Kultum Ramadhan #1: Keberuntungan Yang Besar

Sunday, June 5th, 2016 - Ceramah Ramadhan, Kultum
Advertisement

Kultum Ramadhan #1: Keberuntungan Yang Besar – sahabat Cerpi Pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share artikel mengenai Kuliah 7 Menit atau Kultum Ramadhan Tahun 1437 H / 2016. Kultum ini berjudul: keberuntungan yang besar.

kultum ceramah pidato

Kepada yang terhormat bapak ibu sekalian, para ulama, para pejabat pemerintah, para ustadz dn ustadzah yang ditaati, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.

Mengawali pertemuan kita kali ini, pertama tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan Semesta alam, yang senantiasa menganugerahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita sehingga pada saat ini kita dapat berkumpul ditempat yang penuh berkah ini tanpa halangan suatu apapun. Selanjutnya salawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita dan mengantarkan kita kepada ketinggian ilmu pengetahuan dan peradaban yang terhormat.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati…

Sebagai kaum muslimin kita harus bersyukur atas petunjuk dan anugerah keimanan yang terus kita pegang teguh, sekalipun kita menerima ajaran Islam dari para pewaris nabi SAW, yaitu para ulama. Kita hidup begitu jauh dari kehidupan Rasulullah SAW, beliau telah wafat 14 abad yang lalu, secara geografis pun kita begitu jauh dari tempat kelahiran Rasulullah SAW, tetatpi kita tetap beriman dan memegang komitmen keimanan kita kepada Rasulullah dan apa saja yang dibawa oleh beliau. Yang demikian ini merrupakan anugerah yang sangat besar, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis nabi SAW. Diantaranya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Ahmad, Thabrani dan Hakim dari Abi Jam’aah Al Ansari, dia berkata:

Aku bertanya, ya Rasulullah adakah suatu kaum yang lebih besar pahalanya dari kami, sementara kami beriman dan mengikuti engkau?” Apa yang menjadi penghalang bagimu buat beriman kepadaku, sementara Rasulullah Saw. berada dihadapanku dengan membawa wahyu dari langit. Tetapi akan ada lagi suatu kaum yang akan datang sesudah kamu, datang kepada mereka kitab Allah yang ditulis diantara dua Luh, maka mereka beriman kepadaku dan mereka amalkan apa yang tersebut didalamnya, mereka itu adalah lebih besar pahalanya dari kamu.”

Dalam hadits lain juga ditegaskan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, dari Abu Sa’id Al-Qhudri, bahwasannya ada seorang laki-laki berkata:

“Ya Rasulullah, beruntunglah orang yang melihat engkau dan beriman kepada engkau.” Lalu Nabi Muhammad Saw. berkata: “Beruntunglah orang yang melihat aku dan beriman kepadaku, beruntung dan sungguh beruntung bagi orang yang beriman kepadaku, sementara ia tidak melihat aku.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Dari hadits tersebut jelaslah bagi kita bahwa betapa beruntungnya orang yang beriman Nabi Muhammad Saw. padahal ia tidak melihat beliau secara langsung, dia hanya mendengar berita dan sejarah beliau dari para penyambung lidah atau para pewaris beliau. Namun ia beriman dan bahkan begitu kuat imannya kepada beliau, termasuk kita yang hidup sekarang ini, yang tidak menyaksikan Nabi dan kehidupan beliau secara langsung, tetapi begitu besar cinta kita kepada Rasulullah Saw. Terkadang air mata kita mengalir, menaruh kagum dan terkenang kegigihan perjuangan beliau dalam menegakkan agama Allah, sehingga kita hendak menjadi umatnya yang baik dan patuh, berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnahnya, serta bertekad untuk memberikan segenap hidup kita buat agama yang beliau bawa, yaitu agama Islam. Maka sungguh beruntung, dan beruntunglah kita.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Demikianlah kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, marilah kita berdoa semoga allah swt senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuknya kepada kita, sehingga kita mampu mengisi sisa hidup kita ini dengan kebaktian, memperbanyak ibadah dan amal shaleh, sehingga kita benar benar menjadi orang orang yang beruntung, amin.

Akhirnya terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.[cp]

 

Tags:

Ceramah il al tentang kebersihan, pidato tentang keberuntungan, pidato yang berjudul hidup yang beruntung, kultum tentang keberuntungan, Pidato tema keberuntungan, pidato tentang pengertian jihad
Advertisement
Kultum Ramadhan #1: Keberuntungan Yang Besar | admin | 4.5
Leave a Reply