Cara Menyalatkan Jenazah

Saturday, January 9th, 2016 - Umum
Advertisement

Cara Menyalatkan Jenazah – Ketentuan-ketentuan umum mengenai salat jenazah adalah sebagai berikut: Syarat Sah Salat Jenazah. Salat jenazah sebagaimana salat-salat lainnya, harus memenuhi syarat: menutup aurat, suci dari hadas, sucinya badan, pakaian, dan pakaian dari najis, dan menghadap ke arah kiblat. Mayat sudah dimandikan dan dikafani secara sempurna. Mayat diletakkan di kiblat melintang, kepala di letakkan di utara sedangkan kaki diletakkan di selatan.

Rukun Salat Jenazah

Niat mengerjakan salat jenazah

Salat jenazah dianggap tidak sah, jika tidak diniatkan untuk salat jenazah.  Ketentuan mengenai niat didasarkan pada sabda Rasulullah SAW: إِنّمََاالْاَعْــــمَالُ بِالنـِّ ــيَاتِ “Sesunggguhnya  amal itu tergantung  dengan niatnya.”[HR Mutafaq ‘Alaih].

Berdiri bagi yang mampu berdiri.

Berdiri tegak di dalam salat maktubah adalah wajib. Sedangkan, di dalam salat sunnah tidaklah wajib. [Ali Ragib, Ahk m A – al h, hal. 44; Sayyid S biq, Fiqh asSunnah, juz 1/hal. 101].  Hanya saja, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, salat sunnah yang dikerjakan dengan duduk, hanya mendapatkan pahala separuh dari salat yang dikerjakan dengan berdiri.

 tata cara pengurusan jenazah

Takbir empat kali.

Di dalam riwayat-riwayat  ahih dituturkan bahwa Nabi SAW kadang-kadang bertakbir sebanyak lima, enam, dan tujuh takbir.  Ketentuan mengenai takbir 4 kali didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh  Imam Baihaqi dan

Daruqutni, dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya Rasulullah Saw menyalati jenazah, lalu beliau bertakbir empat kali, dan bersalam satu kali.  Sedangkan ketentuan mengenai takbir, lima, enam, dan tujuh kali, didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Abu Wail Ra, bahwasanya ia berkata:

كَ ـانوُْا ي ـكَبِّروُْنَ عَ ـ عَهْ ـدِ رَسُ ـوْلِ اﷲِ صَ ـ َّ اﷲُعَلَيْــهِ وَسَُــلّمَ سَــبْعًا وَ سًْ ـا وَسِ ـتًّا أوَْ قَ ـالَ

ارَْبَعًــا فجََمَــعَ عَُمَــر بْــنُ خَطـَّـابٍ رَضِــي اﷲ عَُنـْـهُاصَْ ـحَابَ رَسُ ـوْلِ اﷲُِ صَ ـ َّ اﷲ عَُليْ ـهِ وَسََــلّمَ

فاخْبَرَ كُ لُّ رَجُ لٍ بِمَ ا رَأىَ فجََمَعَ ْ عُمَ ر رَضَِ ياﷲَ عَُنـْــهُ عَـــ َ ارَْبَـــعِ تَـــكْبِيرَْاتٍ كَـُــاطَْوَلُِ الصَّـــَلاةَِ

“Para shahabat bertakbir di masa Rasulullah SAW tujuh kali, lima kali, dan enam kali, atau dia berkata empat kali.  Lalu Umar bin Kaab Ra mengumpulkan para shahabat Rasulullah Saw, dan setiap orang dari mereka mengatakan apa yang dilihatnya.  Kemudian Umar mengumpulkan mereka untuk bertakbir empat kali takbir saja sebagai salat yang terpanjang”. [HR. Imam Baihaqi]

 Membaca surah Al-Fatihah.

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadis dari alhah bin ‘Abdullah bin ‘Auf RA, bahwasanya ia berkata:

صَلّيَْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبّ اسٍ رَضِ ي اﷲَّ عَُ            مَُ ا عَ َجَناَزَةٍ         َفقََرأَ بِفَاتِحَةِ الَْ تَابِ قََالَ ليَِعْلمُوا أ َا سُ نةٌَّ

“Saya pernah salat jenazah di belakang Ibnu ‘Abbas Ra, lalu dia membaca surat Al-Fatihah”. Dia berkata, “Agar mereka mengetahui bahwa membaca surat Al-Fatihah dalam salat jenazah adalah sunnah”.[HR Imam Bukhari]

 Membaca salawat atas Nabi Saw.

Dari Umamah bin Sahl Ra dituturkan bahwasanya ia diberitahu salah seorang sahabat Nabi Saw, bahwasanya termasuk sunnah dalam salat jenazah adalah; hendaknya seorang imam bertakbir, lalu membaca  surah Al-Fatihah dengan pelan dalam hati setelah takbir pertama.  Setelah itu, membaca salawat atas Nabi Muhammad Saw, dilanjutkan dengan memanjatkan doa dengan tulus untuk jenazah pada takbir-takbir berikutnya, dan tidak membaca ayat-ayat Al-Qur’an apapun di dalam salat jenazah.  Setelah itu bersalam dengan pelan di dalam hati”. [HR Imam Syafi’i, Al-Baihaqi, dan Abu Dawud AthThayalisi]

 Mendoakan jenazah

Di dalam riwayat-riwayat sahih dituturkan bahwasanya Nabi saw mendoakan jenazah dengan doa-doa tertentu. Doa-doa tersebut dibaca pada takbir ketiga, dan keempat. Di antara doa yang dipanjatkan Nabi saw pada salat jenazah adalah doa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Auf bin Malik ra, bahwasanya ia berkata:

وَارْ           ْ هُ فحََفِظْــتُ مِــنْوَعَافِ هِ وَاعْدعَُا ــهِ فُ عَنْوَهُــوَ ـه وَأكَْيَقـُـولُ رِمْ اللّـَّـ ْن ّ ـُُزُ َ  اَغْفِــرْ َوَوَسُِّـعْ

ْ

مُ ـدْخََ َ وَاغْسِ ـ بِالْمَْ ـاءِ وَالُثلَّْ ـجِ وَال ـبَرَدُِ وَنَقِّ ـهِمِ نْ الْخَطَُايَ ْـا كَمَـا نَُقَّيْـتَ الثَّّـوْبَ الْأَبْيَـضَ مِـنْ

ا               سَِ وَأبَْدِ دَارًا خَيرْاً مِـنْ دَارِهِ وَأهَْـلًا خَ يرْاً مِ نْ

أهَْ ِ ِ وَزَوْجًا خَُيرْاً مِنْ زَوْجِهِ وَأدَْخِ ُ الجَنَّ ةَ وَأعَِـذْهُمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أوَْ مِ نْ عَ ذَابِ النَّ ارِ

“Saya hafal doa beliau Saw (saat salat jenazah), beliau Saw berdoa, “Ya Allah, ampunilah dan kasihilah dia (jenazah), berilah dirinya maaf dan maafkanlah dosanya; muliakanlah kedatangannya, lapangkanlah tempatnya, basuhlah dengan air, salju, dan air es dan sucikanlah dirinya dari kesalahankesalahan, sebagaimana Engkau mensucikan baju putih dari kotoran. Dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, dan gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah isterinya dengan isteri yang lebih baik, dan masukkanlah dirinya ke dalam surga, dan lindungilah dirinya dari siksa kubur, atau dari siksa api neraka.

 Mengucapkan salam. Setelah selesai berdoa pada takbir yang keempat, ditutup dengan mengucapkan salam, yakni: “As-sal mu’alaikum wa rahmatullah”.[cp]

 

Tags:

menyalatkan jenazah yang belum dimandikan dan dikafani hukumnya adlah, menyalatkan jenazah yang belum dimandikan dan dikafani hukumnya, menyalatkan mayat
Advertisement
Cara Menyalatkan Jenazah | admin | 4.5
Leave a Reply