Ceramah Ramadhan ke-16: Islam dan Keteladanan Rasulullah SAW Dalam Membangun Masyarakat Madani

Monday, January 4th, 2016 - Ceramah Ramadhan
Advertisement

Ceramah Ramadhan ke-16: Islam dan Keteladanan Rasulullah SAW Dalam Membangun Masyarakat Madani – Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini CeramahPidato.Com akan berbagi artikel mengenai Ceramah Puasa 2016 atau Ceramah Ramadhan 1437 H, judulnya adalah Islam dan Keteladanan Rasulullah SAW Dalam Membangun Masyarakat Madani, simaklah.

Agama Islam denagn dasar rumusnya syahadatain pada hakekatnya merupakan pernyataan keimanan dengan inti akida disertai sikap untuk taan kepada Allah Swt. Dan Rasul-Nya Muhammad saw. Sejalan dengan itu, mereka harus menegakkan shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan melaksanakan haji bagi orang yang mampu. Perintah wajib tersebut dibarengi dengan perintah wajib lainnya, yakni; menuntut ilmu dan mengamalkannya,bekerja dan memotifasi diri untuk mengeluarkan zakat. Dinamika kehidupan tersebut senantiasa terpancar dalam formulasi akhlakul karimah, sehingga Rasulullah dan umat Islam dikatakan membawa rahmat bagi kehidupan manusia, tanpa kecuali juga akan menyentuh umat lainnya.Berbagai karakteristik Rasulullah Muhammad saw. Yang dapat digambarkan dari sabda beliau yang artinya: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah berucap baik atau diam (HR. Jamaah). Senyummu T^erhadap saudaramu merupakan sadaqah bagimu.

ceramah-ramadhan

Keimanan dan amal shaleh (perbuatan baik) merupakan tanda ketaatan kepada Allah Swt. Dan kecintaan kita kepada Rasulullah saw. Kalimat kami taat kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammadd Saw,dapat terlihat dalam Q.s. al-Baqarah 2:285:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Yang artinya:

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

Pada sisi lain, Allah berrfirman di dalam Q.s.An-Nur 24: 51:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Yang artinya:

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dan dalam QS. Al-An’am 6:116:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Yang artinya:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

Kesadaran imani kaum muslimin merupakan dasar mutlak membangun kehidupan yang diridhai dan dirahmati Allah swt, sehingga kaum muslimun dapat memperoleh kesuksesan dan nikmat dalam kehidupan. Allah swt, berfirman di dalam Q.s. an-Nisa’ 4:49:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

Yang artinya:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.

Dan di dalam Q.s. Al-Ahzab 33:71:

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Yang artinya:

niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Atas dasar keimanan dan ketakwataan kepada Allah Swt, kaum muslimin mendapat hidayah dan inayah Allah dalam menegagkan amal shaleh lainnya.

Misalnya pendidikan dan ekonomi, pemerintahan dan pertahanan serta berbagai aspek kehidupan sosial ekonomi dan kemasyarakatan tumbuh secara positif. Itulah sebabnya hampir semua aspek kebutuhan kehidupan manusia, dapat dikatan lahir dan tumbuh dari dinamika umat Islam. Bahkan perkembangan kehidupan dunia lebih lanjut (termasuk berat) telah mengambil sebahagian dari khasanah Islam (iqra’ tanpa bismirabbik)).

Gerakan kehidupan masyarakat madani yang demikian mulya dan penolong merupakan nikmat Allah yang diberikan berbarengan dengan Fathu al-Makkah, sebagai mana firmanAllah dalam Qs. Al-Fath 48:1-3:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا

وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

Yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,

supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,

dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).

Ayat tersebut menggambarkan kesuksesan nyata masyarakat madani yang dibangun oleh Rasulullah saw, sehingga Allah memberi pengampunan bagi mereka dan menyempurnakan nikmat-Nya serta senantiasa memperoleh petunjuk jalan yang lurus (kebenaran dan kebajikan), dan terpelihara kemuluaanya atas pertolongan Allah (kebahagiaan dan kehormatan hidup).

Tatanan kehidupan masyarakat madani yang dibangun Rasulullah saw. Adalah syari’at Islam (sistem keselamatan), yakni sistem yang berpijak pada keadilan dan kebenaran hakiki (Alquran dan As-Sunnah), sehingga menghidupkan suasana keharmonisan dan kepuasan (silaturahim dan ukhuwah), lebih lanjut memposisikan masyarakat madina pada kebahagiaan dan kehormatan (Baldatun Thayyibatun Warabbu Ghafur).

Keteladanan Rasulullah saw. Pada semua aspek kehidupan dapet dikatakan telah menjadi ciri pada sahabatnya yang mendinamisasikan dalam kehidupannya. Sebenarnya perilaku Rasulullah saw. Merupakan penerapan Alquran sebagai ungkapan Aisyah ra. Saat ditanya para sahabat Nabi (perangainya adalah Alquran).

Gerakan aktifitas yang Islami akan senantiasa beranjak atas prinsip:

  • Motivasi ibadah, yakni mencari keridhaan Allah swt.
  • Metivasi Ihsan, yakni melakukan dengan kebajikan (yang terbaik).
  • Motivasi kesabaran dan optimis, yakni sabar dan kaya hati.
  • Motivasi silaturrahim, yakni menjaga hubungan baik, kasih sayang.
  • Motifasi Syiar Islam, yakni senantiasa terpancar nilai dan keuatan Islam.

Disinilah letak permasalahan yang akan banyak timbul bagi organisasi dan umat Islam sendiri jika terlepas dan motivasi tersebut. Bukan berarti Islam mengabaikan prestasi moral dan material, tetapi Islam tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir. Misalnya keuntungan dan kemenangan yang dikehendaki Islam adalah yang benar-benar tidak menyimpan dari prinsip ibadah atau diridhai Allah.

Permasalah yang senantiasa merusak tatanan kehidupan manusia tidak terlepas dari sebab perilaku kufur, yakni mempertuhankan harta dan kedudukan. Karena kekufuran itulah maka mincul sifat kezhaliman, yakni saling menzhalimi dengan mengambil hak orang lain atau hanya mementinkan diri sendiri. Karena perilaku zhalim menzhalimi itulah menyebabkan muncul perilaku kefasikan, yakni terjadinya penyimpanan dari yang baik atau hilangnya kebenaran dan kebajikan. Hal ini tidak terlepas dari sorotan Alquran yang telah dengan tegas Allah swt. Mengingatkan orang mikmin perlunya sistem keselamatan (syari’at Islam). Di dalam QS. Al-Maidah 5: 44, 45 dan 47:

إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

Berdasarkan ayat tersebut di atas, tergambar ketetapan Allah dan Rasul-Nya merupakan pilihan satu-satunya semua aspek kehidupan orang beriman. Sehingga penyimpanan adalah kesesatan hidup dan perjuangan sia-sia. Di samping itu mereka akan diperhadapkan dengan cobaan atau azab. Itulah sebabnya orang mukmun jika diajak kepada pola dan sistem Islam, mereka akan sama berkata kami patuh sehingga mereka akan memperoleh kehormatan hidup serta keberuntungan.

Jika kita mengamate secara jujur bagaiman perilaku kezhaliman dalam bidang ekonomi atas kelas menengah kebawah dengan tingkat kemampuan efisiensi dan produktivitas produk yang rendah diberikan beban biaya modal (bunga) yang sama dengan mereka para konglomerat pada posisi monopoli.

Saatnya umat Islam mendesak kepada pemerintah agar dapat secara jelas dan tegas memformulasikan langkah strategis tegagnya tuntunan wajib bagi umat Islam, yakni:

  • Wajib Ibadah, yakni ditegakkannya rukun Islam.
  • Wajib belajar, yakni hendaknya anak umur sekolah dapat belajar.
  • Wajib bekerja, yakni terfomualsinya lapangan kerja bagi investasi dan zakat.
  • Wajib disiplin, yakni semua hukum dan aturan benar-benar ditegakklan.
  • Wajib perpaduan IPTEK dan IMTAK.

Penegakan kelima tuntunan wajib itu hendaknya dapat terformulasi secara utuh dan menjadi pijakan berbagai program pemerintah dan masyarakat. Kesadaran itu tentunya tidak terlepas dari kewajiban memenuhi perintah dan umat mendapatkan janji Allah dan Rasulnya Muhammad saw, sebagai dikatakan Ali r.a. bahwa: Allah swt berfirman di dalam Q.s. Al-Baqarah 2: 208, berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Yang Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Di dalam Q.s. Al-Nur 24:55, berbunyi:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Yang artinya:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Demikian semoga Allah swt. Senantiasa membimbing dan memberikan ampunan kita semua. Amin[cp]

Tags:

yhs-fullyhosted_003, ceramah tentang rasulullah, contoh teks pidato ekplementasi rasullah dalam membangun masyarakat madani, islam dan keteladanan rasulullah saw dalam membangun masyarakat madani, teks ceramah tentang pandangan dan penerapan keteladanan para rosul dan sahabatnya, ceramah keteladanan rasulullah saw, materi ceramah ketauladanan NaBi muhamad Saw, Pidato keteladan nabi muhammad, pidato islami tentang prilaku yang, kultum keteladanan Rosul
Advertisement
Ceramah Ramadhan ke-16: Islam dan Keteladanan Rasulullah SAW Dalam Membangun Masyarakat Madani | admin | 4.5
Leave a Reply