Khutbah Jumat: Ujian Keimanan

Monday, January 4th, 2016 - Khutbah
Advertisement

Khutbah Jumat: Ujian Keimanan

  • Khutbah Jumat Ini sangat cocok dibawakan pada bulan Dzulkaidah
  • Oleh: Ceramahpidato.com

الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين

وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين

والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين

فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا

فقال الله تعالى في كتابه الكريم

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وقال الله تعالى

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Khutbah Jumat

Pada kesempatan yang berbahagia ini tidak lupa saya berpesan khususnya kepada diri saya dan umumnya kepada jama’ah sekalian. Marilah kita pergunakan sisa umur yang masih ada ini untuk selalu tetap dan terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada allah swt., dengan cara melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Imam ini harus kita jaga dari hal-hal yang bisa menyebabkan yang bisa merusaknya, karena imam yang kita miliki akan selalu diuji.

Hadirin jama’ah jum’at yang berbahagia!

Pada kesempatan jum’at ini, marilah kita merenungkan salah satu firman allah dalam surat al-ankabut ayat2 dan 3; apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu konsekuensi pernyataan imam kita adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan oleh allah swt. kepada kita, hal itu bertujuan untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan imam. Apakah imam kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan yang tidak tahu arah dan tujuannya, atau pernyataan imam kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan allah swt. dalam surat al-ankabut ayat 10:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن جَاءَ نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ ۚ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ

Artinya:

Dan diantara manusia ada orang yang berkata, “kami beriman kepada allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada allah, ia mengaggap fitnah manusia itu sebagai azab allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?”

Hadirin jama’ah jum’at yang berbahagia!

Semua orang beriman pasti akan diuji sesuai dengan kadar keimannya. Semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Ibarat pohon, semakin tinggi, semakin kencang angin menerpanya. Sebagaiman yang jelaskan dalam hadist yang artinya: Dari mush’ab bin sa’ad dari bapaknya berkata, aku bertanya, “Ya rasulullah! siapakah yang paling berat ujiannya?” beliau menjawab “Para nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamnya.” Hr. tirmidzi, an-nasai, ibnu majah; shahih menurut al-albani.

Apabila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan balasan dari imam yang kita miliki yaitu surga, maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan allah, dan bersabarlah kala ujian itu, karena besarnya ujian diukur dengan kekuatan iman kita, kita mesti yakin akan mampu menghadapinnya, tentunya dengan selalu memohon pertolongan kepada allah. Kita tidak bisa terlepas dari ujian iman karena merupakan bagian proses pencapaian dan meraih balasan surga. Allah swt.memberikan sindiran pada kita, yang ingin masuk surga tanpa melewati ujian yang berat.
Apakah kalian mengira akan masuk surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncagkan (dengan bermaam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan allah itu amat dekat.” (Qs. al-baqarah 214).
Rasulullah shallallaahu alaihi wasalam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman, sebagaimana dituturkan kepada sahabat khabbab ibnul arats radhiallaahu anhu.
Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang disisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya. (Hr. bukhari).
Cobalah untuk kita renungkan! apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita ini? apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan aqidah dan iman? bila kita memperhatikan perjuangan saw. dan orang-orang terdahulu dalam mempertahankan iman, betapa mereka rela mengorbankan harta, tenaga, pikiran mereka, bahkan nyawapun mereka korbankan untuk itu. Rasanya iman kita ini belum seberapanya atau bahkan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan iman mereka. Apakah kita tidak malu untuk meminta balasan yang besar dari allah sementara pengorbanan kita sedikit pun belum ada.

Hadirin sidang jum’at yang dimuliakan allah,

Ujian yang diberikan oleh allah kepada manusia bermacam-macam bentuknya, paling tidak ada empat macam yang dialami oleh orang-orang, terdahulu.
Pertama, ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan. Misalnya perintah allah kepada nabi ibrahim alaihissalam untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal. Bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga allah sendiri mengatakan:

إِنَّ هذا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبينُ

Artinya:

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (Qs. ash-shaffat 106)

Dari kisah ini bisa kita lihat bagaimana kwalitas iman nabi ibrahim as. yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya perintah yang sedemikian berat tetap dijalankan dengan hati yang ridha. Pantaslah kiranya beliau mendapatkan gelar khalilullah (kekasih allah).
Apa yang dilakukan oleh nabi ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, dan sangat perlu kita tauladani, karena sebagaimana yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali perintah allah yang kita anggap berat, dengan berbagai alasan kita berusaha untuk tidak melaksanakannya. Sebagai contoh, allah telah memerintahkan kepada para aghniya (kalangan orang-orang yang mampu) untuk melaksanakan kewajiban zakat, namun basih banyak orang yang enggan membayarnya karena berbagai macam alasan. Padahal zakat sudah menjadi kewajiban mereka dan menjadi hak orang-orang yang tidak mampu.
Allah swt. berfirman:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Artinya:

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. Qs. adzaariyat 19.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala disisi tuhannya. Tidak ada kekhwatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Qs. al-baqarah 277.

Akibat dari keengganan mereka membayar zakat terjadilah kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya yang berakibat kepada tindakan kriminal, seperti pencurian, perampokan dan saling fitnah. Bukankah kita tahu bahwa hidup ini terasa lengkap apabila kita bisa melengkapi kekurangan orang lain, hidup ini terasa punya arti jika kita mampu memberikan manfaat kepada sesama. Mereka yang enggan membayar zakat adalah termasuk orang-orang yang mendustakan agama.
Yang kedua, ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada nabi yusuf alaihissalam yang diuji dengan seorang perempuan cantik, istri seorang pembesar di mesir yang mengajaknya berzina dan kesempatan itu sudah sangat terbuka. Ketika keduanya sudah tinggal berdua dirumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu. Namun nabi yusuf alaihissalam membuktikan kwalitas imannya, ia berhasil meloloskan diri dari godaan perempuan itu. Padahal sebagaimana pemuda umumnya ia mempunyai hasrat kepada wanita. Ini artinya ia telah lulus dari ujian atas imannya.
Sikap nabi yusuf alaihissalam ini harus kita ikuti. Terutama oleh para pemuda muslim zaman sekarang, di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana, pergaulan bebas, minuman keras dan obat-obat terlarang sudah merambah berbagai lapisan masyarakat, sampai-sampai anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar pun sudah ada yang kecanduan. Perzinaan seakan sudah menjadi kebiasaan bagi para pemuda, sehingga tak heran bila menurut sebuah penelitian, bahwa di kota-kota besar enam dari sepuluh remaja putri sudah tidak perawan lagi.
Di antara akibatnya, setiap tahun sekitar dua juta bayi dibunuh dengan cara aborsi, atau dibunuh beberapa saat setelah si bayi lahir. Keadaan seperti itu diperparah dengan semakin banyaknya media cetak dan situs-situs internet yang berlomba-lomba memamerkan aurat wanita, juga media elektronik yang mengemas acara-acaranya dengan menayangkan tontonan yang bisa membangkitkan gairah seksual para remaja. Pada kondisi semacam inilah seharusnya para pemuda muslim mencontoh sikap nabi yusuf alaihissalam. Para memuda muslim harus selalu siap siaga menghadapi godaan demi godaan yang akan menjerumuskan dirinya ke jurang kemaksiatan. Rasullah saw. telah menjanjikan kepada siapa saja yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat, ia akan diberi perlindungan di hari kiamat nanti sebagaimana sabdanya; yang artinya: Tujuh (orang yang akan dilindungi allah dalam lindungan-nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindungannya, dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada alla.” Hr. bukhari muslim.

Yang ketiga, ujian yang berupa musibah seperti yang terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, nabi ayyub alaihissalam yang diuji oleh allah dengan penyakit yang sangat buruk sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis tidak tersisa sedikit pun untuk biaya pengobatan penyakitnya dan untuk nafkah dirinya, seluruh kerabatnya meninggalkannya, tinggal isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun, sampai pada saat mencapai punak sakitnya dan sulit sekali baginya ia memelas sambil berdo’a kepada allah yang artinya: Sesungguhnya aku tertimpa kemelaratan,wahai zat yang maha mengasihi dan menyayangi. Tafsir ibnu katsir, 4 hal 51.
Dan ketika itu allah mengabulkan doanya kemudian memerintahkan nabi ayyub alaihissalam untuk mengayunkan kakinya ke tanah, allah mengeluarkan mata air dan allah menyuruhnya untuk minum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya.
Begitulah ujian allah yang ditimpakan kepada nabi ayyub. Selama delapan belas tahun ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan perjalanan hidup yang sangat berat. Namun disini nabi ayyub alaihissalam membuktikan ketangguhan imanya. Tidak sedikit pun ia merasa menderita dan tidak terbetik pada dirinya untuk meninggalkan imamnya. Iman seperti ini jelas tidak dimiliki oleh banyak saudara kita yang tega menjual iman dan menukar aqidahnya dengan sekantong beras dan sebungkus sarimi, atau dengan kekuasaan, karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh nabi ayyub alaihissalam ini.

Hadirin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Yang keempat, ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi islam. Apa yang dialami oleh nabi muhammad saw. dan para sahabatnya terutama ketika masih berada di mekkah kiranya cukup menjadi pelajaran bagi kita. Betapa keimanan itu diuji dengan berbagai cobaan berat yang menuntut pengorbanan harta benda bahkan nyawa. Di antaranya apa yang dialami rasulullah diakhir tahun ketujuh kenabian, ketika orang-orang quraisy bersepakat untuk memutuskan apa pun dengan rasulullah saw. beserta bani abdul muththalib dan bani hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku itu bersedia menyerahkan rasulullah saw. untuk dibunuh. Rasulullah saw. bersama orang-orang yang membelanya terkurung selama tiga tahun. Mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang hebat. (dr. akram dhiyaal-‘umari, as-sirah an-nabawiyyah ash-shahihah, jus 1 hal.182).
Apabila kita telusuri lebih jauh, masih banyak riwayat yangmenceritakan ujian yang dialami rasulullah baik kehidupan pribadinya maupun ketika menyampaikan ajaran agama islam. Teror fisik, embargo ekonomi dan lain-lain kerap datang dari musuh-musuh beliau. Namun berkat ketabahan dan kesabarannya islam tersebar di muka bumi, mampu merubah peradaban manusia yang asalnya jahiliah menjadi islam. Sebuah tatanan kehidupan yang berlandaskan nila-nilai keimanan dan ketakwaan kepada allah swt. serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral kemanusiaan.
Demikian khutbah yang saya sampaikan pada kesempatan jum’at kali ini, mudah-mudahan jadi tambahan ilmu bagi kita semua yang hidup di alam modern yang penuh dengan tantangan dan ujian keimanan. Amin. [cp]

Khutbah Kedua Jum’at

اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ حَبِيْبُهُ وَ خَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله وَ اعْلَمُوْا اَنَّ الله يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُوْرِ وَ يَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ اَنْ يَّكُوْنُوْا فِى تَكْمِيْلِ اِسْلَامِهِ وَ اِيْمَانِهِ وَ اِنَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .

Tags:

khutbah jumat singkat ujiann iman, JUDUL KHUTBAH JUMAT TENTANG UJIAN IMAN, khutbah jumat tentang keimanan, khutbah tentang ujian, khutbah keimanan, khutbah jumattentang menyikapi ujian, khutbah jumat yang hebat, khutbah jumat ujian kaya dan miskin, khutbah jumat ujian iman, khutbah jumat tentang ujian hidup
Advertisement
Khutbah Jumat: Ujian Keimanan | admin | 4.5
Leave a Reply