Cara Menyusun Materi Khutbah Jum’at dan Memperagakannya

Saturday, January 9th, 2016 - Khutbah
Advertisement

Cara Menyusun Materi Khutbah Jum’at dan Memperagakannya – Secara garis besar, prinsip-prinsip penyusunan materi harus selalu memperhatikan tiga aspek berikut ini:

Kesatuan (Unity)

Kesatuan (unity) adalah materi yang hendak disampaikan harus bisa menggambarkan secara utuh; (1) tujuan, (2) kandungan isi, dan (3) sifat pesan . Materi yang baik adalah materi yang memuat satu tujuan yang pasti dan jelas. Tujuan harus disampaikan dengan jelas dan gamblang, sehingga semua orang memiliki persepsi yang sama.  Membuat joke-joke diperbolehkan, asalkan semakin menambah daya persuasi pembicaraan. Joke-joke selucu apapun harus dihindari jika tidak ada hubungannya dengan materi.

Isi materi harus mempunyai satu gagasan saja yang mendominasi seluruh uraian. Ini sangat penting dilakukan, terutama untuk menetapkan bahan-bahan penunjang yang dibutuhkan. Keseluruhan kesatuan harus tampak pada titik berat atau sifat pembicaraan tersebut.  Sifat-sifat pembicaraan bisa serius, informal, formal, anggun, atau bermain-main saja. Untuk mempertahankan kesatuan ini, bukan saja diperlukan ketajaman dan kejernihan pemikiran, akan tetapi harus ada kemauan kuat untuk membuang hal-hal yang sia-sia. Seringkali, komunikator tergoda untuk menyampaikan bahanbahan yang menarik padahal kurang bermanfaat. Kurangnya kesatuan akan menyebabkan pendengar menggerutu, kurang mengerti, dan salah paham. Jika seperti ini, pesan tidak akan ditangkap oleh audiens secara utuh dan bulat.

Khutbah Jumat

Pertautan

Pertautan adalah mensinergikan satu uraian dengan uraian yang lain. Pertautan merupakan penghubung antara satu pokok masalah dengan pokok masalah lainnya.  Pertautan ditujukan agar keseluruhan pembicaraan dapat dimengerti dengan jelas oleh orang lain.   Ketidakadanya pertautan biasanya disebabkan karena tidak adanya perencanaan atau pokok masalahnya tidak ada yang serius.

Penitikberatan (Emphasis)

Agar pembicaraan mudah dipahami oleh audiens, komunikator harus memberikan tekanan-tekanan pada bagianbagian terpenting.   Hal-hal yang dijadikan titik berat sangat bergantung pada isi pidato, opini-opini , dan icon-icon apa yang harus sampai kepada audiens.

Persiapan Sebelum Penyampaian

Agar pembicaraan bisa berpengaruh, memberi kesan mendalam, dan mampu memberikan pencerahan kepada audiens, komunikator harus membuat persiapan sebelum presentasi. Persiapan sebelum penyampaian adalah:

  1. Mempersiapkan Naskah Pemateri harus mempersiapkan materi terlebih dahulu. Sebelum melakukan komunikasi, komunikator harus merumuskan terlebih dahulu tema pembicaraan, judul, serta isi pembicaraan.
  2. Standar Penyusunan Materi
  3. Materi yang baik setidak-tidak memenuhi berikut ini: Salam pembuka. Setiap pembicaraan yang melibatkan audiens massal harus dimulai dengan salam pembuka. Misalnya, diawali dengan ucapan “Assal mu’alaikum wr. wb”. Lalu, dilanjutkan dengan mengucapkan hamdalah, syahadat, salawat atas Rasulullah saw.” Pendahuluan. Materi yang baik, harus disusun secara sistematis. Materi diawali dengan pendahuluan yang menggambarkan pokok-pokok masalah yang hendak dibahas, pentingnya pembahasan, dan latar belakang pembahasan. Pemaparan. Setelah menjelaskan sistematika materi, komunikator menjelaskan secara detail dan mendalam pokok-pokok materi tersebut. Pemaparan harusnya disampaikan secara sistematis, sehingga tidak keluar dari pokok-pokok masalah yang dibahas.   Ini dilakukan agar kesatuan dan sistematika penyampaian benar-benar terwujud dalam satu kesatuan yang utuh. Pembuktian. Masalah-masalah yang sudah dijabarkan akan lebih mengesankan jika dibuktikan dengan mengutarakan datadata, atau contoh-contoh yang relevan dan mendukung. Pembuktian ditujukan untuk menyakinkan pendengar sehingga mereka sepakat dan memiliki keinginan yang sama untuk mencapai tujuan bersama. Pertimbangan (Rekomendasi). Untuk menyelesaikan sebuah problem, komunikator hendaknya mengajak audiens untuk memikirkan dan berjuang bersama-sama untuk mewujudkan gagasangagasan yang telah disepakati. Penutup. Teknik untuk mengakhiri presentasi banyak ragamnya. Namun, akan lebih baik jika komunikator menyampaikan ringkasan materi, sebelum mengakhiri presentasinya. Setelah itu mendorong audiens untuk berjuang dan bekerjasama dalam meraih tujuan-tujuan bersama.
  4. Menguasai Materi. Komunikator harus benar-benar menguasai materi yang disampaikan. Menguasai di sini tidak hanya menghafal, atau baru memahami setelah membaca script materi, akan tetapi ia benar-benar mengerti, memahami, dan menguasai materi yang disampaikan. Bila komunikator tidak menguasai materi, tentu ia akan dilecehkan oleh audiensnya, tidak diperhatikan, dan akhirnya, presentasinya tidak menghasilkan pengaruh yang mendalam.
  5. Mempersiapkan Fisik. Yang dimaksud dengan persiapan fisik adalah persiapan menyangkut kesehatan, penampilan, dan lain-lain. Ini ditujukan agar komunikator bisa menyampaikan materinya dengan prima, mengesankan, dan menimbulkan bekas yang paling dalam. Penampilan fisik, seperti pakaian dan sikap sebelum, ketika dan setelah presentasi, harus dipersiapkan secara teliti dan rapi.  Emosional harus stabil dan terjaga, seperti; bisa menahan diri, sabar, tidak mudah terpancing agitasi atau provokasi, arif, bijaksana, dan santun.
  6. Perilaku Komunikasi Salah satu faktor yang bisa menunjang keberhasilan tablig dan dakwah (presentasi) adalah perilaku dalam komunikasi. Kesan dan pesan tablig dan dakwah akan semakin kuat jika aspek perilaku komunikasi benar-benar diperhatikan.   Adapun aspek-aspek perilaku komunikasi tersebut adalah sebagai berikut: Gestures. Gestures adalah suasana presentasi yang hidup, dimana komunikator menggunakan gerakan-gerakan tubuh, kepala, ekspresi wajah dan anggota tubuh lain.   Gerakangerakan tersebut harus memperkuat kesan dan pesan yang hendak disuguhkan di dalam presentasi. Pandangan Komunikator harus menghindari menatap ke atas, atau sering menunduk.  Komunikator hendaknya bertatap muka dengan audiens dengan senyuman dan empati, agar hadirin memperhatikan komunitor. Penampilan. Penampilan berhubungan dengan kostum atau pakaian  yang dikenakan oleh komunikator. Hendaknya dipilih pakaian yang sopan, nyaman, dan tidak mencolok.
  7. Sikap dan Perilaku Komunikator. Dalam bersikap dan perilaku, komunikator harus memperhatikan hal-hal berikut ini : Tampilan Diri Komunikator. Self confidence. Komunikator harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi ketika melakukan komunikasi dengan audiens Simpati. Berusaha untuk ikut serta dan berbagi beban dan kesulitan dengan audiens. Antusias. Komunikator harus memiliki semangat tinggi dan konsens dalam membicarakan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat banyak. Berpengalaman luas.  Komunikator harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas dan menyeluruh. Rendah hati (humility).  Komunikator harus menampilkan sebagai sosok diri yang rendah hati, tidak sombong dan arogan. Suka cita (cheerfulnees).  Komunikator harus benar-benar menikmati ketika menyampaikan presentasinya. Konsentrasi. Komunikator harus berkonsentrasi penuh terhadap materi yang disampaikan, dan menjaga pandangannya kepada audiens dalam kondisi apapun: hiruk pikuk, banyak kegaduhan, dan seterusnya. Ketulusan.  Materi harus disampaikan dari ketulusan hati dan nurani.  Presentasi yang disampaikan dari ketulusan hati dan nurani akan memberikan kesan dan pesan yang sangat kuat pada diri audiens. Bersahaja.  Bersahaja dalam penampilan, gerak, pengucapan dan lain-lain.  Kesahajaan komunikator harus tetap menarik dan memikat audiens. Menyakinkan.   Komunikator tidak boleh ragu dengan apa yang ia sampaikan kepada audiens, apalagi ia telah membuktikkan statementstatementnya dengan beragam contoh dan teori. Mempunyai rasa humor (sense of humour). Komunikator harus memiliki sense of humour, agar dirinya tidak dikesankan kaku, tidak luwes, dan sebagainya.  Selain itu, sikap ini akan menghindarkan komunikator dari sifat mudah tersinggung dan lainlain. Kadang-kadang untuk menghilangkan kejenuhan audiens, humor sangat membantu mencairkan kejenuhan tersebut. Memahami kondisi audiens Sebelum melakukan audiensi, komunikator harus memahami kondisi audiens terlebih dahulu.    Hal ini sangat penting dilakukan agar pesan-pesan yang hendak disampaikan bisa dikomunikasikan secara efektif.  Untuk tujuan ini, komunikator harus melakukan beberapa hal berikut ini; Mencari informasi apakah audiens sudah mengetahui bahwa anda adalah komunikatornya. Mengetahui siapa yang akan hadir di forum tersebut; misalnya, organisasi, jenis kelaminnya, tingkat sosial, pekerjaan, dan lain-lain.  Latar belakang geografis, budaya, gaya komunikasi audiens, dan lain sebagainya.[cp]

Tags:

cara menyusun teks khotbah jumat, cara menyusun teks khutbah jumat, cara menyusun khotbah jumat, cara menyusun teks khotbah, cara menyusun khutbah jumat, cara menyusun teks khutbah, bagaimanakan cara menyusun teks khotbah jumat, menyusun teks khotbah jumat, bagaimanakah cara menyusun teks khutbah jumat, menyusun khutbah jumat
Advertisement
Cara Menyusun Materi Khutbah Jum’at dan Memperagakannya | admin | 4.5
Leave a Reply