ibadah haji:

Ibadah haji puncak keagamaan Islam (rukun Islam kelima).
Ibadah haji wajib hanya sekali seumur hidup setap Muslim an Muslimat.
Ibadah haji, ibadaah multi dimensial, ibadah Qalbiyah, lisaniyah, jasmaniah dan ibadah Makiyyah.
Ibadah haji, memerlukan banyak pengorbanan (waktu, tenaga dan harta).
Ibadah haji adalah puncak status keislaman kaum Muslimin.

Aspek-aspek penyempurnaan ibadah haji:

Menyempurnakan syarat-syaratnya.
Menyempurnakan rukun-rukunnya.
Menyempurnakan wajibnya.
Menyempurnakan sunat-sunatnya.
Menyempurnakan hikmah-hikmahnya (memelihara haji mabrur).

Demikian, semoga dapat bermanfaat. Wa Allah a’lam bi al-shawab.[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-21: Kewajiban Berpuasa

Ceramah Ramadhan Hari Ke-21: Kewajiban Berpuasa – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Keutumaan Ibadah Haji, simaklah.

PUASA
Puasa adalah menahan lapar mulai dari terbitnya fajar di sebelah timur sampai terbenamnya matahari disebalah barat. Yang mana ketika kita berpuasa, kita dilatih untuk menahan nafsu, menahan lapar dan menahan haus.
Puasa merupakan salah satu yang termasuk dalam rukun islam, yaitu rukun islam yang ke – 4. Pastinya kita semua sudah pada mengetahui rukun – rukun islam. Hanya sekedar mengingat kembali, Rukun islam yang ke
1. Mengucapkan dua kalimat sahadat
2. Mengerjakan shalat
3. Membayar zakat
4. Mengerjakan puasa,
5. Naik haji bagi yang mampu. 
 
ceramah-ramadhan
Rukun islam merupakan kewajiban bagi seluruh umat islam dipenjuru dunia. Kewajiban berarti segala sesuatu yang harus atau mesti dikerjakan atau dilaksanakan. Maka dari itu kita sebagai umat muslim wajib berpuasa. Berdasarkan keterangan yang sangat jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan salah satu dari rukun Islam yang 5. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukannya yang mulia dan agung dalam Islam. Karenanya semua orang muslim wajib memperhatikan dan menjaganya dengan seksama agar sempurna bangunan di dalam dirinya.
 
Apabila ada seorang yang mengaku muslim namun meninggalkan puasa karena ia mengingkarinya, maka dia termasuk orang – orang yang kufur. Sedangkan bagiorang – orang yang tidak mengerjakan puasa karena malas atau lalai “tetap meyakini bahwa hukumnya wajib”, maka ia telah melakukan dosa yang besar dan kebinasaan karena tidak melaksanakan salah satu rukun Islam dan kewajiban yang penting. 
 
Adapun konsekuensi berdasarkan hukum fiqihnya, para ulama – ulama memiliki pendapat yang berbeda – beda. Sebagiannya berpendapat, bahwa bagi orang yang telah berbuka “tidak berpuasa” satu hari saja dari bulan Ramadhan maka wajib mengqadla puasanya sebanyak 12 hari. Ada juga yang pendapat bahwa mereka wajib berpuasa qadla selama satu bulan. Pendapat lainnya, mengatakan bahwa seseorang itu harus berpuasa selama 3000 hari dan ini merupakan pendapat al-Nakhai, Waqi’ bin al-Jarrah,. Namun ada dua pendapat yang paling masyhur dalam masalah ini dan memiliki landasan argumen yang kuat, yaitu: wajib mengqadla tanpa kafarah dan cukup bertaubat tanpa harus qadla.
 
Pendapat Pertama: Wajib qadla saja
Pendapat ini merupakan pendapat yang sangat umum di kalangan para ulama, yaitu wajib mengqadla bagi orang yang sengaja berbuka (tidak berpuasa) pada bulan Ramadlan, yaitu dengan berpuasa sesuai jumlah hari yang dia rusak.
 
Pendapat Kedua: Tidak wajib mengqadla, dan hanya bertaubat dengan sebenar – benarnya “bersungguh – sungguh”
Menurut pendapat kedua ini, tidak cukup dengan qadla walaupun dia berpuasa setahun penuh. Sebabnya, karena dia sengaja merusak puasanya tanpa udzur syar’i. Maka tidak mencukupi hari untuk menggantikan hari yang dia rusak tersebut, karena qadla disyariatkan bagi orang yang memiliki udzur (berhalangan).
 
Allah Ta’ala berfirman yang maknanya :
“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Maka barang siapa yang merusak puasa di bulan ramadhan tanpa ada udzur syar’i lalu mengganti puasanya itu di hari – hari yang lain, berarti telah membuat aturan baru dalam agama Allah yang tidak diizinkan oleh-Nya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yang maknanya “Siapa yang mengada-adakan hal baru dalam urusan kami ini (Islam) yang bukan berasal darinya, maka akan tertolak.” (HR. Bukhari dari Aisyah radliyallahu ‘anha)
Adapun firman Allah swt tentang puasa yang maknanya :
“Hai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”
(Q.S. Al-Baqarah : 183)
Dari arti firman Allah SWT. dalam Q.S. Al-Baqarah : 183, telah jelas bahwa puasa itu telah diwajibkan dan diperintahkan kepada orang – orang sebelum kita. Yang bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Allah SWT.
 
Pasti kita bertanya – Tanya, apa sebenarnya hikmah dari Puasa?
Berikut beberapa hikmah dari puasa
1. Puasa dapat menyempitkan aliran darah dan juga makanan. Aliran yang sama yang digunakan oleh syaitan. Sehingga bisikan syaitan akan menjadi lemah.
2. Puasa dapat melemahkan nafsu, hasrat berbuat maksiat dan keinginan berbuat jahat. Ini mengakibatkan roh menjadi suci.
3. Puasa juga merupakan penyucian hati, pendidikan jiwa, pengendalian pandangan mata dan juga menjaga seluruh anggota tubuh dari pada perbutan dosa.
4. Puasa dapat menyehatkan tubuh, kerana puasa mengosongkan perut dari berbagai bahan yang merusakkan. Puasa juga berfungsi membersihkan darah, menormalkan fungsi jantung, hati dan ginjal.
5. Apabila seseorang itu berpuasa, dirinya akan merasa kerdil di hadapan Allah SWT, hatinya akan mudah tersentuh dan rasa tamak akan menipis. Nafsunya terkawal sehingga doanya dikabulkan kerana dia dekat dengan Allah SWT.
 
Mungkin diantara kita masih ada yang bingung, sebenarnya apa – apa saja yang dapat membatalkan ataupun yang dapat mengurangi pahala puasa, berikut akan saya sebutkan kembali tentang hal – hal yang dapat membatalkan ataupun yangdapat mengurangi pahala puasa :
• Makan dan juga Minum yang dilakukan dengan sengaja
• Merokok
• Melakukan hubungan badan antara suami dan juga istri pada siang hari, Jima’ (berssenggema)
• Keluarnya darah haid atau nifas bagi seorang perempuan
• Menghirup obat untuk melegakan pernafasan
• Menelan sisa – sisa makanan yang masih ada menempel di antara gigi-gigi meskipun hanya sedikit
• Transfusi darah bagi orang yang berpuasa
• Ghibah ( membicarakan aib kejelekan orang lain)
• Namimah ( mengadu domba )
• Mendo’akan hal – hal yang jelek terhadap orang lain dan juga mencaci-maki
• Melakukan maksiat
• Berbohong
• Timbul syahwat kyang disebabkan memikirkan atau melihat hal-hal yang jorok ( mesum ) 
 
Saudara saudari yang muliakan oleh Allah SWT. kita telah mengetahui apa saja hukum bagi orang – orang yang tidak berpuasa dengan sengaja, yaitu mendapatkan dosa yang besar. Naudzubilahimindzalik. Oleh sebab itu, untuk kedepannya semoga puasa kita akan lebih baik lagi,. Dan semoga kita menjadi umat muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, amin yarobal alamin.[cp]

Ceramah Ramadhan Ke-18: Al-Qur’an dan Pencerahan Hati Nurani

Ceramah Ramadhan Ke-18: Al-Qur’an dan Pencerahan Hati Nurani – Sahabat Cerpi, Pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share artikel mengenai ceramah atau kultum Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Al-Qur’an dan Pencerahan Hati Nurani, simaklah.

Alquran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Melalui melainkan Jibril sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia. Alquran pada dasarnya adalah kitab petunjuk, diturunkan sebagai petunjuk dan pembimbing bagi umat manusia dalam kehidupan mereka di muka bumi. Fazlur Rahman mengatakan bahwa, sebagai kitab petunjuk, alquran itu bersifat antropologis dalam arti sangat dekat dengan manusia. Alquran menyebut dirinya, antara lain:
Hudan li al-nas (petunjuk bagi manusia). Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. al-Baqarah 2: 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Yang artinya:
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Syifa’ li ma fi al-shudur (obat atau penawar penyakit yang ada dalam hati manusia). Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. Yunus 10:57, berbunyi:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Yang artinya:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Rahmatan li al-mu’minin (rahmat bagi orang-orang beriman Allah swt. Berfirman di dalam Q.s. Bani Israil 17:82, berbunyi:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Yang artinya:
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
Sebagai muslim kita harus berusaha untuk mendapat petunjuk Allah lewat Alquran, sehingga kita dapat hidup di bawah bimbingan dan petunjuk-Nya. Menurut Sayyid Qutub, umtuk mendapat petunjuk dan pencerahan hati dari alquran itu secara konsisten, al-ma’rifah’ala tha riq al-mustaqin. Usaha itu harus secara sungguh-sungguh dilakukan sebab tanpa itu, pencerahan alquran (cahaya Ilahi) tidak dapat masuk ke dalam hati nurani manusia.
ceramah-ramadhan
Menurut al-Gazali, ada tiga faktor yang dapat menghambat masuknya cahaya Ilahi ke dalam jiwa manusia.
Al-dzunub wa al-ma’ashi (dosa-dosa dan maksiat). Dalam paham sufi, dosa-dosa itu dipandang sebagai penghalang atau tabir yang akan menjauhkan manusia dari Tuhan. Semakin banyak orang berbuat dosa, maka semakin tebal dinding yang menghalangi dirinya dari Tuhan. Ketika itu, cahaya Tuhan tidak dapat masuk ke dalam jiwanya karena terhalang oleh kabut dosa.’
Berhala-berhala kehidupan, Berhala adalah sesuatu yang dipertahankan oleh manusia, atau mendominasi manusia sehingga lupa kepada Allah swt. Setiap zaman, kata al-Gazali, memiliki berhala-berhalanya sendiri yang disembah dan dipertuhankan oleh manusia selain allah. Pada masa Nabi saw, berhala-berhala itu berupa Lata, Uzza, dan Manata. Pada zaman sekarang, berhala-berhala itu bisa berupa tahta, harta, dan wanita. Berhala-berhala tersebut telah membuat manusia lalai dan lupa kepada Allah swt. Jadi berhala-berhala itu telah menjadi penghalang yang efektif bagi masuknya cahaya Tuhan ke dalam jiwa manusia.
Yang disebabkan oleh letak dan posisi hati yang berlawan dengan sumber cahaya, yaitu Tuhan. Karena posisi yang berlawan dan bertolak belakang ini, maka pencerahan Tuhan tidak dapat berlangsung. Itulah hati orang-orang kafir yang secara sadar dan sengaja menolak eksistensi dan keberadaan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mata dan hatinya ditutup oleh allah swt, sebagaimana firman-Nya di didalam Q.s. al-Baqarah 2:6-7, berbunyi:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Yang artinya:
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Untuk menghilangkan faktor-faktor masuknya pencerahan Tuhan tersebut dan agar manusia dapat menerima pencerahan Tuhan, maka manusia harus melakukan pula tiga hal, yaitu:
Taubat, dosa-dosa yang selama ini menjadi penghalang dapat kebersihan sehingga diharapkan pencerahan dapat berlangsung.
Memperkuat komunikasi dan hubungan denagn Allah swt. Komunikasi dan hubungan ini dibangun dengan memperbanyak ibadah dan mengingat kepada Allah (dzikrullah), sehingga hubungan manusia yang selama ini renggang karena berhala-berhala kehidupan dapat menguat kembali dan terjadi pencerahan seperti sedia kala.
Keimanan dan ketaqwaan, keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semesta alam, sumber dari segala sesuatu dan tempat kembali atas segala sesuatu mengantarkan kepada manusia untuk menyadari, seperti firman Allah di dalam Q.s. al-An’am 6:162-163, berbunyi:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Yang artinya:
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.
Dengan demikian, pencerahan Tuhan itu dapat berlangsung mana kalah kita sebagai muslim selalu berpegang kepada petunjuk Allah, meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa dan kemaksiatan memperbanyak ibadah dn amal shaleh, serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Inilah salah satiu makna firman allah swt. Di dalam Q.s. ali Imran 3:101, berbunyi:
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Yang artinya:
DemiBagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.kian, semoga Allah swt. Memberikan pencerahan hati kepada kita semua. Amin![cp]

Ceramah Ramadhan Ke-14: Memelihara Kebersihan Lingkungan

Ceramah Ramadhan Ke-14: Memelihara Kebersihan Lingkungan – Sahabat Cerpi ,pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2019 atau Ceramah Ramadhan 1440 H, judulnya adalah Memelihara Kebersihan Lingkungan, simaklah.

Kebersihan merupakan salah satu ajaran yang sangat penting dalam agama Islam, baik kebersihan diri pribadi maupun kebersihan lingkungan hidup. Di dalam salah satu hadis Nabi dikatakan: (HR. Muslim): kebersihan itu adalah separuh dai iman.
Atau dalam riwayat lain dikatakan: (HR. Al-Dailami): kebersihan itu bagian dari iman.
Hal ini berarti bahwa setiap orang beriman itu harus memelihara kebersihan. Itulah sebabnya maka pembahasan dalam kitab-kitab fiqih Islam selalu di mulai dengan Bab Thaharah artinya tentang bersuci. Sebab shalat lima kali shari semalam yang wajib dilakukan oleh setiap orang beriman yang telah dewasa, salah satu syaratnya adalah suci dan bersih. Yaitu, suci badan dari hadas dan najis atau kotoran, bersih pakaian dan tempat shalat dari najis. Bahkan, orang Islam dianjurkan untuk sikat gigi setiap akan mendirikan shalat.
Imam Al-Gazali membagi kebersihan diri pribadi orang beriman itu atas empat tingkatan yaitu (1) kebersihan jasmani dari segala kotoran, najis ataupun hadas, (2) kebersihan penca indera dari pelanggaran dan dosa, (3) kebersihan qalbu (hati) dari akhlak dan sifat tercela dan (4) kebersihan rahasia batin atau sir dari selain Allah (Ihya’ Ulumuddin I h. 125).
ceramah-ramadhan
Selain kebersihan diri pribadi, yang tidak kalah pentingnya adalah kebersihan lingkungan di mana manusia itu hidup. Kebersihan lingkungan ini meliputilingkungan fisik seperti air, udara, alam sekit.
ar dan lain-lain, serta lingkungan sosial. Nabi Muhammad Saw. Bersabda: (HR. Bukhari): iman itu lebih dari 60 cabang. Yang paling utama adalah ucapan tiada tuhan selain Allah dan paling rendah atau sederhana ialah menghilangkan kotoran dari jalanan.
Selanjutnya, marilah kita uraikan secara singkat kebersihan lingkungan ini
Kebersihan air.Memelihara kebersihan air dan tidak mencemarinya dengan kotoran dan zat yang berbahaya itu sangat penting karena menurut Alquran ada dua fungsi utama dari air,yaitu (1) membersihkan, 2) menghidupkan, sebagaimana firman Allah: QS. Al-Anfal 8:11:
إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ
Yang artinya:
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu).
QS. Al-Anbiya’ 21:30:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Yang artinya:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Rasulullah saw. Melarang mengotori air dengan sabdanya: (HR.Bukhari dan muslim): Janganlah sekali-kali kalian kencing di air yang diam yang tidak mengalir kemudian mandi didalamnya.
Kebersihan udara dan alam sekitar. Udara yang bersih dan segar sangat penting bagi kesehatan sebab itu pemeliharaan lingkungan hidup, tidak membuang kotoran dan sampah sembarangan harus diperhatikan. Hadis Nabi mengatakan. (HR. Bkhari dan Abu Daud): Takutlah akan dua hal yang mendatangkan laknat. Mereka para sahabat bertanya: Apakah 2 hal yang mendatangkan laknat itu wahai Rasulullah?. Nabi menjawab: ialah orang yang buang hajat ditempat manusia berteduh.
Juga hadis lainnya: Sesungguhnya Allah itu baik menyukai kebaikan, Allah itu bersih menyukai Kebersihan. Allah itu pemurah menyukai kemurahan, Allah itu dermawan menyukai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman pekaranganmu.(HR.al-Tirmidzi)
Kebersihan lingkungan sosial. Lingkugan sosial mempunyai pengaruh terhadap sikap mental dari perilaku seseorang. Oleh karena itu, masyarakat haruslah diatur dengan tatanan yang baik, tertib, sopan,saling menghargai dan tolong menolong sesama, mematuhi hukum dan poeraturan dan terutama mengikuti ajaran agama.
Sebaliknya, lingkungan sosial seharusnya bersih dari kemaksiat-an seperti pelacuran, miras, narkobat,judi, tawuran dan lain-lain.
Nabi saw. Bersabda: Barabgsiapa melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Bila tak sanggup maka dengan hati. Danitulah selemah-lemahnya iman. (HR.Muslim)
Demikianlah sebagian dari ajaran kebersihan dalam Islam. Mudah-mudahan kita semua dapat membudayakan hidup bersih dan selalu menjaga kebersihan lingkungan kita, agar dicintai oleh Allah. (QS. Al-Baqarah 2: 222:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Yang artinya:
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.
Marilah kita selalu menjaga kebersihan diri dari pribadi kita, rumah kita, pekarangan, saluran air, jalan-jalan, kampung, dan kota kita.[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-11: Keutamaan Belajar Dan Mengajarkan Al-qur’an

Ceramah Ramadhan Hari Ke-11: Keutamaan Belajar Dan Mengajarkan Al-qur’an – Sahabat  Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai ceramah Puasa 2019, yang tentunya bisa jadikan anda referensi dalam berdakwah pada bulan penuh mubaraq ini, judulnya Keutamaan belajar dan mengajarkan Alquran.

Dalam Sebuah Hadis ini menjelaskan betapa mulianya orang yang mempelajari Dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Utsman bin Affan, bahwa rasulullah saw. Bersabda yang artinya: Orang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.
Hadis  ini menjelaskan betapa mulianya orang yang mempelajari Alquran, menghapalkan kemudian menyeberluaskan pengetahuan dan hapalannya itu kepada orang lain khususnya kepada  keluarganya sehingga mereka juga menguasai bacaan dan menghapal ayat-ayat Alquran. Tingkat keutamaan dan keistimewaan manusia diukur dari amal baik yang dilakukannya, dan amal yang paling utamlam bahasa arab a adalah mempelajari dan mengajarkal Alquran.
ceramah-ramadhan
Namun, perlu digaris bawahi bahwa menghapal dan mempelajari Alquran hanya dapat dilakukan dibawah bimbingan seorang guru, seorang pelajar yang menuntunnya membaca Alquran dalam bahasa Arab sesuai hukum-hukum bacaannya,batasannya dan ketepatan makhrajnya.seorang pelajar yang belajar mengaji dan menghapalkan ayat Alquran dapat mengaetahui kesalahan dan kekeliruan bacaannya dihadapan guru, pengajar Alquran segera akan mengoreksinya. Hal itu sesuai dengan petunjuk rasulullah saw. Seperti dikemukakan Anas ra. Bahwasanya Rasulullah saw. Pernah bersabda kepada Ubay bin ka’ab yang artinya: Sesungguhnya Allah memerintahku agar membacakan untukmu Alquran Ubay bin Ka’ab bertanya: Allah menyebutku?. Nabi Menjawab: Ya. Dia (Ubay) berkata: Sunggu saya disebut di sisi Tuhan semesta alam. Nabi menjawab : Iya. Maka menangislah Ubay (HR. Al-Bukhari).
Dalam kesempatan lain bahwa Rasulullah saw. Menyuruh seseorang untuk membacakan atau memperdengar-kan kepadanya ayat Alquran, seperti dikemukakan dalam hadis berikut: Rasulullah SAW bersabda kepada Ibn Mas’ud ra.: bacakanlah Alquran untukk. Lalu saya (Ibn Mas’ud) menyahut, Ya Rasulullah apakah saya membacakan untuk anda sedangkan (Alquran) itu diturunkan kepada anda? Rasulullah SAW bersabda: Saya senang mendengarkan dari orang selain saya. Maka saya bacakan untuknya surah An Nisah, sampai ketika saya membaca ayat “fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bisyahidin wa ji’na bika ala haulai syahida. Ia bersabda: cukup sampai disini. Lalu saya menoleh kepadanya, tampak kedua matanya berlinang-linang.(Muttafaq Alaih).
Hadis diatas menunjukkan betapa mulianya membacakan Alquran untuk orang lain terlebih lagi mengajarkannya, agar mereka menghapal, mendengar, mempelajarinya dengna baik. Secara tersirat sebenarnya hadis ini menunjukkan sifat dan perilaku kaum muslimin yang baik yag tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi melupakan kemashlahatan orang lain. Hal ini berbeda dengan sifat orang-orang kafir yang arogan yang tidak memberi menfaat dan tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menerima manfaat sebagaimana firman Allah dalam QS.An-Nahl 16:88:
الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ
Yang artinya:
Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.
Menurut pendapat mufassirin, perilaku jahat orang-orang kafir menghalangi dari jalan Allah termasuk mencegah manusia untuk mempelajari dan mengikuti Alquran, sementara mereka juga jauh membelakangi Alquran. Maka d ua perilaku yang mereka lakukan yaitu mendustakan dan menghalangi mempelajari Alquran, orang seperti ini dipandang sebagai manusia yang paling zalim, paling naiyana di sisi Allah.
Sedang orang-orang mukmin yang baik yang utama adalah mereka yang baik dan sempurna keislaman dirinya dan berupa juga menyempurnakan orang lain seperti yang dikemukakan hadis diawal tulisan ini. Sebagaimana juga dinyatakan Allah dalam Alquran QS Fushshilat 41:33:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Yang Artinya:
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”
Menyeru atau berdakwah untuk mengikuti ajakan Allah meliputi berbagai macam cara seperti azan menyeru orang melaksanakan shalat, mengajarkan Alquran, hadis, fiqih dan semua ajaran yang mencari keridhaan Allah, dan dia sendiri suka melakukan amal shaleh dan mengucapkan kata-kata baik, maka tidak ada orang yang terbaik keadaannya dibanding orang ini. Satu contoh dari orang yang ingin mencapai martabat ini adalah ulama besar Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib al-Salmi al-Kufi yang tekun mengajarkan Alquran selama 70 tahun sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan sampai masa al-Hajj.
Keikhlasan dan kesungguhan seorang mukmin dalam mempelajari kemudian mengajarkan Alquran dan mengamalkan dalam kehidupannya pasti mengangkat kedudukan orang itu disisi Allah sperti yang disampaikan Rasulullah SAW yang artinya: Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sekelompok kaum karena Alquran dan merendahkan segolongan lainnya.(HR. Muslim).
Kesimpulan
Mempelajari Quran adalah kewajiban setiap muslim untuk mengentahui ajaran agama dengan benar. Setiap muslim yang mahir membaca Alquran hendaknya mengajarkan ilmunya itu kepada orang lain khususnya anak-anaknya dan keluarganya. Mempelajari dan mengajarkan Alquran adalah amal utama yang mengangkat derajat mukmin disisi Allah.
Seorang Muslim adalah orang yang selalu berupaya mencapai kesempurnaan melalui pengkajian ajaran agamanya melalui Alquran dan hadis dan juga mengajarkannya atau memberi manfaat kepada orang lain.[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-7: Tanggung Jawab Orang Tua Mengembangkan Fitrah Anak

Ceramah Ramadhan Hari Ke-7: Tanggung Jawab Orang Tua Mengembangkan Fitrah Anak – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Pidato atau Ceramah Ramadhan 2019 atau 1440 H. Yup Ceramah ini berjudul: Tanggung Jawab Orang Tua Mengembangkan Fitrah Anak, simaklah selengkapnya.

Allah SWT mengingatkan kepada pribadi muslim agar menjaga dan memelihara diri dari keluarganya dari sentuhan api neraka, sebagai mana firmannya dalam QS Al-Tahrim 66:6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Yang Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Tanggung jawab yang pertama dan utama yang harus dipenuhi oleh sorang orang tua dan bahkan setiap orang dewasa yang normal adalah terhadap dirinya sendiri. Tanggung jawab yang dimaksudkan adalah bagaimana agar dirinya sendiri benar-benar terbina menjadi pribadi yang bertakwa, yakni patuh melaksanakan ajaran islam secara konsikuen, sehingga ia mampu menjadi panutan bagi keluarganya. Namun, tidak cukup hanya membina diri dari pribadinya sendiri, justru kewajiban yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana agar kemantapan pribadinya sebagai seorang muslim yang muttaqim dapat diwariskan kepada keturunannya. Tanggung jawab yang paling utama adalah tanggung jawab Iman.
ceramah-ramadhan
Pendidikan Islam harus ditanamkan oleh orang tua sejak dini, mengingat bahwa anak telah memiliki potensi dasar atau fitrah, yakni potensi imaniyah islamiyah (fitrah) yang dibawah anak sejak lahir. Potensi tersebut harus diberikan sentuhan-sentuhan yang dapat menumbuh suburkan agar anak dapat bertumbuh sesuai fitrahnya itu.
Rasulullah SAW bersabda sebagaimana hadisnya yang diriwayatkan al-Hakim dari Ibn Abbas r.a: Bukalah lembaran awal terhadap anak anak kamu dengan kalimah La Ilaha Illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah. (al-Hadis).
Hal yang dimaksudkan agar kalimah tauhid itulah yang pertama didengar oleh indera pendengaran anak, kalimat pertama yang diucapkan oleh lisannya dan lafal pertama yang dipahami oleh anak kelak merpuakan salah satu anjuran Rasul SAW. Ia mengazankan anak yang baru lahir pada telinga kanannya dan menqiyamatkan di telinga kirinya.
Tentang anjuran menyuarakan azan pada telinga kanan anak dan iqamah pada telinga kirinya, tidak diragukan lagi bahwa upaya ini mempunyai pengaruh terhadap penanaman dasar aqidah atau keimanan bagi anak. Dalam upaya menanamkan iman ini, harus dilakukan oleh orang tua dengan metode yang dilandasi rasa kasih sayang yang terimplikasi dalam ucapan dan prilaku orang tua yang tumbuh dari sifat-sifat: iklhlas; taqwa; berilmu; cinta kasih dan tanggung jawab.
Orang tua harus menumbuhkan sejak dini kepada anak anaknya untuk mencintai Nabinya, anggota keluarganya serta mencintai Alquran melalui cerita-cerita yang sesuai kondisi anak serta pembiasaan-pembiasaan dengan metode keteladanan.
Rasulullah bersabda: Muliakan anak-anakmu dan perbaiki adab sopan santun mereka.(H.R. Ibnu Majah dari Anas bin malik). Didalam riwayat yang lain dikatakan yang artinya: Didiklah anak-anak kamu kepada tiga perkara: mencintai nabi kamu, mencintai anggota keluarganya, dan membaca atau mempelajari Alquran.(al-Hadis).
Disamping itu, anak-anak diajarkan dirah al-Rasul (Sejarah hidup dan perjuangan Rasullullah). Ibnu Khaldun dalam mukaddimahnya menegaskan pentingnya mengajar dan menghafal Alquran bagi anak-anak bahwa pengajaran Alquran itu merupakan dasar pengajaran bagi seluruh kurikulum sekolah diberbagai negara Islam. Sebab Alquran merupakan salah satu syiar al-din yang menguatkan aqidah dan meresapkan keimanan.
Ibnu Sina, dalam bukunya As-Siyasah menganjurkan agar anak pertama kali diajar Alquran sebagai persiapan fisik dan intelektual. Hala ini dimaksudkan agar ia mampu menanamkan bahasa alinya dan jalan-jalan menuju keimanan anak. Demikian Rasulullah SAW menunjukkan betapa pentingnya pengajaran dasar-dasar iman kepada anak-anak sejak dini, sekaligus menunjukkan betapa besar tanggung jawab bagi orang tua dalam memelihara fitrah anak dengan menanmkan pendidikan aqidah atau keimanan tersebut.
Alquran menginformasikan metode yang digunakan Luqman dalam mengajarkan keimanan kepada puteranya sebagaimana dalam firman Allah SWT QS Lukman 31:13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ ل#1616;ابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Yang artinya:
Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada puteranya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada puteranya: “Hai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar”.
Metode yang digunakan Lukman tersebut memberitahukan kepada kita bahwa didalam mengajarkan atau menanamkan iman kepada anak harus dilakukan dengan ungkapan yang penuh kasih sayang disertai penjelasan yang konkrit dapat dipahami oleh anak-anak dengan mudah.
Demikian pula dalam mengajarkan ibadah terutama shalat. Alquran mengingatkan sebagai firman Allah QS Thaha 20:132:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Yang Artinya:
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Jika sekiranya para orang tua dan pendidik dapat melaksanakan para orang tua dan pendidik dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pribadi Muslim dalam mendidik anak-anaknya dengan berpijak di atas landasan iman dan mengajarkan dasar-dasar Islam. Maka selayaknya setiap orang-orang yang mempunyai tanggung jawab dan kewajiban mengetahui batasan-batasan tanggung jawab dan kewajiban yang dipikulkan di atas pundaknya agar dapat melahirkan anak yang berpijak pada landasan iman yang sempurna dan diridhai Allah SWT.
Pada dasarnya, batas batas tanggung jawab utama yang menjadi kewajiban orang tua dan pendidik yang harus ditanamkan kepada anak-anaknya adalah sebagai berikut:
  • Membina anak untuk beriman kepada Allah, kedua menanamkan perasaan khusyuk dan beribadah kepada Allah dan ketiga menanmkan perasaan selalu ingat kepada Allah.
Dengan upaya yang sungguh-sungguh disertai kesabaran dan rasa kasih sayang dan keteladanan serta pembiasaan dan latihan yang terus menerus, dan pendiidkan iman yang benar ini, akhirnya akan membawa hasil yang lahirnya generasi Muslim yang beriman kepada Allah dan bangsa sebagai seorang Muslim, pemuda-pemuda seperti yang diisyaratkan oleh Alquran seperti Firman Allah SWT, QS Al-Kahfi 18:13:
نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Yang Artinya:
Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk.
Keberhasilan orang tua dan pendidik didalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya dalam pendidikan iman ini, akan sangat membantu terwujudnya masyarakat sejahtera lahir dan bathin sebagaimana yang menjadi dambaan setiap pribadi Muslim sesuai doa yang diajarkan Alquran sebagaimana firman Allah QS Al-Baqarah 2:201:
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Yang Artinya:
Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kesejahteraan (kebaikan) di dunia dan kebahagiaan (kebaikan) di akhirat.
Demikianlah tanggung jawab pendidikan iman yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap perilaku Muslim yang menyandang predikat sebagai orang tua dan pendidik.[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-1: Puasa Dalam Perspektif Islam

Ceramah Ramadhan Hari Ke-1: Puasa Dalam Perspektif Islam – Dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan 1440 H atau tahun 2019, CeramahPidato.Com akan update contoh ceramah-ceramah Islami seputar bulan puasa, yang bisa dibawakan pada ceramah sebelum shalat Tarwih. Pada kesempatan pertama ini, Judul ceramah puasa pada hari ke-1 ramadhan yang akan saya bagikan adalah Puasa dalam Persfektif islam.

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena pada kesempatan yang kesekian kalinya kita dipertemukan lagi dengan bulan ramadhan 1440 H, marilah kita sambut bulan suci ramadhan ini dengan ucapan “Marhaban ya Ramadhan 1440 H”. Sambutan ini menunjukkan bahwa bahwa tamu disambut dengan lapang dada, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya; tidak menggerutu dan menganggap kehadiarannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita.
ceramah-ramadhan
Jamaah Tarwih yang berbahagia …
Untuk itu kita perlu mempersiapkan bekal dan tekad yang membaja guna mennelusuri jalan, memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam ramadhan dengan salat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah SWT.
Al-qur’an menggunakan kata shiyam dalam arti puasa menurut hukum syariat. Secara bahasa, kata shiyam yang berakar dari huruf-huruf sha-wa-ma berarti “menahan” dan “berhenti” atau “tidak bergerak”. Manusia yang berupaya menahan diri dari suatu aktifitas – apapun aktifitas itu – dinamai shaim (berpuasa). pengertian kebahasaan ini dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga puasa (shiyam) hanya digunakan untuk “menahan diri dari makan, minum dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”.
Jamaah Tarwih yang dirahmati Allah SWT…
Namun Al-Qur’an menginformasikan bahwa kata shiyam tidak hanya membatasi padamenahan makan, minum dan berhubungan suami-istri, tetapi juga digunakan dalam arti manahan bicara (Qs. Maryam 19:26). Bahkan, kaum sufi, merujuk kepada hakikat dan tujuan puasa, menambahkan bahwa kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan puasa mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh, hati, dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.
Hakikat shiyam atau shaum bagi manusia adalah menahan atau mengendalikan diri, karena itupula puasa disamakan dengan sikap sabar. Hadis Qudsi yang menyatakan antara lain bahwa: Al-Shaumu liy wa Ana Ajziy yang aritnya Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberi ganjaran (HR. al-bukhari) dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam QS. az-Zumar 39:10
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Yang artinya:
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa. Ada beberapa macam puasa dalam pengertian syariat / hukum sebagaimana di singgung diatas, yakni:
    • Puasa wajib sebulan ramadhan.
    • Puasa kafarrat, akibat pelanggaran, atau semacamnya.
  • Puasa Sunnat.
Jamaah tarwih yang berbahagia …
Uraian Al-Qur’an tentang puasa ramadhan, ditentukan dalam Qs. al-baqarah 2:183-185 dan 187. Ini berarti bahwa puasa ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi SAW hijrah ke madinah, yakni pada 10 Syaban tahun ke-2 hijriah. Berikut ayat-ayatnya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Yang Artinya:
183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
Jamaah tarwih yang dirahmati Allah SWT…
Berdasarkan Ayat-ayat diatas dapat disimpulkan beberapa point, antara lain: kewajiban puasa di bulan Ramadhan yang diawali dengan panggilan mesra “wahai orang-orang yang beriman,….” dimaksudkan agar dapat mendorong umat Islam untuk melaksanakannya dengan baik, tanpa kesalahan. Bahkan, tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan yang berpuasa sendiri, yakni “agar kamu bertaqwa atau terhindar dari siksa api neraka”;
Kewajiban puasa tersebut hanya beberapa hari, itu pun hanya diwajibkan bagi yang berada dikampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat wal afiat, sehingga “barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan” maka dia boleh tidak berpuasa dan menggantinya pada hari yang lain. “sedang yang merasa sangat berat berpuasa, maka dia harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin”.
Sekalipun puasa adalah kewajiban bagi umat Islam, tetapi “Allah menghendaki kemudahan untuk kamu bukan kesulitan”.
Pelaksanaan puasa dalam arti menahan makan, minum dan hubungan suami-istri dimulai sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. karena itu, makan, minum dan berhubungan suami-istri dapat dilakukan sejak terbenam matahari sampai terbit fajar. namun puasa harus disempurnakan dan jangan dinodai dengan perbuatan melanggar norma agama, “sempurnakanlah puasa itu sampai malam”.
Jamaah tarwih yang berbahagia …
Secara jelas Al-qur’an menyatakan bahwa tujuan puasa adalah untuk mencapai ketaqwaan, la’allakum tattaqun. Menahan diri dari lapar bukanlah tujuan utama puasa. Hal ini disyaratkan di dalam hadis Nabi, yang artinya “Banyak diatara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga”.
Taqwa, secara bahasa berarti menghindar, mejauhi, menjaga diri. Kalimat perintah ittaqullah, secara harfiah berarti hindarilah, jauhilah atau jagalah dirimu dari Allah, makna ini mustahil dapat dilakukan oleh mahluk. Bagaimana mungkin menghindarkan diri dari Allah atau menjauhi-Nya, sedangkan Allah bersama kamu dimanapun kamu berada. Oleh karena itu perlu disiapkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya, kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertaqwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.
Jamaah tarwih yang berbahagia …
Dengan demikian, puasa dibutuhkan oleh semua manusia, kaya ataupun miskin, pandai ataupun bodoh, untuk kepentingan pribadi atau masayarakat, yakni pengendalian diri. hal ini mengisyaratkan bahwa dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal meneladani sifat-sifat Allah. nabi bersabda: “Takhallaqu bi akhlaq Allah” Teladanilah sifat-sifat Allah. Manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa’ali, yaiut makan, minum, dan hububgab suami-istri. ketiga kebutuhan itu tidak dibutuhkan oleh Allah SWT.
Disamping itu puasa bertujuan mempertinggi rasa persaudaraan dan kepedulian sosial, ibadah puasa mengasah dan mengasuh manusia agar memiliki sifat sabar dan jujur.
Semoga Ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan ramadhan ini nantinya dapat melahirkan nilai-nilai ketaqwaan, nilai-nilai persaudaraan, kebaran dan kejujuran. Wa Allah A’lam bi al-Shawab.[cp]

Ceramah Ramadhan Hari Ke-4: Aktualisasi Nilai Nilai Shalat

Ceramah Ramadhan Hari Ke-4: Aktualisasi Nilai Nilai Shalat – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share artikel mengenai teks ceramah ramadhan 1440 H/2019 M hari ke tiga. Judulnya adalah Aktualisasi Nilai Nilai Shalat, simaklah:
Salah satu hadiah Rasulullah SAW di dalam perjalan isra dan mi’rajnya adalah shalat lima waktu. Hal tersebut diertegas oleh Rasulullah di dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan, antara lain, al-Iman Muslim yang berbunyi:
“Dari Murra, dari Abdullah beliau berkata bahwa ketika rasulullah diisra’kan oleh Allah beliau tertahan (hanya bisa sampai) di Sidratil Muntaha… maka (pada saat itu) beliau dianugerahkan 3 hal; shalat lima waktu, ayat-ayat terakhir al-Baqarah, dan ampunan bagi orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu”.
Di dalam Alquran ditemukan sejumlah ayat yang memerintahkan pelaksanaan shalat . ayat –ayat tersebut pada umumnya diawali dengan kata terambil dari kata yang berarti berdiri, padahal tidak demikian. Para ulama berbeda pendapat tentang makna asal kata tersebut. Ada yang berpendapat ia terambil dari kata yang digambarkan tertancapnya tiang sehingga ia tegak lurus dan mantap. Ada juga yang mengatakan bahwa ia terambil dari kata yang melukiskan pelaksanaan sesuatu dengan giat dan benar. Betapapun beraneka pendapat tentang asal maknanya, tetapi tidak ditemukan seorang ulama pun yang memahaminya dalam arti berdiri atau mendirikan. Bahkan, kitab tafsir yang paling singkat dan sederhana pun, al-jalalin, menjelaskan kata dengan melaksanakan shalat berdasarkan hak-haknya, yakni dengan khusyuk sesuai syarat, rukun, dan sunnahnya, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.

ceramah-ramadhan
Hanya saja, jika kita mencoba mengkaji istilah khusyuk baik di dalam alquran maupun dalam hadis-hadis rasullah SAW, tidak dikemukakan penjelesan makna kata tersebut. Bahkan penjelasan khusyuk di dalam shalat juga tidak ditemukan di dalam kitab-kitab fikih yang telah ditulis oleh para fuqaha. Padahal, kita tentu sepakat bahwa shalat yang dinilai dan diterima oleh Allah adalah Shalat yang khusyuk.
Khusyuk sebagai dikemukakan oleh ahli tasawwuf, tidak lain kecuali dzikir di dalam shalat. Sebab tidak bernilai apa apa kecuali dzikir, seperti firman Allah SWT dalam QS. Thaha 20:14:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Yang Artinya:
Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikianlah shalat untuk mengingat aku.
Ayat diatas dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan shalat sebenarnya hanyalah untuk mengingat atau dzikir kepada Allah SWT. Kata Dzikir dari segi bahasa berarti menyebut atau mengingat. Atas dasar ini, para agamawan memperkenalkan dua macam dzikir, yaitu dengan lidah / bi al-lisan dan dengan hati / bi al-qalb. Disamping itu, dzikir juga mempunyai dua sisi, sisi pasif san sisi aktif. Yang pertama berfungsi mengosongkan hati dari segala yang menggundahkannya, dan yang kedua menghiasi jiwa dengan kehadiran Allah SWT.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa orang yang melaksanakan shalat dengan khusyuk, yaitu dengan dzikir, interaktualisasi didalam dirinya hati yang tenang, pikiran yang cerah, positif thingking. Dan berlapang dada. Ingatannya kepada Allah menjadikan ia terhindar dari dengki, kikir, riya, angkuh dan berkesinambungan. Betapa tidak, bukankah ia hidup bersama allah, merasa kuat dengan-Nya sambil menyerahkan diri kepada-Nya setelah melakukan segala upaya.
Inilah antara lain kandungan janji Allah dalam QS Al-Rad 13:28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Yang Artinya:
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan Allah-Lah hati menjadi tenteram.
Hati yang damai, tenteram dan berbagai sifat yang baik tentu akan mencerminkan dalam kehidupan pribadi seorang mushalli yang khusyuk. Mereka tidak akan melakukan sesuatu aktifitas yang melanggar syariat karena hatinya selalu berdzikir kepada Allah. Sebaliknya, orang melaksanakan shalat hanya untuk melepaskan kewajiban dan bukan sebagai kebutuhan rohaniah, maka nilai shalatnya akan minim dan mungkin bahwa tidak bernilai apa-apa di sisi Allah. Itulah, antara lain dari diri Allah mengingatkan kepada kita untuk senantiasa menjaga shalat dan jangan bersifat lalai didalam melaksanakannya. Hal tersebut dipertegas oleh Allah di dalam QS Al-Maa’un 107:1-5:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
Yang Artinya:
Maka kecelakaan bagi orang-orang yang shalat, (Yaitu) orang orang yang lalai dari shalatnya.
Menurut al-Imam al-Qurthubi di dalam tafsirnya al-Jami li Ahkam al-Quran menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata sahun lalai adalah:
    • Tidak ada rasa penyesalan dan rasa takut ketika ia meninggalkan shalat;
    • Tidak shalat tepat waktu;
  • Tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.
Ketiga kriteria yang dikemukakan diatas memang sangat memungkinkan seseorang untuk tidak khusyuk di dalam shalat . orang yang shalat pada akhir waktu umpamanya, akan selalu terburu-buru bagaikan orang dikejar. Itulah sebabnya Rasul SAW menganjurkan untuk shalat pada awal waktu karena juga akan berpengaruh terhadap penyempurnaan ruku dan sujud seseorang.
Ada dua perintah Allah yang sering disebutkan secara bergandengan, yaitu perintah untuk menegakkan shalat dan perintah untuk mengeluarkan zakat. Perintah pertama lebih menekankan hubungan kepada Allah, sedangkan yang kedua lebih menekankan hubungan kepada sesama manusia. Akan tetapi, tidak berarti kedua perintah tersebut hanya memiliki satu bentuk hubungan. Shalat tidak berarti jika hasilnya hanya akan melepaskan kewajiban kepada Allah. Shalat itu dianggap berarti jika dapat berpengaruh di dalam pergaulan kepada sesama manusia. Ini juga dapat berarti bahwa shalat memiliki dimensi sosial. Seseorang yang melakukan kedzaliman begitu pula mereka yang tidak peduli kepada orang-orang yang ada disekitar mereka dapat disebutkan bahwa nilai-nilai shalatnya belum teraktualisasi di dalam kehidupan mereka.
Apa yang digambarkan diatas tampaknya menunjukkan bahwa dzikir di dalam shalat yang merupakan inti kekhusyukan sangat susah untuk dilakukan. Tetapi hal itu tidak berarti tidak bisa dilakukan. Olehnya itu, menurut CeramahPidato.Com, untuk mendapatkan kekhusyukan di dalam shalat, salah satu cara yang harus ditempuh adalah dengan membiasakan diri melaksanakannya. Mungkin pada awalnya masih susah untuk khusyuk, tetapi jika dilakukan secara berkelanjutan maka dengan sendirinya akan muncul. Inilah mungkin salah satu rahasia mengapa Rasullullah SAW menganjurkan kepada orang tua untuk mengajarkan shalat kepada anak-anaknya sejak dini.
Yang jelas bahwa kita shalat harus dikerjakan sebagai washillah kepada Allah SWT apabila washillah tersebut terputus maka hubungan kepada Allah menjadi terputus. Apabila hal tersebut terjadi maka sangat memungkinkan hubungan sosial kepada sesama manusia juga terputus karena orang seperti ini tidak mendapat hidayah dari Allah SWT. Untuk mendapatkan hidayah darinya, jalan yang paling ampuh adalah melalui media shalat, karena didalamnya diajarkan bagaimana memaksimalkan ingatan kepada-Nya. Dan selanjutnya orang yang banyak mengingat Allah tentu dengan sendirinya selalu terhindar dari perbuatan yang fakhsya’ dan mungkar, baik kepada Allah juga kepada sesama manusia, bahkan kepada mahluk Allah yang lain.[cp]

Kultum Ramadhan #1: Keberuntungan Yang Besar

Kultum Ramadhan #1: Keberuntungan Yang Besar – sahabat Cerpi Pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share artikel mengenai Kuliah 7 Menit atau Kultum Ramadhan Tahun 1439 H / 2018. Kultum ini berjudul: keberuntungan yang besar.

kultum ceramah pidato

Kepada yang terhormat bapak ibu sekalian, para ulama, para pejabat pemerintah, para ustadz dn ustadzah yang ditaati, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.

Mengawali pertemuan kita kali ini, pertama tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan Semesta alam, yang senantiasa menganugerahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita sehingga pada saat ini kita dapat berkumpul ditempat yang penuh berkah ini tanpa halangan suatu apapun. Selanjutnya salawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita dan mengantarkan kita kepada ketinggian ilmu pengetahuan dan peradaban yang terhormat.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati…

Sebagai kaum muslimin kita harus bersyukur atas petunjuk dan anugerah keimanan yang terus kita pegang teguh, sekalipun kita menerima ajaran Islam dari para pewaris nabi SAW, yaitu para ulama. Kita hidup begitu jauh dari kehidupan Rasulullah SAW, beliau telah wafat 14 abad yang lalu, secara geografis pun kita begitu jauh dari tempat kelahiran Rasulullah SAW, tetatpi kita tetap beriman dan memegang komitmen keimanan kita kepada Rasulullah dan apa saja yang dibawa oleh beliau. Yang demikian ini merrupakan anugerah yang sangat besar, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis nabi SAW. Diantaranya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Ahmad, Thabrani dan Hakim dari Abi Jam’aah Al Ansari, dia berkata:

Aku bertanya, ya Rasulullah adakah suatu kaum yang lebih besar pahalanya dari kami, sementara kami beriman dan mengikuti engkau?” Apa yang menjadi penghalang bagimu buat beriman kepadaku, sementara Rasulullah Saw. berada dihadapanku dengan membawa wahyu dari langit. Tetapi akan ada lagi suatu kaum yang akan datang sesudah kamu, datang kepada mereka kitab Allah yang ditulis diantara dua Luh, maka mereka beriman kepadaku dan mereka amalkan apa yang tersebut didalamnya, mereka itu adalah lebih besar pahalanya dari kamu.”

Dalam hadits lain juga ditegaskan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, dari Abu Sa’id Al-Qhudri, bahwasannya ada seorang laki-laki berkata:

“Ya Rasulullah, beruntunglah orang yang melihat engkau dan beriman kepada engkau.” Lalu Nabi Muhammad Saw. berkata: “Beruntunglah orang yang melihat aku dan beriman kepadaku, beruntung dan sungguh beruntung bagi orang yang beriman kepadaku, sementara ia tidak melihat aku.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Dari hadits tersebut jelaslah bagi kita bahwa betapa beruntungnya orang yang beriman Nabi Muhammad Saw. padahal ia tidak melihat beliau secara langsung, dia hanya mendengar berita dan sejarah beliau dari para penyambung lidah atau para pewaris beliau. Namun ia beriman dan bahkan begitu kuat imannya kepada beliau, termasuk kita yang hidup sekarang ini, yang tidak menyaksikan Nabi dan kehidupan beliau secara langsung, tetapi begitu besar cinta kita kepada Rasulullah Saw. Terkadang air mata kita mengalir, menaruh kagum dan terkenang kegigihan perjuangan beliau dalam menegakkan agama Allah, sehingga kita hendak menjadi umatnya yang baik dan patuh, berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnahnya, serta bertekad untuk memberikan segenap hidup kita buat agama yang beliau bawa, yaitu agama Islam. Maka sungguh beruntung, dan beruntunglah kita.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Demikianlah kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, marilah kita berdoa semoga allah swt senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuknya kepada kita, sehingga kita mampu mengisi sisa hidup kita ini dengan kebaktian, memperbanyak ibadah dan amal shaleh, sehingga kita benar benar menjadi orang orang yang beruntung, amin.

Akhirnya terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.[cp]