Takziyah (Melayat atau Menghibur)

Saturday, January 9th, 2016 - Umum
Advertisement

Takziyah (Melayat atau Menghibur) – Takziyah bisa dianggap sebagai salah satu cara untuk merekatkan hubungan persaudaraan dengan tetangga kita. Sebab, di dalam takziyah terdapat aktivitas mulia dan berfaedah untuk mendekatkan keluarga satu dengan keluarga yang lain. Selain itu, takziyah ditujukan untuk menghibur dan meringankan beban kesedihan atas meninggalnya orang-orang yang dicintai. Dengan kata lain, takziyah adalah obat mujarab untuk menghibur keluarga yang sedang dilanda kedukaan dan kesedihan.  Islam telah mensyariatkan takziyah bagi kaum muslim dengan hikmah yang hanya diketahui oleh Allah Swt.

Takziyah bisa menumbuhkan sifat-sifat peduli terhadap penderitaan orang lain, serta keinginan untuk selalu meringankan beban penderitaan dan kesusahan orang lain.   Untuk itu, takziyah harus dilakukan untuk tujuan-tujuan mulia ini.  Takziyah tidak boleh digunakan sebagai ajang untuk pamer, riya’, atau membebani keluarga orang yang baru meninggal.   Seharusnya, keluarga orang yang meninggal dunia akan terhibur dan tidak merasakan penderitaan lagi dengan adanya takziyah.

tata cara pengurusan jenazah

Takziyah disyariatkan berdasarkan hadis-hadis berikut ini. Qurrah al-Muzni Ra  menyatakan, “Bila Nabi Saw duduk, biasanya ada sekelompok sahabat yang duduk menemani beliau Saw.  Di antara sahabat yang duduk tersebut ada seorang laki-laki yang memiliki seorang anak laki-laki.  Ia datang kepada Rasulullah

Saw dengan membawa anak kecil tersebut di belakang punggungnya, kemudian didudukkannya di depannya. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Apakah engkau sangat mencintainya? Jawabnya, “Ya Rasulullah, Allah mencintai Anda sebagaimana aku mencintai anakku ini!”  Di kemudian hari anak itu meninggal dunia.   Laki-laki itu tidak hadir ke pertemuan, karena ingat kepada anaknya, hingga ia bersedih hati.   Rasulullah Saw mencarinya, lalu bersabda, “Kenapa saya tidak melihat si fulan?”  Para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, anaknya yang pernah engkau lihat meninggal dunia.”  Nabi Saw segera menemui laki-laki itu, dan beliau menanyakan kepadanya tentang anaknya.  Laki-laki itu memberitahu beliau Saw bahwa anaknya telah meninggal dunia. Beliau Saw menghiburnya, lalu bersabda, “Hai fulan!  Mana yang engkau sukai, engkau bersenang-senang dengan anakmu sepanjang umurmu, ataukah esok engkau tidak datang ke salah satu pintu surga, kecuali engkau mendapatkan anakmu itu telah mendahului engkau menuju salah satu pintu surga itu, lalu ia membukakannya untukmu.”  Laki-laki itu menjawab,”Ya Nabi Allah, ia mendahului saya menuju surga itu, lalu ia membukakannya untukku, inilah yang lebih aku sukai.”  Beliau bersabda, “Nah, itulah bagimu.”  Kemudian, seorang laki-laki An r bertanya, “Wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan aku sebagai fida’ anda, apakah itu khusus bagi dia, ataukah untuk kamu semua?”  Beliau menjawab, “Tidak, itu untuk kamu semua.” [HR Imam An Nas ’i dan Ibnu Hibban]

Dalam riwayat lain dituturkan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, yang artinya: ”Barangsiapa menghibur saudaranya yang beriman yang tengah dalam musibah, niscaya Allah memakaikan kepadanya perhiasan yang menyenangkan dirinya pada hari kiamat.”  Beliau ditanya, “Apa yang menyenangkan itu?” Beliau menjawab,”Sesuatu yang menggembirakan.”[HR Imam Kha ib Al-Bagdadi dalam Tarikh Bagdad, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq]

Hendaknya keluarga jenazah dihibur dengan hal-hal yang bisa menyenangkan hati dan menghilangkan kesedihan mereka.   Mereka hendaknya dibawa dalam suasana kegembiraan dan kesabaran. Memang benar, kesedihan dan kedukaan adalah dua hal yang lumrah dan manusiawi, akan tetapi, larut dalam kesedihan hingga melupakan kewajiban merupakan tindakan yang diharamkan oleh Islam. Untuk itu, seorang yang sedang dilanda kesedihan dan kedukaan harus dihibur dengan kata-kata yang menyenangkan namun tidak melanggar batas-batas syariat.

Ucapan Nabi Saw untuk Menghibur Keluarga Jenazah

Imam Nawawiy dalam kitab Al-Azkar mengetengahkan sebuah riwayat, dimana beliau berkomentar, bahwa riwayat ini sangat baik digunakan untuk menghibur.

Usamah bin Zaid RA berkata, “Sebagian putri-putri Usamah mengirim surat kepada Rasulullah Saw, bahwa anaknya lakilaki atau perempuan (dalam suatu riwayat ia bernama Amimah binti Zaenab) hampir meninggal dunia.   Selanjutnya kami melafazkan syahadat ke telinganya.”  Zaid berkata, “Lalu Rasulullah Saw membalas surat itu kepadanya (putri Usamah bin Zaid) dan mengucapkan salam kepadanya; dan beliau bersabda, “Sesungguhnya apa yang diambil dan yang diberi hanyalah milik Allah Swt; dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ditetapkan ajalnya hingga batas waktu yang telah ditentukan. Untuk itu, sabarlah dan perhitungkanlah.” [HR Bukhari dan Muslim, Abu Dawud, Al-Nas ’i, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dan AlBaihaqi].

Imam Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadis dengan isnad sahih, bahwa Rasulullah Saw berkata kepada perempuan An ar yang bersedih hati karena ditinggal mati anaknya,”Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa engkau bersedih hati karena anakmu.”  Lantas, Rasulullah saw menyuruhnya agar bertaqwa kepada Allah dan bersabar.  Perempuan itu menjawab, “Ya Rasulullah, bagaimana aku tidak akan bersedih hati, sedangkan aku adalah perempuan raqub (yang ditinggal mati anaknya), tidak beranak lagi, dan tidak punya anak lain?”  Rasulullah Saw bersabda, “Yang disebut raqub ialah yang kekal anaknya.”  Lalu, beliau Saw melanjutkan ucapannya, “Seorang muslim, baik lakilaki maupun perempuan yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang sangat disayanginya, tidak ada baginya, kecuali Allah Swt akan memasukkannya dengan tiga anak itu di dalam surga.”   Umar, yang saat itu berada di sebelah kanan Nabi Saw, bertanya,” Demi bapakku, anda, dan ibuku, bagaimana kalau dua orang anak?   Rasulullah menjawab, “Sekalipun dua orang anak.” [HR Al-Hakim].

Dari Ummu Salamah diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah menghibur keluarganya dengan sabdanya: “Allahummagfir li Abi As-Salamah, wa irfa’ darajatuhu fi mahdiy n wa ukhlufhu f  ‘aqibihi fi al-gabir n, wa ighfirlanaa wa lahu yaa Rabb Al-‘Alaamiin, wa ifsah lahu fi qabrihi wa nawwir lahu f hi.” Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan yang mendapat petunjuk, berilah keturunan yang baik di belakang hari, ampunilah dosa kami, dan dosanya, Ya Rabb Semesta Alam, lapangkanlah kuburnya dan terangilah ia di dalam kuburnya.” [HR Muslim].

Saat takziyah kepada ‘Abdullah bin Ja’far, Nabi Saw berkata, “Ya Allah, jadikanlah pengganti Ja’far dalam keluarganya, dan berilah Abdullah barakah dalam genggaman tangannya.”   Beliau membaca doa ini tiga kali. [HR Ahmad dengan sanad sahih].

Tags:

ceramah takziyah, materi ceramah takziah, taushiah saat takziah, materi takjiah, materi takziah yang menghibur, membawa anak kecil melayat, naskah pidato takjiah, pidato melayat, pidato melayat jenazah, pidato upacara bendera ketika ada yang meninggal
Advertisement
Takziyah (Melayat atau Menghibur) | admin | 4.5
Leave a Reply