Cara Menguburkan Jenazah

Cara Menguburkan Jenazah – Setelah jenazah disalatkan, kewajiban berikutnya adalah menguburkan mayat di pemakaman.  Dalam menguburkan jenazah, harus diperhatikan hal-hal berikut ini:

  1. Pembuatan lubang kubur hendaknya memperhatikan kedalamannya. Kedalaman lubang harus bisa mencegah keluarnya bau busuk jenazah dan tidak bisa digali atau dirusak oleh binatang-binatang buas. Selain itu, lubang yang dibuat hendaknya bisa memudahkan orang yang hendak menguburkan jenazah.
  2. Setalah lubang dibuat, harus dibuat liang lahat yang pembuatannya bisa dibuat di tengah-tengah lubang, pinggir lubang, atau sisi samping. Lihat gambar berikut ini. Kotak berwarna biru adalah posisi liang lahat. Liang lahat adalah liang yang digunakan untuk memasukkan jenazah.  Setelah jenazah masuk, liang lahat ditutup dengan kayu atau bambu.  Setelah itu, lubang ditutup dengan tanah.
  3. Setelah pembuatan lubang dan liang lahat selesai, mayat dimasukkan secara pelan-pelan di dalam lubang, lalu dimasukkan ke dalam liang lahat. Jenazah harus dibaringkan di atas lambung sebelah kanan, dan menghadap ke arah kiblat. Muka dan ujung kaki jenazah harus menyentuh tanah.   Untuk itu, tali yang mengikat tubuh jenazah dilepaskan satu persatu.  Untuk bagian muka dan ujung kaki, kain kafan harus dibuka agar muka dan ujung kaki bisa menyentuh tanah.
  4. Setelah jenazah masuk ke dalam liang lahat, liang lahat ditutup dengan kayu atau bambu. Hendaknya, papan atau kayu yang digunakan untuk menutup liang lihat cukup kuat dan rapat. Setelah itu, lubang ditimbun dengan tanah, lalu dipadatkan agar tidak mudah diganggu oleh binatang buas, atau orang-orang jahat.
  5. Jenazah tidak boleh dikubur pada saat malam hari, kecuali dalam keadaan darurat. Ketentuan ini didasarkan pada sebuah hadi : لا تَ دفَنوِْا مُوتَ اْكَم بُالْلِي لَّْ إلاِِِ َّ أنَْ تضُْ طَرُّوا “Janganlah kalian mengubur jenazah-jenazah kalian pada waktu malam hari, kecuali terpaksa”. [HR Imam Ibnu Majah]
  6. Kuburan hendaknya ditinggikan sedikit dari permukaan tanah, dan tidak perlu dibangun bangunan di atasnya. Sebab, Nabi melarang kaum Muslim mendirikan bangunan di atas kuburan. Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat dari Jabir Ra, bahwasanya ia berkata: َــ رَسُــولُ اﷲَِّ صَــ َّ اﷲَّ عَُلَيْــهِ وَسَــلّمَ أنَْ يجَُصَّــصَالـَْــقَبْرُ وَأنَْ يقُْعَـــدَ عَليْـــهِ وَأنَْ يبُْنـَــى عَلَيْـــهِ “Rasulullah SAW melarang menembok kuburan, duduk di atas kuburan, dan membangun bangunan di atasnya”.[HR Imam Muslim]
  7. Tidak diperbolehkan mengubur dua jenazah atau lebih dalam satu kuburan, kecuali dalam keadaan darurat, seperti korban perang, atau orang-orang yang mati syahid. Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Jabir bin ‘Abdullah bahwasanya ia berkata:

كَــانَ النبَِّــيُّ صَ ـ َّ اﷲَّ عَُلَيْ ـهِ وَسَ ـلّمَ يَجْمَــعُ بَــيْنَ

ال ـرَّجُلَيْنِ مِ ـنْ قَتْ ـ َ أحُ ـدٍ فِي ثَ ـوْبٍ وََاحِ ـدٍ  يَق ـولُأ مْ أكَْثرَ أخَْذًا للِْقُرْآنِ فُـَإِذَا أشُِ يرَ  إِ أحََ دِهَُِّمَاُ ََّقَدَّمَ هُفِي اللّحَْـدِ وَُقَـالَ أنََـا شَـهِيدٌ عَـ َ هَـؤُلَاُءُِ يَـوْمَ القِيَامَ ةِ وَأمََ َر

بِــدَف       مْ فِي دِمَــاِ وَلـَـمْ يغَُسَّــلوُا وَلـَـمْ يصَُــلَّ عَل            ــمْ

tata cara pengurusan jenazah

Nabi SAW pernah mengumpulkan dua orang shahabat yang terbunuh dalam perang Uhud dalam satu kain.  Lalu beliau bertanya, “Siapakah di antara mereka yang paling banyak hafal Al-Qur’an”.  Ketika beliau Saw diberi isyarat kepada salah satu jenazah itu, maka beliau mendahulukan jenazah tersebut masuk dalam liang lahat.  Lalu beliau bersabda, “Aku menjadi saksi bagi mereka kelak di hari kiamat.  Lalu Nabi Saw memerintahkan mengubur mereka beserta darah-darah mereka, dan mereka tidak dimandikan dan disalatkan”. [HR. Imam Bukhari]

  1. Jenazah hendaknya dikuburkan di daerahnya, dan jangan dipindahkan ke daerah yang lain. Selain akan memperlambat dikuburkannya jenazah, sebagaimana riwayat Abu Hurairah, menurut sebagian Ulama –Imam Nawawiy— pemindahan kubur jenazah adalah perbuatan haram menurut pendapat terpilih dan terkuat. Dalam dipindahkan ke daerah lain, janganlah dilaksanakan wasiatnya.   Sebab, pemindahan itu haram menurut madzhab yang sahih dan terpilih, dan dikatakan oleh mayoritas ulama dan ditegaskan oleh para pentahqiq.”
  2. Ketika penguburan mayat sudah selesai, disunnahkan bagi pengiring jenazah untuk berdiri sebentar mendoakan jenazah. Ketentuan seperti ini didasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari ‘U man bin ‘Affan Ra, bahwasanya ia berkata:

كَ انَ النبَِّ يُّ صَـ َّ اﷲَّ عَُلَيْ هِ وَسَـلّمَ إِذَا فَ رغَ مِـنْ دَفـنِالْمَيِّ تِ وَقَـفَ عَلَيْـهِ فقََـالَ اسْـتَغْفَِروا لِأََخِي ُ ـمْوَسَ ـــلوُا َ ُ بِالتّثَبِْي ـــتِ فإَِنَِّ ـــهُ الْآنَُ سُْ ـــألَُ

“Nabi SAW jika selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri sejenak di dekat kuburan, dan bersabda, “Mohonkanlah ampunan dari Allah untuk saudaramu ini, dan mintakanlah kelapangan untuk dirinya di alam kubur, karena sesungguhnya saat ini ia tengah di tanya”. [HR Imam Abu Dawud].

Cara Menyalatkan Jenazah

Cara Menyalatkan Jenazah – Ketentuan-ketentuan umum mengenai salat jenazah adalah sebagai berikut: Syarat Sah Salat Jenazah. Salat jenazah sebagaimana salat-salat lainnya, harus memenuhi syarat: menutup aurat, suci dari hadas, sucinya badan, pakaian, dan pakaian dari najis, dan menghadap ke arah kiblat. Mayat sudah dimandikan dan dikafani secara sempurna. Mayat diletakkan di kiblat melintang, kepala di letakkan di utara sedangkan kaki diletakkan di selatan.

Rukun Salat Jenazah

Niat mengerjakan salat jenazah

Salat jenazah dianggap tidak sah, jika tidak diniatkan untuk salat jenazah.  Ketentuan mengenai niat didasarkan pada sabda Rasulullah SAW: إِنّمََاالْاَعْــــمَالُ بِالنـِّ ــيَاتِ “Sesunggguhnya  amal itu tergantung  dengan niatnya.”[HR Mutafaq ‘Alaih].

Berdiri bagi yang mampu berdiri.

Berdiri tegak di dalam salat maktubah adalah wajib. Sedangkan, di dalam salat sunnah tidaklah wajib. [Ali Ragib, Ahk m A – al h, hal. 44; Sayyid S biq, Fiqh asSunnah, juz 1/hal. 101].  Hanya saja, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, salat sunnah yang dikerjakan dengan duduk, hanya mendapatkan pahala separuh dari salat yang dikerjakan dengan berdiri.

 tata cara pengurusan jenazah

Takbir empat kali.

Di dalam riwayat-riwayat  ahih dituturkan bahwa Nabi SAW kadang-kadang bertakbir sebanyak lima, enam, dan tujuh takbir.  Ketentuan mengenai takbir 4 kali didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh  Imam Baihaqi dan

Daruqutni, dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya Rasulullah Saw menyalati jenazah, lalu beliau bertakbir empat kali, dan bersalam satu kali.  Sedangkan ketentuan mengenai takbir, lima, enam, dan tujuh kali, didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Abu Wail Ra, bahwasanya ia berkata:

كَ ـانوُْا ي ـكَبِّروُْنَ عَ ـ عَهْ ـدِ رَسُ ـوْلِ اﷲِ صَ ـ َّ اﷲُعَلَيْــهِ وَسَُــلّمَ سَــبْعًا وَ سًْ ـا وَسِ ـتًّا أوَْ قَ ـالَ

ارَْبَعًــا فجََمَــعَ عَُمَــر بْــنُ خَطـَّـابٍ رَضِــي اﷲ عَُنـْـهُاصَْ ـحَابَ رَسُ ـوْلِ اﷲُِ صَ ـ َّ اﷲ عَُليْ ـهِ وَسََــلّمَ

فاخْبَرَ كُ لُّ رَجُ لٍ بِمَ ا رَأىَ فجََمَعَ ْ عُمَ ر رَضَِ ياﷲَ عَُنـْــهُ عَـــ َ ارَْبَـــعِ تَـــكْبِيرَْاتٍ كَـُــاطَْوَلُِ الصَّـــَلاةَِ

“Para shahabat bertakbir di masa Rasulullah SAW tujuh kali, lima kali, dan enam kali, atau dia berkata empat kali.  Lalu Umar bin Kaab Ra mengumpulkan para shahabat Rasulullah Saw, dan setiap orang dari mereka mengatakan apa yang dilihatnya.  Kemudian Umar mengumpulkan mereka untuk bertakbir empat kali takbir saja sebagai salat yang terpanjang”. [HR. Imam Baihaqi]

 Membaca surah Al-Fatihah.

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadis dari alhah bin ‘Abdullah bin ‘Auf RA, bahwasanya ia berkata:

صَلّيَْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبّ اسٍ رَضِ ي اﷲَّ عَُ            مَُ ا عَ َجَناَزَةٍ         َفقََرأَ بِفَاتِحَةِ الَْ تَابِ قََالَ ليَِعْلمُوا أ َا سُ نةٌَّ

“Saya pernah salat jenazah di belakang Ibnu ‘Abbas Ra, lalu dia membaca surat Al-Fatihah”. Dia berkata, “Agar mereka mengetahui bahwa membaca surat Al-Fatihah dalam salat jenazah adalah sunnah”.[HR Imam Bukhari]

 Membaca salawat atas Nabi Saw.

Dari Umamah bin Sahl Ra dituturkan bahwasanya ia diberitahu salah seorang sahabat Nabi Saw, bahwasanya termasuk sunnah dalam salat jenazah adalah; hendaknya seorang imam bertakbir, lalu membaca  surah Al-Fatihah dengan pelan dalam hati setelah takbir pertama.  Setelah itu, membaca salawat atas Nabi Muhammad Saw, dilanjutkan dengan memanjatkan doa dengan tulus untuk jenazah pada takbir-takbir berikutnya, dan tidak membaca ayat-ayat Al-Qur’an apapun di dalam salat jenazah.  Setelah itu bersalam dengan pelan di dalam hati”. [HR Imam Syafi’i, Al-Baihaqi, dan Abu Dawud AthThayalisi]

 Mendoakan jenazah

Di dalam riwayat-riwayat sahih dituturkan bahwasanya Nabi saw mendoakan jenazah dengan doa-doa tertentu. Doa-doa tersebut dibaca pada takbir ketiga, dan keempat. Di antara doa yang dipanjatkan Nabi saw pada salat jenazah adalah doa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Auf bin Malik ra, bahwasanya ia berkata:

وَارْ           ْ هُ فحََفِظْــتُ مِــنْوَعَافِ هِ وَاعْدعَُا ــهِ فُ عَنْوَهُــوَ ـه وَأكَْيَقـُـولُ رِمْ اللّـَّـ ْن ّ ـُُزُ َ  اَغْفِــرْ َوَوَسُِّـعْ

ْ

مُ ـدْخََ َ وَاغْسِ ـ بِالْمَْ ـاءِ وَالُثلَّْ ـجِ وَال ـبَرَدُِ وَنَقِّ ـهِمِ نْ الْخَطَُايَ ْـا كَمَـا نَُقَّيْـتَ الثَّّـوْبَ الْأَبْيَـضَ مِـنْ

ا               سَِ وَأبَْدِ دَارًا خَيرْاً مِـنْ دَارِهِ وَأهَْـلًا خَ يرْاً مِ نْ

أهَْ ِ ِ وَزَوْجًا خَُيرْاً مِنْ زَوْجِهِ وَأدَْخِ ُ الجَنَّ ةَ وَأعَِـذْهُمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أوَْ مِ نْ عَ ذَابِ النَّ ارِ

“Saya hafal doa beliau Saw (saat salat jenazah), beliau Saw berdoa, “Ya Allah, ampunilah dan kasihilah dia (jenazah), berilah dirinya maaf dan maafkanlah dosanya; muliakanlah kedatangannya, lapangkanlah tempatnya, basuhlah dengan air, salju, dan air es dan sucikanlah dirinya dari kesalahankesalahan, sebagaimana Engkau mensucikan baju putih dari kotoran. Dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, dan gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah isterinya dengan isteri yang lebih baik, dan masukkanlah dirinya ke dalam surga, dan lindungilah dirinya dari siksa kubur, atau dari siksa api neraka.

 Mengucapkan salam. Setelah selesai berdoa pada takbir yang keempat, ditutup dengan mengucapkan salam, yakni: “As-sal mu’alaikum wa rahmatullah”.[cp]

 

Praktek Salat Jenazah

Praktek Salat Jenazah – Salat jenazah bisa dilakukan atas seorang, dua orang, atau banyak jenazah.  Salat jenazah boleh dilakukan secara bergiliran.  Jika kelompok pertama selesai menyalatkan, barulah kemudian kelompok kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Disunnahkan mengerjakan salat jenazah berjama’ah. Jika salat jenazah dilakukan dengan berjama’ah, maka jenazah diletakkan secara melintang di depan imam, dengan posisi kepala jenazah di sebelah kanan imam.   Imam mengambil posisi menghadap kepala jenazah, jika jenazahnya laki-laki. Jika jenazahnya perempuan, imam mengambil posisi menghadap perut jenazah. Setelah imam dan makmum berdiri menghadap kiblat dan meluruskan shaf, maka salat jenazah bisa dimulai.  Setelah itu, setiap peserta salat jenazah berniat salat jenazah karena Allah. Mengucapkan takbir pertama, “All hu akbar”. Setelah mengucapkan takbiratul- ihr m, baik imam dan makmum membaca surah Al-Fatihah. Setelah selesai membaca surah Al-Fatihah, disambung dengan mengucapkan takbir kedua, “All hu akbar”.  Setelah itu membaca salawat atas Nabi Muhammad Saw:

                الَلَّ           ُ صََِّلِّ عَ        محَُمَّ دٍ وَعَََ الَِ محَُمَّ دٍ

 Setelah selesai membaca shalawat atas Nabi Mohammad Saw, dilanjutkan dengan mengucapkan takbir ketiga, “All hu Akbar”.

tata cara pengurusan jenazah

Salat Jenazah Bagi Anak Kecil

Jika yang meninggal adalah anak kecil yang belum berumur empat bulan, maka ia hanya dimandikan saja dan tidak disalati, dikafani dan dikuburkan.  Namun jika sudah berumur empat bulan, lahir, dan keluar tangisnya, maka menurut sebagian fuqaha ia harus disalatkan, jika tidak maka ia tidak disalatkan.

Pendapat ini diketengahkan oleh ulamaulama mazhab Hanafiyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, An-Auza’iy dan Al-Hasan. Sedangkan menurut Imam Ahmad, Sa’id bin Jabir dan Ishaq, ia harus dimandikan dan disalatkan, sebab bayi itu telah memiliki ruh. Selesai mengucapkan takbir ketiga, dilanjutkan dengan membaca doa untuk jenazah; minimal membaca:

                الَلّـَّــ ُ ّ اَغْـــفِرْ َ ُ وَارْ        ـْـهُ وَعَافِـِـهِ وَاعْــفُ عَنـْـهُ

“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, dan berilah ia maaf, dan ampunilah dosa-dosanya”  Setelah selesai membaca doa di atas, dilanjutkan dengan mengucapkan takbir keempat, “All hu Akbar”.  Lalu membaca doa:

                الَلّـ ُ ِّ َلَاَتَحْرِمْنـَاأجَْرهُ وَلاَتَفْتِنـَا بَعْـدَه وَُاغْفِرْلنَـَاوَ َ

“Ya Allah, janganlah Engkau mencegah kami, pahalanya,ُ dan janganlah Engkau membuat fitnah kepada kami, sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dirinya”. Setelah selesai membaca doa ini, dilanjutkan dengan mengucapkan salam, “Assal mu’alaikum warahmatull h”, diiringi dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.

Doa Setelah Selesai Salat Jenazah

Setelah salat jenazah hendaknya berdoa dengan doa-doa yang dituntunkan oleh Nabi Saw (Al-ma‘  ur).  Doa-doa berikut ini sangat baik dibaca setelah mengerjakan sholat jenazah:

الَلـَّـ           ّ عََبْــدُك وََابْــن عَبْــدِك وََابْــن أمََّتِــكَ شَْــهَدُ أنَْ لاَإِ َ إِلاَُّ اﷲ وَُحْــدَكَ لاَ شَُــرِيْكَ لـَـكَ وَ شَْــهَدُ أنََّ محَُمَّــداًعَبَْــــدُكَ وَرَسُــــوْلكُْأصَْــــبَحَ فـَـــقِيرْاً إِ            رَ             تِــــكَوَأصَْـــبَحْتَ غَنيِـــا عًَـــنْ عَذَابِـــهِ، تَخَـــ َّ مِـَــنَ اَ     نُْيَـــاوَأهَْلِهَا، إِنْ كَانَ زَاكِيا فًزََكِّ ه، وَإِنْ كَ انَ مخُْطِئ ا فً اغْفِرْ

َ ُ، الَلَّ ــ ُ لَاَ ِّتَحْرِمْنَ ــا أجَْ         َــرُه وَُلاَ تضُِ ــلّنَا َبَعْ ــدََهُ

“Ya Allah, hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak dari umat-Mu, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Engkau, Engkau adalah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan ia bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.  Dia sangat membutuhkan rahmat-Mu, dan Engkau Maha Kaya untuk tidak menyiksanya. Dia telah meninggalkan dunia dan keluarganya.  Jika ia suci, maka sucikanlah dia, jika dia bersalah, maka ampunilah dirinya.  Ya Allah, janganlah Engkau mengharamkan kami dari pahalanya, dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya”. [HR Imam Hakim]. Selain doa di atas, masih banyak doa-doa lain yang diajarkan oleh Nabi Saw.[cp]

Perlakuan Terhadap Orang yang Baru Meninggal Dunia

Perlakuan Terhadap Orang yang Baru Meninggal Dunia – Bila  tanda-tanda kematian telah tampak pada diri seseorang, maka berlakulah kepadanya hukum-hukum tentang kematian.  Kewajiban seorang muslim terhadap orang yang telah meninggal adalah sebagai berikut:

tata cara pengurusan jenazah

  1. Menutup Matanya dan Mendoakannya. Jika seseorang telah meninggal dunia, maka matanya dipejamkan, dan mulutnya dikatupkan dengan mengusapkan tangan kanan ke atas kedua mata dan mulutnya, kemudian mendoakannya. Ketentuan ini didasarkan pada perilaku Rasulullah Saw, tatkala mendapati jenazahnya Abu Salamah. Dalam sebuah riwayat dituturkan bahwa, Rasulullah Saw masuk ke rumah Abu Salamah yang waktu itu masih terbuka matanya. Rasulullah Saw segera memejamkan mata Abu Salamah, seraya bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya bila nyawa itu telah dicabut, maka akan diikuti oleh matanya.” Mendengar sabda Rasulullah Saw tersebut, keluarganya menangis dengan keras sekali.   Rasulullah Saw pun berkata, “Janganlah kamu sekalian berdoa untuk dirimu sendiri kecuali dengan yang baik-baik, sebab sesungguhnya malaikat itu mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” Beliau lantas berdoa, “Allahummagfir li Abi As-Salamah, wa irfa’ darajatuhu fi mahdiy n wa ukhlufhu f ‘aqibihi f  algabir n, wa igfirlan  wa lahu ya Rabb al-‘alam n, wa ifsah lahu fi qabrihi wa nawwir lahu f hi” (Ya Allah, ampunilah dosa Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan yang mendapat petunjuk, berilah keturunan yang baik di belakang hari, ampunilah dosa kami, dan dosanya, Ya Rabb Semesta Alam, lapangkanlah kuburnya dan terangilah ia di dalam kuburnya)”  [HR Muslim dari Umu Salamah]
  2. Menutup Mayat dengan Kain hingga Menyelimuti Seluruh Tubuhnya. Jika seseorang telah benar-benar meninggal, maka jenazahnya harus ditutup dengan kain hingga menyelimuti seluruh tubuhnya. Ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Ra. Beliau berkata, “Ketika wafat, jenazah Rasulullah Saw ditutup dengan kain selimut berwarna hitam.”[HR AsySyaikh n, Al-Baihaqi, dan lain-lain]Adapun orang yang meninggal dunia dalam keadaan ihram, maka muka dan kepalanya tidak usah ditutup. Ketentuan semacam ini didasarkan pada hadis dari Ibnu ‘Abbas, dimana ia berkata, “Ketika seorang pria berhenti di Arafah, tiba-tiba ia terlempar dari tunggangannya hingga meninggal dunia.” Rasulullah Saw bersabda, “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, lalu kafanilah dengan dua pakaian (dalam riwayat lain dinyatakan dengan dua pakaiannya), jangan dimumi (dalam riwayat lain disebutkan, jangan diberi wangi-wangian), dan jangan ditutup kepala dan mukanya.  Sebab, ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan membaca talbiyah.” [HR Asy-Syaikh n, Abu Naim, dan Al-Baihaqi]
  3. Menyegerakan Penyelenggaraan Jenazahnya. Lebih utama jika penyelenggaraan jenazah dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, “Segerakanlah penyelenggaraan jenazah! Apabila ia seorang yang salih maka kamu telah menyegerakannya menuju kebaikan, apabila ia seorang yang jahat maka kamu mengusung sesuatu yang paling buruk di pundakmu.” [HR Bukhari & Muslim]. Mayat hendaknya segera dimandikan, kemudian ditutup dengan kain kafan. Orang-orang yang memandikan mayat hendaknya dipilih dari keluarga dan kerabat sendiri. Selain lebih utama, hal ini untuk menjaga dari orang-orang yang tidak amanah dan suka menceritakan aib atau cacat yang dilihatnya pada diri mayat saat memandikannya.
  4. Menyembunyikan Rahasia Mayat. Seseorang dilarang menceritakan cacat atau rahasia mayat yang dilihatnya, saat ia memandikan mayat. Lebih utama jika ia merahasiakannya dan tidak menceritakan rahasia mayat tersebut kepada orang lain. Selain untuk menjaga kesucian dan kehormatan mayat, hal ini juga untuk menjaga kehormatan keluarga mayat.  Jika seseorang menceritakan rahasia mayat kepada orang lain, dan keluarga mayat mengetahuinya, tentunya mereka akan tersinggung dan sakit hati.   Untuk itu, Rasulullah saw memerintahkan siapa saja yang memandikan mayat untuk merahasiakan apa yang dilihatnya dari mayat. Dari Abu Rafi’ Aslam, pelayan Rasulullah Saw dikisahkan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, yang artinya: “Barangsiapa memandikan mayat, kemudian ia menyembunyikan rahasianya, kelak Allah mengampuni dosanya sebanyak empat puluh kali.” [HR Al-Hakim].
  5. Menyegerakan Pelunasan Hutang-hutangnya. Keluarga dan ahli waris mayit, harus segera melunasi hutang-hutang si mayit, walaupun itu akan menghabiskan harta warisnya. Jika orang tersebut tidak memiliki harta hendaknya, penguasa membayar lunas hutang-hutang si mayit. Abu Hurairah Ra berkata, yang artinya: “Jiwa seorang Mukmin tergadai dengan hutang-hutangnya, tidak akan bebas hingga dilunasinya.” [HR Tirmizi]
  6. Mengqa a Na ar Jenazah Oleh Walinya. Wali wajib mengqadla nazar jenazah. Jika orang yang meninggal bernazar, kemudian ia keburu meninggal dunia sebelum sempat mengerjakan nazarnya, maka wali jenazah berkewajiban menunaikan nazarnya. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda, yang artinya: “Barangsiapa mati, sementara itu ia harus berpuasa, maka walinyalah yang berpuasa untuknya.” [HR Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah Ra]. Dari Ibnu ‘Abbas dituturkan, bahwasanya ia berkata, “Ada seorang perempuan berlayar mengarungi lautan, dan bernazar, Jika Allah Swt menyelamatkannya, maka ia akan berpuasa sebulan lamanya. Allah Swt menyelamatkannya, akan tetapi, belum sempat ia mengerjakan puasa itu, perempuan itu meninggal dunia. Lalu, datanglah keluarganya (entah saudarinya atau putrinya) kepada Nabi Saw, dan menuturkan kejadian itu kepada beliau Saw.   Nabi bertanya, “Bagaimana pendapatmu, jika wanita itu memiliki hutang, kemudian anda yang melunasi hutangnya?  Wanita itu menjawab,”Ya (saya akan membayarnya).”   Beliau bersabda lagi, “Tentunya, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.  Maka lunasilah nadzar ibumu.” [HR Abu Dawud, An-Nasa’i][cp]

Cara Mengkafani Jenazah

Cara Mengkafani Jenazah – Setelah jenazah selesai dimandikan dan dikeringkan dengan handuk, kewajiban berikutnya adalah mengkafani jenazah.  Ketentuan dalam hal mengkafani jenazah adalah sebagai berikut:

tata cara pengurusan jenazah

  • Mengkafani jenazah sedikitnya dengan menggunakan satu lapis kain yang bisa menutupi seluruh tubuh jenazah.  Jika tidak bisa menutup seluruh anggota tubuh, hendaknya ditutup terlebih dahulu bagian kepalanya.
  • Kain kafan disunnahkan berwarna putih bersih dan diberi wangi-wangian.  Namun, jika kain putih tidak ada, boleh menggunakan kain dengan warna apa saja.  Imam Abu Dawud dan Tirmizi menuturkan sebuah hadis dari Ibnu ‘Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:  “Kenakanlah pakaian yang berwarna putih. Sebab, pakaian berwarna putih adalah sebaik-baik pakaian untuk kalian.  Dan kafanilah orang-orang yang meninggal di antara kalian dengan kain berwarna putih”.[HR Imam Abu Dawud dan Tirmi  i].
  • Untuk jenazah laki-laki, disiapkan 3 lapis kain kafan panjang dan lebar yang bisa menutup seluruh tubuh, dan 2 kain yang dibentuk seperti baju kurung dan serban. Caranya menyusun kain kafan untuk laki-laki adalah sebagai berikut; Diletakkan terlebih dahulu, tali pengikat kain kafan sebanyak empat buah yang letaknya diperkirakan tepat di kepala, tangan, lutut, dan mata kaki jenazah. Setelah itu diletakkan kain panjang sebanyak tiga lapis. Masing-masing lapis kain, hendaknya ditaburi dengan kapur barus atau wangi-wangian lainnya. Lalu, di atas lapis yang ke-tiga diletakkan baju kurung dan serban yang dikenakan kepada jenazah. Setelah itu, jenazah mengenakan baju kurung dan serban, mayat dibungkus dengan kain tiga lapis tadi, hingga sempurna menutup seluruh anggota tubuh. Setelah itu, kain kafan diikat dengan ikatan yang telah disiapkan, yakni di bagian kepala, tangan, lutut, dan mata kaki.
  • Untuk jenazah wanita disiapkan 2 lapis kain putih panjang dan lebar yang bisa menutup seluruh anggota tubuh, 1 kain yang dibentuk menjadi sarung, 1 buah baju kurung, dan 1 buah kerudung. Tata cara mengkafaninya sama seperti di atas.

Setelah jenazah selesai dikafani, hendaknya diletakkan di atas meja atau dipan panjang agar mudah dibawa dan disalatkan.[cp]

Cara Memandikan Jenazah

Cara Memandikan Jenazah – Syarat-syarat Jenazah yang akan Dimandikan Jenazah yang hendak dimandikan harus memenuhi syaratsyarat berikut ini: Jenazah tersebut meninggal dalam keadaan Muslim. Jika seseorang meninggal dalam keadaan murtad dari Islam, maka tidak berlaku bagi mereka ketentuan penyelenggaraan jenazah menurut syariat Islam. Ada tubuhnya, meskipun potongan daging.  Jika jasadnya hilang atau lenyap tak tersisa, tidak ada kewajiban untuk memandikannya. Meninggal bukan karena perang di jalan Allah (mati syahid).  Orang yang mati karena perang di jalan Allah, tidak boleh dimandikan, akan tetapi langsung dikuburkan bersama dengan bajunya.

tata cara pengurusan jenazah

Alat-alat yang Harus Disiapkan

  • Meja besar untuk meletakkan jenazah
  • Bak atau ember besar untuk menampung air
  • Sabun dan kapur barus
  •   Selang air, gayung, sikat halus, kain penyeka, dan spons
  • Kain tirai untuk menutupi jenazah dan tempat pemandian mayat agar tidak dilihat orang banyak.

Tata Cara Memandikan Jenazah

  • Membersihkan semua najis yang ada di badannya.  Jika memungkinkan, kotoran yang ada di dalam perut dikeluarkan dengan cara menekan perut jenazah, atau mengambilnya melalui dubur.
  • Setelah najis yang ada di badan dibersihkan, meratakan (mengguyurkan) air ke seluruh tubuh jenazah sebanyak tiga kali.  Jika dirasa masih kurang, boleh diguyur lebih dari tiga kali.
  • Pada guyuran (siraman) yang pertama, jenazah dibersihkan dengan sabun hingga merata seluruh tubuhnya.
  • Pada guyuran kedua, jenazah diguyur dengan air bersih untuk menghilangkan sisa-sisa busa sabun yang masih melekat di badan.
  • Setelah tidak ada sabun yang tersisa, pada guyuran ketiga, jenazah diguyur dengan air yang telah dicampur dengan kapur barus.
  • Ketika memandikan jenazah, yang didahulukan adalah anggota-anggota wudlu’ terlebih dahulu, yakni, muka, tangan, kepala, dan kaki.  Setelah anggota wudlu’ dibersihkan, barulah kemudian membersihkan seluruh anggota tubuh.  Bagian belakang tubuh jenazah, seperti punggung dan pantat, dibersihkan dengan cara memiringkan tubuh mayat ke kiri dan ke kanan, lalu dibersihkan.
  • Dalam memandikan jenazah, disunnahkan mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan.

Ketentuan Umum Bagi Orang yang Memandikan Jenazah

  • Laki-laki memandikan jenazah laki-laki, dan perempuan memandikan jenazah perempuan.  Seorang wanita boleh dimandikan oleh mahramnya yang laki-laki.  Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi Saw, “Jika kamu (‘Aisyah Ra) meninggal lebih dahulu sebelum saya, saya akan memandikanmu”. [HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah].
  • Orang yang memandikan jenazah hendaknya dipilih dari kalangan keluarga terdekat yang bisa dipercaya dan fakih dalam urusan agama.
  • Suami diperbolehkan memandikan jenazah isterinya, begitu juga sebaliknya, seorang isteri boleh memandikan jenazah suaminya.  Ketentuan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Daruqutni dari Asma’ binti Umaisy Ra, bahwasanya Fatimah Ra berwasiat supaya Ali Ra memandikannya apabila meninggal dunia”. [HR Imam Daruqutni].
  • Orang yang memandikan jenazah dilarang menceritakan aib atau cacat tubuh dari jenazah.  Larangan ini didasarkan pada sabda Nabi Saw, “Barangsiapa memandikan jenazah dan dijaganya kepercayaan dan tidak membuka rahasia sesuatu yang cacat pada jenazah kepada orang lain, maka keluarlah dia dari segala dosa sebagaimana keadaannya sewaktu baru dilahirkan dari ibunya”.  Nabi bersabda kembali, “Hendaklah yang mengaturnya adalah keluarga sendiri yang terdekat jika mereka bisa memandikan jenazah.  Jika tidak bisa, maka, hendaknya dimandikan oleh orang yang hati-hati (wara’) dan amanah”. [HR Imam Ahmad][cp]

 

Doa dan Niat Puasa Sunnah Lengkap

Doa dan Niat Puasa Sunnah Lengkap – Setelah mengetahui mengenai Jadwal Puasa Sunnah Tahun 2016, maka pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share artikel mengenai Doa atau Niat Puasa Sunnah Lengkap. Puasa sunnah adalah menahan diri dari makan minum serta hal-hal yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari, bagi yang melaksanakannya mendapat pahala dan bagi yang meninggalkannya tidak mendapat dosa.

puasa sunnah

Puasa hari Senin dan Kamis

Amal perbuatan seorang hamba akan diaudit (diperiksa) setiap hari Senin dan Kamis. Karena itu, alangkah mulianya seorang hamba jika ketika datang hari audit keadaannya tengah berpuasa. (HR. Tirmidzi)

Niat Puasa Senin – Kamis

نويت صوم يوم الاثنين سنة لله تعالى

” NAWAITU SAUMA YAUMUL ISNAIN SUNNATAN LILLAHI TA’ALA

Artinya :

“ Saya niat puasa hari Senin, Sunnah karena Allah ta’ala.”

Puasa 6 (enam) hari dalam bulan Syawal

Puasa ini dilaksanakan pada bulan Syawal setelah Ramadhan, yakni tanggal 2-29 Syawal (HR. Muslim). Puasa ini dilaksanakan selama enam hari. Tak ada satu keterangan pun yang menjelaskan apakah puasa tersebut dikerjakan berturut-turut atau terpisah-pisah. Hal ini menunjukkan bahwa kita diberi kebebasan untuk menentukan sendiri (apakah mau berturut-turut atau terpisah-pisah), itu semua bergantung pada situasi dan kondisi per individu, yang penting harus dilakukan pada bulan Syawal.

Niat Puasa Syawwal

 نويت صوم شهر شوال سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAWWAL SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH

Artinya :

“ Saya niat puasa bulan Syawwal , sunnah karena Allah ta’ala.”

Puasa Tasu’a dan Asyura

Puasa Tasu’a dan Asyura dilaksanakan tanggal 9 dan 10 bulan Muharam. Puasa ini termasuk berpahala besar. Rasulullah SAW bersabda: Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Muharam. Puasa Asyura menghapus dosa tahun lalu. Sebelumnya Rasulullah SAW telah melaksanakan shaum pada tanggal 10 Muharam (asyura). Namun sebelum meninggal, beliau berniat melaksanakan shaum pada tanggal 9. Sabda Rasulullah SAW: Apabila tahun depan telah tiba, insya Allah kita berpuasa juga pada hari kesembilan. Walaupun beliau belu sempat melaksanakannya (HR. Muslim). Sunah semacam ini dikalangan ahli fikih dinamakan sunah hamiyah (cita-cita/rencana) Nabi SAW yang tidak sempat beliau laksanakan.

Niat Puasa Bulan Muharram (Puasa ’Asyura)

نويت صوم عشر سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ‘ASYURA LILLAHI TA’ALA

Artinya :

“ Saya niat puasa hari ’Asyura , sunnah karena Allah ta’ala.”

Puasa selang sehari/Shaum Daud

Rasulullah SAW bersabda: Puasa yang paling disenangi Allah SWT ialah puasa Nabi Daud dan shalat yang paling dicintai Allah SWT adalah shalat Nabi Daud. Ia tidur separo malam, bangun untuk ibadah sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Nabi Daud puasa sehari dan berbuka sehari. Dan inilah shaum yang paling tangguh karena menuntut stamina yang sangat prima. (HR Muslim, Sahih Musim bi Syarjhi al-Nawawi)

Niat Puasa Daud

نويت صوم داود سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA DAWUD SUNNATAN LILLAHI TA’ALA

Artinya :

“ Saya niat puasa Daud , sunnah karena Allah ta’ala

Mohon koreksinya jika ada salah penulisan dari kumpulan doa-doa Niat Puasa Wajib dan sunnah baik itu niat puasa Ramadhan , niat puasa Sunnah, niat puasa Syawal, niat puasa Dzulhijjah Arofah Tarwiyah ,niat puasa Qadha , niat puasa Asyura , niat puasa Rajab , niat puasa Senin Kamis , niat puasa Sya’ban, niat puasa Daud tersebut diatas.

Semoga diberkah dan diridhoi oleh Allah SWT atas niat dan ibadah puasanya , Aamiin Yaa Robal’alamin

Puasa bulan Sya’ban

Rasulullah SAW: tidak pernah berpuasa sebanyak puasanya di bulan Sya’ban. Beliau pernah berpuasa sepenuhnya atau sebagian besar dari hari-harinya.Rasulullah SAW suka meningkatkan frekuensi shaum sunah pada bulan Sya’ban (HR. Bukhari dan Muslim).

Sya’ban adalah bulan kedelapan pada penanggalan tahun hijriah, sementara Ramadhan bulan kesembilan. Jadi Sya’ban posisinya sebelum Ramadhan.Maksudnya Rasulullah SAW shaum secara penuh selama satu bulan hanya di bulan Ramadhan. Sementara , bulan Sya’ban adalah bulan yang paling banyak diisi dengan shaum sunnah oleh Nabi SAW, seperti shaum senin-kamis, shaum daud, dll.

Niat Puasa Sya’ban

نويت صوم شهر شعبان سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAHBAN LILLAHI TA’ALA

Artinya :

“ Saya niat puasa bulan sya’ban , sunnah karena Allah ta’ala.”

Puasa pada hari-hari putih/Shaum 3 hari setiap bulan

Yang dimaksud dengan hari-hari putih adalah hari yang siangnya memang terang dan malamnya pun terang bulan. Hari-hari putih itu adalah tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah.Shaum tiga hari setiap bulan seperti shaum sepanjang tahun (HR. Bukhari dan Muslim). Shaum ini dilaksanakan setiap tanggal 13, 14, 15 setiap bulan di tahun Hijriah (HR Tirmidzi).

Puasa Arafah

Shaum Arafah adalah shaum yang dilaksanakan pada sembilan Dzulhijjah. Disebut shaum arafah karena waktu pelaksanaannya bertepatan dengan kaum muslim yang tengah melakukan wukuf di Arafah (HR. Abu Daud dan Nasa’i). Bagi orang yang tidak melaksanakan haji, disunahkan untuk shaum, sedangkan bagi yang tengah melaksanakan haji, dilarang shaum. Shaum arafah dapat menghapus dosa dua tahun yaitu setahun yang lalu dan yang tersisa (HR Muslim)

Niat Puasa Bulan Dzulhijjah (Puasa Tarwiyah & ‘Arafah).

نويت صوم ترويه سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH

Artinya :

“ Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.”

نويت صوم عرفة سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH

Artinya :

“ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”

Puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dihitung dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 9. Hari tanggal 9 Dzulhijjah itu disebut hari Arafah dan puasanya disebut puasa Arafah, karena jamaah haji pada hari itu sedang melaksanakan wuquf di Arafah. Jadi pada bulan Dzulhijjah seseorang dapat puasa 9 hari, termasuk di dalamnya puasa tarwiyah dan puasa Arafah.

Puasanya orang bujangan yang belum mampu menikah

Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang tidak kuasa untuk menikah, hendaklah ia puasa karena puasa itu menjadi penjaga baginya.[cp]

Contoh Surat Pernyataan

Contoh Surat Pernyataan adalah surat yang dibuat oleh seseorang yang berisi pernyataan dirinya atau menerangkan orang lain bahwa orang tersebut pernah atau tidak pernah melakukan sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari surat pernyataan sering dibuat oleh seseorang untuk melengkapi surat lamaran pekerjaan atau untuk keperluannya setelah dia pendidikan atau bekerja dalam suatu instansi tertentu. Dalam urusan dinas, seseorang pimpinan sering juga membuat surat pernyataan yang isinya menerangkan tentang anak buah atau bawahannya. Surat pernyataan dinas mempunyai bentuk, fungsi, dan penyusunan yang relative sama dengan surat keterangan.

Manfaat Surat Pernyataan

  1. Bagi si penerima, surat pernyataan berfungsi sebagai alat bukti meminta pertanggungjawaban pihak yang menulis jika ia menempati, atau apa yang dinyatakannya ternyata tidak benar.
  2. Bagi si pembuat, surat pernyataan berfungsi sebagai alat bukti penguat untuk diakui pihak lain, bahwa dirinya benar-benar seperti apa yang dinyatakan dalam surat tersebut. Oleh karena itu surat lamaran pekerjaan bagi pegawai negeri, biasanya dilampiri berbagai surat pernyataan.
  3. Bagi pihak yang dinyatakan, surat pernyataan berfungsi sebagai alat pengukuhan atau menguatkan keadaan pihak yang diterangkan/ dinyatakan, baik dalam keadaan positif maupun negatif. Jika surat pernyataan itu dibuat oleh pihak lain.

Mengenai susunannya, surat pernyataan terbagi menjadi tiga bagian pokok, yaitu:

surat

Nama surat pernyataan, biasanya ditulis centering atau di tengah-tengah dengan huruf kapital semua.

Isi pernyataan, meliputi beberapa hal.

  1. identitas pihak yang menyatakan
  2. isi pernyataan berupa kesungguhan dalam menyatakan sesuai dengan kenyataan yang ada,
  3. identitas pihak yang menyatakan jika surat pernyataan itu dibuat oleh pihak lain.

Penutup pernyataan, meliputi hal-hal:

  • tempat dan tanggal dibuatnya surat,
  • identitas yang membuat surat: a) nama terang; b) tanda tangan; c) keterangan lain (NIP, dan sebagainya).

Cara Pembuatan Surat Pernyataan

Surat pernyataan dibuat dengan menggunakan kertas HVS tanpa menggunakan kop surat dan ditandatangani oleh pegawai yang bersangkutan atau nama kelompok di atas materai Rp 500,- (disesuaikan dengan aturan bea materai).

Contoh Surat Pernyataan

 

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama Lengkap :

Tempat / Tanggal Lahir :
Jenis Kelamin :
No. KTP :
Alamat Lengkap :

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa :

  1. Hingga saat ini saya tidak terikat kontrak atau ikatan kerja dengan perusahaan / instansi manapun.
  2. Bersedia ditempatkan di cabang perusahaan manapun di seluruh Indonesia
  3. Bersedia bertugas dalam kurun waktu yang telah ditentukan
  4. Tidak mengundurkan diri sebelum berakhirnya masa kontrak dengan alasan apapun
  5. Tidak akan mengambil cuti selama masa tugas

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun. Apabila dikemudian hari ternyata melanggar atau pernyataan ini tidak benar maka saya siap menerima segala konsekuensinya sesuai dengan hukum yang berlaku.

Jakarta, 14 September 2014
Yang membuat pernyataan,

(materai 6000)

Nama Jelas

Tata Cara Berqurban Lengkap

Tata Cara Berqurban Lengkap – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share informasi mengenai Cara lengkap dalam melaksanakan ibadah qurban, yup salah satu yang disunnahkan Allah bagi orang Islam adalah mengadakan Qurban jika telah mampu untuk melaksanakan itu. Setiap tanggal 10 Dzul Hijjah, semua umat Islam yang tidak melaksanakan haji merayakan hari raya Idul Adha. Pada hari itu, umat Islam sangat disunnahkan untuk berqurban dimana mereka menyembelih hewan qurban untuk kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh umat Islam di suatu daerah. Lalu apakah sebenarnya Qurban itu? Dibawah ini akan dijelaskan secara lengkap.

sapi qurban

Qurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat (قربان). Kurban juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

Tata Cara Melaksanakan Ibadah Qurban

Adapun tata cara penyembelihan hewan kurban sebagai berikut :

  1. Mengucapkan nama Allah swt, firman-Nya,”Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya.” (QS. Al An’am : 118) Didalam Shohihain disebutkan bahwa Rasulullah saw menyebut bismillahirrohmanirrohim saat menyembelih kurbannya.
  2. Shalawat atas Nabi saw sebagaimana disebutkan Imam Syafi’i… Allah swt mengangkat penyebutannya saw dan tidaklah disebutkan nama Allah kecuali dengan disebutkan juga namanya saw.
  3. Menghadapkan sembelihan kearah kiblat, dikarenakan kiblat adalah arah terbaik dan Rasulullah saw menghadapkan sembelihannya ke arah kiblat saat menyembelih.
  4. Mungucapkan takbir sebagaimana riwayat dari Anas bahwa Rasulullah saw menyembelih dua ekor gibas yang baik dan bertanduk dengan tangannya sendiri yang mulia dengan menyebut nama Allah dan bertakbir.” (HR. Bukhori Muslim)
  5. Berdoa, disunnahkan mengucapkan,”Allahumma minka wa ilaika fataqobbal minniy.—Ya Allah ini dari Engkau dan kembali kepada-Mu maka terimalah kurban dariku ini” maksudnya adalah nikmat dan pemberian dari-Mu dan aku mendekatkan diriku kepada-Mu dengannya. Berdasarkan dalil bahwa Rasulullah saw berkata saat menyembelih dua gibas itu,”Allahumma taqobbal min Muhammadin wa aali Muhammadin.” (Kifayatul Akhyar juz II hal 148)

Ada juga yang mengatakan disunnahkan mengucapkan,”Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathoros samawati wal ardho haniifan wama ana minal musyrikin, Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin, laa syariika lahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimin.” dan tatkala mengelus-elusnya haruslah mengucapkan basmalah dan takbir,”bismillah wallahu akbar Allahumma hadza minka wa laka.” (Minhajul Muslim hal 236)

Sabda Rasulullah saw,”Wahai Fatimah, bangkitlah dan saksikanlah penyembelihan hewan qurbanmu! Sesungguhnya sejak tetes darah pertama qurbanmu, Allah swt telah mengampuni dosa yang kamu perbuat. Katakanlah, Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin, laa syariika lahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimin. ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanya umtuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikianlah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama dari orang-orang yang pertama dari orang-orang yang menyerahkan diri kepada-nya.” (HR al Hakim)

Sedangkan syarat-syarat kurban adalah :

  1. Usianya; hewan kurban yang berupa domba yang dianggap layak adalah yang berumur setengah tahun, kambing berumur satu tahun, sapi berumur dua tahun, dan unta berumur lima tahun. Semua hewan itu tidak dibedakan apakah jantan atau betina. Hal itu berdasarkan dalil-dalil berikut. a. Riwayat dari Uqbah bin Amir, ia berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah,’Wahai Rasulullah saw aku memiliki jadza’ kemudian Rasulullah saw menjawab,’Berkurbanlah dengannya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Jadza’ menurut Abu Hanifah adalah kambing/domba yang berumur beberapa bulan, sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa kambing yang berumur satu tahun, inilah yang paling shohih. b. Sabda Rasulullah saw,”Janganlah kalian berkurban kecuali yang telah berumur satu tahun ke atas. Jika hal itu menyulitkanmu maka sembelihlah jaza’ kambing.” (QS. Muslim) –(Fiqhus Sunnah edisi terjemah juz IV hal 294 – 295)
  2. Tidak ada cacat (aib) pada hewan kurban seperti, picak matanya, pincang, patah tanduknya, terpotong kupingnya, tidak sakit, tidak terlalu kurus, berdasarkan sabda Rasulullan saw,”Empat jenis jenis hewan yang tidak boleh dikurbankan : Yang tampak jelas picak matanya, yang tampak jelas penyakitnya, yang pincang sekali, dan yang kurus sekali.” (QS. Tirmidzi)
  3. Yang paling utama dari hewan kurban adalah gibas (domba) yang kuat, bertanduk dan berwarna putih kehitam-hitaman disekitar kedua matanya dan juga di badannya, berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah saw menyembelih hewan yang seperti itu. Aisyah ra mengatakan,”Sesungguhnya Nabi saw pernah berkurban seekor gibas yang bertanduk ada warna hitam di badannya, ada warna hitam di kakinya dan ada warna hitam di kedua matanya.” (QS. Tirmidzi) Tentunya ini adalah yang paling utama dan bukan berarti hewan yang akan dikurbankan harus seperti ini, karena hal itu pasti menyulitkan bagi setiap orang yang ingin berkurban.

Hukum Meminta Sepertiga Daging

Orang yang berkurban disunnahkan untuk memakan dagingnya, membagikannya kepada karib kerabat, serta menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Makanlah olehmu, simpanlah dan sedekahkanlah.” (HR. Tirmidzi). Jadi dari hadits tersebut bisa disimpulkan bahwa diperbolehkan bagi orang yang berkurban untuk meminta yang sepertiga karena memang itu menjadi hak atau bagian untuknya atau menyedekahkan seluruhnya tanpa mengambil bagian sedikitpun darinya.

Hukum Berkurban

Ibadah menyembelih hewan kurban merupakan sunnah muakkadah (tidak ada dosa bagi orang yang tidak melaksanakannya) menurut para ulama diantaranya Imam Malik dan Syafi’i. Dan diantara dalil-dalil mereka adalah:

  1. Firman Allah swt,”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS Al Kautsar : 2)
  2. Sabda Rasulullah saw,”Jika kalian telah melihat bulan dzulhijjah, hendaklah salah seorang diantara kalian berkurban..”(HR. Muslim)
  3. Riwayat dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melaksanakan penyembelihan kurban untuk keluarganya karena takut dianggap sebagai suatu kewajiban. (Fiqhus Sunnah, edisi terjemah juz IV hal 294).[cp]

Contoh Naskah Siaran Radio

Contoh Naskah Siaran Radio – Sahabat sekalian pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai contoh Naskah siaran Radio, langsung saja disimak contoh naskah siaran radio dibawah ini:

Teks Siaran Radio

Selamat pagi para pendengar Radio Doski yang setia. Seperti biasa sore hari ini saya Astri, akan menemani Anda sampai 60 menit ke depan dalam acara Bagi-Bagi Informasi. Kali ini Astri ingin membagi informasi pada pendengar semua berkaitan dengan ”Kemajuan Teknologi Mainan”. Okay, sebelumnya dan sebagai pembuka acara pada pagi yang cerah ini, Astri persembahkan terlebih dahulu untuk Anda sebuah lagu berikut ini.

naskah siaran radio

Saudara pendengar, mudah-mudahan Anda masih tetap setia pada frekuensi 98,7 FM Radio Doski yang dipancarkan di Jalan Melati 2 Bandung. Saudara, sebetulnya banyak anak-anak yang menyukai anjing sebagai binatang piaraannya, dibandingkan binatang lain, seperti kucing, ikan, burung, dll. Tapi, dengan berbagai pertimbangan seperti sudut pandang sosial, kesehatan, maupun religi, banyak orang tua tidak mengizinkan anak-anaknya memelihara anjing di rumah mereka. Tapi faktor yang dominan adalah memelihara anjing tidak semudah dan segampang binatang lainnya.

Saudara pendengar, sekarang Anda sebagai orang tua tidak perlu lagi khawatir atas keinginan putra-putri Anda untuk memelihara seekor anjing. PT Sony Elektronik baru-baru ini mengeluarkan produk baru, mainan anak-anak dengan teknologi canggih yang diberi nama Aibo. Aibo adalah seekor anjing elektronik atau robot berbentuk anjing sangat cerdas, yang dapat Anda hadiahkan kepada anak Anda pengganti anjing sesungguhnya. Saudara, seperti layaknya seekor anjing, bila kita sentuh bagian tertentu Aibo akan melakukan gerakan-gerakan yang lucu, seperti menggerak-gerakkan ekornya, menggonggong, mengangguk-angguk, dan lain-lain. karena pada bagian-bagian tertentu Aibo dilengkapi sensor khusus, sebagai alat kendali sehingga Aibo dapat bereaksi seperti halnya seekor anjing sesungguhnya.

Ada satu hal lagi saudara pendengar, Aibo dapat kita beri nama sesuai keinginan kita. Melalui suatu program khusus Aibo dapat mengenal suara seseorang yang dianggap majikannya. Aibo akan berjalan dan mendekati suara yang memanggilnya. Soalnya, Aibo dilengkapi sensor inframerah dan kamera digital di kepalanya, hingga dia tahu di mana asal suara berada. Seperti halnya seekor anjing sungguhan yang selalu setia mengikuti majikannya. Saudara sekalian, memang harga robot mainan ini cukup mahal untuk ukuran penghasilan orang Indonesia. Tapi demi kasih saying kita pada anak, kadang harga tidaklah menjadi penghalang, sebab mahal dan tidaknya sesuatu demi cinta kasih kita pada anak menjadi sangat relatif.

Baiklah saudara sebelum kita lanjutkan pada info-info berikutnya, Astri akan putarkan lagu kedua, untuk Anda semua pada pagi hari ini. Sebuah lagu kenangan, dan mudah-mudahan dengan lagu ini akan mengingatkan Anda akan masa lalu Anda yang bahagia.[cp]

Contoh Undangan Khitanan 2016

Contoh Undangan Khitanan 2016 –  Sahabat Sekalian, pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share artikel mengenai contoh Undangan Kithanan atau contoh Undangan Pengislaman. Khitan, adalah bentuk mashdar (kata dasar) dari khatana, yang artinya memotong. Al-Khitaan, Al-Ikhtitaan, adalah isim (kata benda) dari fi’il (kata kerja) al-khaatin, atau sebutan tempat yang dikhitan, yaitu kulit yang tersisa setelah dipotong. (Al-Isawi, 2008).menurut istilah khitan pada laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi ujung kemaluan laki-laki yang disebut dengan Qulfah, agar tidak terhimpun kotoran di dalamnya, dan juga agar dapat menuntaskan air kencing, serta tidak mengurangi nikmatnya jima’ suami isteri. Secara spesifik, beberapa ulama membagi khitan menjadi 2 jenis, yakni i’dzaar dan khafdh. Dan Imam Nawawi menyebutkan, bahwa i’dzaar itu khitan pada lelaki, sedangkan khafdh hanya khusus pada khitan wanita. Demikian pula, Al-Jauhari menyebutkan, bahwa kata khafdh memang dikhususkan untuk khitan pada wanita.

Berikut ini Contoh Undangan Khitanan Terbaru dan keren:

undangan khitanan

Untuk Mendownloadnya dalam versi word, silahan klik DISINI

Demikianlah artikel mengenai contoh undangan khitanan, semoga artikel ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[cp]