Khutbah Idul Fitri 2016/1437 H: Penegakan Syariat Islam di Indonesia

Monday, January 4th, 2016 - Ceramah Ramadhan, Khutbah
Advertisement

Khutbah Idul Fitri 2016/1437 H: Penegakan Syariat Islam di Indonesia – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan berbagi artikel mengenai Khutbah Idul Fitri 2016 atau 1437 H, Judulnya Penegakan Syariat Islam di Indonesia, simaklah:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu…

Jamaah ‘Id yang berbahagia!

Tahmid, tahlil dan takbir merupakan kalimat-kalimat yang mulia dan agung serta tehormat untuk dikumandangkan oleh setiap jama’ah, apa lagi dalam suasana kemenangan dan kegembiraan seperti sekarang ini. Bahkan salawat dan salam kepada Rasul Muhammad saw. juga tidak perlu terhenti dikirimkan kepadanya di setiap ada kesempatan. Salah satu hal utama yang juga tidak bisa ditinggalkan adalah komitman dan janji atau tekad untuk tetap bertaqwa kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya, dan taqwa yang sempurna-sempurnanya.

ceramah-ramadhan

Jama’ah ‘Id yang berbahagia !

Kesyukuran perlu pula ditegaskan lagi karena baru saja menunaikan pelaksanaan syari’at Islam berupa puasa dan ibadah-ibadah lainnya dalam kaitannya dengan Ramadhan. Hal ini tentunya dilaksanaka karenaa dilandasi oleh sebuah kesadaran bahwa sebagai seorang hamba sepetutnya menyatakan ketaatannya kepada Tuhannya. Ketaatan itu diwujudkan dalam pelaksanaan ibadah puasa Tuhannya. Ketaatan ini diwujudkan dalam pelaksanaan ibadah puasa di siang hari dan mendirinkan malam-malam harinya berupa ibadah tarwih dan shalat-shalat lainnya.

Malahan di bumi ini, kita sebagai pengikut setia Muhammad saw. sangat intens (kuat dan padat) malaksanakan syari’at Islam. Pelaksanaan ini dilaandasi oleh kesadaran sendiri, sebuah pundasi yang sangat kuat dalam pelaksanaan ajaran atau syari’at Islam. Di bulan ini, umat Islam sangat rajin menunaikan berbagai bentuk ibadah, bukan hanya dalam bentuk ritual (vertikal), tapi juga dalam bentuk ibadah-ibadah sosial kemasyarakat (vertikal-horozontal). Betapa giatnya umat Islam melaksanakan sedekah, bantuan, dan pengeluaran zakat (harta dan fitri) di bilan ini. Pada bulan tersebut, umat Islam yang ingin meraih kemuliaan dan kehormatan ikhlas membagi sebagian rezeki yang diperolehnya, bukan hanya dalam batas minimal, tetapi berusaha melebihinya. Apalagi kini, umat Islam tidak lagi perlu ragu-ragu mengeluarkan zakatnya sebab pelaksanaannya sudah mendapat jaminan, bahkan legitimasi dari pelaksanaannya dalam bentuk Undang-undang zakat Nomor 38 Tahun 1999 (kalau tidak salah).

Jama’ah ‘Id yang Terhormat !

Mengapa syari’at Islam ini perlu ditegakkan ? hal ini didasari pada sebuah bimbingan dab pengajaran Allah bahwa Alquran yang menjadi kitab suci umat Islam adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa, hudan lil-muttaqin (QS. Al-Baqarah (2) :2;

‘’Kitab Alqur’an ini tidak akan keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa’’.

Bukan, Allah Swt menegaskan bahwa Alquran yang diturunkan di bulan Ramadhan ini bisa menjadi petunjuk bagi umat manusia tanpa kecuali, hudan lin-nas (QS. Al-Baqarah (2): 185;

Pesan-pesan mulia Tuhan ini dipertegas lagi dalam ungkapan lain. Pesan tersebut bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang Nabi yang tutus buat kesemuanya. Ia datang dan bertugas memberikan rahmat kepada alam semesta, Rahmatan lil-‘alamin QS. Al-Anbiya’ (21) : 107;

Rahmat di sini sudah pasti bermakna keuntungan, kesejahteraan, kemuliaan, persamaan, keadilan, kehormatan, kebersamaan, solidaritas, dan lain-lain. Memang umat ini diminta oleh Allah dari ungkapan global tersebut agar mengupayakan syari’at Islam yang di anutnya dapat diwujutkan dalam kehidupan, baik secara individual maupun secara bersama-sama. Diperlukan kebersamaan umat ini memikirkan, membicarakan dan merumuskan pesan-pesan dan ajaran Islam yang belum tertuang secara rinci dalam kitab suci agar lebih operasional dalam memasyarakat, inilah yang dimaksud dengan tugas dakwa yang terhimpun dalam apa yang disebut amar ma’ruf dan nahi mungkar (ajaran dan seruan kepada kebaikan yang diterima bersama dan menjauhi dan melarang ketidak benaran).

Jamaah yang terhormat !

Atas dorongan kesejahteraan dan kebaikan bersama, maka timbul sebuah hasrat mulia untuk menegakkan syari’at Islam kepada segenap umat Islam. Bahkan, penegakan ini tidak hanya membawa manfaat kepada penganut Islam, tetapi dijamin pula akan memberi keuntungan dan kebaikan pada penganut agama lain. Agar terwujud hal ini, maka umat Islam tentunya dituntut agar lebih cerdas dan arif agar senantiasa mendahulukan ajaran dan nilai-nilai kebaikan terlebih dahulu. Malahan, upaya penegakan ini hendaknya dilaksanakan secara baik dan arif sehing ga sesuai dengan pesan Alquran di lakukan secara berangsur-angsur dan bertahap, bukan sekaligus.

Konsep penegaka syari’at Islam di sini sama sekali bukan dimaksudkan bahwa kini barulah dimulai di lakukan hal itu, tapi maksudnya adalah sebuah upaya menyempurnakan penegakan yang sudah berjalan selama ini. Memang harus diakui bahwa syari’at Islam sudah tegak dan dilaksanakan oleh umat ini. Namun, perjalanannya ingin lebih disemarakkan lagi dan lebih disempurnakan serta lebih dipercepak ke segala aspek kehidupan. Penegakan syari’at sudah turut dilakukan di bawah fasilitas formal negara, tetapi ada lagi keinginan agar lebih dijamin lagi berdasarkan aturan-aturan positif, meski untuk tahap awal tidak harus disertai dengan pemberian sanksi secara berturut-turut. Undang-undabg zakat (pemerintah) misalnya telah memfasilitasi pelaksanaan syari’at zakat agar untuk melakukan kewajiban secara bersungguh-sungguh sebab sudah sangat legitimate, meski tidak disertai sanksi bagi yang belum melaksanakannya.

Ajaran Alquran dan ajaran lainnya ingin lagi diupayakan agar juga difasilitasi. Hal ini dilakukan karena negeri ini telah menetapkan aturan positif yang tampaknya belum memberi jaminan dan dorongan yang memadai. Namun diharapkan dengan mengaitkannya dengan ajajran Alquran, maka diharapkan umat atau bagsa ini lebih memiliki rasa tanggung jawab dan kesadaran sebab ada nilai-nilai keilahiyannya sehinnga merasakan lebih mengingat dan lebih memberi nilai plus. Setiap kali aturan seperti dilaksanakan, maka niali ibadahnya dengan sendirinya akan terikit pula.

Jamaah ‘Id yang terhormat !

Dalam negara yang berlandskan pancasila yang sangta menjamin kehidupan beragama, termasuk berislam, maka hasrat menegakkan ajaran Islam secara formal dalam bentuk aturan positif bukanlah hal yang bertentangan dengan semangat kebangsaan yang dibangun atas dasar pluralitas (kemajemukan). Hal ini lebih dimungkinkan lagi dengan adanya paradikma baru penyelenggaraan negara dari sistam sentralisasi kepada desentralisasi (otonomi daerah). Penyelenggaraan negara di daerah sangat memiliki kesempatan untuk merumuskan aturan-aturan formal yang disepakati dapat membawa kepada kebaikan bersama, misalnya dengan memilih niali-nilai dan ajaran Islam sebagai aturan mayoritas warga Sulsel umumnya dan masyarakat Makassar khususnya.

Jamaah ‘Id yang terhormat !

Salah satu misalnya agama Islam yang belum berjalan dengan baik di daerah ini adalah masih maraknya peredaran narkobat dan minuman keras misalnya. Alangkah indahnya dan mulianya penyelenggaran negera kalau ada sebuah kesempatan untuk membersihkan daerah ini dari peredaran kedua macam barang haram tersebut. Sebagai salah satu wujud syari’at Islam, maka segenap penyelenggara negara di daerah ini (legislatif, eksekutif dan yudikatif) sangat mulia kalau sepakat untuk membersihkan atau membebaskan daerah ini dari praktek peredaran narkoba, minuman keras, dan jidi. Tentunya, deklarasinya tidaklah cukup hanya dengan satu kalimat tersebut, tapi perlu durumuskan dalam bentuk pasal-pasal yang memberi bimbingan dan pegangan dalam melaksanakannya kepada semua, baik bagi rakyat, apa lagi buat penyelenggara negara.

Hal-hal seperti ini yang amat pantas dilakukan secara bertahap dan secara sama-sama melalui sebuah upaya bersama menuju kepada kesempatan bersama. Satu persatuan ajaran Alquran disusun dan ditetapkan sehingga akhirnya masyarakat ini bisa sampai kepada kesempurnaan pelaksanaan syari’at Islam, baik yang bersifat meliputi kepada semua warga atau khusus kepada warga Muslim.

Bahkan, kini telah ada semangat dan hasrat umat Islam menegakkan syari’at Islam ini yang patut disambut baik oleh penyelenggara negara di daerah sebagi upaya mencari solusi atas kagagalan yang telah dirasakan oleh warga selama ini. Ketika daerah Aceh sudah mendapat kesempatan, makan daerah ini juga tidak salah untuk mengikuti langkah saudaranya disana. Umat Islam sangat mulia kalau daerah ini ditetapkan sebagai sebuah daerah yang ingin melaksanakan otonomi khusus pula daerah Aceh sebagai modelnya. Dengan demikian, syari’at Islam sudah daoat dilaksanakan secara sempurna, meski harus dilaksanakan secara cerdas, bersama, dan demkratis. Langkah secara berangsur-angsur dan bertahap merupakan secara terbaik dalam mewujudkan otonomi khusus ini.

Jamaah ‘Id yang terhormat !

Kini telah muncul keinginan menegakkan syari’at Islam dalam arti menyempurnakan apa yang telah dilaksanakan selama ini. Penyempurnaan ini dimaksudkan agar syari’at Islam yang merupakan rahmat bagi semuanya dapat durumuskan secara formal dalam aturan positif. Hal ini amat dapat dilakukan karena dasar negara pancasila memberi kesempatan dan ditopang pula dengan paradigma baru dalam pengelolaan negara kepada sistem desentralisasi. Bahkan, keinginan ini akan lebih kondusif lagi bila diwujudkan dalam bentuk otonomi daerah.

Ketahuilah pula bahwa pelaksanaan syari’at Islam secara sempurna (kaffah) hendaknya memperhatikan nilai0nilai demokrasi. Bahkan, pelaksanaan ajaran dan nilai Islam yang bisa membawa kebaikan (rahmat) bagi semua dilaksanakan secara betahap, bukan sekaligus sesuai dengan metode yang diberikan Alquran. Namun, yang sangat mendesak dilakukan adalah penegakan kebaikan-kebaikan bersama dan hal-hal yang bisa membahayakan warka tak terkecuali, seperti pembebasan daerah dari peredaran narkoba, minuman keras, dan judi misalnya.

Mari kita berdo’a kepada Allah Swt. Dan pasti Allah memberi pahala kepada semuanya sebagai wujud penerimaan Allah.[cp]

Tags:

khutbah idul fitri 2016, khutbah idul fitri 1437 h, khutbah idul fitri, khutbah idul fitri terbaru 2016, khutbah idul fitri 1437, khotbah idul fitri 2016, teks khutbah idul fitri 2016, khutbah idul fitri 1436 h, khutbah idul fitri terbaru, khutbah idul fitri 2015
Advertisement
Khutbah Idul Fitri 2016/1437 H: Penegakan Syariat Islam di Indonesia | admin | 4.5
Leave a Reply